
Bara nyaris lupa kalau ada yang namanya Joachim berada di pulau B bantu selesaikan proyek. Mengapa otak Bara jadi bebal tak mampu berkembang. Kalau ada orang sekelas Joachim siap bantu Sania artinya Sania bukan sembarangan orang. Mengapa dari awal tak terbaca olehnya kalau Sania bisa gerakkan orang top.
"Tak usah bahas kerja lagi. Lieve lapar banget! Makin ingat kerja perut makin lapar. Setelah makan kita berembuk dengan mas Rangga gimana cara bantu kamu tangani perusahaan sampai sayang melahirkan. Ok?" Bara menepuk pipi Sania agar rilex. Bahas soal kerja takkan ada habisnya. Apa lagi kerja model Sania mencakup berbagai bidang. Takkan ada selesainya.
Sania mengangguk harap Rangga cepat tiba. Perutnya berbunyi sangat kencang. Segala bunyi bergejolak dalam situ. Ntah keroncong atau dangdutan. Bersahutan teriak minta diisi. Sania tak sabar harap abangnya segera tiba jadi team penyelamat perut keroncongan.
"Mas Rangga kok lama banget! Masih tidur kali." sungut Sania meraba perutnya yang mulai buncit.
"Sabar dikit sayang. Mungkin dalam perjalanan kemari. Kalau tahu di sini tak ada makanan kita kan beli sedikit roti atau apapun untuk ganjal perut dulu. Kasihan anak-anak Daddy. Pasti lapar ya!" Bara tundukkan kepala bicara dengan bayi di perut Sania.
Bagi Sania gaya Bara terlalu lebay. Janin-janin itu mana bisa dengar semua tumpahan perhatian sang papa. Mereka masih gumpalan daging mulai berbentuk manusia. Semoga semua berjalan lancar hingga hari H.
Doa Sania terkabul tak lama berselang Rangga datang bersama adik dan kekasih tersayang. Bara yang buka pintu apartemen untuk Abang ipar dan adik ipar. Bara tetap hormati Rangga sebagai abang Sania walau usia Bara lebih tua dikit dari Rangga. Tata Krama sebagai adik ipar tetap harus hormati Rangga selaku Abang isteri.
Agra langsung memeluk Sania dengan rindu memenuhi seluruh hati. Sania banyak berjanji namun jarang tepati. Kadang Agra kecewa tapi berusaha maklum kalau kakaknya orang sibuk.
Agra melepaskan rasa kangen pada Sania dengan memeluk sang kakak seolah tak ingin terlepas. Sania juga kangen pada adik kecilnya.
"Gimana sekolah jagoan kakak?" tanya Sania seraya mengusap kepala Agra yang hampir setinggi dengannya.
"Aman mbak! Mbak sehat kan?"
"Mbak sehat... demikian juga dengan dedek bayinya. Oya..mbak punya sesuatu untukmu! Ayo sini!" Sania membimbing Agra dekati koper-koper yang tergeletak di dekat sofa. Dari pagi tadi koper itu merana ditinggal tanpa ada yang peduli. Sekarang dibutuhkan baru dicari.
Bara dan Rangga serta Lisa menyiapkan sarapan pagi di meja makan untuk disantap bersama. Rangga memang berencana makan bersama adik-adiknya setelah sekian lama tak berkumpul. Sekarang masalah satu persatu mulai berkurang. Sania sudah bisa lega nikmati hidup sesungguhnya tanpa ingat dendam lagi.
"Sayang ..makan dulu! Katanya lapar!" seru Bara melihat Sania dan Agra sibuk bongkar koper.
Kedua kakak adik itu lebih fokus sama isi koper daripada mengisi perut. Padahal tadi Sania teriak-teriak lapar. Diajak makan malah cuek bebek. Dasar wanita aneh omel Bara dalam hati. Cuma bisa ngomel dalam hati. Mana berani omel langsung pada yang bersangkutan takut kena semprot.
