MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Pergi


__ADS_3

Bara dan kedua temannya baru saja antar Arsy di apartemennya. Ketiga lega berhasil selesaikan misi menegangkan ini terutama Bara dan Rudi yang pernah jadi bagian dari Arsy. Rasa iba dan kesal campur aduk dalam rongga dada kedua laki itu. Arsy terpuruk karena kelakuan sendiri. Andai dia tak sesumbar bisa taklukkan semua laki mungkin dia sudah hidup bahagia dengan Bara maupun Rudi.


Takdir berkata lain. Arsy justru terhempas tak berharga ulah sendiri. Kehilangan Bara, Rudi dan terakhir Kintan. Semua jauhi wanita itu.


"Gimana? Kita minum kopi?" tawar Rudi setelah keluar dari tempat tinggal Arsy.


"Tak usah...ini sudah lewat tengah malam. Besok kita harus berangkat ke pulau B. Dan kau Rud.. perusahaan kuserahkan padamu. Jadilah pemimpin baik?" Bara melirik jam tangan tunjukkan pukul satu dini hari.


"Kau percaya padaku?" Rudi tak bisa sembunyikan rasa bangga dapat kepercayaan Bara. Mereka pernah berseteru karena Arsy. Tapi itu masa lalu.


"Kau temanku..tentu aku percaya! Cuma kuminta jangan kau rebus Putri! Sania takkan maafkan kamu!" Bara menepuk pundak Rudi tanda sahabat.


"Ngaklah! Putri bukan cewek bisa dirayu pakai gombalan. Tangan aja tak boleh disentuh."


Bara dan Roy terkekeh lihat Rudi si playboy cap buaya jumpa merpati beracun. Disentuh sedikit hukumannya mati.


"Playboy model ente memang harus dapat yang gituan! Latihan mental! Maunya ente berguru sama biksu Shaolin gimana menahan nafsu." olok Roy.


Ketiga beriringan berjalan ke arah mobil Bara dan Roy. Rudi tak bawa mobil numpang sama Roy menemui Arsy di pub. Tugas Roy sekarang antar Rudi ke tempat semula untuk lanjutkan mimpi tertunda.


Bara masuk ke mobil sambil angkat tangan. Kedua mobil ambil rute berbeda menuju ke rumah masing-masing. Bara lega berhasil bawa Arsy keluar dari pub dengan selamat. Bara tetap tak tega biarkan Arsy jadi mangsa para predator penghamba ***.


Bara akan ajak Arsy bicara baik-baik untuk tidak ganggu rumah tangganya dengan Sania. Bara tak mungkin berpaling dari wanita muda yang wakili semua wanita di dunia ini. Laki ini tak tahu dunia bakal kiamat sebentar lagi.


Sania telah pergi membawa duka mendalam. Kalau Sania menghilang tak seorangpun bisa cari dia kecuali Sania sendiri berniat muncul.


Komplek tempat tinggal Pak Jaya sunyi senyap. Hanya ada beberapa Kamtibmas hilir mudik kawal lingkungan. Mobil Bara berhenti di depan pintu pagar menanti satpam rumah buka pintu pagar otomatis.


Satpam bertubuh gempal itu tergopoh-gopoh buka pintu pagar untuk majikan yang pulang larut malam. Wajah ngantuk satpam tak kurangi kesigapan dalam laksanakan tugas.


Pintu pagar terbuka lebar beri jalan buat Bara masukkan mobil di garasi. Perlahan mobil Bara meluncur ambil posisi di samping mobil mewah Fadil yang harganya capai milyaran. Bara tak bisa menyamai Fadil yang duluan sukses ikuti jejak sang papa. Fadil termasuk anak muda berprestasi. Walau konyol namun lihat jadi pebisnis.


"Selamat malam pak Bara..." sapa satpam sopan setelah mobil Bara terparkir rapi.


"Malam pak. Maaf sudah merepotkan."


Satpam gempal itu tersenyum malu dapat sapaan sopan dari bos. Gigi kuning penuh nikotin berbaris ikut pamer diri di depan bos.


"Itu tugasku! Oya tadi nyonya muda nyusul pak Bara." lapor satpam.


