MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Buka Kisah Lama


__ADS_3

Mungkin tak pernah terpikir oleh keluarga Suhada dari mana asal kekayaan keluarga mereka. Yang mereka tahu itu hak mereka setelah wanita pemilik asli telah meninggal. Tak terlintas di benak akaan muncul penerus akan gali kasus yang telah berlalu.


Di tempat satunya lagi Bobby termenung merenungi nasibnya setelah terjebak oleh cinta Ranti. Kehancuran makin di depan mata. Keluarga Suhada yang dia anggap bisa back up situasi sulitnya juga sedang alami masalah pelik.


Bobby sudah cukup pusing cari tender muncul pula kasus besar belt keluarga isterinya. Di saat ini Bobby teringat pada Sania. Sania demikian gagah selesaikan semua proyek plus cari tender dengan gigih. Tak ada proyek bisa lolos dari tangannya.


Bobby terlalu bodoh mengira Sania akan patuh bila dijanji kawin sampai dapat tender trilliunan mega proyek milik PT SHINY. Pemilik pt itu sudah kasih signal akan berikan proyek pada PT BUILD bila penanggung jawab adalah Sania. Nyatanya semua kandas karena ***** serakah Bobby.


Mau menyesali semua ini mungkin sudah terlambat. Nasi sudah jadi bubur. Tak mungkin kembali ke asal mula pertama lagi. Sania pasti sakit hati dicundangi Bobby. Gadis lugu yang selalu patuh berubah jadi macan cantik yang siap mencakar orang berniat busuk.


Tok tok. Pintu ruang kerja Bobby diketok orang. Bobby menarik nafas panjang panjang isi paru yang nyesek dengan oksigen sebanyak mungkin biar lega.


"Masuk!"


Pak Anton asisten Bobby masuk dengan gaya sopan. Pak tua yang sudah lama kerja di perusahaan Bobby ikut prihatin kondisi perusahaan. Karyawan lebih banyak nganggur daripada kerja. Begini terusan perusahaan bakal gulung tikar.


"Maaf pak Bobby...kudengar ada buka tender proyek pembuatan pabrik produksi ponsel dari luar negeri. Apa kita tak coba cari tahu cara masuk tender itu?"


"Produsen mana?"


"Sepertinya dari Tiongkok. Mereka juga sedang cari rekanan dari dalam negeri untuk ikut tanam saham."


"Tawaran bagus. Coba cari tahu bagaimana hubungi mereka!" kata Bobby mencoba cari seberkas sinar dari info Pak Anton.


"Siap pak! Andai masih ada Sania pasti semua beres." ujar Pak Anton mengenang gadis muda nan gigih itu. Sayang gadis tegar itu tinggalkan kantor bawa luka menganga lebar di hati.


"Iya...terkadang kita dibutakan ***** tak lihat mana yang berlian asli."


Pak Anton ngerti maksud Bobby menyesal telah campakkan gadis sebaik Sania. Bobby terpesona oleh nama besar serta kemolekan Ranti. Sikap Ranti yang glamor butakan mata hati Bobby hingga tak dapat lihat kebenaran.


"Aku permisi pak Bobby. Aku akan kasih kabar nanti." Pak Anton memilih pergi dari pada lihat tampang sedih Bobby. Sebenarnya Pak Anton kasihan pada Bobby namun apa mau dibilang penyakit dicari sendiri.


Bobby kembali termenung ingat senyum lembut Sania juga sifat lucunya bila tak senang hati. Bibirnya akan keluarkan kata kata tajam menusuk jantung. Namun tak kurangi keimutannya.


Sania akan menciut bila Bobby mencoba bersikap lebih intim. Gadis itu akan ketakutan keluar keringat dingin. Bobby jadi tak tega berbuat nakal lebih jauh. Bobby hargai cara Sania jaga diri sampai waktu nikah.


Nikah gagal gara gara kehadiran bintang sinetron penggoda yang lebih berani. Baru kenalan sudah berani ajak Bobby bercinta. Bobby terbuai di ranjang Ranti. ***** terpendam tak tersalurkan akhirnya digali Ranti membubung Bobby sampai ke langit lupa diri. Sania berubah menjadi setitik debu hilang dari pandangan mata Bobby.


