
Roy mengira Rudi telepon sekedar bertanya gadis pujaan hati. Tampaknya Rudi benaran telah menghapus nama Arsy dari peredaran hidup. Sudah move on cari gandengan baru. Pilihan jatuh pada Putri di gadis ceria.
"Roy...Bara...Bara di rumah sakit!" suara panik Rudi bikin jantung Roy nyaris berhenti berdetak.
"Ada apa? Semalam masih ngobrol."
"Dia ditusuk Arsy dari belakang. Bara turun dari mobil langsung disambut Arsy. Sekarang kau pulang. Keluarga Bara tak ada. Siapa tanggung jawab bila terjadi sesuatu?"
"Parah?"
"Lumayan..kena usus. Sedang dioperasi."
"Ya Allah...Arsy...kau urus dulu Bara. Aku segera balik." Roy menguatkan Rudi agar tabah. Saat ini cuma Rudi di tempat. Orang tua Bara dan Sania tak ada maka yang bertanggung jawab tentu Rudi.
Roy segera panggil Putri dan Sekar merapat untuk beri kabar tak menyenangkan ini. Bara seperti kena karma menyakiti hati wanita sebaik Sania. Baru saja mereka berbincang cari perhatian Sania. Bara harus pura-pura terluka. Ternyata perkataan itu adalah doa benar adanya. Bara telah terima hasil doa Roy cs.
"Sekar..Putri..sini!" seru Roy tak sabar. Joachim ikut menoleh dengar suara Roy lebih mirip teriakan. Apa lagi yang ganggu kepala pimpro ini. Kayaknya dari tadi pagi banyak persoalan berputar di antara mereka.
Joachim ikut bergabung cari tahu apa yang terjadi. Sekar dan Putri tak usah dibilang langsung merapat.
"Ada apa Pak Roy? Panas banget?" tanya Sekar sambil menyeka keringat di kening. Sekar masih untung memakai jilbab bisa lindungi wajah Sekar dari paparan sinar ultra violet.
Putri berlari kecil mendekati Roy dan Sekar. Wajah gadis muda ini memerah menahan hawa panas.
"Kita harus balik ke kota. Bara ditusuk Arsy."
Sekar dan Putri mendekap mulut bersamaan. Sungguh di luar dugaan Arsy nekat ingin habisin Bara. Bukankah Arsy sangat mencintai Bara? Mengapa tega turun tangan kejam? Arsy putus asa atau sudah stress di tolak Bara.
Padahal barusan tadi mereka berencana buat Bara alami kecelakaan kecil untuk menarik Sania pulang dan maafkan Bara. Tak disangka rencana mereka diwujudkan Arsy. Bara betulan alami kecelakaan.
"Ya Allah...gimana keadaannya?" ujar Sekar bergetar. Seluruh tubuh Sekar lunglai hilang tenaga. Gadis ini nyaris jatuh ke bawah kalau tak keburu ditangkap Roy.
"Kau tak apa?" tanya Roy ada sedikit rasa sakit di hati. Hati Roy tercubit Sekar beri perhatian berlebihan pada Bara. Intinya ada bau cuka. Roy cemburu Sekar perhatian pada bos mereka.
Sekar jengah dipeluk Roy hingga cepat-cepat menjauh. Kepala Sekar agak berat teringat bagaimana reaksi Sania bila tahu suaminya berada dalam incaran maut.
"Sania...gimana kasih tahu Sania kalau suaminya kritis?" desah Sekar linglung.
Roy menarik nafas lega ternyata Sekar memikirkan Sania. Bukan pada nasib Bara. Cemburu sia-sia. Kalau Sekar tertarik pada Bara juga wajar, laki itu ganteng, tajir dan bos pula. Wanita mana tak harap jadi ratu di hati Bara.
"Coba hubungi Sania! Kasih tahu kejadian yang menimpa Bara. Kalau Sania tak mau pulang biar orang tuanya yang pulang. Kita di sini tak tahu keadaan Bara. Dia sedang dioperasi karena kena usus."
"Ada apa?" Joachim ikut ngobrol. Dari tadi dia hanya ikut dengar tak paham arah pembicaraan karena tak ngerti bahasa Indonesia.
