
"Lima puluh ribu?" pancing Lisa menggoda. Lisa tahu mana ada jam rolex seharga lima puluh ribu. Rata di atas puluhan juta. Kali ini Sania rogoh kocek cukup dalam untuk beli oleh-oleh untuk karyawan Bara.
"Beli kolor saja tak cukup." Sania merengut oleh-olehnya dianggap murahan.
Lisa tertawa cekikan oleh-oleh terhubung ke kolor. Dasar Sania suka nyablak. Di depan dua pria dewasa sanggup katakan harga kolor. Dua cowok itu masam-masam pura-pura tak dengar. Salah-salah berbuntut panjang.
"Oleh untuk mas tak ada?" Rangga alihkan pembicaraan.
"Ada dong! Sania beli jam tangan merek Patek Philippe untuk Mas Rangga dan Lieve." ujar Sania ringan tanpa beban.
"Ya ampun San! Itu jam tangan mahal banget! Rata di atas milyaran." Lisa berseru kagum dengar merek yang dipilih Sania untuk Bara dan Rangga. Orang yang ngerti branded pasti tahu jam tangan termahal di dunia itu.
"Tak seberapa untuk orang tersayang. Mas dan Lieve tak bisa memilih karena Sania sudah tentukan pilihan. Untuk Lieve warna silver dan untuk Mas Rangga warna gold. Duanya model sama cuma beda warna." Sania bangkit dari kursi menuju ke koper kedua tempat tadi adanya perhiasan Lisa. Sania mengambil dua buah kotak mewah. Sania balik ke meja makan meyerahkan hadiah untuk laki paling berharga dalam hidupnya.
Rangga dan Bara saling berpandangan tak percaya Sania rela buang uang hanya untuk beli satu jam tangan. Bagi Rangga itu hanya buang uang karena tak arti jam mahal bila tak ada kebahagiaan. Kebahagiaan tujuan utama hidup. Segala kemewahan hanyalah santapan mata. Sekaya apapun dia persinggahan terakhir tetap tanah ukuran dua kali satu. Tak ada yang bisa dibawa pergi selain amal ibadah.
"Sayang...untuk apa beli jam semahal itu? Lieve sayang padamu bukan dari seberapa banyak hadiah. Lieve cuma mau sayang hidup bahagia dan banyak beri cinta." ujar Bara lembut tanpa berniat tolak hadiah mahal Sania. Bara cuma mau bilang kalau dia sayang Sania dari lubuk hati. Bukan dari materi Sania.
"Sania ingin beri yang terbaik untuk orang yang Sania sayangi. Percayalah! Hadiah segitu takkan bikin Sania bangkrut. Itu tanda Sania tulus sayang pada kalian! Bukalah untuk hargai ibu hamil keliling kota cari oleh-oleh bagus untuk kalian." Sania bersikukuh tak terbebani walau harus keluarkan dana tak kecil.
Bara merasa tak ada guna berdebat lagi. Toh batang sudah di depan mata. Hendak ditolak juga tak mungkin. Bara terpaksa buka hadiah dari Sania. Begitu dibuka kekaguman terpancar di mata Bara. Bara harus akui selera fashion Sania sangat baik. Pilihan Sania betul-betul jempolan. Jam warna silver berpenampilan elegan terduduk di box dengan angkuh tunjukkan dia barang berkelas.
Rangga tak mau ketinggalan cepat-cepat box miliknya. Mata Rangga sama kagum dengan Bara. Satu jam tangan warna gold duduk di kotak berudu minta disentuh. Modelnya cocok sekali dengan selera Rangga. Mewah, elegan. cerminkan kelasnya.
"Berapa harganya?" desis Rangga tak bisa sembunyikan rasa kagum. Sama seperti Bara memuji selera Sania.
"Empat..." sahut Sania singkat.
"Empat apa? Ribu? Ratus? Juta atau milyar?" buru Lisa gregetan pada cara Sania menjawab. Selalu picu adrenalin naik tinggi.
"Yang terakhir." sahut Sania kalem.
