
Rangga menggeleng tak mau jadi duri dalam daging adiknya. Sania sudah keluarkan biaya tak kecil untuk beli tanah, mobil juga keperluan Agra. Rangga mana tega terusan gunakan uang Sania untuk beli rumah lagi. Sudah cukup Sania berkorban untuk mereka.
"Mas akan nabung untuk beli rumah. Simpan uangmu! Kamu masih perlu banyak pengeluaran. Belum lagi beli peralatan doorsmeer. Kita perlu banyak uang untuk wujudkan mimpi punya doorsmeer." Rangga tetap sodorkan kartu sakti itu pada Sania.
Sania tersenyum kecil melihat Abang idaman hati. Tidak matre juga pengertian. Andai Rangga jahat tentu saja dengan senang hati menerima limpahan dana segitu banyak.
"Simpan saja mas. Gunakan untuk beli peralatan bengkel kita. Aku masih punya dana cadangan. Dan lagi sekarang biaya hidupku sudah ada yang tanggung. Makin irit toh!"
Rangga mangut benarkan kata Sania. Sekarang biaya hidup Sania jadi tanggung jawab Bara selaku suami. Bara harus melindungi Sania dan penuhi segala kebutuhan gadis itu. Walau sudah menyandang gelar nyonya tapi Sania belum melepaskan kegadisan maka masih bisa disebut gadis.
"Mas akan jaga uangmu. Mas janji takkan bawa lari uangmu."
"Omong apa tuh? Eh Agra...kalau mau sesuatu minta sama mas Rangga ya! Jangan malu malu!"
Agra mendapat angin segar dari Sania tentu saja mengangguk secepat kereta super cepat. Mulus meluncur.
Rangga mendelik marah pada cara Sania memanjakan Agra. Sangat tidak mendidik. Agra bukan butuh limpahan harta tapi limpahan kasih sayang yang terlewatkan. Sania harus bayar tugas seorang kakak memberi perhatian lebih banyak.
"Kalian dua sama saja. Bengal.."
Sania dan Agra tertawa cekikan melihat Rangga kesal. Wajah tampan Rangga kusut bak baju belum setrika.
"Mas...jangan kaku! Ini sudah jaman elastis. Tiang listrik saja mulai hilang ganti kabel bawah tanah yang fleksibel. Fleksibel dikit kenapa?" Sania berusaha ciptakan suasana nyaman antara mereka.
"Mbak Sania benar mas! Cepat tua marah terus." timpal Agra sok tua.
Rangga membuang muka tak mau tatap tampang wajah kedua adik bengalnya. Dua lawan satu dia tak ada harapan menang. Satu lawan satu juga tak menang dari Sania, ditambah Agra pula. Habislah semua harapan jadi pemenang.
"Kita pulang?" tanya Rangga mulai tak betah duduk lama di rumah Bara. Yang lain masih sibuk dalam topik bahasan masing masing. Tak satupun menarik perhatian Rangga.
"Kita pulang ke apartemenku ya mbak!" pinta Agra penasaran bagaimana bentuk apartemen. Rumah kok setinggi langit. Apa tak capek naik tangga sampai ke puncak bangunan.
"Ok...mbak pamitan bentar ya! Mbak lihat kondisi mbak Nania dulu." Sania mengacak rambut Agra sebelum masuk ke kamar Nania. Rangga menarik nafas lega akhirnya Sania mau pulang.
Sania masuk ke kamar Nania untuk pastikan madunya dalam kondisi stabil. Ternyata Nania sudah tertidur lelap. Mungkin wanita ini kecapekan ikut acara nikahnya. Sania memilih pergi tanpa ganggu tidur Nania.
Lalu Sania beri kode pada Bara untuk ke belakang sebentar. Untunglah Bara cepat tanggap keinginan Sania. Laki ini melangkah menuju ke tempat di mana Sania menanti.
Sania lihat kiri kanan takut ada yang dengar percakapan dia dan Bara. Semua aman.
Semua masih sibuk ngobrol di ruang tamu. Termasuk Lisa sok bergaya emak emak ikutan dalam forum kaum ibu ibu tua.
