MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bersikap Jujur


__ADS_3

Bara mendengus tak tertarik pada rayuan Sania. Bara memang sudah cukup lelah seharian urus perpindahan kantor baru. Mandi lalu cari ranjang empuk merangkai mimpi indah itu tujuan Bara. Sania Mau diskusi soal Amanda bukan urusan Bara. Bara tak tertarik masuk ke dalam sinetron garapan Ranti. Sudah dijamin tak ada penonton.


Sania lega Bara tidak usil ingin ikut campur dalam urusan yang akan dia bahas bersama kedua orang tua Bara. Kali ini Sania serius harus berbuat sesuatu agar tak ada salah paham antara Sania dan keluarga Bara.


"Ada apa anak manis?" tanya Bu Jaya setelah Bara menghilang.


Sebelum menjawab Sania berdiri menghadap kedua orang tua itu dengan sopan. Sania bungkukkan badan sembilan puluh derajat beri hormat pada kedua orang tua Bara. Pak dan Bu Jaya kaget dengan tingkah aneh Sania.


"Aku Sania Mulder..itu nama asliku! Kisah hidupku sangat panjang. Bolehkah Sania berlaku tidak sopan minta bicara di tempat lebih pribadi?" Sania tegakkan badan setelah perkenalkan nama lengkapnya.


"Sania Mulder? Seperti pernah dengar nama ini. Kamu ini..." Pak Jaya mendekap mulut mengharap apa yang dia pikirkan adalah kenyataan.


"Kita bicara di tempat lain. Sania tak mau orang lain dengar termasuk Bara." Sania berkata dengan tegas tak cermin Sania yang biasa imut nan manis. Sania yang ini berwibawa menunjukkan kelas dia.


"Mari kita bicara di ruang kerja papa." ajak Pak Jaya merasakan aura Sania beda dengan Sania biasa. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan gadis muda ini. Satu rahasia yang tak boleh diungkap ke umum.


Pak Jaya membawa jalan menuju ke ruang kerjanya. Di belakang menyusul Sania dan Bu Jaya. Ruang kerja Pak Jaya cukup luas berisikan buku-buku serta file penting perusahaan. Kelak semua ini akan jadi milik Bara dan Fadil. Pak Jaya berusaha keras beri kebahagiaan untuk anak dan isteri. Cuma sayang Bara sempat melukai hati orang tua itu karena menikahi Nania. Orang tua mana rela melihat anak sendiri menikahi wanita hamil anak orang lain. Satu cerita konyol yang ada dalam kehidupan ini. Dalam kisah sinetron juga tak ada tampil kisah tolol nan bodoh. Tapi itulah yang terjadi pada Bara. Menikahi Nania yang sedang hamil anak Doni.


Di dalam ruang kerja Pak Jaya sedikit muncul suasana tegang. Kedua orang tua itu tak tahu apa yang diinginkan Sania. Mereka hanya bisa menunggu apa yang akan dikatakan Sania.


Sania diminta duduk di sofa panjang bersama Bu Jaya sementara Pak Jaya duduk di kursi tempat dia biasa melakukan aktifitas rutin. Mereka seperti pejabat penting akan lakukan rapat penting sangat pribadi. Apalagi Sania pancarkan aura lain dari biasa. Serasa Sania teramat wibawa malam ini.


"Maaf bila Sania tak sopan. Sebelumnya Sania mohon apa yang Sania utarakan malam ini hanya rahasia kita bertiga. Bara juga tak boleh tahu. Sania mau Bara mengenalku hanya sebagai Sania isteri kecilnya." Sania buka suara ketimbang berlarut dalam ketegangan.


"Tentu asal tak menyakiti Bara. Kami tak mau Bara terluka lagi oleh wanita. Bara terlalu baik hati pada wanita." sahut Pak Jaya beri pendapat sendiri. Pak Jaya tentu tak berharap rahasia Sania akan melukai Bara.


