
Pengacara Rangga tak mau kalah oleh gertakan Amanda. Wanita ini sungguh tak tahu diri. Sudah tak punya hak namun menolak dijatuhkan.
Amanda membawa suasana jadi tegang. Para pengikut rapat menahan nafas ingin melihat drama apa yang akan terjadi di ruang rapat. Rangga menutup mata tak sanggup melihat papanya yang masih bengong belum mampu berkata karena syok anaknya sendiri beli perusahaannya. Sejelek apapun Suhada dia tetap seorang papa bagi Rangga.
"Rangga itu anakku! Artinya perusahaan ini tetap milik keluarga kami. Tak ada yang berubah. Tak boleh berubah." Amanda menggebrak meja keras salurkan emosi yang meraja di dada. Tampak sekali Amanda wanita ambisius ingin menjadi ratu abadi.
"Bu...sudah kami sebutkan di awal kalau Pak Rangga akan duduk di posisi presiden direktur. Ibu dan Pak Suhada harus menanti jabatan apa yang akan diberikan. Kami datang ke sini bukan untuk berdebat tapi pastikan diri sebagai pemilik saham mayoritas." pengacara handal yang disediakan Sania menunjukkan kualitas sebagai pengacara jempolan.
"Kau..." tunjuk Amanda ke arah pengacara dengan mata merah. Semua tahu Amanda sedang radang tak di patuhi Rangga. Amanda sudah terbiasa memerintah kini harus menelan pil pahit diabaikan Rangga.
"Bu..sabar tunggu bagaimana Pak Rangga atur struktur baru di perusahaan. Dan lagi kami harap Ibu Amanda selesaikan masalah ekspor meubel bermasalah dulu baru kita susun rencana selanjutnya." pengacara itu kembali bersuara bikin leher Amanda makin panjang menahan kesal.
"Itu sudah bukan urusan kami kalau Rangga naik jadi pemimpin. Dia yang harus bayar kompensasi pada investor." ujar Amanda angkuh. Amanda buang muka ke samping sambil mendengus kuda.
"Tidak bisa. Masalah muncul di tangan ibu maka ibu harus selesaikan. Nama baik perusahaan memang sudah hancur. Jadi harap kerja sama ibu dan bapak! Atau akan ditempuh jalur hukum!" ancam sang pengacara makin berani. Pengacara Sania sekolah tinggi bukan untuk digertak wanita ambisius macam Amanda. Amanda pintar menghitung kekayaan orang tapi bodoh menghitung langkah sendiri. Pintar-pintar bodoh jadinya.
"Sudah. Jangan diributkan! Kami akan urus masalah ekspor meubel. Tak ada yang perlu diributkan. Itu memang tanggung jawab kami. Pak Erlangga tenang saja! Perusahaan ini pasti kami serahkan padamu." Suhada keluarkan suara untuk akhiri konflik antara Rangga dan Amanda.
"Terima kasih Pak Suhada. Kami pasti akan berusaha lebih baik lagi majukan perusahaan ini. Masih ada yang mau beri masukkan?" pengacara edarkan mata pada setiap peserta rapat.
"Ada...kami tak punya dana untuk bayar kompensasi." ujar Amanda dingin masih ngotot tak mau ngalah. Rangga bisa rasakan hawa panas dari tatapan mata Amanda. Pantas Sania ingin habisi wanita itu. Ternyata Sania lebih kenal sifat buruk Amanda darinya.
"Sudahlah ma! Papa senang Erlangga bisa sukses. Kita dukung dia agar perusahaan makin maju. Papa bangga padamu nak! Tanpa bantuan kami kamu berhasil sukses. Papa yakin kamu bisa." ujar Suhada sendu. Hari ini Rangga nampak Suhada makin tua. Kerutan mulai hiasi wajah tampan itu. Ada rasa sedih di hati lihat papanya runtuh dijatuhkan anak sendiri. Namun itu harga yang harus dibayar orang jahat.
