MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sidang Tengah Malam.


__ADS_3

Roy dan Rudi beringsut pelan duduk dekat Bara. Keduanya tak ubah seperti terdakwa siap divonis hukuman mati. Tatapan tajam Fadil sudah cukup membunuh nyali mereka.


Dalam hati keduanya merepet kesal. Arsy dan Bara berulah imbasnya pada mereka. Dasar nasib apes. Tapi omelan ini hanya beredar dalam hati. Mana mungkin mereka tumpahkan pada keluarga yang lagi tertimpa musibah.


Rudi dan Roy duduk manis siap didakwa. Sikap keduanya persis anak SD ketangkap basah mencuri ayam tetangga. Culun tak berdaya.


"Tolong jelaskan perkara Arsy! Semua menuduhku selingkuh dengan Arsy. Imbasnya Sania kabur ke luar negeri." ujar Bara dengan mata merah. Ntah menahan tangis atau marah. Mau marah pada siapa? Marah saja pada ketololan sendiri bisa kena tipu daya Arsy.


"Sania kabur? Kok bisa?" Rudi tak percaya Sania sanggup tinggalkan Bara. Rudi yakin Sania mencintai Bara. Tak mudah bagi Sania pergi tanpa ijin.


"Ntah siapa kirim foto Arsy lagi pelukan denganku!"


"Editan?" pancing Roy mencoba analisa menurut pikirannya.


"Bukan...kasih lihat fotonya Dil!" Bara meminta Fadil perlihatkan foto yang dikirim Sania pada Fadil.


Dengan senang hati Fadil tunjukkan adegan mesra Arsy dan Bara di pub. Fadil harap Sania sadar Bara bukan jodoh tepat untuk wanita muda seumuran Sania. Bara terlalu matang nyaris busuk.


Roy dan Rudi rebutan lihat foto di ponsel Fadil. Kedua laki itu cukup syok saksikan foto yang perlihatkan Arsy dan Bara pelukan bak sepasang kekasih. Wajar Sania naik darah. Fakta di foto tunjukkan Bara memang pelukan dengan Arsy tanpa jarak.


"Wah..ini jebakan Batman! Arsy sudah atur semua ini untuk kacaukan hubunganmu dengan Sania. Aku yakin Arsy sengaja mabuk pancing kamu ke sana. Dia lakukan semua ini demi rebut kamu Bara!" ujar Rudi memahami kelicikan Arsy.


"Benar...dia persiapkan segalanya! Licik benar tuh anak! Biar kami jelaskan pada Sania kalau ini semua ngak benar." timpal Roy.


"Salah atau tidak berawal dari rasa sayang Bara pada Arsy. Kalau dia sudah mati rasa untuk apa peduli Arsy. Ini bukti Bara masih sayang Arsy! Sania tak butuh laki tak punya moral. Punya bini tapi peduli pada wanita lain." kata Fadil tajam tak beri peluang pada Bara bela diri.


"Aku hanya iba tak punya perasaan apapun. Jangan ngawur kau anak kecil!" bentak Bara garang.


"Ssttt...ini sudah malam! Tak baik teriak. Kita cari solusi terbaik bujuk Sania balik sini. Kami akan jelaskan semuanya. Sania orang cerdas pasti tahu ini jebakan." lerai Roy.


"Jebakan atau tidak terpenting Bara sudah tinggalkan Sania untuk jumpai mantan koplak tak punya ********." kata Fadil masih semangat serang Bara. Syukur Sania pisah dari Bara. Fadil akan menyalib masuk jadi pendamping Sania untuk ke depan.


"Ngawur nih bocah! Kalau Arsy tak punya ******** dari mana muncul Kintan? Dari batang bambu?" guyon Rudi mencoba usir suasana tegang.


Usaha Rudi berhasil. Terbukti senyum tipis menghiasi bibir setiap orang di ruang itu selain Bara. Bara mana bisa tersenyum sebelum Sania ditemukan. Bara mengutuk kebodohan sendiri gampang terlena pada Arsy padahal Sania wanti-wanti Bara jangan berhubungan dengan Arsy. Tak ada kesempatan kedua.


