MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Perasaan Bara


__ADS_3

Terbukti Darman yang menabrak mamanya hingga meninggal cuma dihukum dua tahun. Kini manusia laknat itu bebas hirup udara bebas sementara Sania kehilangan segalanya. Maka itu Sania kembali buat perhitungan sama orang yang telah tebar racun dalam hidupnya. Mereka harus bayar lunas atas dosa mereka.


Sania mengambil baju tidur dan baju kerja beberapa helai lalu masukkan tas travel bag. Sania orangnya sederhana tak pusing bawa segudang barang hanya untuk nginap semalam. Sania tak perlu berdandan menor untuk dapatkan wajah cantik. Tuhan sudah memberi Sania kelebihan walau diberi cobaan cukup berat.


Sania tak pernah putus asa cari kebenaran serta keadilan. Allah tak pernah tinggalkan umatnya taat. Terbukti Allah memberi jalan pada Sania menemukan abang dan adiknya.


Sania bersiap keluar dari apartemen setelah merasa perlengkapan untuk nginap di rumah Bara sudah cukup.


Baru saja Sania hendak keluar Bara buka pintu dari luar. Sania kaget bagaimana Bara bisa tahu kode sandi pintunya.


Bara masuk dengan santai seakan itu tempat tinggalnya juga. Tak ada kata malu malu nyelonong masuk tanpa permisi.


"Well...sejak kapan berbakat jadi maling?" sindir Sania perhatikan Bara duduk di sofanya.


"Emang ada yang kucuri?"


"Belum...mungkin besok."


"Oh..di sini memang ada yang kuincar. Akan kuculik bawa ke istanaku." ucap Bara santai.


"Tak ada barang berharga. Silahkan ambil dan pergi dari sini!"


"Ok..." Bara bangkit dari sofa menuju ke arah Sania. Tanpa berkata apapun Bara menggendong Sania ala bridal. Sania menjerit kaget sampai travel bagnya terhempas ke lantai granit.


"Kau gila...turunkan aku!" seru Sania berang. Bara sungguh konyol menganggap Sania benda bisa dibawa seenaknya.


"Tadi ijinkan aku ambil apapun. Aku cuma mau ini." bisik Bara pelan di dekat kuping Sania. Hembusan nafas kasar Bara menerpa kulit leher buat Sania panas dingin. Sania tak pernah seintim gini dengan laki. Baru Bara yang berani lakukan hal tak sopan padanya.


"Kita ke rumahmu! Turunkan aku pak Bara terhormat."


Bara bukannya melepaskan Sania malah pererat pelukan menekan tubuh Sania sempet dengan dadanya. Detak jantung Sania sudah tak karuan dibuat pria dewasa ini.


Sania merasa pipinya panas kena hawa maskulin Bara. Bau tubuh Bara sangat merangsang adrenalin. Syaraf di otak Sania kacau balau kena badai Bara.


"Pak...mbak Nania sudah menunggu kita." desah Sania masih usaha lepas dari Bara.


"Beri aku sesuatu sebagai syarat bebas mu!"


"Bapak mau apa? Jangan aneh aneh! Aku tak mau otak bapak dirasuki setan mesum."


"Beri aku cium!"


Sania tertegun dengar permintaan Bara menjurus ke arah lebih intim. Sania sudah berjanji takkan memikirkan segala yang berhubungan dengan perasaan saat ini. Sania takut tersakiti lagi. Bara sudah punya Nania yang membutuhkan perhatian penuh dari Bara. Sangat jahat bila merebut hati Bara dari Nania. Wanita itu membutuhkan support untuk membangkitkan semangat hidupnya. Bukan melihat hal yang menjatuhkan mental.


Sania menggeliat berusaha turun dari rengkuhan Bara. Gadis ini tak sadar kalau makin dia bergerak akan memicu adrenalin Bara untuk bertindak lebih jauh. Bara ibarat padang gersang tak tersirami bertahun tahun. Tak ada oase mampu melepaskan rasa dahaga yang membelit Bara. Kini muncul tetesan air menggoda untuk segera obati rasa haus itu.


