MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Konflik Kecil


__ADS_3

"Pak Bara..." suara seorang wanita jawab kebingungan Bara.


Bara menoleh dengan malu malu ketahuan sedang melihat barang kebutuhan wanita. Bara cepat cepat meletakkan pembalut itu ke tempat semula.


Wanita yang baru datang memberi Bara senyum semanis madu. Semoga madu asli tak bikin diabetes.


"Yumi?" Bara langsung kenal wanita berambut ikal berpenampilan kalangan elite. Sekali lihat orang akan tahu wanita di depan Bara bukan sembarangan wanita.


Penampilan rapi intelek. Gaya cukup high class. Aksesoris di tubuh tidak norak cermin selera high class. Gaun warna putih paduan hitam berleher Sabrina makin membuat wanita itu bersinar.


"Lagi cari apa?"


"Ini cari minyak kayu putih untuk Nania."


"Oh...Nania gimana? Makin parah ya?"


"Nania makin membaik. Dia tambah sehat." sahut Bara kurang senang pertanyaan Yumi yang seperti mengharap Nania makin parah.


"Kukira Nania makin drop. Biasa kanker tak bisa tahan lama. Pak Bara harus siapkan mental lho! Kapan saja dia bisa tinggalkan kita!"


"Yumi tak usah kuatir. Nania akan panjang umur." Bara mulai kesal dengan mulut ember wanita bernama Yumi.


"Aku sih cuma ingatkan! Suamiku meninggal karena kanker juga. Nasib kita sama. Punya pasangan penyakitan. Tapi aku sudah bebas sekarang. Tak perlu rawat orang sakit lagi. Mungkin kelak kita bisa lebih intim menata hari depan. Kita sama sama dipermainkan pasangan penyakitan."


"Yumi tak perlu pikir macam macam. Nania baik saja." Bara makin tak suka arah bicara Yumi mengarah ke hari depan. Apa maksud wanita ini bahas hal tak masuk akal bersamanya.


"Kita tak kapan ajal Nania. Bisa malam ini, bisa besok maka Pak Bara harus siapkan mental menata masa depan bersama orang tepat." Yumi mengurai rambut ikalnya pakai tangan perlihatkan leher jenjang berkalung mutiara.


"Kita semua tak tahu kapan ajal. Yang sehat bisa saja meninggal bila sudah dijemput malaikat maut. Kita tak perlu menebak siapa duluan meninggal? Itu rahasia Allah! Perbanyak amal ibadah agar jalan kita diperlancar. Permisi.." Bara meraih beberapa bungkus pembalut lalu tinggalkan Yumi yang melongo.


Saking gemas pada Yumi yang mulutnya tak pernah sekolah Bara jadi berani ambil pembalut untuk bini mudanya. Bara tak malu lagi membeli kebutuhan isterinya. Suami siaga akan ada setiap saat untuk isterinya terutama Bara yang punya tanggung jawab terhadap dua wanita. Bara harus adil pada wanita wanita.


Membeli pembalut hanya sebagian kecil dari tantangan sebagai suami penganut poligami. Resiko berbini dua ya harus membagi perhatian pada dua wanita sekaligus. Tak boleh berat sebelah.


Yumi bengong lihat laki sekeren Bara beli pembalut. Dalam pikiran Yumi pasti untuk Nania. Yumi hanya tahu Bara punya bini penyakitan yakni Nania. Janda muda ini tak tahu kalau Bara sudah diberi seorang gadis cantik dan muda. Janda macam Yumi lewat bila dibanding Sania paket lengkap. Pintar, cantik serta berbakat. Tak jual tampang doang.


Bara segera pulang setelah bayar di kasir. Bara masih kesal pada Yumi yang mengharap Nania cepat meninggal. Rasa iba pada bini tuanya makin melebar dalam hati. Terlepas dari masa lalu Nania kini semua terasa harus dimaafkan. Bara harus berbesar hati menerima Nania apa adanya.