"Coba tanya ke Lisa! Mungkin mereka tahu di mana Sania." usul Roy teringat pada teman akrab Sania. Sania jarang bergaul. Temannya bisa dihitung jari. Malam buta begini ke mana dia mau bawa langkahnya.


"Sania sudah pamit terbang ke luar negeri. Dia video call di bandara." ujar Fadil mantap bangga dia satu-satunya orang dihubungi Sania sebelum menghilang.


"Emang ada pesawat tengah malam gini?" tanya Roy dengan tampang bloon.


"Dia pergi dengan jet pribadi." sahut Fadil santai.


"Jet pribadi? Wah Bara...hebat ente! Sejak kapan punya jet pribadi? Naik daun dong!" Roy tak bisa menahan rasa kagum pada nasib Bara berubah jadi orang tajir dalam tempo singkat.


"Jet pribadi apa? Baru hari ini aku tahu Sania bisa terbang dengan jet pribadi. Siapa backing dia kabur?" Bara arahkan mata pada Fadil menuduh adiknya sembunyikan Sania.


Fadil alihkan mata ke tempat lain tak mau adu mata dengan Bara. Fadil takut Bara bisa baca pikirannya. Fadil menyimpan sesuatu yang tak ingin Bara ketahui.

__ADS_1


"Di belakang Sania banyak orang kuat. Tak usah pikir muluk untuk gampang temukan Sania. Perbaiki dulu akhlakmu nak! Sania itu orangnya tidak neko-neko taat beragama. Melihat kamu pelukan sama perempuan mabuk sangat melukai harga dirinya sebagai isteri. Kalau kau kehilangan Sania seumur hidup kau akan menyesal." ujar Pak Jaya datar.


Bara menunduk penuh penyesalan telah bertindak bodoh percaya pada Arsy. Tak seharusnya Bara menyusul Arsy di pub sementara di rumah ada wanita sedang mengandung anaknya. Arsy memang licik gunakan segala cara untuk rebut perhatiannya.


Kini Bara kehilangan jejak Sania. Apesnya keluarganya sendiri tak berniat bantu malah ikut menyembunyikan Sania. Ke mana perginya Sania. Hati Bara bagai tersayat sembilu ditinggal Sania tanpa pesan. Masih untung Bara tahu penyebab Sania pergi.


Kalau Sania pergi tanpa kabar mungkin Bara akan lebih stress. Paling tidak Bara tahu Sania baik-baik saja.


"Sudah hampir subuh. Kalian tidur di sini saja. Tak usah pulang lagi. Tidur saja di kamar tamu." usul Bu Jaya kasihan lihat dua teman Bara semangatnya nyaris padam. Mungkin tinggal lima Watt untuk gerakkan langkah ke tempat tidur.


"Tak usah Bu! Tidur di sofa saja. Aku sudah tak sanggup." Roy goyang tangan menolak disuruh pindah dari sofa. Energi Roy tak cukup untuk jalan selangkahpun lagi. Lowbat total.


"Ya sudah! Tidurlah! Besok kita cari solusi bawa Sania pulang." Bu Jaya bijak menenangkan Bara. Bu Jaya tetap seorang ibu yang tak tega lihat anak sendiri terpuruk. Bara memang salah namun laki itu sudah dapat ganjaran. Bini kabur.


"Sania ngak bakalan pulang!" Fadil isengi Bara disambut tatapan membunuh Bara. Ingin rasanya Bara gampar mulut beracun Fadil. Adiknya itu kesenangan Bara konflik dengan Sania. Dari dulu memang itu harapan lajang lapuk itu.


"Sania biniku." semprot Bara.


"Hehehe...binimu tapi calonku!" Fadil langsung kabur selesai omong pada Bara. Bara menggeram tak terima dilecehkan Fadil secara permanen.


Pak Jaya dan Bu Jaya ikut pergi istirahat. Tinggal ketiga konco dari masa ke masa. Berbagai konflik tak memisahkan mereka. Sekali berteman sampai seumur hidup.


