
Bara menggeleng tak ijinkan Sania pergi walau dengan Rangga. Bara bukan tak percaya Rangga menjaga isterinya. Seorang Abang tak mungkin sakiti adik sendiri namun Bara takut Sania tak bisa kontrol emosi. Ini membahayakan janin dalam perut Sania.
Bara harus pintar siasati emosi Sania tetap stabil. Sepintas Bara tampak tenang tapi dalam hati laki ini diliputi rasa cemas segunung.
"Lieve ikut ya! Mungkin di sana Lieve bisa bantu kamu selesaikan masalah pelikmu."
Sania tersenyum manis menggoyang tangan. Sania ingin katakan kalau dia bukan wanita bermental kerupuk gampang hancur. Mental Sania justru sudah ditempa dari logam baja. Sejak kecil Sania mengajar diri sendiri untuk kuat.
"Percayalah Lieve! Aku dan Mas Rangga mampu. Lieve tenang saja di kantor. Lebih baik Lieve rekrut beberapa pegawai lagi untuk ringankan kerja Lieve." ucap Sania tetap tersenyum agar Bara tak makin kuatir. Sania bukannya senang dengan sikap posesif Bara. Yang namanya terlalu juga tak baik untuk kesehatan.
"Kau yakin sayang?" nada kuatir masih terselip di nada suara Bara.
Sania tak menjawab dengan suara namun dengan bibir. Sania hadiahkan kecupan hangat di pipi suaminya. Sebagai gantinya Bara memeluk Sania erat-erat. Perasaan sama setiap memeluk Sania hadir dalam hati Bara. Wanita ini adalah takdirku batin Bara.
"Kuijinkan tapi janji teleponi Lieve kalau ada masalah. Kamu punya sandaran kuat yakni suamimu. Jangan melangkah sendiri!" Bara tak bosan-bosannya mencium bau badan Sania yang selalu terkenang dalam ingatan.
"Yes...pasti! Lieve jangan genitan selama aku tak ada! Aku bisa bayar dukun sunat."
Bara terbahak-bahak diancam Sania jelas serta mematikan. Andai disunat lagi habislah senjata andalan Bara untuk menyenangkan Sania.
"Yakin main dukun? Apa tak rindu tembakan bazoka andalanku?" goda Bara gemas pingin gigit leher jenjang yang nganggur minta disentuh.
Sania mendaratkan pukulan ke bahu Bara malu bahas hal mesum di kantor. Bara biarkan Sania salurkan rasa malu sampai puas. Seberapa kuatkah tenaga pukulan wanita mungil macam Sania. Tak ubah digaruk pakai telapak tangan.
"Isshhh...laki mesum!"
"Mesum tapi suka kan?" Bara mengedipkan mata makin menggoda.
Sania tak tahu sejak kapan Bara berubah jadi genit. Biasa omong hanya ala kadar penuh intimidasi. Apa mungkin pengaruh janin dalam rahim Sania mengontrol jiwa sang Daddy berubah hangat.
"Sania turun ke bawah nanti mas Rangga. Sampai di kantor polisi Sania akan teleponi Lieve." Sania bangkit dari paha Bara. Sania malu kalau Rangga mendapatkan suami isteri ini bermesraan di dalam kantor. Tak ada yang larang sih pasangan halal mesraan. Cuma ini tak pantas dilakukan di kantor tempat cari rezeki.
"Baiklah! Hati-hati. Jangan bawa mobil! Biar mas Rangga yang nyetir."
Sania mangut patuhi perintah Bara. Sebelum melangkah pergi Sania mencium tangan Bara takzim. Bara tertegun dapat salam hormat dari wanita penghias mimpi. Tak urung tangan Bara mengelus ubun kepala Sania.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Punggung Sania menghilang di balik pintu. Bara menghela nafas berat. Sania masih misterius baginya. Mengapa wanita ini tak suka buka cerita tentang dirinya. Diajak bicara soal pribadi Sania selalu menolak. Rahasia apa yang disembunyikan Sania. Wanita keras kepala dengan talenta luar biasa.