"Ada apa?" tanya Bara begitu mereka berdua.
"Aku mau minta ijin balik apartemen."
"Kau gila ya. Orang tuaku masih di sini kau mau kabur. Apa kata orang pengantin wanita kabur usai ijab kabul."
"Tapi kita sudah janji tinggal pisah."
"Iya tapi bukan sekarang nona. Tunggu malam ataupun tamu pulang dulu. Hormati aku sebagai suamimu!" Bara kurang senang sifat kekanakan Sania. Belum ada sejarah siap nikah langsung pisah rumah. Tak ada niat nikah kalau gitu.
"Maaf!!! Aku lelah pingin tidur." Sania memelas.
"Tidur di kamar atas. Aku sudah siapkan kamar untukmu. Kau akan tempati kamar atas selama tinggal sini. Nania di bawah. Adil kan?"
"Itu kan kamar bapak dan mbak Nania."
__ADS_1
"Itu dulu sebelum Nania sakit. Sekarang dia mana sanggup turun naik tangga. Pergilah istirahat kalau lelah!"
"Tapi aku sudah janji sama mas Rangga dan Agra untuk makan malam bersama."
"Kamu belum cerita siapa Rangga dan Agra. Mengapa dia jadi walimu?"
"Dia saudaraku. Wajar jadi waliku. Aku kasih tahu mas Rangga dulu. Biar dia pulang duluan. Nanti malam aku nyusul mereka." Sania berniat pergi namun ditarik Bara hingga mereka berdekatan.
Bara dekat wajahnya ke muka Sania sambil menatap mata bening isteri mudanya.
"Apa aku demikian menyebalkan sampai kau harus kabur di hari pertama nikah?"
Sania mendorong Bara agar menjauh dari tubuhnya. Sania merasa panas dingin berdekatan sangat intim dengan Bara. Jantung nya berpacu lebih kencang dari pacuan kuda. Berdegup tak karuan.
"Bapak menjauh dulu. Tak baik kita sedekat ini." kata Sania dengan wajah merah.
"Oya? Nanti aku lapor polisi kalau aku mencium isteriku. Kita lihat undang undang ke berapa akan menghukum ku?" Bara sengaja makin dekatkan wajahnya ke pipi Sania. Sania kebingungan menjawab pertanyaan Bara. Apa ada undang undang jerat suami cium bini?
"Bapak jangan nakal! Ini tak masuk perjanjian kita."
"Aku nakal? Emang aku cubit kamu? Baiklah! Kucubit kamu pakai bibir ya. Kamu tak patuh sih!"
"Jangan sembarangan! Kita bukan..." Sania tak bisa lanjutkan kalimat lagi. Bara tersenyum licik lihat keringat mulai muncul di dahi Sania.
Bagaimana gadis ini bisa sepolos ini padahal bertahun jadi pacar Bobby. Bara tak berharap banyak dari Sania karena tahu Sania adalah mantan pacar Bobby. Playboy macam Bobby mana mungkin lewatkan gadis semulus Sania. Mungkin saja mereka sudah berhubungan cukup jauh. Bercinta layak suami isteri.
Namun tingkah polos Sania buat Bara berpikir ulang akan dugaan hubungan rumit Sania dan Bobby. Sania terlihat lugu soal hubungan laki dan wanita. Masih ada rasa malu juga gugup didekati Bara.
"Mau bilang apa? Kita bukan muhrim? Jangan lupa nona eh salah nyonya! Kamu adalah isteriku sah hukum dan agama. Jangan lupa itu! Atau perlu kubikin badge atas nama nyonya Bara?" Bara makin semangat ganggu gadis muda yang baru jadi bininya. Sania mati kutu. Mulutnya yang biasa setajam silet kini terkatup rapat.
"Kita bicara baik baik pak! Bapak kembali ke ruang tamu dulu. Nanti tamu pikir kita mesum."
Sania melongo. Skenario kok berubah cepat? Jauh melenceng dari janji awal. Janji mereka tak ada acara intim kok sekarang bahas soal mesum. Sania tak terima dipermainkan Bara. Gadis ini mencubit perut Bara dengan gemas karena merubah alur cerita.
