MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Jumpa Bapak Kintan


__ADS_3

Arsy tak sangka Bara akan menahannya menampar pegawai baru yang lancang. Bara jelas sedang bela Sania walau tak terlihat kentara.


Arsy tak mungkin ngotot jatuhkan Sania di saat genting gini. Nyawa Kintan memang sedang di ujung tanduk. Pihak rumah sakit beri Arsy waktu satu kali dua puluh empat jam untuk pertimbangan jalan operasi Kintan.


Arsy mau tak mau telepon Rudi kabarkan kondisi Kintan. Sejujurnya Arsy malas hubungi mantan suaminya yang sekarang hanya jadi salesman barang tegel keramik. Rudi sudah tak punya apa apa untuk biayai pengobatan Kintan maka Arsy berharap pada Bara.


Arsy bicara sebentar sama Rudi. Sebentar saja lalu tutup ponsel mahalnya dengan ketus.


Sania menarik nafas lega Arsy sudah mau beri kesempatan pada Rudi menjadi bapak seutuhnya bagi Kintan. Walau Rudi tak punya dana paling tidak doa seorang bapak sudah sampai.


"Kita tunggu Pak Rudi datang. Kalian jangan pikir hari ini saja! Pikir ke depan bagaimana didik Kintan agar punya akhlak tak terjadi tragedi masa lalu. Dekatkan diri pada Pencipta agar kalian sadar kita ini hanya tanah yang dimuliakan diberi kesempatan jadi manusia. Pergunakan kesempatan ini dengan baik." Jiwa sok ustadzah Sania muncul lagi kasih ceramah gratis pada dua sosok manusia bermoral tahu busuk itu.


Bara pahami maksud baik Sania ingatkan mereka jadi manusia mulia. Lain Arsy tak terima dikuliahi anak kemarin macam Sania. Arsy merasa dia lebih tua dari Sania. Jam terbang hidup di dunia ini lebih lama. Asam garam lebih dulu dia rasakan.


"Kau anak kecil pintar omong saja. Prakteknya kau bisa?"


"Praktek soal apa? Menggoda laki orang? Memakai pakaian setengah meter biar dikasihani tak mampu beli kain?" Sania makin gencar isengi Arsy.


Terbuat dari apa otak Arsy. Jangan jangan otaknya seupil maka daya kerja lemah. Mentok ganggu laki orang saja.


"Bara...pecat pegawai kurang ajar ini! Dia tak tahu gimana hubungan kita?" Arsy merengek pada Bara sambil memegang lengan pria tinggi itu.


Sania bukannya takut malah tertawa sinis, "Pecat saja! Pecat dua arah. Aku siap kok!"


Bara puji mental Sania tak bergeming diancam Arsy. Sania tahu Bara tak mungkin pecat dia. Kalau pecat dia sebagai pegawai otomatis akan merembet ke ranah rumah tangga. Sania pasti akan menghilang dari retina mata Bara.


"Sudahlah Arsy! Jangan ganggu Sania! Dia adalah orang penting dalam hidupku." Bara mengaku secara tak langsung Sania berarti buatnya.


"Pegawai begini banyak. Asal kau mau cari. Aku juga bisa bantu kamu di kantor. Aku juga pernah kuliah."


"Arsy...bidangmu bukan di sini. Kau kuliah di tata boga. Jauh banget dari bidang kami." Tolak Bara halus.


"Kalian diskusi saja pesangon untukku! Aku siap pergi dari sini kok! Cuma mau kusarankan Bu Arsy cocok kembangkan bakat jadi detektif."


"Apa maksudmu?"


"Coba bayangkan! Kantor ini dapat proyek besar saja ibu tahu. Padahal itu rahasia perusahaan. Bukankah ibu berbakat jadi detektif?" Sania berkata dengan santai.


"Apa urusanmu? Aku adalah calon nyonya perusahaan ini. Semua kegiatan kantor ini aku tahu." sahut Arsy sok tahu.


Sania menggeleng pasang wajah sedih. Arsy si otak udang tak tahu dengan siapa dia berhadapan. Arsy tak sadar dia sedang berhadapan dengan nyonya Bara secara hukum dan agama. Status Nania masih kalah karena hanya bini dalam agama.


