MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Penculikan Suhada


__ADS_3

Sania dekati Rangga menarik tangan abangnya cari tahu mengapa wajah Rangga demikian ketat. Kecemasan tertulis jelas di raut wajah sangar itu.


"Mas..." panggil Sania memecahkan konsentrasi Rangga terhadap lamunan.


"Oh.." hanya itu keluar dari bibir Rangga. Sania tak puas hanya diberi jawaban tak punya makna. Dari kata oh bisa diartikan banyak makna.


"Ada kendala operasi papa?"


"Oh tidak...perawat sudah urus semuanya. Dokter juga sudah stand by. Tak ada yang perlu dicemaskan. Kita hanya perlu doa saja." Rangga menepuk bahu Sania lembut.


Sania bukan orang bodoh gampang dirayu pakai kata manis. Dalam usia muda Sania sudah makan asam garam dunia. Sania malang melintang di dunia bisnis. Gaya manusia model apa belum Sania temui. Sekali lihat Sania sudah tahu gimana suasana hati lawan bicara.


"Mas...kita bersaudara! Baik buruk tetap harus kita pikul bersama. Atau mas belum ikhlas anggap Sania adik mas. Main simpan rahasia sendiri."


"Betul tak apa! Mas cuma tegang. Mas makan dulu ya! Tuh Lisa sudah beri kode makan!" ujar Rangga dengan rasa gugup.


Sania menghela nafas tak berhasil korek keterangan dari mulut Rangga. Tak biasa Rangga bertingkah aneh di depannya. Rahasia apa disimpan abangnya itu. Sania penasaran tapi tak punya kuasa paksa Rangga bicara jujur.


Rangga meninggalkan Sania dekati Lisa yang sedang buka makanan bawaan Bara. Lisa meringis melihat bistik jadi menu mereka. Seharusnya Bara beli nasi bungkus bukan makanan berat gitu.


Masa makan bistik pakai sendok alami cap lima jari. Sungguh dagelan lucu. Cuma terlanjur terbeli tak mungkin disiakan. Tak ada pilihan lain selain coba makan dengan hati berat.


Sania tertawa geli lihat Lisa mencomot Bistik pakai tangan. Daging segede piring kecil itu digigit sedikit demi sedikit ikut daya tampung mulut Lisa. Lisa mengunyah dengan wajah sedih tak dapat rasakan nikmatnya bistik mahal itu.


Rangga makan tanpa banyak protes. Beberapa kali gigit daging itu mengecil di telan mulut besar Rangga. Mulut Rangga mengunyah tapi bola mata laki itu menatap jauh ntah ke arah mana. Bola mata Rangga tak ada titik fokus. Kosong tak ada kilatan harapan.


Sania kuatir ada sesuatu hal besar disembunyikan Rangga. Tapi apa? Soal Suhada atau perusahaan sedang dalam masalah.


Sania merapatkan badan pada Bara yang duduk di bangku panjang khusus untuk tamu yang berkunjung. Sania beri kode pada Bara agar melihat Rangga pakai ujung bibir. Berkali-kali ujung bibir maju mundur mengarah pada Rangga.


Bara ngerti maksud tujuan Sania memintanya pantau keadaan Rangga. Dari mimik wajah Rangga memang ada yang salah. Laki itu sedang gundah. Takut operasi papanya tak berjalan mulus atau ada penyakit lain dalam diri Suhada selain penyakit jantung. Bara harus cari tahu bicara empat mata dengan Rangga.


Untuk sementara Bara tak ingin mengusik Rangga yang sedang kunyah bistik dengan wajah kurang bergairah. Tunggu laki itu habiskan makanannya dulu.


Di tengah mereka berempat menanti Suhada dijemput datang dua perawat. Satu lelaki dan satunya wanita. Mereka berpakaian seragam berbeda dengan perawat umum yang memakai pakaian putih. Mereka mengenakan pakaian warna hijau tua.


