
Bara hampiri Rangga dan Sania. Kedekatan Rangga dan Sania mencekik leher Bara sampai tak bisa bernafas. Kini Bara sadar kalau bini kecilnya sangat dihargai para cowok. Andai Bara khilaf dikit Sania akan berpindah jadi milik orang lain. Bara harus gerak cepat jadikan Sania jadi milik pribadi.
"Sania...kamu sudah lelah. Ayo istirahat! Kamu kan baru sembuh sakit." Bara sengaja berdiri persis di hadapan Rangga unjuk gigi kalau dia menantang Rangga.
Rangga menarik tangan Sania makin erat dengan tatapan marah. Sania sakit tak bilang pada abang kandung. Rangga merasa tersinggung diabaikan Sania.
"Kau sakit? Kenapa tak telepon mas?" ujar Rangga sewot.
"Aku tak apa mas. Hanya capek. Toh sekarang sehat!" Sania gerakkan tubuh nyatakan dia sehat.
"Kita pulang ke rumah Pak Bur. Di sana kau akan dirawat baik. Mas tunggu kamu." Rangga tak beri toleransi pada Sania untuk tetap berada di lingkungan Bara. Hidup Sania berantakan sejak jadi bini Bara. Kerja tak kenal waktu sekarang drop pula. Sakit hati Rangga melihat kondisi adik yang dicarinya bertahun-tahun.
"Maaf pak..Sania ini isteriku! Aku bertanggung jawab atas dirinya. Bapak tak bisa bawa Sania ke manapun." Bara majukan badan menantang Rangga.
Rangga tak kalah gertak bangun hadapi Bara tanpa gentar. Demi lindungi Sania apapun akan dilakukan Rangga. Seribu Bara takkan surutkan mental Rangga lindungi sang adik.
"Sania adalah adik kandungku. Aku berhak jaga dia."
Bara mundur selangkah saat Rangga proklamirkan diri sebagai abang kandung Sania. Ada rasa malu rajai hati Bara berebut Sania dengan abang sendiri. Andai otak Bara bisa diajak kerja sama pasti bisa berpikir waras.
Dulu waktu nikah Rangga jadi wali Sania. Dari situ sudah ketahuan posisi Rangga bagi Sania. Dasar Bara cemburu buta tak bisa pakai akal sehat.
"Maafkan aku mas! Aku sangka mas suka sama Sania." ucap Bara malu.
"Dia adikku wajar aku suka padanya. Kamu jangan ngaco! Dan ini Agra adik kami paling bontot. Kau kira Sania gadis gampangan bisa dirayu seenak perut?" omel Rangga cari kesempatan jatuhkan harga diri Bara yang selalu tampak angkuh.
Bara menatap Agra yang memang ada kemiripan sama Sania. Rangga juga mirip walau tidak seratus persen. Bara mendesah malu telah main hakim sendiri. Cari masalah dengan ipar sendiri.
"Aku akan jaga Sania dengan baik. Besok Nania dikuburkan. Biarlah Sania nginap di sini!" Bara mulai berbicara dengan nada rendah takut Rangga tak ijinkan Sania nginap di rumah orang tuanya.
"Mas..besok adalah hari terakhir Sania bersama mbak Nania. Sania akan tidur di sini semalam." Sania melerai du laki keras kepala ini. Keduanya sama-sama emosinya bertegangan tinggi.
"Kau yakin dek?"
"Yakin..mas ajaklah Pak Bur pulang. Besok Agra sekolah. Tak baik tidur malam."
"Baiklah! Jangan lupa telepon mas kalau ada masalah! Mas akan lindungi kamu."
Sania mengangguk. Bara tak berani ikut dalam obrolan kakak adik itu. Perhatian Rangga pada sang adik adaah tindakan wajar. Di mana-mana abang tetap jadi pahlawan sang adik. Bara agak jengah pada Rangga karena telah salah sangka pada Rangga. Untunglah Rangga termasuk kakak baik tak bikin perhitungan dengan Bara.