"Tentu saja tidak. Sania hanya mau Bara menyayangiku sebagai Sania apa adanya. Bukan Sania lain-lain."


"Baiklah! Kita dengar ceritamu!"


"Terima kasih."


Sania mulai berkisah seluruh kisah hidupnya dari awal hingga menjadi isteri Bara. Tak ada satupun Sania lewatkan berterus terang tentang dirinya pada kedua orang tua Bara. Pak Jaya dan Bu Jaya tercengang dengar kisah hidup Sania yang sangat menyedihkan juga luar biasa. Seorang anak berjuang dari kecil demi meraih hak yang memang punyaan dia.


Pak Jaya makin salut pada menantunya serta berjanji akan melindungi isteri Bara sampai titik akhir. Sania adalah manusia yang pantas diberi perlindungan. Bukan karena Sania menantu keluarga Jaya nun dari segi kemanusiaan Sania berhak dapat perlindungan dari orang yang lebih kuat.


Percakapan antara anak menantu berakhir tatkala Bara muncul mencari isterinya. Hampir satu jam Bara kehilangan isteri dalam rumah. Mungkin lucu bila terdengar berita kehilangan isteri dalam lingkungan rumah. Tersiar keluar bisa jadi bahan lelucon kekinian.


Bara masuk ke ruang kerja papanya dengan muka masam. Lama dia menunggu di atas Sania tak kunjung datang. Andai tak ada mamanya Bara mungkin menuduh Sania berselingkuh dengan papanya. Sania terlalu menarik bagi mata nakal pria hidung belang.


Pak Jaya tertawa renyah melihat anaknya datang bawa muka bau cuka. Asam sekali.

__ADS_1


"Kenapa? Hilang bini kecil?" tanya Pak Jaya sambut Bara.


"Takut di culik penunggu rumah. Ngapain lama ngobrol? Aku mau tidur." ujar Bara duduk di samping Sania.


"Tidur saja...kayak anak kecil minta ditemani?"


"Iya dong! Kan sudah malam. Pingin dikeloni.."


Sania mencibir Bara yang tak tahu malu berani katakan kalimat sedikit menjurus ke arah mesum. Pak Jaya dan isteri pernah muda tentu tahu maksud Bara. Sania dan Bara termasuk pengantin baru. Tentu saja masih panas dalam urusan asmara. Terutama Bara yang sudah lama tak rasakan manisnya madu isteri. Kehadiran Sania bagai alat cas kembalikan power seorang lelaki.


"Ya sudah...pergi temani lakimu nak! Haripun sudah larut. Pergi istirahat!" Bu Jaya lebih bijak minta Sania temani Bara yang kebelet ingin peluk isteri.


"Bara...jangan pergi dulu! Papa mau bicara sedikit." Pak Jaya tak ijinkan Bara keluar bersama isterinya. Ntah apa yang hendak diutarakan pak tua itu.


"Ya pa..."


"Begini...Ini soal Amanda dan Ranti. Papa harap kamu jangan terlibat sama dua orang itu. Mereka manusia tak bermoral. Kau lihat sendiri. Datang fitnah Sania lalu minta kamu menikahi Ranti. Bukankah itu kegilaan tak termaafkan?"


"Papa tak usah kuatir! Apa Bara sudah gila korbankan bini sendiri demi rongsokan sampah gitu? Bintang top ataupun bintang kejora takkan goyah hatiku. Bara masih waras Pa...Tenang saja...Sania adalah wanita terakhir bagiku!" Bara berkata serius beri janji takkan tergoda Ranti. Mana mungkin Bara mau nikahi wanita culas macam Ranti. Dari kisah Sania saja Bara sudah petik hasil.


"Syukurlah! Lindungi Sania! Papa takut Amanda akan nekat menyakiti Sania. Dia itu terkenal brutal."