"Terima kasih Pak! Semoga ke depan semua akan lebih baik." kata Rangga tak tega bicara kasar pada papanya. Rangga benar-benar iba pada Suhada. Namun di belakang Rangga masih ada adiknya yang hidup dari dendam masa lalu. Tangan mungil Sania telah berhasil genggam nasib Suhada dan Amanda. Kisah tragis akan mulai satu persatu.
"Baiklah! Rapat kita tunda sampai Bu Amanda selesaikan masalah meubel. Mulai besok Pak Rangga akan hadir di kantor. Akses Bu Amanda dan Pak Suhada untuk kantor ini ditutup." pengacara umumkan final mematikan buat kedua suami isteri culas itu.
Suhada terima nasib, berbeda dengan Amanda yang belum terima kehilangan power dalam tempo singkat. Ingin rasanya Amanda teriak memaki seluruh penghuni ruang rapat. Tapi apa daya tanpa power lagi. Amanda bukan presiden direktur arogan lagi.
"Rapat kita tutup. Terima kasih sudah hadir."
Lisa yang diam dari tadi menyentuh Rangga agar tetap tunjukkan wibawa seorang pemimpin. Lisa tahu Rangga cukup tegang dihadapkan sama orang tua sendiri. Untunglah Suhada tak ikutan ngotot macam Amanda.
Rapat pagi ini berjalan lancar tanpa insiden. Pertama mereka mengira akan dapat kendala besar. Ternyata cukup kondusif. Para peserta rapat tinggalkan ruang rapat satu persatu. Tinggal Rangga, pengacara, Lisa dan kedua orang tua Rangga.
Suhada berjalan dekati Rangga setelah sekian lama tak jumpa. Bertahun Rangga hilang tanpa tinggalkan pesan dan muncul sebagai orang sukses. Papa mana tak bangga anaknya berhasil jadi orang kaya?
"Nak..ke mana kamu selama ini? Papa mencarimu." Suhada berkata setelah dekat dengan anaknya. Mata yang biasa bersinar garang kini redup seakan telah hilang cahaya kehidupan.
Rangga menelan air ludah tak tahu harus cerita apa. Rangga terlunta-lunta di luar sementara Suhada dan Amanda hidup mewah gaya sultan kekinian. Uang seribu mungkin tak ada kamus buku mereka. Sekali keluar kata pasti bernilai jutaan. Haruskah Rangga cepat luluh lihat kesedihan papanya?
"Aku kerja cari rejeki." sahut Rangga tanpa beranjak dari tempat dia duduk dari semula. Rangga harus kerasan hati tak boleh cepat terpancing lihat tampang kuyu Suhada. Sania wanti-wanti Rangga harus tegas sampai titik akhir.
__ADS_1
"Nak...papa senang kamu sukses. Aku ini papamu. Orang yang telah berjasa besarkan kamu. Apa kamu bahagia lihat papa dan mamamu terpuruk?" melas Suhada sedih banget. Nada bicaranya menyayat hati Rangga.
"Maaf pak! Anda memang papa Pak Rangga tapi bisnis tetap bisnis. Silahkan bincang kan di rumah. Kami selaku pendamping Pak Rangga wajib menjaga seluruh aset perusahaan." pengacara menangkap gelagat aneh Pak Suhada ingin merayu Rangga agar luluh.
"Aku tahu tapi aku selaku papa mungkin masih berhak minta sesuatu pada anakku."
"Katakan apa permintaan bapak! Sebisanya kami penuhi selama tak langgar hukum."
"Aku mau tetap jadi pemimpin di sini. Dan mama Rangga tetap jadi presidennya." akhirnya muncul juga ekor rubah licik sang papa.
Rangga menghela nafas sedih. Ternyata Suhada tetap licik tak bisa berubah. Pasang karakter teraniaya untuk kelabui Rangga agar tetap berkuasa di perusahaan. Apa yang diperhitungkan Sania tak meleset sedikitpun. Rangga tak punya daya untuk bantu papanya karena semua adalah milik Sania.
"Itu tak mungkin pak! Pak Rangga adalah pemilik baru mengapa kalian yang jadi pemimpin?" seru Lisa ikutan berang Rangga dibodohi kedua rubah tua licik.
"Siapa kau ikutan bicara? Ini masalah keluarga. Apa hakmu ikut bicara?" Amanda langsung semprot Lisa yang sudah naik tensi darah.