Bara tak banyak bicara setelah sampai rumah. Bara meminta Bik Sur memberi pembalutnya pada Sania. Permintaan Sania kali ini hanya sebagian dari kebutuhan hidup seorang wanita. Masih banyak yang harus dibayar sebagai laki bertanggung jawab. Bara belum kenal sifat asli Sania. Bisa jadi Sania gadis penghamba materi suka buang waktu dengan shopping. Bisa juga Sania gadis sederhana tak banyak nuntut. Bara seperti sedang berjudi kalah menang sejak menikah dengan Sania yang termasuk orang asing.


Perjumpaan dengan Yumi bak cambuk keras bangunkan Bara dari alam mimpi. Menjadi suami dua wanita tak segampang dalam kisah kisah dalam TV. Beban moral Bara sedang diuji.


Malamnya Sania dan Bara diskusi soal kerja hingga larut malam. Tak ada kemesraan pengantin baru. Kedekatan mereka malam ini murni karena pekerjaan kantor. Tak sedikitpun melibatkan hubungan suami isteri.


Malam berlalu tanpa banyak kisah indah bisa dikenang. Sania tidur sendiri di kamar sepi sedikit angker. Tapi Sania tak takut sedikitpun karena itu hanya ilusi sendiri. Makin diingat pasti makin takut. Yakin saja berserah pada Allah SWT.


Sania tidak sholat subuh karena sedang halangan. Setiap bulan pasti ada saatnya dia absen menghadap pada Allah. Itu sudah kodrat wanita yang tak dapat dihindari.


Sania cepat keluar dari rumah Bara berniat sambangi Lisa untuk meredakan emosi Bu Bur yang cemburu pada Bu Susi. Kalau tak diluruskan akan jadi penyakit kronis dalam rumah tangga Pak Bur. Makin cepat diperjelas makin bagus.

__ADS_1


Sania menitip pesan pada Bik Sur agar kasih tahu Bara dan Nania kalau dia sudah balik ke rumahnya. Sebagai isteri Sania tak mau dianggap kurang ajar pergi tanpa pamit. Sania kirim chat Wa kepada Bara beritahu dia ijin berangkat kerja lebih cepat.


Udara pagi masih segar. Polusi belum merata karena masih banyak kenderaan istirahat di kandang masing masing. Sania yakin sebentar lagi jalanan akan macet dipenuhi aneka type mobil dan motor.


Mobil Sania melaju perlahan membelah jalan raya. Sania hidup kan musik ringan pengantar sepi. Sania menikmati musik sambil ketok ketok stiur ikuti alunan musik. Pikiran Sania tenang tanpa memikirkan berbagai masalah. Masalah Sania cukup banyak. Masalah mamanya, proyek, Bobby yang masih suka usil dan terakhir Nania.


Sania belum tahu mau dibawa ke arah mana soal Nania. Biarkan Nania nikmati sisa hidup atau cari kesembuhan untuk wanita itu. Sania masih harus cari tahu riwayat sakit Nania baru bisa minta tolong pada saudara sepupunya analisa tingkat kesembuhan Nania. Kemungkinan sembuh sangat kecil tapi Sania takkan menyerah selama Nania semangat.


Tiba tiba ponsel Sania berdering. Sania melirik nama yang tertera di layar ponsel. Tanpa buang waktu Sania memasang headset di kuping. Ditelepon pagi buta pasti ada kabar penting.


"Assalamualaikum..Om! Ada kabar?"


"Waalaikumsalam...kamu dengar berita hari ini. Saham PT Sunrise akan anjlok."


Sania tersenyum tipis dapat kabar gembira di pagi ini. Tak ada yang lebih membahagiakan Sania selain kejatuhan keluarga Suhada. Permainan sudah dimulai. Tinggal tunggu bagaimana keluarga itu keluar dari krisis yang akan menggulung mereka.


"Terima kasih Om! Beli saham mereka murah murah. Jerat mereka dengan hukum."


"Kita lihat perkembangan dulu. Om sudah sebar info kalau PT Sunrise menipu konsumen. Tapi ini bukan sekedar fitnah dagang. Fakta mereka memang curang. Om sudah dapatkan bukti kalau mereka ngotot. Kamu tenang saja nak! Om yang akan kerjakan semua. Kau hati hati saja."