Bara tak malu akui kepintaran Sania dalam bidang konstruksi. Otak wanita ini terlalu tajam di bidang yang mereka tekuni. Lincah cari proyek dan tepat guna.
__ADS_1
Siapapun Sania tak jadi soal bagi Bara. Cukup dia tahu Sania adalah wanita pujaan yang sempurna.
Rangga datang tepat waktu. Pas Sania turun ke bawah laki calon Lisa tiba di depan pintu besar PT. Angkasa Jaya. Sania tak perlu lama-lama menyiksa betis di lantai bawah.
Rangga turun dari mobil menyambut Sania untuk dibawa masuk ke mobil putih yang dibeli Sania. Itu mobil pribadi pertama Rangga. Sampai mati Rangga akan merawat mobil ini. Ditawar berapapun takkan Rangga lepaskan. Ini akan menjadi barang kenangan paling berharga.
Di dalam mobil Rangga membantu adiknya pasang safety belt. Gaya Abang perfect sedang dilakoni Rangga. Menjaga sang adik selagi ada kesempatan.
"Terima kasih mas!"
"Mas yang harus terima kasih. Kau telah cambuk mas untuk jadi manusia punya ambisi. Mas makin semangat bekerja." Rangga starter mobil melajukan besi beroda empat membelah jalan raya.
Deru suara mesin mobil Rangga samar-samar terdengar walau tak kentara. Jalanan tak begitu macet, satu dua kenderaan saling menyalip. Sania perhatikan aktifitas lalu lalang kenderaan tanpa bersuara. Otak Sania masih bekerja keras memikirkan kasus yang membelit keluarga mereka.
Rangga perhatikan wajah suram Sania. Adiknya cantik cuma sayang hidupnya tak secantik wajahnya. Jalan hidup Sania berkelok-kelok untuk capai titik akhir. Semoga masalah mereka cepat kelar. Yang pantas dihukum biarlah dihukum. Penjahat tak boleh bebas dari hukuman.
"Dek..." panggil Rangga.
Sania beri reaksi memutar kepala ke arah abangnya, "Ya mas .."
"Kau takut?"
Sania tertawa sinis, "Takut? Kata itu sudah lama hilang dari kamusku. Sania cuma tak habis pikir mengapa di dunia ini ada manusia sejahat Amanda. Ranti hancur juga karena dia."
"Andai dia tak dukung Ranti serang aku mungkin Ranti masih aman bersama Bobby. Anak siapa dalam perutnya pasti tak terbongkar. Aku sudah ikhlas biarkan Ranti hidup bahagia dengan Bobby. Aku tak kejar kesalahan mereka. Kenapa mereka masih mau bikin onar?"
"Itulah manusia dek! Tak pernah puas. Di saat Bobby berjaya dia rebut Bobby, sekarang Bobby jatuh mereka incar Bara. Cuma otak mereka berkarat tak bisa memilah kebenaran. Bara sudah pasti bukan Bobby yang gampang tergiur wanita tak bermoral. Sekarang kita perjelas status Sunrise dan serahkan semua bukti kejahatan Amanda. Kamu pertimbangkan Ranti. Mas takkan memaksa kamu tapi berdasarkan suara hatimu saja." Rangga omong panjang lebar ekornya minta keringanan untuk Ranti.
Ranti boleh bukan saudara kandung Rangga namun Rangga pernah hidup bersama wanita itu. Rasa sayang sebagai Abang tetap ada walau tak sebesar rasa sayang pada Agra dan Sania. Rangga tak tega melihat Ranti sedang hamil harus mendekam di penjara.
"Kita lihat saja Mas. Aku sih tak tega lihat Ranti melahirkan di penjara tapi tergantung bagaimana dia bersikap."
"Terima kasih." Rangga bangga punya adik berhati mulia. Tak sia-sia Rangga hidup susah demi mencari Sania. Penderitaan bertahun terbayar lunas dapat Sania telah dewasa dan berhati emas.
Selanjutnya keduanya berdiam diri sampai ke kantor polisi. Di sana sudah ada pengacara kedua belah pihak. Pengacara Amanda dan pengacara Sania. Kedua belah pihak tentu berusaha saling menjatuhkan untuk meraih kemenangan dalam kasus ini. Amanda menuntut balik perusahaan sedang Rangga dan Sania pertahankan hak mereka.