"Apa???? Isteriku keluar tengah malam gini? Ke mana dia?" teriak Bara bagai disengat listrik ratusan volt.


Satpam mundur beberapa langkah saking kaget diteriaki Bara. Satpam mana tahu Sania ke mana. Sebagai penjaga rumah satpam tak berhak melarang majikan keluar rumah apa lagi bertanya.


"Nyonya muda tak bilang. Kukira dia susul bapak." sahut satpam ketakutan lihat wajah Bara berubah menjadi dewa maut siap cabut nyawa satpam.


"Bodoh kamu...seharusnya kamu larang dia pergi atau lapor padaku! Dia sedang hamil dodol!" suara Bara menggelegar pecahkan keheningan malam.

__ADS_1


Suara teriakan Bara sudah pasti terdengar seantero komplek perumahan. Satpam menunduk tak tahu harus beri jawaban apa. Dia memang tak tahu kalau Sania pergi tanpa ijin suami. Laki gempal ini kira Bara tahu ke mana perginya Sania.


Bara mondar mandir bingung hilang akal sehat. Kepergian Sania tanpa pesan bak mencabut nyawa Bara. Mengapa Sania pergi tanpa pesan atau Sania sudah minta ijin pada orang tuanya. Tapi Sania tetap harus ijin dari Bara baru boleh pergi.


"Coba telepon nyonya muda pak!" satpam beri solusi pecahkan kebuntuan otak Bara.


Bara menepuk jidat akui kebodohan sendiri. Malah satpam lebih pintar cari solusi untuk menemukan Sania. Ke mana larinya otak cerdas Bara. Kok mendadak tumpul tak bisa dipakai.


Bara segera keluarkan benda pipih yang bisa hubungkan seluruh dunia dalam genggaman. Dengan wajah penuh harapan Bara pencet kontak nama Sania.


Bukannya Bara girang dapat sambungan no Sania. Suara operator seluler dengan manis kumandangkan nomor yang anda hubungi sedang tidak aktif. Bara lunglai nyaris jatuh ke halaman parkir. Satpam dengan sigap menahan tubuh tinggi besar itu.


"Pak kita masuk dulu! Tanya pada tuan dan nyonya besar. Mungkin mereka tahu ke mana nyonya muda." usul satpam bantu Bara masuk rumah. Badan Bara serasa tak bertulang tak sanggup topang tubuh berkerangka besar itu.


Pintu rumah memang tak terkunci seakan tahu Bara akan pulang. Lampu ruang keluarga menyala terang tak seperti biasa bersinar redup bila malam menjelang.


Satpam dan Bara terpaku karena di ruang keluarga tiga sosok manusia duduk di sofa perlihatkan tampang seram. Tampang yang siap antar Bara jumpa malaikat maut.


Tak ada kata-kata keluar dari bibir ketiga orang itu selain jual tampang tak ramah. Amarah tampak jelas bergelantungan di wajah ketiga orang itu. Bara makin lemas jumpai fakta bahwa satu rumah memusuhinya.


Satpam membantu Bara duduk di sofa tunggal tak jauh dari Fadil. Fadil kesal bukan main pada Bara yang tak peduli pada Sania. Bara memilih habiskan malam Dengan Arsy di pub ketimbang keloni wanita hamil muda itu. Kalau tak ada kedua orang tuanya Fadil sudah pasti layangkan bogem mentah ke wajah abangnya.


Fadil masih hargai kedua orang tuanya tak bikin onar di malam buta. Keributan pasti tak terelakkan bila Fadil bersikeras pakai jalur kekerasan.


"Mana Sania?" tanya Bara tak sabaran dihakimi tanpa dakwaan.


"Sania? Bukankah lebih asyik dugem dengan sampah?" sinis Fadil keluarkan kuku setan siap cekik leher Bara.


"Lihat ini? Sania yang kirim foto-foto syur kalian padaku! Sania tak tahan kau curangi memilih pamitan." Fadil melempar hp mahalnya ke atas meja tanpa takut rusak. Hp tak seberapa bila dibanding sakit hati Sania.