"Bara tahu...Sania takkan kubiarkan pergi sendirian. Banyak kucing liar mengincar kucing imut ku." Bara mengacak rambut Sania. Bara ingin ungkap rasa sayang tapi malah bikin Sania mendesah kesal. Badan sudah cukup lelah ditambah lelah pikiran lagi. Kehadiran Amanda dan Ranti cukup menggoncang pertahanan Sania. Kesabaran Sania makin menipis terhadap Ranti. Dari soal Bobby dia sudah ambil langkah mundur. Kini datang kacaukan Bara pula.


"Aduh...kalian pikir aku sebodoh itu? Tak usah kuatir. Aku tak terpikir cari bini lain. Cukup Sania seorang." Bara merangkul Sania erat-erat tak ingin berpisah. Perlahan tapi pasti Sania telah merajai hati Bara.


"Syukurlah! Papa tak mau dengar kamu punya affair dengan wanita manapun lagi. Kamu sudah tak muda. Tak usah bikin orang tua kuatir lagi."


"Slow pa...Bara bukan anak kecil. Bolehkah Bara bawa tuan Puteri kembali ke balai kami untuk istirahat?" buntut-buntut mau ajak Sania keluar dari ruang Pak Jaya. Bara tak sabar ingin berduaan dengan wanita yang telah beri percikan api di hati. Kini hatinya telah hangat oleh perhatian Sania.


"Pergi sono! Cepat istirahat! Besok kita ke kantor barumu. Mamamu sudah pesan sedikit makanan untuk para karyawan sebagai hari pertama masuk kerja. Kau ada rencana buat syukuran? Undang anak yatim atau undang teman-teman?"


"Hari Minggu depan kita syukuran undang anak yatim. Kita bikin acara khusus untuk anak yatim dan undang beberapa relasi. Termasuk Pak Elmo karena berkat beliau kita bisa berdiri lebih kokoh." Ujar Sania utarakan hasrat hati undang anak yatim panti asuhan di mana Agra dibesarkan. Pada kesempatan emas ini Sania ingin beramal beri santunan pada anak-anak yatim piatu. Sania akan ganti tempat tidur dan meja belajar para anak-anak yatim piatu.


"Terserah kamu nak! Papa yakin segala niat baikmu jadi berkah buat kita. Pergilah istirahat! Ada anak kecil hampir nangis ditinggal pujaan hati." Pak Jaya melempar pandangan ke arah Bara yang perlihatkan ketidak sabaran ingin cepat berlalu dari ruang kerja papanya.


"Gitu dong! Ayo sayang! Kita istirahat!" Bara menarik tangan Sania dengan cepat berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.


Sania mengangguk hormat sebelum pergi tinggalkan kamar mertuanya. Pak Jaya dan isteri balas anggukan Sania. Mereka bahagia Sania telah jujur ungkap semua kisah jati dirinya. Tak ada keraguan menerima Sania di dalam keluarga. Sania cocok untuk Bara walau tuaan dikit untuk Sania. Selisih hampir sepuluh tahun. Harusnya Sania lebih cocok dengan Fadil. Lebih sepadan tapi jodoh tak dapat memilih. Yang Maha Kuasa sudah gariskan takdir Sania harus jadi isteri Bara ya itulah yang terjadi.


"Semoga Bara tak salah langkah lagi. Sania adalah pilihan terbaik. Papa takut Bara lemah hati terhadap Maya dan Arsy. Mereka adalah noda hitam bagi Bara." gumam Pak Jaya namun di dengar Bu Jaya. Bu Jaya juga takut Bara terlempar kembali ke masa lalu biar tak kuat iman. Arsy dan Maya wanita pemberani tak tahu malu selalu berusaha goda Bara.

__ADS_1


"Mama akan ingatkan dia tiap hari. Ke mana kita mau cari menantu sebaik Sania. Berhati emas."


"Kita berdoa saja."


"Iya pa...kita istirahat juga."


Di dalam kamar Bara langsung mendorong Sania masuk kamar mandi agar bininya cepat bersihkan diri. Hari sudah cukup malam, waktunya istirahat. Bara bukan ingin mengajak Sania bercinta namun mau Sania mendapat waktu untuk rebahan pulihkan stamina. Sania cukup capek dua hari ini. Sania turun tangan langsung mengurus perpindahan kantor baru.