Rangga menggandeng Sania masuk ke kantor polisi untuk menguatkan adiknya. Masuk ke kantor polisi bukan hal bagus. Semua orang yang berada di bumi sebisa hindari tempat cari keadilan ini. Tak injak tempat ini artinya hidup orang itu aman sentosa. Tak dituntut juga tak menuntut.
Rangga dan Sania diiring ke satu ruang di mana sudah ada beberapa orang di situ termasuk Amanda yang tampak tak segalak dulu. Wajah yang biasa kinclong kini tampak kusam.
Mungkin belum kena setumpuk bedak dompol. Sehari-hari Amanda tampil glamor full kemewahan. Dari ujung kepala hingga ujung kaki di dominasi barang mahal. Nginap di kantor polisi sebagai pesakitan meruntuhkan keangkuhan wanita itu.
Mata Amanda pancarkan sinar dendam pada Rangga dan Sania. Wanita ini heran mengapa dua musuh yang paling dia benci bisa datang barengan. Bergandengan lagi. Apa hubungan Rangga dengan Sania. Jangan-jangan Sania selingkuhan dengan Rangga.
__ADS_1
Amanda tertawa licik merasa di atas angin bisa hasut Bara ceraikan Sania. Dengan demikian Ranti masih ada kesempatan masuk ke keluarga Jaya. Otak Amanda tak bisa diajak berpikir positif sedetikpun. Yang muncul hanya akal-akalan licik cari keuntungan sendiri.
Amanda berbisik pada pengacaranya untuk ambil foto Rangga dan Sania gandengan tangan masuk kantor polisi. Ini bukti Rangga selingkuhan bini Bara. Pengusaha yang sedang naik daun pasti akan marah. Buntutnya ceraikan wanita gatal macam Sania. Gitulah gambaran di otak Amanda.
Wanita ini tak tahu bom atom sedang mengarah ke arah otaknya. Sebentar lagi meledak muncrat ke mana-mana. Otak orang jahat mana pernah mikir yang baik. Setitik berpikir seluas lautan kejahatan. Bayangkan di detik sedang berkutat dengan hukum masih terpikir rencana jahat hendak hancurkan mahligai rumah tangga Sania dan Bara.
Di hukum rajam sesuai hukum agama masih belum pantas diterima Amanda. Maunya dikuliti lalu dicincang kecil-kecil ditusuk pakai lidi lalu dipanggang. Akan muncul sate panggang daging wanita jahat Amanda.
Rangga basa basi dengan polisi yang menangani kasus mereka sebagai tanda menghargai aparat hukum. Lantas Rangga beri salam pada pengacara kedua belah pihak. Terakhir baru mengangguk kecil pada Amanda. Rangga bukan anak tak tahu adat. Sejahat apapun Amanda tetap saja orang tua. Rangga pernah hidup serumah dengan wanita itu. Bahkan pernah memanggilnya bunda.
Sania buang muka tak mau menatap manusia jelmaan setan. Hati Sania belum bisa diajak berdamai melihat wanita yang telah luluh lantakkan keluarganya. Kalau Sania algojo jaman Romawi sudah akan jatuhkan tangan besi penggal wanita setan itu. Amanda beruntung Sania terlahir di jaman hukum tak bisa sembarangan diterapkan. Ada rambu-rambu harus dipatuhi.
"Silahkan duduk semua! Kita mulai dari semua tuntutan Pak Rangga. Bu Amanda dan Pak Suhada menyerang kantor Pak Rangga. Ini melanggar hukum." Polisi berpangkat Briptu mulai interogasi awal.
"Kami bukan menyerang Erlangga tapi mengambil hak kami. Sunrise itu kantor kami. Anak durhaka ini curi uang papanya beli saham perusahaan." teriak Amanda histeris.
Pengacara Amanda segera menenangkan kliennya agar tenang. Di kantor polisi tak bisa sesuka hati. Amanda pikir ini pasar malam boleh koar-koar seenak dengkul. Dari segi etika Amanda sudah kalah total.