"Adikmu parah. Nampaknya dia tahu di mana bini ente." Rudi menatap punggung Fadil yang menghilang di telan lorong menuju ke belakang.


"Iya..anak gila! Dia merayu Sania tiap hari. Aku dianggap tiang listrik. Ada tapi tak dianggap." ujar Bara putus asa. Laki ini menyisir rambut pakai tangan ekspresikan rasa sesal.


"Sania itu tak jauh. Percayalah! Sania itu baik sekali orangnya. Dia akan memahamimu. Sania emosi itu wajar. Sekarang terpenting kau jauhi Arsy! Demi jaga perasaan Sania. Sania pasti balik. Ingat proyek pulau B. Dia itu inti dari proyek ini. Tanpa dia proyekmu takkan jalan."


Bagi Bara kecil namun bagi seorang isteri itu dosa besar. Seorang suami tak pantas beri perhatian berlebihan pada mantan.


Ini jadi pelajaran berharga bagi Bara untuk tak terjebak dalam kenangan masa lalu. Tugas Bara sekarang yakni mencari Sania. Mencari Sania tak ubah mencari jarum dalam tumpukkan jerami.


Bara ingat kata Pak Jaya bahwa di belakang Sania berdiri orang-orang kuat. Bara yakin papanya tak bohong. Sania demikian gampang dapat proyek tapi tak pernah unjuk gigi. Wanita itu tetap adem di belakang layar. Tak ada sedikitpun Sania pamer kalau dia punya koneksi luas.


"Di mana kamu Sania?" desis Bara putus asa. Rudi menatap iba pada sahabatnya. Dua kali Bara hancur karena Arsy. Semoga tak ada ketiga kali.


Malam terasa sangat panjang bagi Bara. Hatinya sesunyi malam ini. Tak ada suara koor serangga malam warnai kesepian mencekam. Bara ingin sekali menjerit menyesal telah percaya pada trik Arsy. Wanita itu tak berubah sampai akhir jaman. Tetap licik gunakan segala cara capai tujuan.


Ufuk timur mulai pancarkan cahaya keemasan di kelilingi awan kelabu. Fajar beri tanda akan segera menyingsing beri kehidupan bagi setiap makhluk di bumi Indonesia. Mentari akan ambil alih tugas sang rembulan yang telah berpulang istirahat.


Tiga pria dewasa tertidur di sofa dan lantai berkarpet bulu lembut. Ketiganya tidur seperti kayu mati. Tak ada gerakan kehidupan selain dada turun naik tanda masih hidup.


Para asisten rumah tangga kaget mendapatkan tiga orang pria tertidur nyenyak di ruang keluarga Jaya. Aktifitas bersihkan rumah otomatis tertunda. Mereka mana berani menyapu selagi ada tamu tiduran di ruang tamu. Satu persatu asisten rumah tangga mundur kembali ke belakang.


Bu Jaya tak tega bangunkan Bara dan teman-temannya. Mereka pasti tak bisa tidur nyenyak terutama Bara yang kehilangan isteri tercinta. Itu hukuman bagi orang yang anggap remeh mahligai rumah tangga. Bu Jaya tak bisa bela Bara di depan Sania karena Bara memang salah.


Lewat jam sepuluh ketiga orang itu baru terbangun. Bara tersentak bangun dari lantai beralas karpet. Tulang Bara serasa mau rontok tidur di lantai dingin. Pegel sana sini hampir copotkan semua tulang sendi. Usia memang tak bisa berbohong. Umur Bara sudah bukan muda untuk bergadang seperti anak muda.


"Sania..." desis Bara ingat Sania yang pergi tanpa pesan. Laki ini duduk di karpet dengan lesu. Wajah kuyu tak berseri terukir di wajah laki ini.

__ADS_1


Roy terbangun menepuk pantat Rudi agar sadar pagi sudah lewat. Hari menuju siang sementara mereka masih bergelut dengan muka bantal.


"Woi... bangun! Sudah malam!" seru Roy keras di kuping Rudi.


Rudi meloncat bangun kaget di teriaki Roy. Lama Rudi terpana lihat sekeliling. Otak laki ini belum menerima signal untuk aktifkan internet di kepala. Ntah signal kurang kuat hingga lemot.