Sania selesai mandi pancarkan harum sabun mandi berbau segar. Bara yang sudah duluan naik ke tempat tidur melambai ke arah Sania agar ikut naik ke ranjang.


Sania tak gubris lambaian Bara. Wanita ini malah duduk di sofa membuka tas kantor mengeluarkan laptop. Jam segini Sania masih teringat pada kerja yang belum kelar. Bara harus bangga atau kesal dapat bini gila kerja. Suami pingin dia istirahat malah mau benamkan diri dalam kerja.


"Sayang...ini sudah malam."


"Tidurlah Lieve! Aku ada sedikit kerja. Sebentar saja." Sania melempar senyum manis untuk bayar rasa kecewa Bara ditolak berbagi Ranjang.


"Apa tak bisa besok?"


"Aku cuma balas email saja! Ini cukup penting. Lieve tidur dulu. Aku menyusul."


"Tidak bisa...aku tak bisa tidur tanpa kamu." Bara mulai perlihatkan gelagat jadi orang norak. Sania tak ambil pusing ocehan Bara. Makin diladeni makin norak.


Bara bangkit dari tempat tidur langsung tutup laptop Sania. Gerakan Bara sangat cepat tak sempat dicegah Sania. Semua file yang sudah Sania ketik terhapus belum sempat di save. Mau marah tak ada guna. Buang energi saja.


Sania menatap Bara tak paham mengapa Bara berubah sangar tak bisa diajak diskusi.


"Ini file penting lho!"


"Tak ada yang lebih penting dari waktu istirahat. Wajahmu sudah terlukis kata capek. Lihat lingkaran hitam di matamu! Aku tak kamu bekerja terlalu lelah untukku."


"Aku tahu sampai batas mana kondisi fisikku. Ok..ayok tidur!" Sania mengalah tak mau perpanjang perdebatan. Hari sudah merangkak malam. Memang waktu istirahat maka tak ada guna buang tenaga ajak Bara adu mulut.


"Gitu dong!" Bara menggendong Sania ala bridal naik ke ranjang. Bara meletakkan Sania perlahan ke kasur spring bed lalu selimuti wanitanya. Tak ada tanda-tanda Bara mau umbar nafsu malam ini. Bisa jadi Bara juga lelah.


Bara memutar langkah merebahkan diri di samping Sania memeluk wanitanya untuk menyongsong esok hari. Semoga esok akan jauh lebih baik dari sebelumnya. Segala langkah dipermudah, proyek dimuluskan. Semua harapan indah dituangkan dalam harapan besok penuh harapan.


Kicauan burung bersahutan mencolek kuping Sania menyambut hari baru. Suara kicauan burung bertanda hari ini cuaca akan bagus. Suara merdu burung milik tetangga Pak Jaya selalu rajin membangunkan mereka yang kupingnya sensitif. Kalau orang berkuping badak pasti tak mempan dibangunkan kicauan merdu sang burung.


Sania bangun melirik jam digital di ponsel. Pukul empat dini hari. Sebentar lagi jadwal sholat subuh. Cuma azan belum berkumandang.


Pada kesempatan ini Sania melanjutkan kerjanya yang sempat tertunda oleh tingkah tak bersahabat Bara. Menutup laptopnya tanpa ijin. Kerja Sania bukan hanya terpaku pada PT. Angkasa Jaya. Sania masih banyak tugas lain yang belum bisa di ungkap saat ini. Sania ingin membangun kerajaan di mana dia akan jadi ratu. Sania harus taklukkan semua tantangan untuk menjadi yang terbaik.

__ADS_1


Sania takkan melupakan rasa sakit yang ditoreh Bobby dan Ranti. Sania ikhlas tak bisa jadi isteri Bobby namun Sania tak terima dibodohi sekian lama oleh Bobby.


__ADS_2