"Maaf Bu Amanda! Jangan perburuk keadaan. Tuntutan ke ibu bisa berlapis-lapis bila tak mau kerja sama." kata Pak polisi tegas. Kelakuan Amanda sudah seperti preman tak punya sopan santun.
"Tapi pak..suami aku masuk rumah sakit dan aku harus nginap di sini gara-gara anak durhaka ini. Tak perlu periksa lagi tangkap jebloskan ke penjara. Untuk apa bertele-tele perpanjang masalah. Kalau aku berhasil keluar dari sini, pak polisi akan dapat bonus dari aku." ujar Amanda dengan berbinar mendapat secercah harapan menang dari Rangga.
"Bu Amanda hormati hukum...hukum tak bisa anda beli sesuka hati. Kami harus periksa semua laporan dengan detail. Bukan hanya berteriak. Anda terlibat kasus pembunuhan di masa lalu. Saksi dan pelaku sudah ada di tangan kami. Jadi ini bukan sekedar tuntutan soal perusahaan. Hati-hati dalam berkata." polisi itu tersinggung tawaran bonus Amanda hendak menyuap polisi. Orang terbiasa andalkan uang beginilah sifatnya.
Pengacara Amanda mencolek Amanda agar diam. Kasus Amanda makin bertambah andai ditelusuri lebih dalam. Berbagai tuntutan makin menjerat wanita itu cuma sayang Amanda anggap remeh Rangga dan Sania.
Amanda terpaksa tutup mulut tak lanjutkan aksi sok hebat di depan aparat hukum. Makin koar makin banyak kesalahan wanita ini. Sania bersorak dalam hati wanita jahat ini menggali lubang kuburan lebih dalam untuk tanam jasad sendiri. Ternyata gampang sekali jatuhkan wanita jahat ini. Sania kira akan berbelit-belit nyatanya gampang.
"Pak Rangga silahkan tunjukkan dokumen pembelian saham dan asal uang! Mengenai tuduhan Bu Amanda soal anda mencuri uang dari papa anda mungkin ada tanggapan?" Pak Polisi beri kesempatan pada pihak Rangga jelaskan dari mana asal dana beli saham perusahaan.
Rangga melirik Sania sebelum menjawab. Rangga mengharap dukungan Sania jelaskan dari mana asal dana yang tak sedikit untuk borong saham Sunrise. Rangga dicurigai berbuat curang adalah hal wajar mengingat Rangga tak punya apa-apa waktu keluar dari rumah. Lebih tepat seperti gelandangan.
"Pak Polisi...Saya Sania...adik mas Rangga. Soal dana saham Sunrise semua legal. Uang itu hasil investasi dari perusahaan besar Belanda. Mereka bekerja sama dengan kami untuk majukan perusahaan. Semua dana dari mereka dan di sini kami hanya pelaksana. Dokumen tertera jelas setiap transferan dari Belanda. Kami akan lampirkan semua file yang bapak minta." Sania maju bela Rangga. Sania beri kode pada pengacaranya tunjukkan bukti transferan dari Belanda kepada pihak berwajib.
Pengacara Sania keluarkan map berisi bukti transferan dari Belanda. Pak Polisi manggut-manggut percaya bukti akurat dari pihak Sania dan Rangga.
"Akan kami cek keaslian dokumen ini. Untuk sementara tuduhan Bu Amanda terpatahkan. Tuduhan mencuri uang dari papamu ada penjelasan?"
"Aku keluar dari rumah tanpa bawa apapun. Dari mana bisa kusentuh uang yang ada di tangan papa dan ibu ini? Aku tak pernah injak perusahaan sebelum saham dibeli oleh kami. Papa dan ibu ini yang pegang kendali. Apa mungkin segitu besar dana hilang dari perusahaan tanpa sepengetahuan pejabat perusahaan? Kan lucu!" sindir Rangga melirik Amanda yang terkunci mulutnya.
"Jadi sudah berapa lama kau pergi tinggalkan rumahmu?"
"Sudah bertahun-tahun pak. Aku hidup seorang diri sampai bertemu kembali adikku. Kami berkumpul membangun perusahaan yang sebenarnya masih hak adikku."
__ADS_1