
Lisa agak kaget tatkala masuk ke ruang Rangga telah bertambah dua orang terlicik sedunia. Lisa takut kedua orang itu sakiti Rangga yang lembut hati. Dari luar dingin sangar tapi di dalam Rangga adalah orang baik hati serta lembut. Istilahnya tampang Rambo hati Cinderella.
"Mas Rangga...kau tak apa?" Lisa memeriksa kondisi Rangga. Wajah Lisa dipenuhi kecemasan.
Rangga tersenyum menenangkan Lisa. Perhatian Lisa bikin Rangga makin sayang pada gadis ini. Benang cinta mulai membentang ingin mengikat gadis ini selamanya di sisi. Pagi siang malam bisa rasakan perhatian tulus dari gadis muda ini merupakan impian Rangga.
"Aku tak apa..tenang saja! Antar tamu kita keluar. Aku masih banyak kerja." ujar Rangga ramah pada gadis penghias mimpi.
"Iya mas..maaf bapak ibu silahkan!" Lisa berusaha bersikap sopan layak sekretaris umum layani tamu.
"Siapa wanita ini?" selidik Amanda menatap tajam pada Lisa. Mata Amanda tajam tak ubah kayak singa mengincar mangsa.
"Dia hanya sekretarisku. Apa aku cari sekretaris harus juga kalian urus?" tukas Rangga cepat tak ingin Lisa jadi target kedua manusia ini. Bisa jadi kedua orang ini celakai Lisa untuk menekan Rangga keluarkan seluruh saham untuk mereka.
"Oh..semoga gitu! Kami akan datang besok untuk ambil posisi semula. Kau tak boleh durhaka sama orang tua." kata Amanda kayak orang primitif tak ngerti bahasa kekinian.
"Bu Amanda lebih suka berhadapan dengan hukum kayaknya. Aku resmi sebagai presiden direktur secara hukum. Merampas hak orang sama saja melawan hukum. Silahkan kalau mau coba." Rangga tak gentar digertak Amanda. Wanita rubah ini harus dapat pelajaran berharga agar tahu dia bukan orang hebat.
Suhada menyentuh tangan Amanda agar jangan perpanjang masalah karena ini kan menyangkut hukum. Mereka kalah total bila sudah bicara ke ranah hukum. Mereka tak punya dasar merebut kembali saham perusahaan. Rangga membeli saham secara legal.
"Rangga..kami orang tuamu! Beri kami panggung agar muka kami tak hancur. Kami sudah tua, umur kami juga tak panjang lagi. Beri kami sedikit kemewahan apa salahnya." Suhada lebih ngerti sifat lembut Rangga. Makin dikasari Rangga makin ikut kasar. Satu-satunya jalan adalah mencoba bujuk Rangga memberi mereka muka.
"Syukurlah papa sadar sudah tua. Waktunya pensiun. Aku janji akan tunaikan tugas sebagai anak. Tiap bulan aku akan transfer biaya hidup papa. Ini tugasku sebagai anak sekaligus balas jasa sudah besarkan aku." sahut Rangga santai.
"Papa tak mau itu. Papa hanya mau posisi presiden direktur. Ini untuk angkat derajat keluarga kita."
"Aku juga bisa. Papa pulanglah! Selesaikan masalah dengan pembeli meubel di Amerika itu. Jangan sempat terseret ke ranah hukum! Aku tak bisa bantu."
"Kau gila..itu menyangkut dana ratusan milyar. Kalau kami tak pakai uang perusahaan dari mana uang segitu banyak?" seru Amanda menggebrak meja Rangga. Teh yang tergeletak di meja nyaris tumpah saking kerasnya Amanda gebrak meja.
Suasana kembali tegang setelah mereda sesaat. Amanda ngotot tak mau bayar kerugian dari kocek sendiri. Amanda mau Rangga yang bayar semua pinalti dari Amerika. Dananya cukup besar mengingat kerugian pembeli dari luar negeri itu.