"Kasihan ibu...pulang dan mandi agar punya akal sehat pikir sebab akibat omongan ibu. Ibu sudah tua tak cocok cari masalah dengan aku yang masih muda. Stamina ibu redup." Sania menepuk bahu Arsy lembut merasa iba pada wanita ini. Sania keluar dari ruang Bara.


Arsy tercengang diperlakukan bak anak kecil oleh Sania. Setiap kata Sania menyindir dirinya.


"Bara...kau lihat anak buahmu! Kurang ajar banget!" sungut Arsy dengan nafas tersengal. Dada Arsy mau meledak diledek gadis muda itu.


Bara tak mampu berkata. Arsy tak sadar sedang gali lubang kubur diri sendiri mau berdebat dengan Sania. Bara saja habis akal bila berdebat dengan Sania. Arsy yang berakal pendek tentu bukan lawan Sania. Satu gebrakan saja Sania mampu tundukkan Arsy.


"Sudahlah Arsy! Sania itu orang penting di kantor ini. Kau jangan cari pasal sama dia! Kau akan malu sendiri. Sekarang fokus sama sakit Kintan." Bara tinggalkan Arsy kembali ke meja kerja dia.


Arsy tak rela Bara tinggalkan dia di sofa tamu. Wanita ini mengejar Bara sampai ke meja kerja. Arsy berniat dekatkan diri pada Bara bikin gerakkan manja hendak duduk di pangkuan pria ini.


Bara segera bangkit sebelum Arsy bikin heboh. Bara akan disidang di mahkamah pengadilan dengan hakim Sania dan penuntut umum Nania. Vonis mati seratus persen dituntutkan padanya. Bara masih sayang pada nyawa memilih menghindar.


"Arsy...ini kantor. Jaga sikapmu! Hormati aku sebagai teman. Aku sudah punya keluarga."

__ADS_1


"Bara hanya kau orang kucintai. Rudi hanya selingan waktu kau pulang tanah air. Aku khilaf khianati kamu. Tapi toh aku sudah balik. Kita mulai dari awal."


"Maaf Arsy! Aku boleh bagi perhatian buat Kintan tapi aku tak mungkin kembali padamu. Ingat aku sudah punya isteri."


"Isteri penyakitan? Apa dia bisa hangatkan ranjangmu?" Arsy meringsek makin dekat Bara. Bara mundur tak berani dekat dekat mantan pacarnya itu. Intel jempolan sedang intai dari balik kaca.


"Itu tak perlu kau risau kan. Aku tahu mana yang baik."


"Aku sudah tak sabar rasakan kejantananmu. Aku rindu masa lalu kita." rayu Arsy sambil mendesah genit.


Kalau dulu mungkin Bara akan tergugah oleh ******* manja Arsy. Tapi kini semua berubah. Bara punya isteri jauh lebih sempurna dari Arsy walau belum dapatkan jatah sebagai suami seutuhnya. Bara yakin akan taklukkan macan cantik miliknya.


"Kita hanya berteman. Tak lebih. Perhatianku hanya karena Kintan. Carilah laki yang lebih sempurna dari aku!" Bara meninggalkan Arsy di ruang kerjanya. Bara tak mau ambil resiko bikin Sania marah.


Bara pura pura ada penting dengan Dea padahal hanya hindari Arsy. Makin lama bersama Arsy bakal muncul makin banyak objek bikin sakit otak Bara. Sania berani mengancam akan resign pasti bukan sekedar gertak sambal terasi. Gadis ini pasti sudah punya jalan mundur yang bakal tampung dia. Pak Wandi pasti takkan ragu rekrut berlian Kilauan miliknya saat ini. Bara akan gigit jari kayak Bobby bila Sania resign.


"Dea...cari files tahun lalu. Files Pak Jagat pembangunan mal di Bengkulu." Bara sengaja beri perintah di depan Sania supaya gadisnya tak pikir macam terhadap Arsy.


"Iya pak!" Dea sigap melaksanakan perintah bosnya. Dea tahu situasi sedang tak aman. Arsy datang bikin kacau, ditambah wajah mendung Sania bikin kisah makin mirip sinetron di televisi.