"Aduh sakit! KDRT di hari pertama nikah." ujar Bara sambil mengelus perut. Rasanya lumayan perih namun Bara puas Sania sudah berani menyentuhnya.
"Siapa suruh isengi aku? Rasain!" Sania tertawa puas.
"Baru kali kulihat ada wanita siksa suami di hari pertama nikah. Biasanya kan mesra."
"Jangan harap! Awas...aku mau ke ruang tamu." Sania mendorong Bara agar dia bisa menjauh dari Bara. Bara bebaskan Sania kali ini. Masih banyak waktu bercanda dengan gadis muda full energi itu.
Bara yakin pelangi sudah muncul setelah sekian lama mendung. Hidupnya akan penuh warna warni dilukis bersama gadis muda berdarah panas.
Sania menemui Rangga dan Agra minta maaf tak bisa ikut bersama mereka saat ini. Kata kata Bara ada benarnya. Mana mungkin pengantin baru tinggalkan suami pergi tidur tempat lain. Seperti menikah untuk guyonan saja.
"Maaf mas...Sania tak bisa ikut kalian hari ini. Besok malam saja ya. Pulang kantor Sania jemput kalian."
"Besok kalian sudah kerja?" tanya Rangga terperanjat. Pengantin model apa itu. Tak ada kata libur walau baru nikah. Pengantin lain malah akan ambil cuti berminggu-minggu untuk nikmati masa pengantin baru. Bahkan ada yang cuti sebulan untuk honeymoon ke luar negeri. Rangga yakin Bara sanggup biayai perjalanan jauh.
"Terserah kamu saja! Kami pulang ke tempat Pak Bur saja."
"Ok tapi beliin ponsel Agra dulu mas. Kasihan adikku asyik mengharap. Beli yang tepat guna dan gampang dipahami." Sania mengedip mata pada Agra.
"Tuh mas Rangga! Jangan lupa amanah mbak Sania!" Agra mencolek Rangga agar jangan ingkar janji.
"Iya setan cilik!"
__ADS_1
Agra tersenyum puas. Hp impian segera hadir. Agra tak bermimpi lagi karena hp itu akan segera berada dalam genggaman tangan.
"Pamitan dulu sama yang lain mas! Tak sopan pergi gitu saja. Oya mas...Kalau jumpa Ranti jangan sebut namaku! Aku tak mau mengakui dia ataupun yang berhubungan dengan keluarga Suhada. Anggap mas tak pernah jumpa aku. Kita ini hanya saudara bukan saudara sedarah."
Rangga termangu dengar permintaan Sania tak mau dikaitkan dengan keluarganya. Rangga tahu Sania sakit hati pada Ranti. Kejadian masa lalu belum jelas kini Ranti menambah luka baru di hati Sania. Tak heran Sania benci pada Ranti.
"Baiklah! Mas takkan omong apapun tentang kamu. Tapi janji harus jaga diri. Mas tak mau kehilangan kamu lagi. Sekarang Agra bersama kita. Kita harus makin kompak."
"Ya mas...pulanglah! Kasihan Agra bosan di sini."
"Hp jangan lupa!" Agra nyerocos ingatkan dua saudara yang lebih tua darinya. Agra takut Rangga pura pura lupa nanti.
"Dasar bocah! Itu diingat-ingat terus. Awas kalau nilainya anjlok! Mas sita hpmu."
"Kayak debt kolektor sadis." keluh Agra sedih.
"Agra..tak boleh gitu sama mas Rangga. Beliau bukan debt kolektor tapi juru sita."
Sania dan Agra tertawa puas berhasil ejek Rangga. Secara diam diam Bara melihat keakraban Sania dan kedua lelaki itu. Bara bukan cemburu pada Rangga cuma heran pada hubungan mereka. Bara tak mungkin cemburu pada wali nikah Sania. Rangga sudah jadi wali Sania jelas mereka keluarga.
