
Bara dan Rudi akui kebenaran kata-kata Roy. Wanita memang banyak kelebihan. Dari segi emosi mereka juga jauh lebih baik. Mereka bisa kontrol emosi walau dalam tekanan. Contoh Sania, walau marah dia tak ngamuk babi buta. Dia pergi hindari masalah yang bisa perburuk keadaan.
Cooling down dulu baru hadapi masalah sesungguhnya. Tapi siapa sangka skenario berubah jauh. Arsy bukannya berhasil meraih Bara malah bikin kejutan tragis. Mencoba habisin Bara berujung nginap di hotel gratis. Dingin tanpa perlu bantuan AC.
"Ngobrol panjang lebar takkan berujung bila tak ada etika kita sendiri. Aku sudah mantap kejar Sekar sampai ke pelaminan. Semoga kau juga berhasil tembak Putri. Kubantu doa! Gratis..." ujar Roy sambil goda Rudi. Rudi mesem-mesem malu. Dalam hati tentu mengharap doa Roy manjur. Biasa doa tulus dari teman pasti dijabar Allah.
"Amin..Eh..ente jadi pulang? Di sini kok kayak bau sangit. Bau orang sepuluh tahun tak kena air."
Roy sadar Rudi mengejeknya. Rencana mau pulang mandi tertunda karena Bara sadar dari efek obat bius. Secara keseluruhan Bara tak masalah. Laki itu tampak terluka serius walau harus dapat hadiah beberapa jahitan di usus dalam dan perut. Fisik laki lebih kuat dari wanita. Mungkin itu nilai plus laki dibanding wanita.
"Aku pulang...ngak usah pake sindir. Ok Bara...gue balik dulu! Ntar gue balik sini. Kami yang jaga ente." Roy menepuk telapak kaki Bara yang tertutup selimut.
"Terima kasih Roy!" Bara angguk kecil.
Roy tertawa penuh kehangatan lalu angkat tangan tinggi-tinggi minta pamit ala cowok gaul. Perlahan Roy menghilang di telan pintu. Tinggallah Rudi dan Bara bertapa dalam benak masing-masing.
Otak Bara masih berputar soal cincin nikah buat Sania. Bara berpikir ulang bagaimana posisi Sania di hatinya? Cinta atau hanya butuh? Mengapa tak pernah terpikir kasih uang belanja dan beli tanda ikatan cinta antara mereka.
Mungkinkah Sania terlalu perkasa sampai Bara merasa bininya tak butuh apapun. Ini adalah kesalahan fatal sebagai seorang suami. Bara sudah gagal menjadi seorang suami baik. Apa lagi dari kata sempurna. Bara harus membayar semua kesalahan pada Sania. Bara berjanji akan perhatikan Sania lebih baik dari sekarang. Bara hanya mau bini mudanya segera hadir di depan mata. Ini adalah obat paling manjur dari obat segala obat.
Sebelum sholat subuh Keluarga Bara tiba di rumah sakit. Mereka berjumlah empat orang langsung ke rumah sakit dari bandara. Sebagai orang tua Pak Jaya dan isterinya tentu bagai kebakaran jenggot dapat berita Arsy menusuk Bara sampai dua kali. Luka Bara cukup serius mengingat luka Bara menembus usus. Orang tua mana tak panik nyawa anak mereka dipertaruhkan.
Sania lebih tenang karena sudah dapat kabar dari Pak Elmo kondisi Bara cukup stabil. Tusukkan Arsy tak cabut nyawa laki tak punya prinsip itu. Sania tak kaget dengar Arsy anarkis. Jauh hari Sania sudah prediksi akan terjadi hal ini bila Bara tak segera jauhi Arsy. Maka dari itu Sania wanti pada Bara jauhi Arsy. Bara tak dengar. Inilah akibat tak percaya omongan isteri. Bara mendapat balasan cukup setimpal.
Sania dan kedua orang tua Bara serta Fadil masuk ruang rawat Bara perlahan takut ganggu Bara yang sedang istirahat. Orang sakit butuh waktu istirahat lebih panjang.