Masih mampukah Bara bertahan dalam kegersangan? Mental Bara sedang diuji antara janji dan *****. Manakah akan keluar jadi pemenang?


"Pak...mbak Nania menunggu kita." Sania terpaksa gunakan senjata pamungkas yakni nama besar Nania di hati Bara.


Bara segera menurunkan Sania lalu ambil posisi berjalan ke arah pintu keluar. Di raut wajah laki itu tersimpan rasa kecewa namun tak sepatah katapun keluar dari mulut laki itu. Dia keluar tanpa menanti Sania lagi.

__ADS_1


Sania kasihan juga pada Bara. Laki itu terlalu baik juga penyabar. Andai Laki lain di posisi pasti sudah terjadi yang seharusnya terjadi antara suami isteri. Bara sosok mengagumkan. Beruntung Nania mendapatkan suami sesabar Bara.


Sania menghela nafas menyesal tak dapat membantu Bara soal yang satu ini. Antara mereka tak ada cinta selain saling membantu. Sania tak mau melakukan hal konyol hanya karena ***** sesaat.


***** sesaat hanya menyesatkan. Tak jarang hanya karena ***** seorang manusia jadi kriminal. Perkosa anak orang, tak jarang berujung kematian. Setelah terjadi berjuta kata maaf muncul di bibir. Namun sayang kata itu tak bisa kembalikan yang sudah terjadi. Penyesalan yang terlambat.


Bara benar benar meninggalkan Sania sendirian. Laki itu sudah duluan berangkat ntah ke mana. Sania terpaksa kerasan hati tetap menuju ke rumah Bara dan Nania. Ada perasaan bersalah namun tetap tak merubah keputusan Sania. Dia ada dalam hidup Bara karena Nania. Sania tak boleh sakiti Nania. Nania harus nikmati hidupnya walau tinggal semenitpun.


Sania sampai juga di rumah Bara. Rumah itu tetap dingin tak ada aura positif bisa bikin kita betah menetap di situ. Andai Bara dan Nania punya anak mungkin keadaan akan berbeda. Jeritan manja anak kecil akan merubah dunia. Malaikat malaikat kecil yang akan menjadi bibit penerus setiap keluarga aadalah aset paling berharga.


Namun sayang di jaman ini banyak terjadi tindakan kekerasan terhadap malaikat tanpa nama itu. Ntah dari orang tua, oknum tak dikenal, pembantu dan ada juga dari pendidik yang seharusnya jadi suri teladan bagi anak. Kekerasan terhadap anak bukan rahasia umum lagi.


Anak kecil dipaksa mengemis oleh orang tua. Anak dijual demi uang dan eksploitasi anak demi uang juga cari ketenaran. Anak kecil dipaksa cari uang dari media sosial padahal itu bukan tugas mereka menafkahi orang tua. Masa mereka adalah nikmati masa kanak kanak yang indah. Sayang masa indah mereka direnggut oleh kilauan cahaya kamera. Endorse sana sini untuk menambah pundi pundi uang keluarga. Adilkah untuk anak anak yang kehilangan masa kecil indah yang takkan kembali seiringi waktu berlalu.


Sania mengetok pintu rumah pelan. Sania tahu Bara belum balik karena mobilnya belum tampak terparkir di halaman yang selalu Sania kagumi. Taman kecil yang sangat indah.


Seperti biasa Bik Sur menyambut Sania dengan wajah ramah. Bik Sur suka pada Sania yang tak sombong. Status sebagai isteri Bara tak membuat Sania berubah angkuh. Malah Sania makin ramah sadar dia juga majikan Bik Sur yang ikut bertanggung jawab semua kejadian di rumah itu.


"Assalamu'alaikum Bik.." sapa Sania ceria.