Rangga pamitan pulang. Lisa yang melihat Rangga ijin pulang langsung minta ikut pulang. Rencana Lisa bukan mau pulang tapi bisa bersama Rangga sang pencuri hati. Rangga makin kece di mata Lisa sejak ada senyum bertengger di bibir Rangga. Tidak kaku macam tiang listrik lagi.
Rangga tak menolak Lisa ikut dengan mereka. Mereka juga akan pergi beli ponsel untuk Agra. Kehadiran Lisa bisa membantu Agra tentukan hp mana cocok dipakai. Di jaman ini ribuan model hp munculan di pasaran. Dari yang sederhana sampai yang puluhan juta.
Agra tak mungkin dapat jatah hp mahal kalau tukang beli Rangga. Andai Sania yang beli pasti edisi terbaru berteknologi 5G. Rangga mana ngerti sekali soal produk hp kekinian. Masalah obeng, kunci Inggris, tang dan segala pernik bengkel mungkin dia pakarnya.
"Lis... bantu Agra pilih hp edisi terbaru ya! Ntar meganthropus ente malah beli model candy bar jaman kakek ente." bisik Sania pada Lisa sebelum mereka berangkat meninggalkan rumah Bara.
"Kualat nih orang! Saudara sendiri dibilang manusia purba. Dasar..." Lisa tak terima Rangga diejek manusia purba oleh Sania. Rangga seganteng gitu disamakan dengan manusia jaman batu hasil temuan Ralph von Koenigswald di daerah Sangiran Solo.
"Hehehehe...di matamu tai mata mas Rangga juga seperti intan. Kutitip dua jagoan ku padamu. Jaga mereka jangan sampai hilang!"
"Kubayar ente kalau hilang." ketus Lisa masuk ke dalam mobil Rangga tak peduli pada senyum ejek Sania lagi.
Ngobrol sama Sania takkan ada akhir. Ada saja akal Sania pancing emosinya. Berdebat tak ada ujung pangkal.
Menjelang sore acara ngobrol di rumah Bara berakhir. Acara nikah berubah jadi ajang ngerumpi. Tak ada acara pesta apapun selain makan dan minum hidangan cukup mewah. Yang hadir cuma kerabat inti. Satu persatu bubar kembali ke rumah masing masing.
Di rumah tinggal Sania, Bara dan Nania beserta beberapa pembantu bereskan sisa bekas acara makan. Pembantu rumah Pak Jaya dioper ke tempat Bara untuk bantu Bik Sur persiapkan acara makan makan. Acara selesai masih tertinggal tugas bersihkan semua peralatan.
Sania masuk ke kamar Nania lihat apa wanita itu sudah bangun belum. Nania sudah terlalu lemah untuk lakukan aktifitas. Daya tahan tubuhnya sudah tak ada. Imun tubuhnya menghilang karena sering dikemoterapi.
Sania benar benar iba pada Nania. Badan tinggal tulang berbungkus kulit. Warna kulit menghitam berkeriput. Rambut nyaris habis dimakan obat kemoterapi. Sungguh tragis hidup Nania.
Sania berharap bisa beri rasa bahagia pada Nania walau tak tahu kapan ajal wanita itu. Hanya Allah Yang Maha Tahu. Semua menjadi rahasia Illahi.
Nania sudah bangun namun masih bergolek di tempat tidur. Untuk bangun saja wanita ini tak berdaya lagi. Dari hari ke hari Nania makin lemah. Kondisinya makin memburuk. Ditambah tekanan dari keluarganya maka keadaan Nania makin drop.
"Mbak...sudah bangun?" sapa Sania lembut sambil duduk di tepi tempat tidur Nania.
"Sudah... Kau mau tinggal sini kan?"
"Boleh asal mbak senang. Ini sudah mau sore. Gimana kalau mbak bersihkan badan?" tawar Sania penuh keibuan.
"Kau mau mandikan mbak?"
"Kenapa ngak? Perabot kita sama. Tak perlu malu."
__ADS_1
Nania tertawa dengar kata Sania yang lucu. Nania senang Sania tak berubah walau telah resmi jadi bini Bara. Posisi mereka sama saat ini.