Kedua orang itu mengangguk sopan pada Bara cs. Wajah mereka tak seramah perawat umumnya. Ada kesan dingin terukir di wajah dua perawat itu. Sania kurang suka melihat dua orang tak ramah itu.


"Keluarga Pak Suhada?" tanya yang laki datar.


"Iya kami..." sahut Sania cepat.


"Bapak akan kami bawa ke ruang operasi. Mohon kerja samanya!" ujar yang laki lagi.


"Kok kerja sama? Emang kami akan halangi jalan operasi? Kalian ini aneh! Mana surat pengantar dari pihak dokter? Biasa setiap pasien akan dioperasi pasti akan bawa data dari petugas medis!" bentak Sania sedikit curiga tingkah aneh dia perawat itu.


"Maaf nona! Kami hanya melaksanakan tugas! Jangan halangi kami bertugas!" balas yang cewek dingin.


"Aku mau jumpa dokter bedah papaku! Tak mungkin seorang pasien didorong ke ruang operasi tanpa catatan medis. Lieve...tolong cari info dari bagian personalia! Jam berapa papa dioperasi dan dokternya siapa." Sania melempar pandangan tajam ke arah dua orang itu.


Kedua orang itu tampak panik berusaha kabur setelah Sania bikin gebrakan lain minta keterangan dari pihak rumah sakit. Rangga dan Bara lihat gelagat tak bagus segera bertindak meringkus dua orang itu. Yang cewek tak bisa melawan namun yang laki berhasil kabur lewat koridor sepi.

__ADS_1


Sania berseru nyaring minta tolong pada petugas dan para medis di sekitar rumah sakit. Untunglah petugas segera datang beri bantuan. Lisa menjerit menunjuk laki yang kabur menjauhi ruang rawat Suhada.


Yang cewek tak berkutik ditekan Bara ke lantai. Cewek itu mana sanggup melawan laki bertubuh besar macam Bara. Sekali tepuk sudah terkapar.


Sebagian petugas keamanan mengejar yang laki sebagian mengamankan cewek yang tak sempat kabur. Bara beri tanda pada Rangga untuk menjaga Suhada dari tangan jahil sementara dia ikut petugas untuk cari tahu siapa dalang penculik Suhada. Apa motif culik orang yang sekarat.


Sania dan Lisa saling berpelukan kaget pada peristiwa sangat mendadak ini. Mereka tak sangka masih ada orang ingin nyawa Suhada. Apa bagusnya culik Suhada yang hidupnya bagai telor di ujung tanduk. Setiap saat bisa melayang atas ijin Yang Maha Kuasa.


"Kau tak apa dek?" Rangga kuatir Sania syok akan bawa aura negatif pada kesehatan Sania.


"Tak apa...apa ini yang buat Mas kuatir?"


"Bukan...mas juga tak tahu ini akan terjadi. Kita harus lebih hati-hati. Siapa demikian tega ingin habisin nyawa papa."


"Nanti kita juga akan tahu. Aku pergi cari petugas rumah sakit dulu. Jadwal operasi sudah sampai." Sania perlihatkan jam di layar ponselnya.


"Kalian di sini saja! Mas yang ke sana. Kian hati-hati jangan ijinkan siapapun masuk kamar papa!" Rangga bersiap hendak cari perawat tulen dari rumah sakit. Bukan petugas palsu berniat buruk pada Suhada.


Belum sempat Rangga melangkah beberapa petugas medis datang didampingi satpam dan dokter. Kali ini Rangga percaya kalau itu memang dokter dan petugas asli karena Rangga sudah kenal dokter yang tangani Suhada.


Kelima orang yang datang langsung berhenti di depan Rangga sambil bungkukkan badan. Kejadian ini murni terjadi karena kelalaian pihak rumah sakit. Bagaimana mereka tak tahu ada orang masuk hendak culik pasien. Pihak rumah sakit bertanggung jawab penuh jika terjadi sesuatu pada pasien.


"Kami dari pihak rumah sakit minta maaf atas insiden ini! Kami akan usut tuntas rencana penculikan ini." kata dokter dengan tulus.