"Iya Lieve...bentar!" sahut Sania masih belum beranjak dari sisi koper. Sania membuka koper perlihatkan isi yang semuanya oleh-oleh dari luar negeri. Dia koper isinya hadiah bukan pakaian seperti umumnya orang bepergian. Lisa yang matanya jeli tertarik bergabung dengan Agra dan Sania.
Wanita di mana saja sama. Pantang lihat yang namanya barang langka. Sania keluarkan seperangkat alat dalam kotak lalu serahkan pada Agra. Wajah Agra berubah cerah karena hadiah dari Sania sungguh luar biasa. Satu set PS seri terbaru idaman para anak tanggung.
Rangga melirik dari samping kurang senang Sania banjiri Agra dengan hadiah mahal. Rangga mau Agra hidup sederhana agar kelak tak tamak terhadap materi. Cuma Sania mana mau adiknya hidup tanpa kenal teknologi canggih saat ini. Main game memang tak bagus untuk anak-anak, tapi itu juga bisa mengasah otak anak-anak agar bisa berpikir bagaimana melawan komputer. Semua ada min plusnya.
"Wah...mbak memang yang terbaik. Tahu aja Agra pingin ini." seru Agra girang sambil mengelus kotak berisi PS terbaik itu.
"Boleh diambil tapi dengan syarat nilai sekolah tak boleh anjlok. Main ada waktunya. Tak boleh asyik main sampai lupa tugas lain. Itu ada mas Rangga dan mbak Lisa akan pantau Agra." Sania memberi ultimatum pada Agra agar jangan asyik main sampai lupa tugas sekolah.
"Agra janji. Kalau ingkar boleh diambil!"
__ADS_1
"Ok..mbak pegang janjimu."
"Terima kasih mbak!" Agra kembali memeluk Sania sebagai tanda terima kasih.
"Semoga Agra amanah. Mbak tak mau dimarahi mas Rangga gara-gara adik. Mbak berusaha menyenangkan Agra dan Agra harus tanggung jawab terhadap janji."
"Siap Bu!" Janji Agra bak militer hormat pada atasan. Sania tersenyum. Kebahagiaan Agra adalah prioritas Sania. Sania cuma punya satu Abang dan satu adik tercinta. Sebisanya Sania berbagi agar kedua orang yang dia sayangi hidup layak.
Lisa penasaran dengan isi koper Sania. Jiwa kepo wanita ini mengiringi kaki berjalan ke tempat Sania dan Agra sedang buka oleh-oleh. Lisa tentu saja berharap dapat buah tangan kayak Agra. Lisa bukannya matre tapi pingin dimanja kayak Agra.
Sania dan Agra tersenyum tatkala calon kakak ipar mereka bergabung. Mata Lisa berbinar melihat isi koper yang masih penuh dengan kotak-kotak kecil. Maunya ikut buka oleh-oleh biar tahu apa isi kotak dari bahan kulit. Dari harga kotak bisa ditebak itu barang mahal. Isinya tentu tak mengecewakan.
"Jatah aku mana San?" tagih Lisa tak mau kalah dari Agra. Tangan Lisa mengambil salah satu kotak. Dengan sigap Lisa buka kotak itu berakhir mulut ternganga terpesona pada isi dalam kotak.
Jam tangan merek Rolex ukuran untuk cewek warna putih silver bertahta batu permata di sekeliling. Sekilas mata memandang sudah bisa dipastikan harganya lumayan robek kantong.
"Buat aku San?" tanya Lisa tak tahu malu lagi. Kalau malu pasti tak kebagian. Lisa tahu Sania sengaja bawa oleh-oleh untuk mereka semua. Cuma oleh-oleh nya tidak tanggung-tanggung. Jam tangan bermerek.
"Itu buat karyawan Angkasa. Punya mbak lupa beli!" jawab Sania santai tak berdosa.
Lisa mendecak kesal sambil letakkan jam itu balik ke dalam koper. Wajah Lisa tak lagi ramah malah berkesan jutek. Lisa tak terima Sania melupakan dia. Yang lain dapat kenapa dia tidak? Pilih kasih.