"Bara ditusuk mantan pacarnya. Kita perlu Sania dan orang tua Bara." Roy jelaskan pada Joachim dalam bahasa Inggris.
Joachim cukup kaget dapat kabar ini. Sama seperti pemikiran Putri dan Sekar. Baru saja tadi buat rencana langsung dapat jawaban. Bara alami kecelakaan bukan hasil rekayasa. Ini real Bara kena musibah ditusuk Arsy.
"Aku akan hubungi Sania. Dia pasti pulang. Dia sangat mencintai Bara." Joachim keluarkan ponsel dari saku celana. Tanpa tunda waktu Joachim pilih salah satu nomor di layar.
Joachim bicara dengan Sania dalam bahasa Belanda yang tak dipahami ketiga orang yang berada di samping Joachim. Joachim bicara serius dengan orang di seberang sana.
Roy, Sekar dan Putri berdoa semoga Sania tergerak hati pulang kumpul kembali dengan suami. Arsy dipastikan akan membusuk di penjara. Hukuman berlapis sedang menanti wanita nekat itu.
"Well..Sania segera pulang bersama orang tua Bara. Mereka pulang pakai jet pribadi langsung dari Netherland. Kalian siap-siap berangkat ke kota. Di sini biar kutangani. Pesan tiket pesawat terus." Joachim menepuk bahu Roy agar cepat berkemas kejar pesawat. Di daerah ini pesawat cuma satu trip satu hari. Penumpang tak banyak maka tak ada penerbangan tambahan.
__ADS_1
"Terima kasih mister Joachim! Kami akan ingat jasamu."
"Pergilah! Sania itu adikku juga. Mati kuantar kalian pulang berkemas!" Joachim bergerak balik ke tempat parkiran mobil. Ketiga anak buah Bara ikuti langkah Joachim tanpa komentar. Dalam benak mereka dipenuhi rasa kuatir berbeda. Sekar kuatir Sania syok sedangkan Roy kuatir nasib Bara yang berjuang melawan maut. Kalau jumpa Arsy ingin rasanya Roy belah otak wanita itu cari tahu apa isi otak wanita itu.
Bara cukup baik padanya tapi balasannya mengantar Bara menuju ke liang lahat. Air susu di balas air tuba.
Beruntung masih tiket untuk mereka walau harus pulang tanpa persiapan. Sekar yang berencana beli souvernir untuk rekan kerja ambyar. Mereka pulang tergesa-gesa mengingat Bara sedang bergelut dengan maut.
Satu jam lebih di pesawat akhirnya ketiganya tiba di kota. Tanpa singgah ke rumah mereka langsung menuju ke rumah sakit tempat Bara dirawat. Roy hubungi Rudi cari tahu posisi Rudi saat ini.
Setelah dapat pengarahan Rudi keduanya bergerak menuju ke tempat Bara di rawat. Ketiganya melewati koridor rumah sakit mencari kamar VIP tempat Bara ditempatkan. Bos besar macam Bara mana mungkin dirawat di ruang sal umum.
Rudi sendirian berdiri di depan pintu ruang rawat Bara. Wajah Rudi kuyu tampilkan profil lelah dan syok. Roy dan kedua gadis segera hampiri Rudi.
"Rudi..." panggil Roy pecahkan konsentrasi Rudi yang sedang melamun.
"Kalian..." Rudi tak dapat tahan tangis begitu jumpa Roy cs. Beban di hati Rudi seakan terlalu berat dia pukul sendiri. Rudi ingin bagi sedikit beban pada Roy agar dadanya tak sesak lagi.
Putri terenyuh lihat betapa putus asa Rudi dihadapkan kejadian sangat mengerikan. Kalau tak tahu malu Putri ingin memeluk Rudi beri perlindungan. Namun sebagai wanita ada batasan tak bisa dilanggar.
Roy yang memeluk Rudi bantu redakan gejolak membara di dada. Tangis Rudi meledak dalam pelukan Roy. Rudi tak malu lagi disebut banci, laki kok nangis tersedu.
"Gimana keadaannya?" bisik Roy berusaha tak bangkitkan emosi Rudi.