"Herannya mengapa mereka tahu jadwal operasi papa kami. Pasti ada bocoran dari pihak rumah sakit." ujar Sania judes.


Rangga sudah hafal lidah tajam kalau sudah kena di hati. Kalimat-kalimat pedas bisa meluncur dari bibir mungil itu. Sania akan menyerang pihak yang bersalah sampai tak sempat pipis di celana. Jangan kan pipis di celana, pipis pun akan disumbat sampai tak sempat keluar.


"Apa bapak ini dokter asli atau dokter gadungan komplotan dua begal pasien yang tadi." semprot Sania dengan nada tak sedap.


"Nona tak usah kuatir. Kami petugas resmi rumah sakit. Saya dokter pak Suhada. Pak Rangga sudah jumpa saya beberapa kali. Percayalah! Kami akan usaha yang terbaik untuk orang tua kalian. Ini janji kami!"


Sania menyilang tangan di dada perhatikan dokter itu dari atas ke bawah dan balik lagi dari bawah ke atas. Mata bening Sania persis kaca siap memantulkan jati diri dokter itu asli atau palsu. Dokter itu pasti tak nyaman dicurigai sebagai penjahat.


"Dek... sudah! Biarkan mereka jemput papa! Sudah waktunya papa dioperasi. Jangan sempat papa tahu kejadian ini! Nanti beliau syok." Rangga menarik Sania untuk hentikan gaya slebornya. Rangga takut pengaruhi mood dokter. Dokter itu harus operasi papa Rangga. Ditekan terus malah bikin dokter stress.


"Kakakmu benar nak! Kami dokter papamu! Sebelumnya kami minta maaf atas ketidak nyamanan ini. Beri kami kesempatan untuk bertanggung jawab. Ok nona?" Dokter itu berusaha memenangkan hati Sania agar bebaskan mereka laksanakan tugas.


"Kutunggu hasil kerja dokter!" ucap Sania arogan.


"Kami akan berusaha beri yang terbaik. Terima kasih sudah percaya pada kami."


Kelima orang itu masuk ke ruang rawat Suhada untuk membawa laki tua itu berjuang lawan maut. Rangga, Sania dan Lisa memandang dari luar kamar memantau para medis mengurus Suhada. Suhada yang sedang tidur dibangunkan untuk didorong ke meja operasi.


Suhada sengaja dibangunkan untuk bisa bicara dengan anak-anaknya sebelum dibius jalani operasi. Suhada tampak pasrah tak takut walau bercanda dengan maut. Suhada sudah jumpa anak-anak kandungnya. Pergi menghadap Ilahi juga tak ada penyesalan lagi.


Brankar bergerak keluar ruang rawat lewati Rangga dan Sania. Sania menyentuh tangan Suhada dengan lembut sambil beri senyum manis. Sania berusaha tegar tak perlihatkan kegalauan hati agar Suhada juga kuat.


"Kami menunggu papa!" ucap Sania iringi jalan brankar yang didorong dua perawat.


"Papa pasti sehat. Papa mau lihat cucu papa yang pasti lucu dan cantik kayak kamu."

__ADS_1


"Iya pa! Mereka ada tiga. Kembar tiga."


"Ya Allah...betapa besar karunia Mu. Aku akan jadi opa tiga bayi cantik. Suruh tunggu opa sehat! Opa akan bantu jaga mereka."


Sania mengangguk setuju niat Suhada. Semua dendam di hati Sania terkikis setelah tahu kebenaran kisah Suhada. Tak ada guna simpan dendam yang hanya mencekik leher setiap kali bernafas. Kini nafas Sania mulai lega.


"Mas Rangga juga akan segera pesta. Papa janji harus hadir."


"Papa janji! Kalian harus tunggu papa! Bilang sama Agra papa akan kawani dia main sepak bola." Suhada teringat pada anak bungsunya yang tak berada situ.


"Akan Sania sampaikan! Sania masih menggenggam tangan Suhada sampai tiba di pintu ruang operasi.