"Kita kok di sini?"


Roy tertawa geli lihat tampang tolol Rudi. Nampaknya laki sontoloyo ini lupa semalam datang ke rumah Bara gara-gara Arsy bikin ulah.


"Lhu kabur dari rumah! Diusir sama nyokap ente." Roy mencolek hidung Rudi agar sadar.


Rudi menggaruk kepala yang tak gatal. Mata laki ini tertuju pada Bara yang masih duduk bertapa meratapi nasib ditinggal wanita tercinta.


"Sialan ente Roy!" Rudi tangkap signal kuat ingat semua kejadian semalam. Rudi mencubit pipi Roy saking gemas dikerjain teman sendiri," Woi..kalian harus berangkat ke pulau B! Ini sudah jam berapa?"


Bara menanggapi perkataan Rudi dengan lesu. Orang yang seharusnya jadi pusat dari proyek sudah kabur. Apa proyek masih bisa dilanjutkan jadi tanda tanya besar. Tanpa Sania proyek pasti macet. Sania yang pegang gembok proyek itu. Dana juga berada di tangan wanita itu. Tanpa Sania Bara bisa buat apa.


"Kita pending dulu. Pesawat juga sudah terbang. Tiketnya pukul sembilan." sahut Bara lesu.


"Lalu apa rencanamu? Kontrak sudah jalan. Kita tak bisa ngelak." Roy ikut lesu.


"Ntahlah! Otakku buntu."


"Kita balik kantor dulu. Kita diskusi bersama. Aku yakin Sania takkan tinggalkan proyek ini. Dia sudah perjuangkan proyek ini cukup lama. Tak mungkin hanya karena kamu selingkuh dia mundur."


Bara melontarkan tatapan kurang suka pada Roy yang terangan tuduh dia selingkuh.


"Gue tak selingkuh."


"Jumpa mantan bukan selingkuh? Apa namanya? Rasa persaudaraan?"


"Sialan lhu! Bukannya baik hati dikit hibur gue. Ini kau dorong aku masuk jurang duka." Rudi dan Roy tertawa ngejek lihat Bara remuk total ditinggal Sania.


"Arsy harus kau beri pelajaran biar kelak tak ganggu ente lagi. Dia itu kucing garong bernyawa sembilan. Tak ada matinya." Rudi beri pendapat supaya Bara tak tertarik pada Arsy. Arsy tak pantas diperjuangkan. Sudah ada Sania malaikat tanpa sayap.


"Apa yang harus kulakukan?"


"Ancam dia lapor polisi. Dia telah bersekongkol dengan orang untuk jebak kamu. Kami jadi saksimu."


"Aku tak tega lihat dia masuk penjara. Siapa mau bantu dia bila benaran ketahuan jebak aku? Gimanapun dia itu teman kita!"


"Teman? Mana ada teman hancurkan hidup teman sendiri? Kau masih bisa anggap dia teman setelah apa yang dia perbuat pada Sania. Ingat! Sania sedang mengandung anakmu! Pantas Sania kabur dengan sikap gini!" Roy kecewa Bara masih menyimpan rasa iba pada Arsy. Rasa iba atau rasa sayang.


Roy dan Rudi geram pada sikap Bara tak berani tegas pada Arsy. Kalau begini lebih bagus Sania tidak balik sama sekali. Sania bakal sakit hati terusan bila Bara beri perhatian pada Arsy.


"Aku tahu...aku tahu...tapi Arsy tak punya siapa-siapa lagi. Di keluarga dia hanya anak angkat."


"Kalau gitu ente ceraikan Sania. Kawini kucing liar itu biar dia punya kamu." ujar Roy tak bersahabat.

__ADS_1


"Aku setuju dengan Roy! Arsy itu takkan lapar tanpa kamu. Masih banyak bos besar siap tampung dia. Keluarganya bukan tak open pada Arsy justru Arsy yang selalu berontak bikin masalah. Buktinya sekarang Arsy kembali kerja di perusahaan keluarga." kata Rudi perkuat kata-kata Roy.


__ADS_2