"Dia kehilangan banyak darah. Perempuan gila itu menusuknya sampai dua kali. Bara berdarah...banyak sekali. Seluruh lantai penuh darah." cerita Rudi dengan seluruh tubuh bergetar. Rudi benar-benar syok menyaksikan pandangan mengerikan. Bara terkulai di lantai dengan perut robek bersimbah darah.
"Sudah..sudah...Bara sudah selamat! Sania dan orang tuanya sedang pulang sini." Roy menepuk punggung Rudi berusaha menghalau rasa trauma laki itu lihat Arsy berbuat nekat habisin Bara.
"Aku sangat takut."
Rudi mangut. Roy membimbing Rudi duduk di bangku panjang samping ruang rawat Bara. Roy harus bisa tenang untuk jaga emosi Rudi yang tak stabil. Rudi syok berat tak bisa terima kenyataan kalau Arsy tega bunuh Bara.
"Put...antar Rudi pulang dulu! Pulang dan mandi! Lihat bajumu ada noda darah!" Roy menunjuk kemeja Rudi yang masih melekat darah Bara. Ada sedikit bau amis terpancar dari tubuh Rudi. Itu sisa bau darah Bara yang belum dibersihkan Rudi.
Putri angguk. Rudi harus diberi waktu untuk buang bayangan di mana Arsy turun tangan kejam. Laki segede Rudi bisa syok berat bagaimana bila Sekar dan Putri di tempat. Mungkin akan jauh lebih histeris.
Ponsel Putri dapat panggilan masuk. Nomor tak dikenal. Dari nomornya Putri bisa tebak itu nomor dari luar negeri. Nomor tak lazim untuk provider lokal.
"Assalamualaikum..." sapa Putri menebak itu dari Sania.
"Waalaikumsalam...apa benar Bara mengalami musibah? Ini Bu Jaya mama Bara."
"Benar Tante ..kami di rumah sakit. Pak Bara sudah siap dioperasi. Cuma belum sadar."
"Koma? Kritis?" terdengar nada panik dari sana.
"Sejauh ini aman. Sania gimana? Dia syok?"
"Dia nangis tak henti. Kami dalam perjalanan menuju bandara. Kami segera pulang. Tolong jaga Bara!"
"Pasti Tante..bilang sama Sania suaminya tak apa. Segera balik saja."
"Iya..terima kasih nak!"
"Sama-sama Tante... hati-hati di jalan. Kami di sini jaga Pak Bara. Ada Roy dan Rudi juga."
__ADS_1
"Sampaikan ucapan terima kasih dari keluarga kami. Tolong rawat anakku ya!"
"Kami siaga di sini. Jaga kesehatan!"
"Assalamualaikum.."
"Waalaikumsalam..."
Hubungan terhenti. Keheningan melanda sesaat. Masing-masing masih syok tak sangka Bara mengalami musibah ini.
Flash back on
Pagi hari Bara berangkat ke kantor dengan setengah hati. Rasa rindu pada Sania makin melebar sampai merusak seluruh syaraf Bara. Urusan hati boleh berlanjut, urusan bisnis tak bisa ditinggal. Bara tetap harus ke kantor tangani semua proyek. Bara ingin perlihatkan pada Sania kesungguhan hati dia tangani proyek impian Sania.
Mobil Bara memasuki pelataran parkir mengambil tempat biasa dia parkir mobil. Tempat itu khusus disediakan untuk Bara. Satpam tak ijinkan siapa pun ambil tempat bos.
Baru selangkah turun dari mobil suara familiar bergema dari belakang. Bara palingkan kepala lihat siapa yang memanggil padahal Bara sangat kenal suara itu.
"Arsy...ada apa lagi?" Bara menatap Arsy dingin. Semua rasa iba hilang berganti rasa jijik. Kalau punya tongkat ajaib rasa ingin Bara ayunkan agar wanita itu raib dari pandangan mata.
"Bara...kenapa kamu tega padaku?" Arsy lontarkan tatapan sedih pada laki yang pernah jadi bagian hidupnya.
"Apanya tega? Semua trik kotormu sudah terbongkar. Kau harus bertanggung jawab atas semua kesalahanmu. Kuharap kau jangan muncul lagi di hadapanku." Bara berkata tanpa belas kasihan walau Arsy berubah lusuh tak semewah biasanya. Pakaian setengah meter yang biasa nampak mentereng kini tak berseri.