Dapat Ranti namun kehilangan yang lebih berharga yakni pekerjaan. Apa Ranti pantas di hargai sedemikian tinggi? Hanya Bobby sendiri bisa nilai.


Menjelang sore Sania sudah selesaikan sketsa gambar permintaan Bara. Sania lebih cepat sehari selesaikan tugas dari Bara.


Gadis ini segera serahkan gambar pada Bara dan pamit pulang tanpa tunggu Bara beri komentar. Aura musuhan masih terlihat dalam lingkaran tubuh Sania. Aura warna hitam.


"Sania..." panggil Bara sebelum gadisnya keluar ruang kerjanya.


Sania menunda langkah balik badan hadap bos sekaligus suaminya. Kalau bukan di kantor sudah Sania serang suami mata keranjangnya. Sania masih bersikap profesional seorang karyawan tak mau bawa masalah pribadi di kantor.


"Ada apa pak?"

__ADS_1


"Kau pulang ke rumah?"


"Ngak...aku mau tidur di rumahku sendiri."


"Aku mau bahas soal proyek PT SHINY."


"Besok saja di kantor. Kantor tempat kita kerja bukan tempat pamer parade selir." ketus Sania buat Bara tersenyum. Sudah Bara duga gadisnya sedang ngambek oleh kata kata Arsy.


Bara bangkit dari tempat duduknya hampiri Sania yang nyaris keluar dari ruang tadi. Sania mundur tak mau dekatan sama penjahat kelamin. Bara makin dekat bikin Sania jantungan. Tatapan mata Bara sedikit nakal buat Sania tak nyaman.


"Kau cemburu?" desis Bara di kuping Sania.


"Cemburu? Ngapain? Bodoh amat sama baju setengah meter!" cetus Sania mengecilkan badan takut tersentuh Bara.


Bara melirik keluar lihat apa masih ada karyawan lain di lantai mereka kerja. Untunglah Dea sudah duluan pulang. Sekarang tinggal dia dan Sania berada dalam satu ruang. Mesum dikit takkan jadi gosip para pegawai.


Merasa aman Bara meraih tangan Sania lalu mengecupnya. Sania terpekik geli diperlakukan tak sopan oleh Bara.


"Yang sopan Pak Bara."


"Cium isteri sendiri jadi masalah? Mari duduk sini!" Bara menarik Sania duduk di sofa tamu. Bara perlakukan Sania dengan lembut tau bininya itu tak bisa dikasari. Makin dikasari Sania akan balas lebih kasar. Cukup lemah lembut pasti dapat respon baik.


Sania duduk dengan waspada takut Bara nekat berbuat kurang ajar. Padahal Bara mau berbuat lebih itu haknya. Status Sania isteri Bara. Mau bagaimanapun tetap halal di hukum apapun.


"Katakan mau omong apa?" bentak Sania jual mahal.


"Soal anak Arsy."


"Aku tak mau kamu salah paham hubungan kami. Aku dan Arsy tak ada hubungan apapun selain teman."


Sania tertawa sinis dengar penjelasan Bara. Pintar amat laki ini ngeles. Jelas jelas Arsy bilang dia calon bini Bara masih bilang cuma teman. Bara amnesia atau baru saja kena lempar telor cicak sampai lupa ingatan.


"Pak Bara pernah dikeroyok massa satu RT?"


"Belum..kenapa?" tanya Bara bingung.


"Harus kugalang orang satu RT demon bapak biar ingatannya kembali pulih. Itu wanita setengah meter terus terang dia calon bini ditambah anak rindu papa. Apa bukan fakta harus dipertimbangkan?"


"Oh itu...aku akan jelaskan! Tapi duduk sini dulu. Anak kecil dengar dongeng kan harus dipangku." Bara menepuk pahanya agar Sania mau duduk manis dengar kisahnya.


"Sinting..." dengus Sania tak open ide gila Bara. Jangan duduk di pangkuan Bara. Disentuh saja Sania keberatan.