"Mas Rangga jaga Agra ya! Sania mungkin berapa hari ini tak dapat pulang ketempat Lisa. Sania mau istirahat dulu." Sania bangkit dari tempat dulu hendak pergi ke kamar untuk istirahat. Raut wajah Sania memang kurang bergairah. Hari ini batin Sania cukup tergoncang. Secara tiba tiba kehilangan harapan indahnya memberi kesembuhan pada Nania.
Bara bisa rasakan perubahan Sania sejak meninggalnya Nania. Bini mudanya seperti kehilangan gairah hidup. Ini menunjukkan betapa tulusnya Sania terhadap Nania.
Bara mengajak Sania meninggalkan tempat jenazah Nania disemayamkan. Gadisnya butuh penenang saat ini.Bara tak ingin menambah beban Sania lagi memilih biarkan Sania istirahat dalam kamar tanpa niat ganggu gadis itu.
Bara mengantar Sania ke sebuah kamar indah dominan warna cowok. Seluruh kamar berwarna kelabu cocok dengan suasana saat ini. Kamarnya bersih dan harum aroma teh mints. Hati Sania adem cium bau aroma yang bisa menenangkan hati.
Ntah siapa begitu baik hati letakkan aroma lembut di suasana hati Sania sedang galau. Aroma ini cukup membantu Sania untuk bisa tidur.
Bara membimbing Sania ke tempat tidur dengan lembut layak suami setia. Mata Sania tertuju pada Bara ucapkan terima kasih tanpa kata. Bara sudah ngerti walau tak ada sepatah katapun muncul dari bibir mungil itu.
Bara membantu Sania rebahkan diri ke tempat tidur lalu menarik selimut menutupi tubuh gadisnya. Sania tersentuh pada sikap gentle Bara tak ambil kesempatan di saat Sania lagi rapuh.
"Tidurlah! Besok kau bangun semua akan lebih baik." bisik Bara pelan persis di kuping Sania.
__ADS_1
Gadis ini bisa rasakan hangatnya nafas Bara menembus kulit leher. Ada perasaan aneh menjalar di dada. Jantung terasa diajak maraton lari jauh. Berdegup kencang.
"Pak..bolehkah aku bersihkan diri?" tanya Sania menepis pesona laki yang jadi suaminya itu.
"Tentu..mari kuantar!" Bara membantu Sania turun dari tempat tidur yang tak tinggi.
Sebenarnya Sania bisa berjalan sendiri tak perlu dipapah Bara. Laki itu perlakukan Sania seperti orang sakit. Sania tak protes tak mau merusak malam penuh duka dengan pertengkaran kecil.
Kamar mandi Bara cukup luks. Ada bathtub jazucci warna marmer abu. Shower tiang minimalis bergantung di dinding plus wastafel warna senada dengan bathtub. dekornya sangat indah walau tanpa banyak pernak pernik. Sania suka walau kurang suka warnanya.
"Masuklah! Aku menunggumu di sini." Bara biarkan Sania masuk ke kamar mandi."Jangan mandi ya! Kau masih belum fit!" Bara ingatkan Sania jangan mandi malam karena belum fit betul.
"Badanku lengket pak!"
"Tapi kau belum sehat nona Sania."
"Siram sekilas saja. Aku tak bisaa tidur bila tak mandi."
Bara puji sifat keras Sania. Tak ada guna lawan gadis berotak baja itu. Yang ada dia terpancing emosi.
"Ya sudah cepat mandi! Aku berdiri di sini. Tak boleh kunci pintu." Bara ingatkan Sania jangan kunci pintu. Bara masih trauma dapatkan Sania pingsan dalam bathtub di rumahnya. Pengalaman buruk selalu jadi lonceng pengingat paling manjur agar kita waspada.
Sania mendelik menatap Bara curiga niat terselubung suaminya itu.
"Mau intip?"
Bara menyentik dahi Sania membuat Sania menjerit kecil. Sania mengelus dahinya yang terasa sedikit perih kena sentilan tangan raksasa Bara. Kalau laki itu kuat dikit lagi bisa- bisa jidat Sania memar.
"Sakit tahu.."