Bara posisikan badan di samping Sania ikut pantau kerja Sania di PC komputer. Di layar komputer bukan rancangan gambar denah tapi gambar seorang wanita bertaring sedang meninju serigala tapi wajahnya buaya. Badan serigala tapi kepala buaya.


Bara tak dapat tahan tawa lihat cara Sania salurkan amarah. Cara kreatif tak sakiti orang lain. Tawa Bara bergema bikin kaget penghuni lantai bawah juga Arsy yang berada dalam ruang Bara.


Sania mendorong Bara menjauh agar jangan ganggu kesenangannya. Gambar Sania cukup bagus untuk ukuran seorang desainer bangunan. Cukup hidup walau cuma gambar pelampiasan amarah.


"Siapa wanita bertaring hajar buaya siluman?" tanya Bara setelah puas ketawa.


"Vampire hajar buaya kurang ajar. Sama sama makhluk buangan." ujar Sania datar.


"Menurutmu aku ini buaya langka?"


"Aku justru jaga emosimu jangan sampai bakar gedung ini. Aku belum punya dana renovasi gedung."


"Tak punya duit renovasi tapi punya duit biayai hidup mantan pacar. Bapak ini pengelola panti janda muda?"


"Ya Tuhan. Dari mana kau pungut kalimat mengerikan ini?"


"Kenapa harus dipungut? Emang sudah ada dari dulu cuma diterbitkan. Tunggu moments tepat. Akhirnya diluncurkan tepat waktu."


Bara meremas tangan kalah lagi lawan bini mudanya. Kenapa otak Sania cepat sekali respon setiap kata katanya. Setiap kata Sania bertujuan patahkan kalimat Bara.


Belum sempat Bara membalas. Datang Sugeng mengantar seorang laki bertampang kuyu berpakaian berlambang perusahaan tertentu.


"Pak...ini Pak Rudi. Katanya mau jumpa Bu Arsy." lapor Sugeng sopan.


"Ya..terima kasih." Bara minta Sugeng mundur.


Bara menatap rivalnya di masa lalu tanpa emosi. Rudi sudah jatuh kehilangan segalanya setelah didepak Abang kandung gara gara korupsi besaran di perusahaan Abang sendiri.


Parahnya Arsy minta cerai setelah Rudi jatuh miskin. Wanita itu tak mau diajak hidup susah. Bara yang jadi sasaran Arsy setelah bercerai dari Rudi. Di tambah anak Rudi sakitan. Maka berat beban Bara bantu Arsy.


"Ayo Rudi! Masuk ke ruanganku! Kita bahas soal Kintan." Bara menepuk bahu Rudi biar laki itu tak grogi. Bara mau Rudi tahu dia tak dendam kejadian masa lalu. Yang lalu biarlah berlalu.


"Terima kasih." sahut Rudi melemah sekaligus segan.


Rudi masuk diiringi tatapan iba Sania. Sania yakin di masa lalu laki itu pasti gagah. Keuangan membuat Rudi kehilangan pamor lelaki gagah.

__ADS_1


Arsy kontan berdiri dengan gaya angkuh tatkala Rudi masuk ruang Bara. Senyum sinis menghiasi wajah culas Arsy. Tatapan menghina juga tak ketinggalan mejeng di mata Arsy.


Rudi menunduk segan menatap mantan isterinya. Rudi rasa Arsy sudah berhasil menjerat Bara ke pelukan lagi. Bara tak sekaya dulu tapi Bara tetap pewaris kekayaan keluarga Jaya yang terkenal kaya raya. Gara Nania Bara harus berseteru dengan orang tua. Kisah cinta mereka sungguh kacau.


"Duduklah Rud! Mau minum apa?"


"Tak usah repot. Gimana kondisi Kintan?"


"Kintan makin lemah. Dia harus dioperasi. Kamu adalah bapaknya jadi keputusan di tanganmu." Bara langsung ke topik bahasan.


"Dia punya apa bisa biayai Kintan. Gaji paling sejuta." sinis Arsy kucilkan nilai Rudi.


Rudi mengusap kening tak membantah kata Arsy. Gaji Rudi hanya cukup untuk biaya hidup sehari hari. Bagaimana mau biayai operasi Kintan yang mungkin mencapai ratusan juta.