"Maaf..uang dari importir itu tak pernah masuk dalam pembukuan perusahaan jadi dari mana perusahaan harus tanggung jawab. Itu hasil ketamakan sendiri. Kami para dewan pimpinan belum tuntut kalian melakukan korupsi sudah bersyukur. Pikirkan semua baik-baik sebelum bertindak." nasehat Rangga mulai gerah berdebat terusan dengan orang tua tak punya otak. Lama-lama Rangga benaran jadi anak durhaka asyik melawan orang tua.
"Kau tunggu akibat melawan Amanda! Sayangi nyawamu!" ancam Amanda penuh dendam.
"Ngancam? Sini terpasang cctv canggih. Semua kata-katamu terekam jelas. Kalau terjadi sesuatu padaku penjara menunggu kalian. Soal harta satupun kalian takkan terima. Kuulangi kalau aku sudah buat wasiat hartaku untuk yayasan anak yatim piatu." Rangga perlihatkan ketegasan sebagai lelaki. Bukan Rangga tak hargai Suhada namun cara mereka terlalu kotor untuk capai puncak kemegahan. Sedikit-dikit ancam habisin nyawa orang. Mungkin membunuh orang sama saja makan nasi. Gampang sekali. Buka mulut tinggal telan.
"Kami akan balik. Ingat itu." Amanda keluar dari ruang Rangga dengan emosi setinggi langit. Suhada hanya bisa menatap anaknya dengan tatapan penuh dendam.
Rangga menarik nafas lega setelah kedua monster itu pergi dari kantor. Rangga terhempas di kursi kebesaran seorang direktur. Rangga tak sangka sampai sejauh ini kejahatan Suhada dan Amanda. Pertama Rangga pikir Sania terlalu mengada-ada cerita soal kejahatan kedua orang itu. Ternyata Sania tak salah menilai orang.
Lisa kuatir kondisi Rangga bakal drop bertengkar dengan orang tua sendiri. Lisa tahu Rangga bukan orang tak thu terima kasih namun Suhada sudah melewati batas menekan Rangga.
"Mas..are you ok?"
Rangga mengangguk berusaha beri senyum pada Lisa. Toh seulas senyum hambar.
"Maaf aku bilang kau bukan siapa aku! Aku takut mereka niat buruk padamu."
"Memangnya aku ini apamu?" goda Lisa cari kesempatan longok isi hati Rangga padanya.
Rangga bingung tak tahu harus jawab apa. Laki ini terlalu malu akui sayang pada Lisa. Rangga belum punya keberanian utarakan isi hati secara langsung pada Lisa. Takut ditolak.
__ADS_1
"Aku..aku.." Rangga menggaruk kepalanya yang tak gatal. Lisa tertawa geli melihat sesosok laki gagah bingung seperti anak ayam kehilangan induk.
"Sudahlah! Aku hanya goda kamu. Minum tehnya biar tenang! Teh hijau bisa membantu pikiran lebih tenang." Lisa mendorong teh ke arah Rangga. Rangga menatap Lisa penuh terima kasih. Lisa sudah banyak membantu selama Rangga dala kesulitan. Waktu itu Rangga bukan apa-apa, hanya montir kecil. Tapi Lisa tak pandang rendah pada Rangga.
"Terima kasih. Aku harus kasih tahu Sania perkembangan di sini. Dia pasti ada cara lindungi kantor ini."
"Sania sangat sibuk akhir-akhir ini. Perusahaan Bara makin berkibar. Dia tambah banyak karyawan. Sudah kuduga Sania akan sukses di manapun dia berdiri. Persetan Bobby sinting." rutuk Lisa masih ingat pengkhianatan Bobby.
Andai Lisa tahu Sania dan Ranti masih ada hubungan saudara ntah apa reaksinya. Mungkin Lisa kan makin benci pada Ranti dan Bobby. Sekarang saja rasa benci Lisa menggunung melebihi mount Everest.
"Aku akan teleponi Sania ajak makan siang."
"Jangan dulu mas! Nanti terpantau sama ular-ular itu. Kita tempatkan Sania dalam bahaya." Lisa melarang Rangga ketemu langsung Sania sementara ini. Tunggu kondisi kantor pulih baru bisa atur langkah selanjutnya.