Empat pasang mata itu terbelalak lihat isi ruang rawat Bara. Satu sosok pasien tertidur di atas brankar rumah sakit sedang dua laki berbadan tegap tergeletak di lantai bagai orang mati. Mereka tidur hanya dilapisi tikar karpet tipis. Bisa dibayangkan bagaimana dinginnya lantai ditambah tiupan angin AC.
Sania bukan kasihan pada Bara tapi kasihan pada dua konco suaminya. Bara sudah ditangani secara baik oleh pihak medis. Lalu kedua konconya harus rela menahan dingin demi teman.
Bu Jaya dekati Bara meneliti anaknya dengan hati hancur. Wajah Bara sedikit pucat tampak tirus. Bibirnya memutih tak segar seperti biasa. Bibir bebas nikotin itu jelas tunjukkan pemiliknya sedang kurang sehat.
Tangan keriput Bu Jaya menyentuh wajah Bara perlahan. Rasa bersalah telah tinggalkan Bara sendirian hadapi kemelut rumah tangga membuncah di dada. Bara pasti hancur ditinggal pergi oleh Sania.
Pak Jaya dan Fadil memilih pantau Bara dari jauh tanpa berkata apapun. Kedua laki beda generasi beri waktu pada dua wanita paling berharga dalam hidup Bara untuk duluan jenguk Bara.
Elusan tangan Bu Jaya merangsang sisi sensitif Bara. Perlahan tapi pasti Bara buka mata melihat siapa yang datang. Mata Bara berkaca-kaca melihat siapa yang hadir di sampingnya. Kiri kanan dua wanita penghias hati.
"Ma...Sania...kalian pulang!" desis Bara tak bisa simpan rasa haru plus bahagia. Tangan Bara yang berinfus berusaha menyentuh tangan Sania yang berdiri menjauh. Kelihatannya Sania belum memaafkan Bara. Terbukti wanita itu tak bereaksi walau Bara sudah memanggil namanya.
"Nak...kau tak apa?" tanya Bu Jaya masih kuatir.
"Tak apa... Allah masih sayang Bara. Bara masih punya tanggung jawab terhadap anak isteri." kata Bara sambil menatap Sania yang dingin.
__ADS_1
"Syukurlah! Mama mau kamu jauhi wanita jahat itu. Apa belum cukup penderitaan yang dia bawa untukmu? Ini yang terakhir mama dengar kau terlibat dengan wanita itu." ancam Bu Jaya tak mau ngerti Bara sedang kurang sehat.
"Bara janji. Dia sudah dipenjara. Itu tempat layak untuk orang jahat. San...maafkan Lieve ya! Semua tak seperti kau bayangkan. Lieve tak pernah selingkuh dengan wanita itu. Kalau Lieve mau sudah dari dulu Lieve sama dia. Tapi Lieve tahu dia bukan jodoh Lieve. Lieve bantu dia karena rasa empati sebagai sahabat. Waktu itu Lieve ada telepon Roy dan Rudi. Mereka masih hidup, mereka bisa jadi saksi Lieve." Bara cerita panjang lebar agar Sania paham situasi saat itu.
"Sudahlah! Untuk apa diingat
kejadian tak menyenangkan. Yang penting semua dapat hikmah dari kejadian ini." tukas Pak Jaya cepat tak ingin Sania kembali berpikiran. Dokter di Belanda sudah pesan Sania tak boleh terlalu berpikiran. Ini akan pengaruh pada pertumbuhan janin di perut.
"Papa benar. Sekarang fokus pada kesembuhan Bara dan bayi di perutmu. Ingat kata dokter kan?" bujuk Bu Jaya melihat Sania belum reaksi terhadap Bara. Kelihatannya Sania belum puas menyiksa batin Bara.
"Kau tak mau maafkan Lieve?" Bara menatap Sania mohon agar bininya buka hati untuknya lagi. Di mata Bara Sania makin menarik dengan tubuh lebih berisi. Kelihatan lebih montok.
"Istirahatlah!" ujar Sania pendek.