Mata elang Bara terbelalak kaget tak menyangka ada orang kirim foto mereka di pub pada Sania. Bara dipaksa ikut dalam cerita karangan penulis mana? Siapa sutradara dan produser dalam kisah tragis ini? Kisah tragis yang merenggut kebahagiaan Sania.


"Dari mana foto ini? Ini bukan seperti yang kalian bayangkan! Ya Allah aku terjebak lagi!" Bara meraung tak terima ada orang berniat hancurkan rumah tangganya. Fakta di lapangan tak begitu tapi hasilnya sungguh di luar prediksi.


"Terjebak apa? Jelas-jelas kau tinggalkan Sania untuk jumpai perempuan sundel itu! Apa kau tak kapok ditipu perempuan sampah itu?" ujar Bu Jaya perlihatkan muka masam. Bu Jaya tidak bela anak sendiri karena Bara memang salah. Sudah tahu Arsy bibit kuman tapi masih getol dekati.


"Bukan gitu ma! Tadi ada yang telepon aku bilang Arsy mabuk di pub. Aku hubungi Roy dan Rudi untuk ke sana. Aku duluan sampai. Arsy mabuk berat peluk-peluk aku tapi itu tak seperti bayangan kalian. Ntah siapa iseng foto kami kirim ke Sania. Sumpah aku tidak berbuat maksiat. Boleh tanya Roy dan Rudi. Tunggu kuteleponi mereka!" Bara keluarkan ponsel hubungi dia saksi hidup untuk bersihkan nama baik Bara.


Fadil belum bisa maafkan Bara yang melukai hati wanita pujaannya. Mencintai Sania tidak perlu memiliki, Fadil cukup puas selama Sania baik-baik saja. Kini darah Fadil mendidih lihat Bara curangi Sania.


"Kalaupun kau dan Arsy tak ada apa-apa kenapa harus pergi ke pub? Apa lupa punya bini? Pesona mantan lebih dahsyat?" sindir Fadil tak terima alasan Bara. Sudah tahu Arsy mengharap dirinya. Bukannya menghindar malah mengantar diri jadi mangsa wanita itu..


"Aku cuma kasihan pada Arsy. Ternyata dia hanya anak angkat keluarga kaya raya. Tak punya kuasa dalam keluarga. Aku takut dia putus asa berbuat bodoh." jelas Bara kepada keluarganya.


Fadil tertawa sinis. Alasan Bara sangat tidak logis. Apa hubungan anak angkat dengan keberadaan Bara di pub. Sudah jelas Bara masih ada perhatian pada Arsy masih bikin sejuta alasan.


"Kau akan menyesal bila kehilangan Sania demi seorang wanita tak punya malu. Kami tak bisa menahan Sania untuk pergi jauh darimu. Dia sedang hamil butuh support suami. Tapi kau malah bersenang dengan wanita lain. Papa kecewa padamu nak!" Pak Jaya yang dari tadi menyimak kini keluarkan pendapat. Vonisnya Bara tetap salah.

__ADS_1


"Tunggu Roy dan Rudi datang jelaskan duduk masalah! Semua tak seperti dugaan kalian. Aku masih waras...tak mungkin korbankan anak isteriku!"


"Faktanya kau tinggalkan Sania demi kejar wanita mabuk. Kau pantas dapat ganjaran setimpal. Sania sudah pergi jauh." sungut Bu Jaya buang muka tak mau lihat tampang pengkhianat.


Berkali-kali Bara mengusap wajah buang aura sial yang terlanjur lengket di wajah. Bara ingat Sania wanti-wanti pada Bara hindari Arsy. Tak ada kata maaf dan kesempatan kedua kalau Bara curang.


Bara mendesah bingung tak tahu harus ke mana cari Sania tengah malam buta. Ke mana Sania akan pergi. Biasa Sania akan pergi ke mana kalau lagi suntuk?


Apartemen atau rumah Lisa. Kemungkinan Sania ada di antara dua tempat itu. Bara segera bangkit berniat cari ibu dari calon anak-anaknya.


"Mau kemana?" tanya Pak Jaya saksikan Bara hendak pergi.