Wajah Sania kontan berubah merah teringat dia pingsan tanpa busana dalam kamar mandi. Siapapun yang bantu dia tentu sudah lihat tubuh mulusnya.
"Bapak tak lihat apa apa kan?" tanya Sania hati hati.
"Semua udah kulihat. Aku suamimu tak ada dosa kan lihat tubuh halal bini sendiri. Ini sudah kulihat cuma belum rasa." sahut Bara kalem menanti ledakkan kompor panas Sania.
Sania mengepal tinju hendak arahkan ke perut Bara saking gemas Bara masih sempat menggodanya. Sania malu bukan main Bara menyentuh tubuhnya walau tanpa niat jelek. Sania belum ikhlas Bara jamah tubuhnya tanpa ijin.
"Bapak berhutang padaku." desis Sania jengkel.
"Ok..mau dibayar pake apa? Biasanya hutang nyawa dibayar nyawa. Hutang duit bayar duit. Hutangku gimana? Aku akan telanjang juga untuk bayar kamu." ujar Bara santai. Laki ini membuka kancing baju untuk bayar hutang. Bara hanya ingin menggoda Sania agar gadisnya tak tegang melulu.
Sania menutup mata tatkala lihat Bara mulai lepaskan kancing baju satu persatu. Sania tak sanggup melihat kelanjutan kekonyolan Bara bayar hutang. Mana ada hutang demikian mesum di dunia ini.
"Stop..ngak usah bayar! Gratis.." seru Sania secepat kilat sebelum Bara benar telanjang di hadapannya.
"Gratis..aku mau lagi dong!" olok Bara terhibur melihat Sania mulai bisa marah. Artinya gadisnya mulai normal.
"Laki mesum..." seru Sania tak mau ladeni kekonyolan Bara.
Sania takut terpeleset jatuh pada pesona Bara. Walau usia Bara jauh di atas Sania namun tak dipungkiri laki itu sangat mempesona. Wajar kalau banyak wanita suka adanya.
Sania masuk kamar mandi langsung kunci pintu tak peduli Bara marah. Sania ingin menjaga keamanan dari gangguan suami sendiri.
Bara tersenyum melihat Sania mulai bersemangat melawannya. Ini signal baik tanda Sania mulai sehat. Bara bahagia bila gadisnya bisa jalani hidup sebagaimana biasa. Kematian Nania akan jadi pukulan berat bagi Sania namun itu adalah takdir Allah.Tak ada manusia bisa prediksi kapan ajal datangi kita.
__ADS_1
Bara rebahkan diri di tempat tidur besar lemaskan tulang. Bara juga alami syok cukup besar. Mendadak kehilangan wanita yang menemaninya selama tujuh tahun. Bara jatuh bangun demi Nania. Perjuangan Bara akhirnya capai titik akhir buahkan sad ending.
Kelanjutan hidup Bara adalah kisah bersama Sania. Sania bukan gadis gampang ditaklukkan. Mana lagi janji nikah mereka karena Nania. Sekarang Nania sudah tak ada, ntah bagaimana kelanjutan pernikahan mereka.
Bara takut Sania akan tinggalkan dia. Sania sengaja hindari tanggung jawab sebagai isteri karena sadar suatu waktu mereka kan pisah maka tak ijinkan Bara menyentuh tubuhnya.
Bara harus pintar bawa Sania berlabuh di pelukannya agar gadis itu terikat seumur hidup padanya.
"Pak.." suara pelan Sania memaksa Bara arahkan mata ke gadisnya. Sania sudah tampak lebih segar dalam balutan bathrobe miliknya. Jubah itu kebesaran di badan Sania sehingga Sania seperti tenggelam dalam jubah mandi.
Bara tertawa geli melihat badut cantik meringis malu di samping tempat tidurnya. Sania makin cantik tanpa polesan bedak. Kecantikan alami bini mudanya makin membuat Bara tak rela Sania berpindah hati.
"Maaf..aku pinjam bathrobe bapak!"