"Aku..." Jelas sekali Rudi bingung. Bara dan Arsy menanti jawaban dari mulut Rudi selaku ayah kandung.


"Tunggu...aku mau bicara sama bapaknya Kintan empat mata." Sania menyela secara tiba tiba.


Ketiga orang menoleh ke arah Sania yang ikut campur. Arsy cuek biarkan Sania ceramah Rudi sampai kuping Rudi penuh kata kata gadis berlidah tajam itu. Sebenarnya Bara tak setuju Sania bicara dengan Rudi. Mulut pedas Sania bisa ledakkan Rudi dalam rasa bersalah sepanjang hidup.


"Anda?" Rudi ragu ngobrol dengan orang dikenal. Tampang Sania cantik tak gambarkan orang jahat namun Rudi tetap segan.


"Oh maaf aku belum perkenalkan diri. Aku Sania perancang hidup Bara."


Bara merasa lehernya tercekik tangan malaikat elmaut. Sania mengaku perancang hidup Bara. Orang pintar akan tangkap maksud Sania. Tapi saat gini siapa perhatikan makna mendalam dari kalimat Sania.


"Nona Sania...apa yang mau dibicarakan?"


"Tentang anak bapak. Mari kita bicara di tempat lain. Sini banyak nyamuk mutant!"


Lagi lagi Bara dibodohi Sania. Manusia segede dia dianggap nyamuk mutant. Sejenis monster dari buku komik anak anak.


"Oh.." Rudi juga dibuat bodoh oleh Sania. Tak ada pilihan lain buat Rudi selain ikut Sania naik ke lantai tiga tempat diadakan rapat kantor.


Setelah berada di atas Sania berubah ramah dan lembut. Rudi pangling lihat perubahan Sania dalam sekejap mata. Gadis sinis berubah gadis manis penuh pesona.


Sania beri kode pada Rudi duduk di salah satu kursi ruang rapat. Lalu Sania juga tempatkan bokong indahnya di salah satu kursi.


Kini mereka saling berhadapan. Rudi takjub kecantikan gadis muda belia ini. Mata Sania berbinar pancarkan kecerdasan.


"Aku panggil apa? Mas Rudi, Pak Rudi atau kak Rudi." Sania memulai pembicaraan dengan ramah.


Rudi mulai nyaman disodorkan rasa persahabatan oleh gadis cantik ini.


"Terserah kamu! Nona Sania mau ngobrol apa dengan laki gagal macam aku?"


"Soal Kintan...Arsy datang paksa Bara biayai operasi Kintan. Dia kira Bara dapat banyak proyek bisa minta uang sama Bara. Itu uang proyek tak bisa dicairkan untuk tempat lain."


Rudi mangut maklum. Sania tak salah bila tak ijinkan Bara cairkan dana proyek untuk anaknya. Bara bisa dipenjara bila tak selesaikan proyek tepat waktu.


"Aku maklumi itu. Jujur aku juga tak mampu. Mungkin ini nasib Kintan harus tanggung dosa orang tuanya." sahut Rudi tak berdaya. Keringat dingin memenuhi dahi Rudi. Ntah karena panas atau ketakutan Kintan tak tertolong.


"Aku akan menolong mu. Aku akan biayai semua dana operasi Kintan tapi kau tak boleh bilang pada siapapun. Aku akan bayar berapapun asal kau tutup mulut. Bilang saja uang itu dari teman atau keluargamu. Jangan libatkan aku!"


Rudi tak percaya masih ada orang berhati malaikat. Sania mau menolong tapi harus dirahasiakan. Di jaman ini menolong orang sering diposting untuk cari tenar. Bikin channel bantu orang cari keuntungan pribadi.


Sania memang lain dari yang lain. Sudah cantik baik hati pula. Siapa beruntung memikat bidadari tanpa sayap ini?

__ADS_1


"Nona Sania serius?"


"Serius...sekarang kasih jawaban ijinkan Kintan operasi. Aku akan kirim orang lunasi biaya operasi. Kau temui orang itu setelah pulang dari sini. Langsung ke rumah sakit. Kau yang harus tanda tangan bertanggung jawab sebagai bapak."


__ADS_2