"Ya Om... kerjakan sesuai rencana. Kalau ada perubahan hubungi Sania ya."


"Tentu sayang. Tantemu sudah tak sabar ingin jumpa denganmu. Sudah dua tahun di sini tapi masih seperti orang asing."


"Tak lama lagi Om...kita akan berkumpul kembali. Sabar ya,!"


"Iya Om.. assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Ponsel mati. Kesunyian kembali hadir dalam mobil Sania. Hati Sania terobati secuil walau jalan menuju ke akhir rencana masih panjang. Paling tidak sudah terbuka jalan meraih kemenangan. Langkah pertama sudah berjalan lancar, tinggal tunggu langkah kedua. Masih banyak langkah harus dilewati Sania untuk capai tujuan.


Sania parkirkan mobil di luar pagar rumah Lisa dengan wajah sumringah. Suasana hati Sania sedang baik dapat kabar menggembirakan. Badan Sania terasa lebih segar diterpa angin segar. Otak pun bagai keluar dari mesin cuci. Terbilas bersih.


"Assalamualaikum..." seru Sania pecahkan keheningan rumah Lisa.


Pintu rumah terbuka. Bu Bur buka pintu dengan wajah cemberut. Sania menduga Pak Bur belum berhasil merayu bini tercinta soal niat Bu Susi mengganti posisi sebagai Bu Bur.


"Waalaikumsalam...masuk!" nada lembut yang biasa keluar dari bibir Bu Bur hilang di pagi ini. Kini berganti nada ketus.


Semua kena imbas hasrat pelakor keriput tak tahu diuntungkan. Keluarga Lisa sudah murah hati bantu malah minta lebih. Maunya semua jadi milik Bu Susi.


"Bu...sarapan apa?" tanya Sania pura pura belum tahu masalah keluarga Bu Bur.


"Telor ceplok..." sahut Bu Bur masih pertahankan emosi seleher.


Sania merangkul pundak Bu Bur dengan manja untuk redakan amarah. Sebenarnya wajar Bu Bur ngambek suami akan direbut orang. Tapi Pak Bur tak tertarik punya bini lain. Amarah Bu Bur hanya emosi sia sia.


"Bu...kenapa muram? Agra bandel ya?"

__ADS_1


Bu Bur menghela nafas sambil mengusap mata. Mata redup itu kelihatan sangat berduka seakan Pak Bur tertangkap selingkuh. Sania yakin Pak Bur bukan orang gitu. Namun membujuk orang gelap mata bukan segampang buka botol air mineral. Dibuka minum lalu terasa segar.


"Bukan Agra tapi bapakmu. Dia pacaran sama pemilik warung. Ibu sakit hati. Coba bayangin! Ibu beri pinjaman uang buat buka warung dan berniat ijinkan dia jualan di kantin. Eh malah mau ambil bapakmu! Ibu sedih!" Bu Bur menangis dengan suara keras.


Sania langsung memeluk Bu Bur tenangkan wanita itu. Suara Bu Bur bisa bikin pertanyaan besar tetangga. Keluarga adem ayem kini bersuara kencang. Pasti tetangga pada bertanya tanya apa yang terjadi?


"Bu...belum tentu benar. Bapak kita bukan orang gitu. Percayalah Bu! Orang boleh punya niat busuk sama kita tapi Allah takkan tinggal diam. Terbukti niat busuk cepat terbongkar." rayu Sania masih memeluk Bu Bur.


"Tapi bapak diam saja waktu ibu interogasi. Diam artinya iya."


Sania ingin tertawa tapi takut dosa. Hanya Pak Bur tak mau jawab Bu Bur sangka suaminya memang bersalah.


"Bu...kita semua tahu bapak tak suka keributan. Ibu marah maka beliau memilih diam agar ibu tak merasa dilawan. Ayo Bu! Percaya sama bapak. Bukankah bapak ke warung Bu Susi untuk batalkan ijin jualan di kantin bengkel?"


"Kau juga tahu bapak selingkuh?"