"Waalaikumsalam non! Ayo masuk! Nyonya muda asyik tanyain non!" Bik Sur beri jalan pada Sania untuk masuk ke dalam rumah. Penyambutan Bik Sur membuat hati Sania tenang. Artinya dia diterima secara baik di keluarga ini walau dia hanya bini muda.


"Bik...tolong bawa tas aku ke atas ya! Aku mau jumpa mbak Nania dulu."


"Iya non..." Bik Sur menerima travel bag punya Sania. Wanita paro baya ini senang ada Sania. Suasana rumah akan lebih ceria bila ada suara tawa Sania dan Nania.


Sania segera masuk ke kamar Nania. Nania sedang main hp waktu Sania masuk. Raut wajah Nania tampak lebih segar dan berona. Tidak pucat macam hari sebelumnya.


"Hai...gimana mbak? Sehat?" Sania mendekati Nania duduk di tepi tempat tidur Nania.


"Sehat...kau nginap kan?"


Sania angguk untuk yakinkan Nania dia takkan kabur. Ada kelegaan terlukis di wajah Nania setelah tahu Sania takkan ke mana mana.


"Mbak mau mandi biar segar?"


"Mandi lagi? Kemarin sudah mandi toh."


"Mbak...mandi akan bikin kita segar. Kita mandi bersama kayak kemarin. Ok?" bujuk Sania seperti bujuk anak kecil.


Nania mengangguk tak enak menolak niat baik Sania. Nania tahu Sania tak ada niat jelek padanya. Semua tingkah Sania cerminkan ketulusan. Di saat Bara tak ada Sania justru manis padanya. Tak seperti kakak kandungnya baik hanya saat ada Bara di rumah. Kalau Bara pergi kakaknya si Nada akan menyiksanya. Sungguh berbeda sama Sania.


"Mbak tunggu sini. Aku ambil tempat duduk dulu ya." Sania pergi ke arah kamar mandi. Sania sudah tahu cara mandikan Nania. Kini Sania makin pintar urus Nania. Semoga ke depan makin baik lagi.


Nania dan Sania mandi sambil bercanda. Nania iri pada kemolekan tubuh Sania yang gol. Laki mana sanggup menahan diri kalau lihat tubuh seindah ini. Apa Bara akan beruntung memeluk tubuh gol Sania.


"San...kau cantik." Ujar Nania tak mampu bendung rasa iri hati. Tubuhnya sendiri kurus kering tak ubah mayat hidup. Laki mana akan tertarik pada wanita penyakitan kayak zombie.


"Mbak...di jaman mbak mungkin sejuta kali lebih cantik dari aku. Maka itu mbak harus kuatkan mental agar cepat pulih. Aku yakin mbak akan kembali menarik. Jangan patah semangat!" Sania membelai pundak Nania dengan lembut. Hanya dengan nada nada lembut Nania merasa aman. Itu sangat pengaruhi kesehatan Nania. Makin kuat dia lawan penyakit niscaya makin tinggi imun tubuhnya.


"Aku bisa sembuh?" tanya Nania apatis. Nania merasa hidupnya takkan lama lagi. Makin hari dia makin lemah. Apa masih ada kesempatan dampingi Bara meniti hari tua.

__ADS_1


"InsyaAllah...jangan menyerah selama mbak masih bernafas! Pak Bara akan kecewa bila mbak putus asa." Sania genggam tangan Nania erat erat tak ingin Nania patah semangat.


Mata Nania berkaca kaca terharu diberi motivasi oleh Sania. Ketulusan Sania bisa dijadikan cambuk buat Nania berubah kokoh melawan kanker ganas di badan.


Sania merasa sudah cukup mereka berdua nikmati mandi sore. Terpenting Nania merasa masih ada tempat di hati orang lain. Bukan sebagai manusia invalid.


Sania dengan penuh kasih sayang mengeringkan badan Nania lalu membungkusnya dengan handuk barulah Sania lakukan hal sama pada tubuhnya. Setelah mereka berbalut handuk Sania memapah Nania kembali ke tempat tidur.