"Aku lupa aku bukan orang penting dalam hidupmu. Ada Sekar dan Putri yang dampingi kamu di Angkasa." ketus Lisa buang muka ke arah lain.
"Duh yang ngambek! Untuk calon kakak ipar tentu ada yang jauh lebih baik. Sini!" Sania membuka koper satu lagi. Mata Lisa curi pandang ingin tahu apa pula isi koper satu lagi. Ternyata isinya beberapa helai pakaian dari bahan lembut serta satu kotak berudu warna merah maron.
Sania meraih kotak itu lalu angsur ke arah Lisa. Pertama Lisa pura-pura tak tertarik demi jaga gengsi. Langsung terima akan buktikan Lisa itu cewek matre suka akan barang mewah. Padahal itu bukan tujuan Lisa. Lisa cuma kesal tak dapat bagian. Teman lain tercetak di otak mengapa cuma dia lolos dari jaringan sel otak Sania. Apa hubungan selama ini tak berarti bagi ibu hamil itu.
"Apa ini?" tanya Lisa masih jual mahal belum terima oleh-oleh dari Sania.
"Belum dibuka gimana tahu isinya? Ayo silahkan kakak ipar!" Sania goyangkan kotak berudu itu di depan hidung Lisa. Mata Lisa ikuti gerak kotak tunggu moments tepat tangkap kotak itu.
Tangan Lisa terulur terima kotak itu sambil berdecak seolah tak peduli isi kotak. Gaya Lisa lecehkan isi kotak. Sania cuma bisa tersenyum tak sakit hati. Sania kenal sifat sahabatnya yang rada sedikit gila. Mereka berteman cukup lama. Baik buruk sifat mereka berdua sudah saling memahami.
Agra tak sabaran lihat tingkah Lisa yang sok tak butuh. Lajang kecil ini merebut kotak Lisa lantas membukanya.
Satu set perhiasan dari emas putih bermata berlian menjuntai ke bawah mirip tetesan air hujan. Ada gelang dan anting-anting sebagai perlengkapan perhiasan yang harganya tentu tak bisa dihitung pakai sepuluh jari.
Lisa mendekap mulut saking senangnya dapat yang lebih bagus dari jam tangan. Agra mendecak tak tertarik pada perhiasan. Lajang ini kembalikan kotak itu pada Lisa memilih fokus pada game terbarunya.
"Ya Allah...indahnya!! Benaran buat aku?" Lisa tak bisa sembunyikan rasa pada perhiasan mewah itu. Tangan Lisa sampai gemetar terima hadiah itu dari tangan Agra.
__ADS_1
"Kado untuk pernikahan kau dan Mas Rangga. Itu asli lho! Ada sertifikatnya! Kalau bokek boleh kau jual." gurau Sania dibalas Lisa dengan satu pelukan.
Rangga dan Bara menghela nafas bingung lihat wanita terkasih mereka. Kalau sudah bicara soal hadiah lupa segalanya. Padahal tadi Sania ribut lapar. Perut sudah keroncongan. Giliran jumpa konco klop lupa rasa lapar. Bara kasihan bayi-bayinya belum dapat asupan gizi.
"Sayang...makan dulu!" seru Bara kesekian kali.
"Iya Lieve! Semua hadiah ini untuk karyawan Angkasa. Besok kita bagi satu persatu." Sania bangkit dibantu oleh Lisa. Keduanya berjalan ke arah meja makan.
Di atas meja sudah terhidang beberapa jenis makanan khusus untuk makan pagi. Ada roti bakar, roti manis, nasi goreng dan bubur ayam. Sania selera sekali lihat bubur ayam yang masih panas. Samar-samar tampak uap panas masih mengepul sisakan asap tipis.
Sania duduk berdampingan dengan Agra sedang Bara duduk sendirian. Lisa dan Rangga duduk berdampingan seberangan dengan kakak adik itu. Lisa membantu Rangga dan Agra yang memilih nasi goreng. Bara cukup roti manis untuk mengganjal perut pagi ini. Sania puas dengan bubur ayam.