Rangga hanya memandangi papanya tanpa kalimat. Mata laki berkaca-kaca menahan kesedihan. Ini akhir kisah Suhada yang biasa tampil full kemewahan. Suhada lupa kalau semua ada batasnya. Hidup tak selalu di atas. Berputar bagai roda. Kadang di atas kadang di bawah.


"Doakan papa!" ujar Suhada sambil tersenyum.


Sania dan Rangga tak diijinkan masuk ruang operasi. Mereka ditahan di luar ruang. Perlahan tapi pasti Suhada didorong masuk ke ruang. Sania bisa melihat dalam ruang masih ada beberapa dokter lain bersiap tangani operasi ini. Sania hanya bisa memanjatkan doa untuk kesembuhan papanya.


Rangga merangkul bahu Sania beri rasa aman pada sang adik. Rangga tahu Sania cukup kaget ada penculikan Suhada. Bara sedang interogasi siapa dalangnya. Semoga ada titik terang pelaku sesungguhnya.


"Ngantuk?" tanya Rangga penuh perhatian. Sania sedang hamil tentu tak bisa disamakan dengan wanita umum seperti Lisa. Lisa tak ada beban seperti Sania. Mungkin cuma lelah di fisik.


"Sedikit..." Sania menyahut jujur.


"Duduklah di situ! Lis...kawani Sania! Mas pergi cari Bara dulu. Kok lama belum ada kabar."


Lisa mangut tanpa jawab. Lisa cukup kaget oleh kejadian tadi. Lisa merasa bertanggung jawab pada Sania selaku adik Rangga. Bagi Lisa punyaan Rangga semua akan jadi miliknya kelak. Sania adik Rangga otomatis jadi adiknya juga. Menjaga Sania sama saja menjaga adik sendiri.


Rangga melangkah pergi setelah yakin Lisa bisa jaga Sania. Kedua wanita itu menempatkan bokong mereka di tempat duduk panjang khusus untuk pengunjung rumah sakit. Lisa iba pada Sania yang selalu dikejar masalah. Dari Bobby hingga Bara. Sudah hamil masih ada masalah yang tak habis-habisnya.


"Kau mau tidur San?" tanya Lisa menepuk bahunya untuk jadi sandaran buat Sania.


"Tadi ada tidur sebentar di mobil. Kira-kira siapa tega berbuat jahat pada papa gue?" mata Sania menerawang jauh ke ujung koridor seakan ada jawaban di situ. Padahal ujung sana sepi karena sudah malam tak ada jadwal operasi pasien lain.


"Sudah pasti orang berhati Dajjal. Tak usah dipikirkan. Nanti kita akan dapat jawaban."


"Iya...Oya gimana perusahaan mas Rangga?" Sania melirik Lisa lewat ekor mata.


"Alhamdullilah makin maju! Oya...bengkel papa juga makin maju sejak renovasi. Banyak pengunjung sekaligus doorsmeer. Tiap hari ramai cuma papa kehilangan montir handal sejak mas Rangga tak masuk kerja."


"Kasihan juga bapak harus bertempur sendirian. Eh..mas Rangga masih tidur di bengkel?"


"Iya...emang dia mau ke mana kalau Agra di rumah. Katanya kamu ada suruh dia tinggal di rumah lamamu. Dia tak mau karena tak mau pisah dari Agra."


"Seorang bos tidur di tempat kumuh? Apa kata orang?"


"Itulah mas Rangga! Dia tak malu tidur ala kadar. Papa sudah tawarin dia tidur di rumah tapi dia tolak. Alasannya tak enak sama tetangga. Kami kan belum nikah."


"Beli rumah atau sewa dekat rumah kalian. Jaga imagenya dong!"


"Mas Rangga belum mampu beli rumah. Uangnya untuk putaran di perusahaan. Sewa mungkin bisa jadi pilihan tepat. Akan kucari rumah dekat rumahku. Kau dan Bara aman kan?"

__ADS_1


__ADS_2