Lisa bingung harus jawab apa untuk nyatakan posisinya di samping Rangga. Melihat Lisa kelabakan Amanda makin dapat angin hajar Lisa agar bingkem.
"Kau pelacur murahan yang mau rayu anak kami agar patuh padamu? Sekarang anak kami kaya raya. Kau datang dalam hidupnya." bentak Amanda garang pada Lisa.
Lisa mundur beberapa kena bentakan Amanda. Lisa tak sangka ada seorang pemimpin perusahaan mulutnya kayak preman kaki lima.
"Cukup...dia yang dampingi aku dari aku tak punya apa-apa. Dia bukan pelacur murahan tapi calon ibu dari anak-anakku kelak." Rangga bangkit membela Lisa. Rangga sudah tak sabar lihat sikap arogan Amanda. Sudah jatuh masih merasa diri ratu tersohor seantero dunia.
Kepala Lisa membesar merinding mendengar pengakuan Rangga. Hati Lisa kontan tumbuh sejuta bunga warna-warni mekar harum semerbak. Tak disangka Rangga akui keberadaan Lisa di dalam hati. Sikap dingin Rangga hanya kedok untuk lindungi perasaan jujur terhadap Lisa.
"Tak perlu level...bagiku dia adalah kompas hidupku. Penunjuk jalan hidupku." Rangga berjalan ke arah Lisa lalu merangkul pundak gadis itu merapat ke tubuhnya. Lisa merasa badannya kena terjangan tsunami dahsyat. Bergetar dalam bahagia.
"Erlangga..kau tak ingin gadis lebih elite. Kedudukan mu sekarang bisa beli puluhan wanita lebih cantik. Kita pulang ke rumah ya! Adikmu Ranti pasti senang lihat kamu pulang. Dia sedang hamil anak Bobby."
"Maaf Bu! Aku sudah punya hidup sendiri. Itu bukan rumahku. Dari dulu sampai detik ini aku bukan bagian dari keluarga kalian yang penuh kepalsuan. Halalkan segala cara untuk hidup mewah. Ingat! Karma itu ada walau kadang datang telat. Hargai setiap ******* nafas kalian sekarang! Udara bebas masih bisa kalian rasakan. Suatu saat udara itu akan berganti udara pengap." ntah dari mana nyali Rangga bisa keluarkan kata-kata menohok pukul mental Amanda.
Amanda dan Suhada tercengang di skakmat Rangga. Jelas sekali Rangga gusar orang yang telah beri dia hari baik dijelekkan di depan mata. Lisa dan keluarganya adalah malaikat penyelamat hidup Rangga. Rangga terlunta tanpa saudara diterima kerja di bengkel sebagai montir. Hebatnya Lisa tak pandang rendah dia walau cuma seorang montir.
Di mana akan Rangga cari wanita setulus itu lagi. Rangga tak rela Lisa dihujat oleh Amanda.
"Erlangga...kami orang tuamu! Kamu harus patuh atau mau jadi anak durhaka?" seru Amanda masih sok berkuasa.
"Maaf! Kami harus pergi. Singkirkan semua barang kalian dari kantor ini. Kalian tak diterima di sini lagi. Ayok kita pergi!" Rangga menarik tangan Lisa berlalu dari hadapan kedua rubah tua tak tahu diri itu.
Pengacara melempar pandangan sinis ke arah Suhada dan Amanda. Sungguh manusia tak bisa ditolong lagi. Niat baik Rangga tak permalukan mereka malah dibalas dengan penghinaan terhadap gadis penghias hati Rangga.
Lisa terpesona melihat Rangga demikian gagah melawan orang tirani demi bela dia. Saat ini Lisa merasa seperti manusia paling penting di dunia ini. Dilindungi pangeran pujaan hati. Lisa berharap itu bukan mimpi di siang bolong. Sekali terbangun semua sirna.
__ADS_1
Rangga dan Lisa sampai di parkiran di mana mobil Rangga terparkir rapi. Sang pengacara yang dampingi Rangga memilih balik ke kantor nya untuk buat laporan pada Sania hasil rapat hari ini.