"Bara...aku ini Arsy! Arsy pacarmu." Arsy meringsut dekati Bara. Bara mundur tak mau dekat-dekat dengan orang yang bawa bencana.
"Sori Arsy...kisah kita sudah tamat di saat kau berselingkuh. Dan aku sudah punya keluarga sendiri. Aku mencintai isteriku."
"Kau hanya milikku. Tak seorangpun boleh miliki kamu. Hanya sedikit kesalahan kau kucilkan aku! Lalu kenapa Rudi boleh muncul di hadapan mu sedang aku tidak. Di mana keadilan?" teriak Arsy histeris mengundang tatapan mata orang yang lalu lalang.
"Rudi hanya pegawaiku! Dia juga korbanmu. Berapa banyak orang kau jadikan target keserakahan mu? Arsy... bertobatlah! Kita sudah berumur. Carilah hidup layak tanpa dendam! Semua kejahatan ada hukumnya. Sebab akibat berlaku selama kita bernafas. Hidupku sudah kacau kau buat! Kumohon kau jangan muncul lagi!" bujuk Bara supaya Arsy tinggalkan kantornya.
"Aku sudah dapat surat panggilan dari kepolisian. Kau yang tuntut aku? Aku mau kita mulai dari awal. Kita lupakan masa lalu! Anggap aku cintamu yang pernah hilang. Mau kan Bara? Cabut semua tuntutan mu! Aku janji akan jadi Arsy sesuai keinginan mamamu dan kamu. Aku bersumpah!" Arsy meringsek makin dekat sambil mengusap air mata yang menetes basahi wajah terawat itu.
Sebenarnya Bara tak tega melihat Arsy menangis tapi kali ini Bara tak boleh terjebak lagi. Harus kuatkan hati menepis rasa iba.
"Maaf Arsy! Kalian sudah terlalu jahat hancurkan rumah tanggaku. Di luar sana ntah bagaimana nasib anak dan isteriku. Aku menyesal pernah mengenalmu. Pergilah! Jalani hukuman yang sepantasnya kau terima."
"Tidak...aku takkan biarkan rubah kecil itu menjeratmu. Kau tetap milik Arsy."
"Aku ini suami Sania. Bapak dari anak-anak di perut Sania. Ingat itu! Silahkan pergi atau kupanggil pihak keamanan!" ancam Bara keraskan tekad usir Arsy dari hidup.
"Kalau aku tak bisa jadi isterimu maka wanita manapun tak bisa. Ingat itu! Ok...Aku akan pergi tapi beri aku salam terakhir! Kita takkan jumpa lagi."
Bara mengucap puji syukur akhirnya Arsy mengalah bersedia tinggalkan dia. Untuk sekedar salaman ucapkan perpisahan mungkin tak jadi masalah. Bara biarkan Arsy mendekat sambil mengulurkan tangan kanan.
Bara menerima uluran tangan Arsy dengan lapang dada. Persoalan pribadi dengan Arsy kelar. Kini tinggal bagaimana dia bertanggung jawab dengan hukum. Itu persoalan Arsy dengan pihak berwajib. Bara tak mau ikut campur. Biarlah pihak berwajib selidiki kasus Arsy dan Bobby.
Di tengah Bara dan Arsy bersalaman tangan kiri Arsy bergerak cepat keluarkan pisau dapur menghujam perut Bara. Bara tak sempat melawan karena tak sangka Arsy akan berbuat bodoh.
Bara masih terpaku memegang perut yang terasa sakit. Satu gerakan cepat tangan kanan Arsy kembali menusuk perut Bara. Ternyata Arsy sudah persiapkan dua belah pisau untuk balas dendam pada Bara.
Tusukkan kedua membuat Bara terkapar di pelataran parkir. Satpam yang menyaksikan dari jauh segera bertindak cepat meringkus Arsy lalu minta tolong. Tak pelak para pegawai Bara berlarian menyelamatkan bos mereka.
Rudi yang dapat berita segera turun dari lantai delapan menuju ke pelataran parkir. Langkah Rudi sempat berhenti melihat Bara bersimbah darah sementara Arsy dipegang pihak keamanan kantor.
__ADS_1