"Gila lhu ya? Beli jam seharga empat milyar. Itu bisa buat biaya makan sepuluh tahun." seru Lisa kaget. Dua jam habiskan delapan milyar. Belum lagi duit buat beli oleh-oleh buat karyawan. Seberapa dalam Sania rogoh kocek hanya untuk hadiah. Berapa puluh milyar.
Rangga dan Bara menahan nafas setelah tahu jam di tangan mereka bisa digunakan bangun satu usaha. Sania gampang saja hambur hanya untuk menyenangkan orang. Sania boleh kaya raya tapi tetap harus batasnya. Kedua laki itu bukannya senang dapat hadiah mahal malah gundah.
"San...lain kali tak boleh gitu lagi ya! Berhematlah! Kita masih perlu banyak biaya untuk hari depan. Mas harap cukup kali ini hambur duit. Mas tak suka kamu buang duit untuk hal tak perlu. Ok?" Kata Rangga pelan namun tegas.
"Iya mas...Sania janji!" Sania malas berdebat pilih ngalah.
Ponsel Rangga berbunyi tanda ada panggilan. Rangga buka layar ponsel geser sedikit. Di layar tercantum kata papa. Tanpa ragu Rangga geser di mungil ajaib.
"Halo... Assalamualaikum...ya pa?"
"Waalaikumsalam...Nak. Ranti sakit perut. Sepertinya mau melahirkan. Kau bisa datang?"
"Oh...papa jangan panik! Cari taksi dan langsung bawa Ranti ke rumah sakit. Kami menyusul ke sana. Papa ngerti?"
"Iya nak! Kamu harus datang!"
__ADS_1
"Pasti...sekarang papa panggil taksi online. Persiapkan semua pakaian Ranti dan anaknya. Saya segera ke rumah sakit."
"Apa tak kau jemput lebih baik?"
"Pa...bolak balik sangat jauh. Pesan taksi online segera. Minta secepatnya."
"Baiklah! Papa segera bawa Ranti."
Hubungan terputus. Rangga segera bangkit hendak ke rumah sakit melihat kondisi Ranti. Walau tak ada hubungan darah Rangga tetap harus bertanggung jawab terhadap Ranti. Bagaimanapun Ranti pernah jadi adiknya. Rangga tak mungkin tutup mata tak melihat Ranti.
"Ranti mau melahirkan. Kalian mau ikut?" ujar Rangga bergegas hendak pergi. Kecemasan terukir di wajah laki itu.
"Kita pergi bareng mas Rangga. Ranti butuh support kita saat ini." Bara ikutan bangkit dari kursi akan kawani Rangga.
Sania membeku tak tahu harus bagaimana. Ikut ke rumah sakit lupakan semua konflik atau tetap rawat rasa dendam pada Ranti yang terpuruk habis. Ranti sudah banyak tumpuk kesalahan pada Sania. Berkali-kali wanita itu sakiti Sania. Pintu maaf Sania sudah terbuka atau belum pada Ranti.
"San..kok melamun?" tegur Bara tak suka Sania masih simpan dendam pada kakak sendiri.
"Dek...lupakan semua luka di hatimu. Nyawa manusia lebih penting. Kalau berat pergi tunggu saja di rumah. Biar mas dan Bara yang ke sana. Kalian bertiga di sini saja." Rangga bijak tak memaksa. Rangga tak mungkin paksa Sania mengingat adiknya itu juga sedang hamil.
"Iya...kami tunggu di sini!" lirih Sania belum bisa berdamai.
"Baiklah! Jangan ke mana-mana sampai kami pulang! Kalau lapar pesan online food saja. Lis..kau jaga kedua adikku ya!" Rangga alihkan mata ke Lisa.
"Ya mas...kasih kabar kalau Ranti sudah lahiran. Semoga berjalan lancar."
Rangga dan Bara bergegas turun ke lantai bawah ke tempat parkiran mobil. Sejahat apapun Ranti tetap berhak dapat perhatian. Saat ini Rangga tak mungkin hitung-hitungan kesalahan Ranti. Yang utama Ranti dan bayinya harus selamat. Kedua cowok itu pergi meninggalkan apartemen Sania menuju ke rumah sakit.