"Kau benar. Kita telepon sekarang juga."
Rangga keluarkan ponsel dari saku celana hubungi adiknya. Rangga harus beritahu semua yang menyangkut perusahaan Sunrise karena pemilik aslinya adalah Sania.
Lama dihubungi baru diangkat Sania. Suara orang bangun tidur jelas di gendang telinga Rangga. Sejak kapan Sania bangun telat? Biasa Sania paling on time.
"Assalamualaikum..mas Rangga?"
"Waalaikumsalam..baru bangun? Tak lihat matahari mau tenggelam?" ejek Rangga karena suar bantal Sania sangat kentara.
"Jangan cerewet! Ada apa?"
"Kedua monster itu mulai ngancam. Besok minta posisi mereka dipulihkan. Kau benar dek! Aku seperti tak kenal papa lagi. Dia tega ngancam habisi aku secara tak langsung. Mereka pikir kalau aku mati otomatis warisan jatuh pada mereka lagi. Kubilang akan alihkan ke yayasan bila pendek umurku."
"Aku harus bagaimana?"
"Jauhi Agra! Untuk sementara mas tinggal di apartemenku. Soal Agra akan kuutus orang antar jemput dia. Mas juga hati-hati juga. Lisa juga harus kamu jaga. Mereka sangat licik. Tak bisa lukai kamu orang di sekelilingmu jadi sasaran."
"Tak kusangka papa demikian jahat."
"Baru tahu ya! Kelihatan perang sudah mulai. Aku akan sibuk beberapa hari ini. Nanti kukirim beberapa nomor hp bisa kamu hubungi bila ada kesulitan. Jaga diri mas."
"Ya dek! Kamu juga ya!"
Rasa ngantuk Sania hilang seketika setelah dapat kabar dari Rangga. Tak disangka hari yang dinanti akan cepat datang. Sudah waktunya Sania libas manusia sampah itu.
Bara terbangun oleh suara Sania teleponan sama Rangga. Laki ini juga masih ngantuk setelah semalaman kurang tidur. Kaget oleh acara bunuh diri Maya di samping kerja lembur cangkul lahan tanam benih di ladang Sania. Bara sampai lupa berapa kali dia dan Sania bersatu memadu kasih.
"Ada apa sayang? Kok panik banget?"
"Tak apa..masih ngantuk?"
"Sudah telat..ayok bangun! Kita kan masih harus urus kantor baru kita." Bara menarik selimut turun dari ranjang telanjang tanpa sehelai benang melekat di badan.
Sania menutup mata malu disuguhi pemandangan mesum merusak mata. Bara tertawa kecil ejek nyali Sania sangat kerdil. Melihat tubuh suami sendiri saja masih malu padahal sudah tak ada rahasia antara mereka. Bara sudah lulus monitori seluruh tubuh Sania.
"Mandi sama yok!"ajak Bara harap Sania setuju. Mata nakal Bara menyala bayangkan acara mandi romantis berduaan dengan Sania. Sania kontan menolak perlihakan wajah takut.
Mana mungkin acara mandi akan lancar bila sudah berduaan. Bara tak ubah badak kelaparan bertahun tak pernah lihat badak betina yang manis. Bawaan ingin mesraan melulu.
__ADS_1
"Lieve mandi dulu. Aku nyusul."
Bara mengangguk tak memaksa. Bara bungkukkan badan mengecup kening Sania lembut. Bara ingin kasih tahu Sania bahwa dia sayang Sania dari lubuk hati. Bukan hanya partner di tempat tidur.
"Terima kasih malam yang indah!" bisik Bara lembut. Wajah Sania berubah sendu dapat penghargaan dari Bara. Hal sekecil ini merupakan moments penting walau kadang dianggap remeh oleh sebagian orang.
Bara tinggalkan Sania yang masih meresapi pujian Bara. Bara memang tak lihay gombal macam Fadil namun perlakuan Bara beri kecupan terima kasih melebihi jutaan rayuan maut.