Hati Bara tercekat ditanggapi dingin oleh Sania. Amarah di hati bumil itu belum reda walau Bara sudah babak belur gini. Hati Sania terbuat dari apa tak haru biru layak isteri lain lihat suami celaka. Jangan-jangan Sania itu manusia setengah robot tak punya hati nurani.
"Lieve belum puas sebelum kamu maafkan Lieve. Lieve berdoa pagi siang malam harap kau pulang memaafkan kesalahan Lieve!" Bara tak menyerah memohon maaf dari Sania. Sekata maaf dari Sania adalah obat paling mujarab bagi kesembuhan Bara. Tapi bibir mungil itu berat keluarkan kata memaafkan. Seberapa besar kesalahan Bara sampai tak ada kata toleransi.
"Berdoalah! Kita pulang ma! Biarkan Lieve istirahat! Toh ada Roy dan Rudi menjaga! Di luar ada pengawal lagi. Kalau mau aman kita antar Lieve ke kantor polisi biar bisa bersama ulat bulu tak punya malu!" kata Sania mengundang senyum Fadil. Inilah yang diharap Fadil. Bara pantas dikasari Sania. Laki tak tahu terima kasih, punya isteri full talenta masih sempat ingat ulat bulu setengah meter.
"What? Kau mau Lieve dipenjara? Apa salah Lieve?" seru Bara kaget dengar niat buruk Sania terhadapnya. Masih waraskah Sania berniat penjarakan suami tanpa salah.
Roy dan Rudi tersentak bangun karena seruan Bara. Kedua cowok itu tersipu malu tatkala netra menangkap ada orang lain dalam ruang rawat Bara. Selain itu mereka bersyukur Sania dan keluarga sudah tiba dengan selamat di tanah air.
"Sania...bapak ibu... syukur kalian sudah tiba. Ayo duduk!" Rudi mempersilahkan keluarga Bara ambil tempat di sofa.
"Terima kasih sudah jaga Bara! Kalian memang teman baik." Pak Jaya menepuk bahu Rudi berkali-kali.
"Itu tugas kami. Kalian pasti lelah tempuh perjalanan jauh. Pulang dan istirahat dulu. Besok datang lagi."
"Besok apa lagi? Ini hampir subuh. Kami akan pulang untuk bersihkan diri. Merepotkan kalian lagi." Ujar Bu Jaya melirik Sania yang masih dingin terhadap Bara. Bu Jaya mau tunggu reaksi Sania diajak pulang. Bu Jaya tak berharap banyak sadar Bara telah sangat menyakiti Sania.
"Iya Bu...Bara teman kami! Kami ikhlas kok! San..kau istirahat! Wajahmu tampak lelah. Kamu lagi hamil harus jaga kesehatan." Rudi beri perhatian penuh pada Sania.
Bara mendesah tak senang melihat Sania mengangguk patuh pada Rudi. Pada dirinya balok, giliran sama Rudi malah ramah. Yang suami siapa sih? Cuma saat ini Bara tak berani protes pada Sania. Takut salah omong memicu gelombang amarah Sania berlipat ganda.
"Ya sudah...kami balik dulu! Sania perlu istirahat karena perjalanan tempuh dari Belanda langsung ke tanah air hampir lima belas jam. Untung pakai pesawat pribadi hingga bisa lebih nyaman." cerita Bu Jaya bangga bisa naik jet pribadi keluarga kaya raya di Belanda.
"Jet pribadi siapa?" tanya Bara ikut takjub. Siapa begitu baik hati pinjamkan pesawat pribadi pada keluarganya atau carteran Sania?
"Pesawat..."
"Kita pulang!" Sania memotong pembicaraan Bu Jaya. Sania tak ijinkan Bu Jaya ungkap siapa pemilik pesawat jet. Orang yang punya pesawat tentu bukan keluarga sederhana. Intinya siapa pemilik pesawat itu? Sania pun main rahasia.
__ADS_1
Bara kecewa pada sikap sinis Sania. Mengapa hati Sania tak tersentuh melihat suami sekarat. Seberapa benci Sania pada Bara sampai bicara saja enggan.