"Bapak tak selingkuh. Bu Susi yang kegatalan mau suami orang. Ayo...kita obrolkan sama bapak! Mumpung masih pagi kita selesaikan secara baik. Otak masih segar." Sania mengajak Bu Bur jumpa suaminya untuk urai salah paham ini.


Hanya menduga duga tanpa penjelasan akan bikin gap makin lebar. Bagusnya diajak ngobrol suarakan isi hati secara terbuka.


Belum Sania melangkah masuk ke ruang keluarga Pak Bur datang sambil bawa segelas kopi hitam.Pak Bur sudah tahu kehadiran Sania di pagi hari ini untuk bantu meluluhkan hati Bu Bur yang terlanjur curiga pada Pak Bur.


"Selamat pagi pak." sapa Sania sopan layak anak sama bapak sendiri.


Pak Bur mangut sambil duduk di sofa. Pak Bur tenang tak tampak susah hadapi isterinya yang cemburu buta. Pak Bur hidup berpuluh tahun sama wanita tercinta tanpa riak gelombang karena sifat welas Bu Bur ditambah sifat sabar Pak Bur. Lisa beruntung dpat orang tua bernilai plus. Jarang ada keluarga adem ayem sampai puluhan tahun. Ada saja badai menerpa dalam harungi bahtera rumah tangga. Memang sudah demikian garis kehidupan berkeluarga. Tak mungkin mulus tanpa hambatan sampai titik akhir.


Sekarang keluarga Pak Bur sedang diuji karena salah paham. Kalau dilarutkan makin lebar ruang kesalahan itu. Terbuka dan saling jujur adalah solusi tepat menyatukan satu arah pemikiran.


Bu Bur buang muka tak mau menoleh ke arah suaminya yang menatapnya dengan tatapan penuh cinta. Pak Bur tak terpancing oleh omelan Bu Bur yang berdendang sejak kemarin. Lagu rakyat dendangan setiap ibu ibu lagi kesal berkumandang dari malam hingga pagi ini. Topik lagu tetap soal Bu Susi sang pelakor gaek.


"San...kelihatannya bapak mau cari kerja di luar daerah." ujar Pak Bur pelan.


Sania kaget tiba tiba Pak Bur mau tinggalkan keluarga yang baik untuk cari kerja tempat lain.


"Kenapa?"


"Bapak tak mau cari ribut. Ibu adalah ratu di hati. Ibumu takut bapak dekat Bu Susi maka bapak ngalah pindah kota saja. Biar jauh dari oknum tersangka."


"Aduh pak! Kasihan ibu dan Lisa. Jangan aneh deh! Bapak harus perlihatkan kalau bapak memang tak ada sesuatu dengan Bu Susi."


"Apa yang mau diperlihatkan? Emang tak ada apa. Ibumu yang ijinkan dia jualan sekarang bapak jadi kambing hitam. Kan aneh!"


"Emang kambing bandot." potong Bu Bur masih tak mau kalah. Padahal memang Bu Bur yang ijinkan Bu Susi jualan di kantin bengkel. Sekarang sudah gini Pak Bur kena getah.


"Tuh kan!!! Bapak jadi kambing pula. Bapak sudah tua. Satu perempuan saja bapak tak sanggup beri rasa sayang seutuhnya. Bagaimana kalau harus bagi lagi? Makin kurus bapak bila harus timbang dua wanita. Ibu adalah wanita satu satunya yang tersimpan dalam lubuk hati.Ibu dampingi bapak dari nol hingga punya bengkel sendiri mana mungkin bapak rela ibu sakit hati." ujar Pak Bur keluar isi hati sekaligus ungkap rasa cinta mendalam pada bininya.


Mata Sania berbinar ikut bangga pada Pak Bur yang hargai masa masa sulit bersama isteri. Pak Bur bukan orang kacang lupa akan kulit. Bu Bur tetap primadona walau waktu melaju tinggalkan orang malas.


"So sweet...Bu..bapak tak bersalah. Bu Susi yang tak tahu diri dikasih jantung minta hati."

__ADS_1


__ADS_2