Di lantai atas apartemen Sania masih dipenuhi rasa bimbang. Pergi menjenguk Ranti atau pertahankan rasa ego dendam pada Ranti. Bagi Sania kesalahan Ranti sudah tak terhitung. Keangkuhan Ranti antar dia ke jurang kehancuran. Wanita itu tak punya apapun lagi selain badan dan nyawa. Suami yang dibanggakan raib karena sedang dicari aparat berhubung dengan kejahatan laki itu. Bobby berkali celakai Bara. Pantas diberi pelajaran.
Lisa melihat sahabatnya gelisah ikut tak enak hati. Lisa tahu Sania sedang berperang melawan diri sendiri. Pergi memaafkan Ranti atau tetap pertahankan ego dendam. Setahu Lisa temannya itu orangnya lembut hati. Tak bisa lihat orang susah. Cuma Ranti kelewatan lukai Sania tiada akhir. Mungkin saat inilah titik akhir Ranti. Dicampakkan Bobby lalu tenggelam ke dalam lumpur. Hujatan dan cacian netizen cukup lumatkan Ranti. Ranti telah panen buah jahat yang dia tanam sendiri.
"Sania..." panggil Lisa buyarkan lamunan Sania. Sania menoleh dengan tatapan kosong. Tak ada cahaya terang di mata itu. Biasanya mata Sania berkilauan pancarkan cahaya bening. Semua orang ingin berlabuh di danau bening itu.
"Lis...apa aku kejam?"
"Kamu tidak kejam cuma belum bisa berdamai dengan hati kecilmu. Aku tak memaksamu untuk terima Ranti saat ini. Tapi kita bisa melihat dia sebagai orang awam butuh perhatian. Anggap dia orang lain butuh doa kita."
Sania menarik nafas gundah. Semua berada di tangan Sania. Tetap pendam rasa benci atau keluarkan kata maaf.
Agra tak peduli konflik saudaranya. Agra masih terlalu muda untuk pahami segala bencana keluarganya. Anak ini tak tahu bagaimana kisah hidup mamanya. Agra cuma tahu dia tak punya orang tua, cuma punya kakak dan Abang.
"Lis...hatiku sakit setiap lihat Agra! Gara-gara manusia berhati dengki masa kecil Agra bermanja pada mamanya punah. Bahkan Agra tak tahu rupa mamanya." lirih Sania namun di dengar Lisa.
Lisa menatap Agra yang sibuk baca buku pengantar game. Lajang itu asyik saja tak terpengaruh oleh semua omong kosong antara saudaranya.
"Semua sudah terjadi. Diingat makin sakit. Kita harus move on. Hati depan masih panjang. Kita butuh perjuangan agar makin maju. Kalau kau belum bisa jumpa Ranti biarlah kita kirim doa saja. Ok?" Lisa berusaha Sania tenang. Lisa sudah dengar dari Rangga kalau Sania punya masalah dengan kejiwaan. Semua karena trauma masa lalu. Memaksa Sania bisa saja picu emosi Sania kembali tak stabil.
"Iya..." sahut Sania lesu.
__ADS_1
Lisa tersenyum, "Berapa kau beli perhiasanku? Pasti mehong."
"Lumayan...setara dengan jam tangan mas Rangga. Kalau kau suka boleh ambil satu jam tangan. Sengaja kubeli lebih karena takut tak cukup bagi."
"Ya ampun San...untuk apa beli barang semahal itu. Aku jadi tak tega pakai. Takut lecet!" Lisa meraih kotak berudu berisi perhiasan indah itu. Lisa tak henti kagum pada pilihan Sania yang berkelas. Tak rugi Sania muncul sebagai CEO muda kaya raya. Selera juga sangat ok.
"Bukan dipakai sehari-hari. Untuk acara penting doang! Untuk Sekar dan Putri sudah kupilih yang couple dengan pasangan masing-masing. Sedikit curang untuk yang lain." Sania mengadu isi koper keluarkan hadiah untuk Sekar dan Putri.