"Cari isteriku!" sahut Bara tegas.


"Tak perlu dicari! Sania sudah tinggalkan tanah air setengah jam lalu."


"Apa? Papa tak tahan dia?" seru Bara tak habis pikir di mana orang tua itu simpan otaknya? Sania kabur malah dapat dukungan penuh.


"Papa kasihan padanya punya suami plin plan. Perbaiki dulu sifatmu baru temui isterimu. Dia sudah kasih kabar berangkat ke luar negeri. Kau tak perlu risau. Urus saja simpananmu."


"Ya ngak gitu pa! Aku ini suami Sania. Berhak tahu ke mana dia pergi. Aku segera susul dia. Kasih tahu ke mana dia?" bujuk Bara mulai merengek mirip anak kecil.


Pemandangan aneh sedang berlangsung. Satu sosok tinggi tegap merengek bak anak TK minta mainan. Bara berlutut di hadapan Pak Jaya mohon diberi bocoran di mana adanya Sania. Pak Jaya mantapkan hati kasih pelajaran berharga pada Bara agar sadar ada yang lebih berharga dari kenangan masa lalu.


"Papa juga tak tahu dia ke mana? Dia cuma pamitan ijin ke luar negeri untuk tenangkan pikiran. Sania kecewa berat padamu nak! Maaf papa tak bisa bantu kamu. Perbaiki akhlakmu baru berhak jumpa anak isterimu!"


Bara terduduk lemas di lantai diberi jawaban menohok. Hati Bara terlalu lemah tak bisa tepis kenangan masa lalu. Arsy seperti bekas borok di hati Bara. Sembuh tapi tinggalkan bekas. Tetap berbekas sampai akhir hayat.


"Papa tega pada anak sendiri." gumam Bara patah arang.


"Lalu kau apa? Kau lebih tega khianati bini demi rongsokan. Sania sudah begitu rajin cari rezeki untukmu, kau malah senang-senang geluti wanita sampah." cerca Fadil mulai tak terkontrol emosi..


"Jaga mulutmu! Aku ini abangmu. Yang kabur itu kakak iparmu. Ingat itu!" sergah Bara tak senang Fadil terlalu lancang.


"Sania bukan kabur tapi hindari bibit penyakit. Dia takut keguguran bila asyik ingat bayangan kamu bercumbu dengan *****." Fadil tak kalah garang tidak takut pada Bara.


"Sudah jangan ribut! Biar Sania pergi tenangkan otak. Dia sedang hamil butuh privacy jaga moodnya." potong Pak Jaya tak ingin dua putranya berdebat di tengah malam.


"Teganya kalian!" desis Bara tak berdaya.


Dari luar terdengar derap sepatu berbunyi garing. Tengah malam gini setiap suara terdengar sangat jelas di gendang kuping. Keluarga Jaya sudah tahu bakal kedatangan tamu untuk jadi saksi Bara.


Pak Jaya tak ragu cerita Bara namun kesalahan Bara tetap jadi momok kepergian Sania. Bara salah nyusul Arsy di pub. Itu kesalahan fatal nyusul mantan yang sedang mabuk. Itu resiko yang harus dipikul Bara.


Roy dan Rudi hadir di rumah Jaya dengan tampang kuyu. Mata kedua laki itu agak merah menahan ngantuk. Waktu telah berlari jauh dari malam menuju pagi subuh. Tak lama lagi ayam akan berkokok sambut pagi. Tapi di komplek mana ada ayam? Tak seorangpun bersedia piara ayam yang baunya minta ampun.


"Assalamualaikum pak Bu..!" sapa Roy tak bisa sembunyikan rasa ngantuk tak tahu untung. Orang lagi ada masalah dia datang jadi parasit usilin yang empunya netra.

__ADS_1


"Waalaikumsalam...ayo duduk nak Roy! Nak Rudi!" Bu Jaya yang jawab sebagai tuan rumah.


Bara bersyukur dua malaikat penyelamat sudah tiba bersiap angkat Bara dari comberan. Kini Bara tertimbun bau busuk sampah serta air comberan dari air limbah.


__ADS_2