Dengan telaten Sania membantu Nania berpakaian. Satu persatu kain pembungkus tubuh pindah ke tubuh Nania sesuai kebutuhan masing masing. Mulai dari CD, bra baru piyama.


"Mbak ku cantik toh! Sudah wangi. Pak Bara pasti suka bininya berbau harum."


"Apa kamu bukan bininya? Mas Bara tak boleh cium bau badanmu?"


Sania membisu tak bisa jawab. Pertanyaan Nania di luar dugaan Sania. Mengapa Nania seolah sedang antar Sania ke pelukan lakinya. Apa Nania tak cemburu padanya?


"Mbak...jangan pikir aneh! Mbak tunggu sini. Aku naik atas berpakaian dulu. Mumpung bos belum datang. Nanti matanya ternoda oleh kesexyan ku." canda Sania tak mau terpancing oleh kata Nania.


Dengan berbalut handuk besar Sania berlari kecil naik ke tingkat atas yang sementara ini jadi kamarnya. Bagaimana kelanjutan hubungan Bara dan Sania biarlah waktu yang jawab. Sania harus jaga mata dan hati tak boleh suka pada Bara.


Kasih sayang Bara pada Nania memang mengetok hati kecil Sania. Rasa kagum pada Bara membuat Sania ada rasa suka pada Bara. Semoga saja rasa suka itu tak melahirkan rasa cinta. Itu berbahaya untuk semua orang.


Sania tak boleh punya rasa lebih pada Bara andai memang tulus mau bantu Nania. Sania harus pandai jaga diri tak terjebak pesona Bara.


Kamar untuk Sania sangat bagus walau berkesan dingin. Perabotan mewah walau tak sesuai selera Sania. Ornamen perabot sangat norak di mata Sania. Rata rata berukiran motif bunga. Sania suka yang simpel tak banyak pernik. Pertama enak dibersihkan kedua sedap di mata.


Sania tak bisa protes karena itu bukan haknya. Itu semua milik Nania. Sania hanya penumpang. Suatu waktu semua akan kembali pada pemilik sah.


Sania tak mau menyentuh lemari pakaian Nania. Sania biarkan pakaiannya tetap dalam travel bag. Kapan mau pergi lebih gampang urusan. Di sini Sania hanya numpang tidur untuk jaga perasaan Nania.


Sania segera berpakaian rapi yang sopan. Ini bukan wilayahnya maka harus jaga sopan santun biar tak dipikir menggoda kelakian Bara.


Sania meraih ponsel hubungi seseorang untuk cari tahu misinya berjalan sampai di mana.


"Halo...sudah ada kabar Darman?"


"Ada.. Orang itu hanya pengangguran. Dia tak punya kerja tetap. Kerjanya mabukan di pub. Kami sedang jebak dia untuk cerita kejadian dulu. Cuma kami harus dapat kepercayaan dulu. Dia bisa curiga kalau kami langsung tembak. Oya apa kami sudah bisa dapatkan sampel perbandingan untuk Ranti?"


Sania menghela nafas nyaris melupakan hal penting. Sania harus ambil sampel rambut Rangga maupun Agra untuk jadian perbandingan dengan Ranti. Saking sibuk Sania lupakan tugas penting ini.


"Besok malam jumpai aku tempat biasa."


"Baik non! Non hati hati ya! Musuh non bertambah banyak."


"Apa maksudmu?"


"Ranti sedang cari jalan celakai non. Non jangan lengah ya! Aku akan perketat pengawalan non."


"Baiklah! Jaga jarak sepuluh meter. Kalian juga waspada."


"Siap non...hubungi kami setiap saat kalau non perlu."

__ADS_1


"Iya..." Sania menutup ponsel sambil mengusap wajah. Sungguh lelah main petak umpet dengan para bajingan. Mau serang secara langsung bukti belum cukup. Sekarang hanya bisa bergerak secara diam diam cari tahu satu demi satu orang yang terlibat.


__ADS_2