Lisa tak sabar ingin lihat pilihan Sania untuk kedua konco lainnya. Ternyata selera Sania patut diacungi jempol. Sangat elegan dan anggun. Tidak norak tapi tetap tunjukkan kelasnya.
"Wah indahnya! Mana punya Roy dan Rudi?" Jiwa kepo Lisa makin menjadi ingin lihat pasangan jam Sekar dan Lisa.
Tidak susah bagi Sania keluarkan dua kotak lain yang lebih gede sedikit dari kotak punya Sekar dan Putri. Sekali dipandang kalau jam tangan tersebut memang pasang. Cuma untuk cowok lebih gede tampil macho.
Lisa tak habis kagum pada pilihan Sania. Betul-betul berjiwa trendy.
"Kujamin kedua lalat bising itu pasti jingkrak kegirangan. Tak rugi kamu jadi orang kaya. Selera sangat bagus. Tapi gue heran sama lhu San! Rugi sekapal tapi lhu kok tak tidak tampil wah!"
Mata Sania menyipit tak paham maksud Lisa. Tampil wah bagaimana? Pakai perhiasan dari ujung rambut sampai ujung kaki? Atau berpakaian mewah pamer merek? Sania kurang paham maksud Lisa.
"Maksudmu?"
"Dasar Sania kuper. Orang kaya biasa tenteng tas Hermes. Sepatu Gucci, baju dari Giordano atau apa kek?"
Sania tertawa kecil, "Untuk barang mahal gitu kalau kita tak nyaman. Bagiku tak perlu mahal yang penting nyaman. Aku bukan type orang histeris kemaruk nama besar. Aku hidup apa adanya. Tidak tertarik harus dipelototi karena tenteng barang mewah. Semua dari hati. Kau lihat bajuku ini? Harganya cuma ratusan. Tapi badanku lega memakainya. Itu tanda hidup aku tenteram."
Lisa angguk setuju dengan ucapan Sania. Pamer barang mewah cari perhatian justru hilang privasi diintip orang melulu. Tampil apa adanya lebih santai selama tak merugikan orang lain.
"Ini gue setuju. Boleh kupilih satu jam?"
"Silahkan!" Sania mengijinkan Lisa pilih salah satu jam lagi di luar jam untuk Sekar dan Putri. Lisa tak ragu bongkar satu persatu jam cari yang cocok di mata.
Sania biarkan Lisa bersuka ria dengan para jam. Sania memilih dekati Agra untuk ngobrol. Lama mereka tak ngobrol berdua dari hati ke hati. Mungkin ini waktu tepat dengar curhatan Agra. Mana tahu ada yang ingin disampaikan lajang kecil itu.
Sania duduk di samping Agra sambil perhatikan anak itu baca buku petunjuk gamenya dengan serius. Sania menyentuh kepala Agra perlahan. Agra menoleh sekilas lalu kembali baca buku kecil itu.
"Agra ngerti isi bukunya?"
"Sedikit karena bukunya berbahasa Inggris."
"Oh itu...itu karena mbak belinya di luar negeri. Belum resmi dari Indonesia. Biar mbak bantu." Sania mengambil buku kecil itu dari tangan Agra namun di tahan lajang itu.
"Ngak usah mbak! Agra sudah ngerti kok! Boleh pasang di sini main sebentar? Agra pingin test."
"Ok..." Sania ijinkan mengingat mereka juga tak jadi ke mal karena Ranti akan melahirkan. Kasihan Agra bosan dikurung di apartemen tanpa kegiatan.
Sania dan Agra segera masuk kamar Sania karena televisi berada dalam kamar. Di ruang tamu tak ada alat elektronik itu karena Sania lebih banyak habiskan waktu dalam kamar.
Lisa masih sibuk pilih hadiah tak open apa yang dilakukan Sania dan Agra. Kedua kakak adik itu tak bakalan kabur tinggalkan dia. Lisa seperti cewek umumnya ada jiwa iri dikit. Maunya semua hadiah jatuh ke tangannya. Menurut Lisa masing-masing jam memiliki karakter sendiri. Ada yang lembut, ada yang anggun dan terakhir trendy layak jam anak muda.
__ADS_1