Bara cari kesempatan dalam kesempitan. Sudah lama Bara ingin berdekatan dengan Sania namun gadis ini seperti macan kecil pandai lindungi diri sendiri.


Bara mengangkat Sania ke pangkuan tak peduli gadis ini berontak. Tenaga gadis kecil macam Sania mana sebanding dengan tubuh raksasa macam Bara. Sekali angkat Sania sudah berada di pangkuan Bara.


Bara melingkar kedua tangan mengunci perut Sania sampai tak bisa bergerak. Sania berusaha melawan tapi dia sia lawan tenaga besar Bara.


"Duduk manis saja. Aku mulai kisah ku dari awal agar kau jangan salah paham! Tujuh tahun lalu aku pernah alami peristiwa cukup menyedihkan. Aku, Roy, Rudi, dan Doni mahasiswa asal Indonesia kuliah di Australia. Kami sewa satu apartemen di Brisbane. Lalu kami kenalan sama tiga cewek asal tanah air. Yakni Nania, Arsy dan Maya." Bara hentikan cerita ambil nafas agar lebih lancar bercerita.

__ADS_1


"Lantas?" Sania mulai tertarik.


"Aku dan Arsy pacaran. Nania dengan Doni. Hubungan kami cukup intim. Ya namanya anak muda ya kami hidup bebas. Itu kejadian sepuluh tahun lalu waktu pertama jumpa para gadis. Aku ambil S2 di sana. Tahun tahun pertama semua lancar. Aku duluan selesai kuliah pulang ke Indonesia urus perusahaan papa."


"Lalu?"


"Aku balik ke Australia setengah tahun kemudian karena rindu pada Arsy. Aku sengaja tak kasih kabar pada Arsy mau bikin kejutan. Tak kusangka Arsy dan Rudi main gila di belakangku. Rudi jadi teman tidur Arsy setelah aku balik ke tanah air. Aku syok langsung putusin Arsy. Arsy pun sedang hamil anak Rudi. Itulah Kintan! Rudi dan Arsy menikah namun bercerai karena Rudi jatuh miskin. Anak Arsy pun kurang sehat. Ada kelainan jantung. Arsy sering minta tolong padaku kalau lagi kesulitan. Aku sebagai mantan pacar tak tega lihat Arsy kesulitan rawat anak itu. Maka aku sering kawani Arsy bawa Kintan berobat."


"Hebat...mantan pacar penuh pengertian. Kenapa tak balikkan saja? Cinta pertama takkan terlupakan." ejek Sania sinis. Sebenarnya Sania kesal pada Bara yang kasih harapan pada Arsy. Wajar Arsy minta lebih karena Bara kasih peluang.


"Tidak...Arsy cuma masa lalu. Aku sudah punya masa depan lebih segar." Bara sengaja omong gitu pancing reaksi Sania padanya. Tangan Bara ikut ngelaba di leher Sania datangkan rasa geli. Sania menggeliat geli makin bangkitkan hasrat Bara melakukan sesuatu lebih dari sekedar peluk bini muda.


"Jangan mesum ya pak tua!" ancam Sania.


"Mesum dikit kan boleh?" goda Bara. Sania berpikir ulang lihat tingkah Bara. Biasa dingin kayak kulkas lima pintu sekarang kegatalan goda gadis muda.


"Jangan harap! Oya..kenapa mbak Nania bisa jadi bini bapak? Bukankah dia pacaran sama Doni?"


"Wah saya ingat mu luar biasa. Cerita sekilas langsung masuk otakmu. Ok lanjut...pas aku datang Nania sedang hamil anak Doni. Doni yang belum selesai kuliah tak bisa nikahi Nania. Nania putus asa hendak bunuh diri dan pas pula Doni alami kecelakaan. Doni meninggal di Brisbane. Sebelum meninggal dia minta tolong aku nikahi Nania agar anaknya ada bapak. Aku yang baru patah hati langsung sanggupi permintaan Doni. Ya beginilah kisahku!"


"Anak itu mana?" Sania makin penasaran dengar kisah cinta Bara yang cukup rumit.