"Aku ikut pulang." pinta Bara terpaksa berbuat konyol agar dapat perhatian sang isteri.
Semua melongo dengar permintaan tak wajar Bara. Luka operasi belum kering minta ikut pulang. Mau antar nyawa pada malaikat elmaut?
"Jangan gila lhu Bara! Baru saja sadar dari koma mau minta pulang. Nyusahin Sania nanti." semprot Roy gregetan pada tingkah Bara yang kayak anak balita. Badan segede gajah tapi otak segede upil.
"Aku ingin kumpul dengan Sania." ujar Bara arahkan mata pada Sania. Harapan Bara tentu Sania jatuh iba bersedia menemaninya sampai sehat.
"Bara...Sania itu capek! Dia sedang hamil anak-anakmu. Kembar tiga." ujar Bu Jaya kasih surprise baru pada Bara. Berita paling hot mengguncang batin Bara. Setahunya anak bayi di perut Sania ada dua kok sekarang isinya tiga. Main sulap apa. Simsalabim bayinya bertambah satu. Besok berubah jadi empat pula. Aneh bin ajaib.
Bara dan kedua konconya melongo membuka mulut lebar-lebar saking terpesona dapat berita spektakuler. Bara sungguh perkasa bisa menanam bibit sekaligus tiga.
"Woi...nyamuk sudah nyelonong masuk!" seru Fadil merasa lucu lihat tampang laki yang seperti orang hilang akal.
"Yang bener ma?" tanya Bara masih tak percaya anaknya bertambah satu.
"Iya...waktu Sania cek up di Belanda. Baru tampak janin kecil di antara dua janin lain. Yang kecil ini agak lemah maka Sania harus banyak istirahat. Tak boleh stress. Kau malah bertingkah kayak anak kecil. Kasihan Sania kalau harus begadang lagi." sungut Bu Jaya harap Bara mampu berpikir waras biarkan Sania pulang rebahkan badan di ranjang untuk istirahat.
Bara meringis malu dikuliahi mamanya. Isteri datang dari jauh bukannya diberi ruang beristirahat malah Bara berniat merepotkan Sania dengan tingkah konyol.
"Maafkan Lieve! Lieve memang sangat rindu padamu. Lieve ingin ngobrol bersamamu." Bara tak malu tumpahkan isi hati di depan orang banyak. Bara mau semua orang tahu kalau dia membutuhkan Sania untuk hari ini dan selanjutnya. Tanpa Sania seluruh hidup Bara terasa hampa.
"Sania pulang dulu. Siangan baru balik." sahut Sania mulai tak tega cuekin Bara terusan. Sania bukan tak tahu Bara tak berselingkuh cuma Sania mau kasih pelajaran pada lakinya agar jangan gampang percaya pada setiap omongan wanita lain.
"Baiklah! Janji jangan kabur lagi! Lieve pilih tak selamat kalau kau tinggalkan Lieve."
"Lebay..." rengut Fadil ngejek abangnya yang berubah jadi manja.
"Ngak kabur...cuma mau istirahat. Jaga kesehatan!" Sania masih irit kata. Tak seperti Sania biasa yang cerewet suka protes. Mulut setajam silet. Pengaruh hormon atau memang masih marah.
"Janji?"
"Janji.."
"Terima kasih sayang! Aku lega sekarang." Bara menarik nafas lega dapat kepastian dari Sania. Bara yakin Sania takkan jilat ludah sendiri. Wanita itu paling mementingkan kepercayaan. Sekali berucap itulah yang akan berjalan.
"Assalamualaikum..." salam Sania tanpa mencium tangan Bara. Tanpa menanti jawaban Bara wanita hamil itu melangkah lewati pintu. Bu Jaya ikut dari belakang disusul Fadil dan Pak Jaya.
"Aku antar mereka." Roy menyusul mengejar langkah Sania.
Bara hanya bisa mengurut dada menelan kekecewaan ditinggal lagi oleh Sania. Baru saja Bara bahagia jumpa wanita yang dirindukan kini pisah lagi.
__ADS_1