Sania rebahkan diri di tempat tidur sambil senyum-senyum sendiri kenang keperkasaan Bara memadu kasih dengannya. Cukup seorang Bara dalam hidup Sania. Tak perlu Bara lain warnai pelangi cinta Sania.
Sania merasa mulai jatuh cinta pada Bara. Memang butuh waktu untuk hapus memori kisah lama dalam ingatan Bara. Sania yakin dia akan mampu menangkan hati Bara. Asal Bara tak menoleh ke belakang Sania siap bantu Bara lupakan masa lalu.
"Belum mau bangun? Lihat sudah jam sepuluh!" Bara keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk melilit bagian bawah tubuh. Tubuh atletis dambaan puluhan wanita bergerak lincah di depan mata Sania.
Semalaman Sania tidur nyaman dalam rengkuhan kokoh laki itu. Sania terlempar dalam surga penuh cahaya warna-warni. Semoga akan begini seterusnya.
"Lieve mau ke kantor?" tanya Sania melihat Bara ambil pakaian resmi.
"Emang mau kamu ajak ke mana?"
"Aku mungkin agak sorean baru ke kantor. Aku ada janji sama klien mau garap jembatan di pulau Sumatera. Jembatan itu sudah dua kali ambruk karena debit air sangat deras. Aku boleh coba?"
"Sayang..aku tak mau kamu pergi jauh. Kerja kita sudah cukup banyak. Bukan mau menolak rezeki tapi takut kita tak mampu handle terlalu jauh hasilkan kerja amburadul. Duduk manis di kantor saja."
Sania termenung sedih tak bisa mencoba proyek lebih menantang. Perkataan Bara juga masuk akal. Proyek PT. SHINY saja akan menyita seluruh perhatian Sania. Apa masih ada waktu pantau proyek kecil?
"Iya Lieve..kita ke kantor!" sahut Sania melemah tak mau jadi isteri pembangkang.
"Pergi mandi! Aku tunggu kamu sarapan."
"Iya Lieve.." Sania beranjak dari tempat tidur masuk ke kamar mandi.
Bara tersenyum bangga bisa taklukkan macan kecil yang mulai jinak kenali tuan. Bara bersumpah dalam hati tak ada wanita lain boleh singgah dalam hatinya. Cukup Sania sang malaikat tanpa sayap.
Singkatnya kedua pasangan muda ini pergi ke kantor walau sudah telat. Roy yang kebingungan harus diskusi sama siapa soal perkembangan proyek Pak Wandi. Syukurlah kedua orang penting di perusahaan muncul juga.
Roy beri kode pada Bara ada hal penting harus dibicarakan tak bisa libatkan Sania. Bara sudah wanti-wanti pada Roy untuk tutupi segala masalah buruk menyangkut proyek. Sania orang keras kepala pasti akan keras bila hasil kerjanya di rusak orang.
Bara cepat tanggap kode dari Roy. Untuk hindari kegundahan Sania Bara meminta Sania kembali ke mejanya. Tanpa curiga Sania kembali aktifitas seperti biasa cari proyek lain terjangkau pantauannya. Bara tak ijin dia pergi jauh maka itu takkan di langgar Sania.
"Ada apa" tanya Bara dengan suara pelan takut terdengar sampai keluar.
Roy mendekatkan diri di samping Bara kecilkan volume suara takut Sania dengar juga.
"Orang itu sudah berhasil ditangkap. Sudah kami serahkan ke polisi."
"Apa maunya?" tanya Bara tegang.
"Pertama ngaku sakit hati tak diajak kerja di proyek. Setelah diselidiki ternyata suruhan Bobby. Dia mau hancurkan nama baikmu."
Bara mengusap wajah dengan telapak tangan tak sangka Bobby selicik itu. Beraninya dia berbuat curang menghancurkan reputasi peusahaan Bara.
"Sania tak boleh tahu. Dia akan makin benci pada Bobby. Kau urus sebaik-baiknya tanpa perlu Sania sakit hati. Itu proyeknya. Dia pasti sedih bila tahu karyanya diganggu."
__ADS_1