Bara bangkit dari tempat tidur menatap Sania lebih dekat. Bara perbaiki baju kedodoran Sania tanpa niat mesum. Sania sedikit gugup disentuh Bara. Sentuhan Bara seperti listrik tegangan tinggi menyetrum tubuh. Tubuh Sania bergetar.
"Sekarang kau tidur. Istirahat jangan pikir apapun.Aku juga mau mandi." ucap Bara halus perlihatkan ketulusan terhadap Sania. Dalam nada Bara tak tersimpan ***** birahi.
Sania menarik nafas lega Bara tak macam macam terhadapnya. Laki sejati idaman semua wanita. Tak ambil keuntungan dari gadis muda macam Sania.
Bara masuk kamar mandi tinggalkan Sania yang tak ragu naik tempat tidur. Sania ingin tidur cepat melupakan kesedihan hari ini. Semoga esok Sania bisa berpikir lebih bijak tak menyesali takdir hidup Nania.
Kicauan burung samar samar terdengar mengusik telinga Sania. Iramanya dari paruh kecil unggas bersayap seperti pemain musik solo lantunkan lagu berulang-ulang.
Sania mengumpulkan ingatan kejadian kemarin yang telah menghancurkan hatinya. Orang yang ingin dia lindungi telah pergi untuk selamanya. Nania tinggalkan banyak rahasia yang tak mungkin Sania ungkap ke Bara. Biarlah aib Nania jadi rahasia seumur hidup Sania.
Sania menggeliat merentangkan tangan cari posisi santai menyegarkan tubuh. Gerakan Sania terhenti terhalang oleh tubuh raksasa di sampingnya. Sania gerakan kepala ke samping lihat siapa berbaring di sisinya.
Bara tertidur dengan damai. Wajah tampannya tampak kayak anak bayi tanpa dosa. Dalam keadaan gini Bara tak ubah anak kecil bertampang tua.
Sania tak mau lebay teriak sok kaget lihat ada seseorang tidur bersamanya. Ini pertama kali mereka tidur bersama tanpa melakukan hal di luar batas. Sania puji keteguhan mental Bara tak mengusik tidurnya.
Sania bangkit menuju ke kamar mandi cuci muka. Sania berencana laksanakan sholat subuh. Ini pertama kali juga dia tidur di rumah mertuanya. Sania harus pandai jaga harkat Bara sebagai suaminya. Bara sudah cukup lama terbuang karena Nania. Sania harus kembalikan nilai Bara di mata keluarga.
Sania kembali ke tempat tidur setelah cuci muka. Sania tak punya peralatan sholat di rumah ini. Satu-satunya jalan adalah bangunkan Bara minta pinjam sama pemilik rumah.
"Pak..." panggil Sania dengan suara lembut. Lembut menyentuh kalbu.
"Hhhmmm..." gumam Bara tak buka mata. Bara tampak masih ngantuk. Matanya masih berat diajak aktifitas.
"Sholat subuh pak!"
Bara membuka mata dengan tampang bodoh. Mata Bara menangkap satu sosok bayangan cantik duduk di sampingnya perlihatkan wajah alim. Sania bini mudanya.
"Cepat bangun?"
"Ini waktu sholat subuh. Aku mau bapak cari kain sembahyang untukku. Punyaku tertinggal di rumah."
Bara turun dari tempat tidur dengan malasan. Kini Sania bisa melihat Bara berpakaian sopan piyama warna biru tua. Otak Sania berpikir jernih tak marah walau Bara telah lancang tidur di sisinya. Mereka hanya tidur tanpa tanda kutip.
Bara keluar dari kamar ntah ke mana. Punggung laki itu lenyap di balik pintu menuju ke tempat di mana dia bisa dapatkan pesanan Sania.
Sambil menanti Bara datang Sania masuk kamar mandi ambil air wudhu. Hati Sania ikut sejuk rasakan siraman air di pagi hari. Kesejukan serasa meresap dalam kalbu kembalikan kesadaran Sania. Sania harus sadar bahwa Nania sudah tak ada.
Kini tinggal Sania tunaikan janji pada Nania menjaga Bara seumur hidup. Sania sudah janji takkan tinggalkan Bara selamanya.
__ADS_1