"Pak Rangga...kita pisah di sini. Bapak sudah lihat bagaimana tingkah dua orang itu? Bapak jangan lengah! Aku yakin mereka akan cari jalan temui bapak lagi."
"Aku tahu...terima kasih sudah bantu." Rangga menyalami pengacara sebagai tanda terima kasih.
"Sama-sama. Permisi."
Sang pengacara pergi dengan mobilnya tinggalkan Lisa dan Rangga yang masih mematung. Lisa malu tak bisa ucapkan kata apapun. Pipi gadis ini bersemu merah ingat bagaimana Rangga akui Lisa calon ibu anaknya. Secara tak langsung akui Lisa adalah pacar.
"Kita pulang!" ajak Rangga tak romantis. Nada bicara tak seperti orang sedang bersama pacar. Datar kayak landasan kapal terbang. Flat.
"Oh..."
Rangga membuka pintu mobil persilahkan Lisa masuk. Perlahan ditutup pintu sebelah kanan takut Lisa terkejut atau terjepit. Setelah itu Rangga baru balik ke pintu di mana ada stiur untuk aktifkan mobil menuju ke jalan raya.
"Maafkan mereka ya! Sania mungkin sudah cerita siapa mereka?" tiba-tiba Rangga keluarkan suara halau kebisuan.
"Tak apa...Sania sudah cerita. Sania sangat membenci mereka. Kuharap mas Rangga hati-hati terhadap mereka. Ibu tadi itu sangat mengerikan."
"Aku tahu...kamu juga. Kalau mau pergi jauh panggil aku ya! Jangan pergi sendiri!"
Lisa seperti disodorkan tiket bebas hambatan. Pangeran pujaan hati telah beri signal siap jadi pengawal pribadi. Artinya Lisa akan jadi tokoh utama dalam hati Rangga.
Selamat tinggal masa jomblo. Bunga cinta Lisa sudah mekar indah kena siraman air cinta Rangga. Cacing-cacing di perut Lisa ikut berjoget ria sambut sang majikan kena virus cinta. Tak urung perut Lisa berbunyi akibat cacing berpesta ria.
Suara perut berbunyi kencang timbulkan bunyi berisik menarik perhatian Rangga. Laki itu melirik perut Lisa yang rata minta diperhatikan. Lisa malu bukan main dilirik Rangga. Jangan-jangan Rangga akan mengira Lisa tukang makan cepat lapar.
Kalau ada lubang bisa tampung badannya ingin rasanya Lisa sembunyi biar tak dilihat Rangga. Rasa malu Lisa capai fase kelas akhir.
"Lapar?"
"Eh iya...lupa sarapan!" sahut Lisa jujur. Sumpah mati Lisa ingin mati suri saat ini. Lisa tak sarapan saking senang diajak dampingi Rangga ke kantor PT. Sunrise. Akibatnya permalukan diri sendiri.
"Kita makan dulu."
"Kita pulang saja! Makan di rumah saja."
"Aku belum pernah makan berdua denganmu. Mungkin ini waktu tepat. Aku juga mau terima kasih sudah rawat Agra."
"Agra anak baik. Tak ada kendala. Agra juga adikku."
Rangga tersenyum dengar Lisa akui Agra adik dia. Ini isyaratkan Lisa bersedia menerima kehadiran dia dan Agra dalam keluarga. Rangga orang romantis pandai gunakan gombalan hanyutkan anak gadis orang. Yang penting adalah sekeping hati tulus.
__ADS_1
"Terima kasih." Rangga menepuk lengan Lisa pelan. Kontak fisik kedua setelah Rangga merangkulnya tadi. Lisa harap dapat rasakan sentuhan lebih dari ini. Satu kecupan mesra di bibir untuk nyatakan kepemilikan. Lisa takkan menolak bila Rangga mau tukaran air liur dengannya. Lisa tak sabar menanti kiprah Rangga ke tahap itu.
Di belahan kantor lain terlihat kesibukkan calon karyawan di interview langsung oleh Bara dan Roy. Sania tak mau ikut campur soal penerimaan pegawai baru.