"Aku bawa pulang Nania ke tanah air dalam keadaan hamil. Orang tuaku menentang perkawinan kami maka kami hanya menikah siri. Kamulah isteri sahku secara hukum. Nania hanya isteri siri. Dulu kupikir tunggu orang tuaku sudah beri restu baru kami menikah secara hukum."


Sania kaget juga setelah tahu dia adalah isteri sah Bara dalam hukum. Nania hanya isteri dalam agama. Tak disangka dia telah merebut posisi vital Nania. Tapi Nania sendiri yang minta dia dan Bara menikah.


"Anak itu pak?"


"Nania keguguran waktu aku pergi keluar kota seminggu. Dia jatuh dari tangga. Aku makin tak sampai hati tinggalkan dia. Bertahun kami nikah tapi aku tak sentuh dia. Sampai tahun keempat Nania menangis memohon padaku agar terima dia sebagai isteri lahir batin. Aku tersentuh dari situ kami mulai hidup normal sebagai suami isteri. Cuma sayang baru setahun kami hidup normal Nania kena kanker rahim. Segala upaya aku lakukan cari kesembuhan dia tapi sudah terlanjur parah. Ditambah kanker darah ramaikan suasana. Orang tuaku paksa aku tinggalkan Nania namun aku tak tega. Demi Nania perusahaanku terbelangkai."


Sania kagum pada kebesaran jiwa Bara. Sudah jarang laki setia macam Bara. Ternyata duka yang selimuti mata suaminya karena tragedi beruntun hantam jiwanya. Masih untung Bara tegar lalui semua badai sampai bertemu dengannya. Mungkin Allah sudah gariskan takdir lebih bagus buat mereka berdua melalui Nania.


"Lalu apa rencana bapak terhadap mbak Nania? Kondisinya makin hari makin drop. Badannya tinggal tulang."


"Aku tak tahu. Aku sudah berusaha. Sekarang dia konsumsi obat pereda sakit dosis tinggi. Kalau sakitnya kumat kita ikut nangis lihat keadaannya." ujar Bara sambil mengelus leher Sania yang putih bersih. Sania segera menepis tangan usil Bara. Sania mana ijinkan Bara bergerilya di tubuhnya. Sania bukan gadis gampangan. Itu harus Bara pelajari.


"Aku punya saudara seorang dokter. Cuma dia bukan pakar kanker. Tapi aku akan coba minta tolong dia cari pengobatan terbaik untuk mbak Nania." ikrar Sania tulus.


"Pakar kanker terbaik sudah kutemui. Semua angkat tangan. Kanker di tubuh Nania sudah stadium akhir. Hanya Allah bisa jawab doa kita."


Sania termenung merasa kasihan pada Nania. Sungguh tragis nasib wanita ini. Ditinggal mati kekasih, kehilangan anak sekarang dijangkiti penyakit mematikan. Mengapa nasibnya sangat jelek?


"Aku janji akan usahakan dokter terbaik kasih obat untuk mbak Nania."


"Terima kasih...masih ada pertanyaan pada suami gantengmu?"


"Ganteng?? Sudah tua tuh! Lihat keriput di mata! Uban di kepala. Stamina juga loyo."


"Jangan asal tuduh! Staminaku fit! Mari sini kita buktikan!" Bara hendak baringkan Sania di sofa untuk rasakan keperkasaan suami macho.

__ADS_1


"Stop pak Bara! Ini tak ada dalam perjanjian kita." Sania berusaha melepaskan diri dari pelukan Bara. Kini Sania tak begitu takut lagi dekat dengan Bara. Malah ada rasa aman berada dalam rengkuhan hangat Bara.


Laki setia macam Bara tak mungkin nekat paksa gadis melakukan hubungan intim. Bertahun menikah dengan Nania dia sanggup tak sentuh wanita itu. Apalagi terhadap Sania yang termasuk orang baru. Kenal juga belum lama. Sania yakin Bara pasti penasaran terhadap latar belakangnya. Siapa dan dari mana asal Sania. Tak mungkin Sania nongol dari perut bumi tanpa orang tua.


__ADS_2