Kelimanya makan dengan hati senang. Bukan makanan terlalu enak tapi bisa berkumpul pada hari ini adalah berkah. Selama ini mereka semua sibuk tak ada waktu berkumpul. Hanya janji kosong keluar dari bibir tanpa terlaksana. Hari ini mereka kumpul makan sarapan pagi bersama. Semua bahagia terutama Agra. Saat diidamkan terbayar sudah.
"Agra mau tambah?" tawar Sania melihat piring Agra cepat bersih dibanding yang lain.
"Sudah kenyang. Apa boleh pasang PS di sini? Agra tak sabar ingin main!"
"Tak boleh...di rumah saja! Ini waktunya kita bersantai. Kok main PS?" Rangga kontan larang Agra untuk pasang game barunya. Rangga kuatir Agra kecanduan game seperti anak yang lain. Lupa segalanya bila sudah asyik main.
"Iya mas!" lirih Agra tak membantah. Sania kasihan pada Agra namun tak berani melawan kata Rangga. Apa yang dikatakan Rangga itu benar. Sangat sulit bisa berkumpul. Dapat jumpa masak cuma buat pelototi game.
"Nanti mbak Lisa yang pasang untuk Agra. Habiskan nasinya tinggal dikit lagi. Agra mau main ke mana? Kita pergi ramai-ramai." bujuk Lisa bijak.
Sania melihat bagaimana sayangnya Lisa pada Agra. Tepat sekali Agra berada di asuhan keluarga Pak Bur. Semua mencintai Agra. Sania tidak kuatir lagi Agra kehilangan kasih sayang dari orang sekeliling.
"Kita jalan ke mal? Agra ingin makan es krem rasa vanilla dan coklat. Boleh?" Agra menatap Rangga minta persetujuan sang abang. Rangga mangut tak bisa menolak permintaan sederhana sang adik. Agra jarang minta ini itu tak apalah sekali manjakan anak itu.
"Sania ikut kan?" tanya Lisa mengharap Sania mau luangkan waktu bermain dengan Agra. Anak lajang itu selalu berharap bisa dekat dengan kakak yang kini menjulang makin tinggi. Lisa tak lupa siapa Sania tapi Lisa tetap ingin Sania seperti biasa tak ke depankan status yang maha tinggi.
Sania mengangguk setuju. Sania pikir tak ada salahnya relaxkan pikiran dan badan cuci mata di mal. Siapa tahu dapat sesuatu yang bisa senangkan hati. Lisa acung jempol senang Sania bersedia ikut.
Rangga dan Bara memilih jadi pendengar budiman. Wanita sudah tentukan ajak Agra jalan tak ada alasan bagi mereka menolak keinginan yang lebih muda. Moments ini bisa akrabkan mereka yang hanya bahas bisnis bila jumpa.
"Ini masih pagi. Bentar lagi baru pergi. Mal juga belum buka." Rangga berkata sambil akhiri santap sarapan pagi. Perut Rangga dipuaskan oleh sepiring nasi goreng yang dibeli dekat rumah Pak Bur. Lumayan enak walau hanya dibeli di kaki lima. Tak perlu dari restoran mahal, yang penting rasa.
"Iya...kan masih ada waktu lihat oleh-oleh lain." guyon Lisa mainkan mata beri kode pada Sania untuk lanjutkan acara buka oleh-oleh. Sania hadiahkan cibiran tahu tujuan Lisa masih ingin cari sesuatu yang cocok selera selain perhiasan berharga tadi.
"Isshhh kakak ipar matre?" sungut Sania pura-pura marah.
"Lihat doang tak minta! Pelit amat jadi adik!" rengut Lisa manyun.
__ADS_1
"Bukan pelit tapi adil. Itu semua jam tangan produk rolex asli. Ada sertifikatnya. Rata di atas lima puluh."