MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Mengalah


__ADS_3

Bara mengangguk mengelus kepala orang yang telah menjadi candu hidupnya. Tak ada yang lebih bahagia selain bergandengan dengan orang tercinta. Bara janji akan lindungi dan dampingi Sania dalam kondisi apapun.


Sambil baca bismillah Bara stater mobil berangkat ke rumah sakit dengan tekad bulat. Bara tak ingin bertanya pada Sania lagi. Takut wanita ini muncul kembali rasa ragu dan mundur ke rumah sakit. Sania sudah yakin maka dengan ucapan bismillah maju tak gentar.


Di dalam mobil Sania lebih banyak berdiam diri. Rasa tegang di hati belum bisa Sania tanggulangin. Masih ada sedikit perasaan was-was tak bisa kontrol emosi bila jumpa Suhada.


Bara melirik Sania pantau suasana hati wanita hamil itu. Bara ingin Sania bisa keluar dari masa lalu penuh amarah. Tak baik menyimpan dendam pada orang tua kandung sampai puluhan tahun. Batin Sania tertekan dan yang bersalah berada dalam kubangan dosa. Semua harus berakhir agar mimpi buruk Sania berlalu.


"Sayang...are you ok?"


Sania angguk berusaha tersenyum walau senyum hampa. Sania matian kontrol emosi agar jangan meluap. Rasa benci dan iba campur aduk di kalbu. Sania masih benci pada tingkah papa namun juga iba laki tua itu harus hadapi pisau operasi.


"Lieve yakin kamu bisa. Mama keren dari tiga bayi sehat." gurau Bara pancing tawa Sania. Sania ukir senyum tipis dipuji selangit oleh Bara. Semua itu belum bisa hapus kegundahan di hati.


"Bisa aja...hari ini puji Sania besok puji cewek mana pula?"


"Jamin tak ada. Mama ibu suriku dan kau ratu hatiku. Semoga datang Puteri cantik lengkapi kerajaanku. Lieve akan jadi pemimpin amanah bagi kalian semua. Tak perlu gundik-gundik menyusahkan."


"Are you sure?"


"Sejuta persen...Oya...Roy harus balik ke pulau B. Gimana rencanamu? Sekar tak mungkin kita ijinkan ikut tanpa kawan. Puteri juga tak bisa ke sana karena kamu sudah balik kantor. Siapa kita suruh kawani mereka?" tanya Bara alihkan pusat perhatian dari fokus Suhada.


Ngobrol masalah kantor bisa bantu Sania hindari berpikir soal Suhada. Rona wajah Sania berubah cerah diajak bahas soal kerja. Jurus Bara cukup jitu urus mood Sania.


"Sania saja ke sana. Biar Joachim bisa pulang."


"Huusss...ingat pesan dokter! Kamu harus banyak istirahat. Bayi kita perlu perhatian khusus. Mereka bertiga butuh mama super fit."


"Lalu gimana? Roy tak bisa catat rincian tanpa bantuan Sekar. Atau kita nikahkan mereka saja!" seru Sania semangat dengan ide konyolnya.


"Ide gila...apa Roy sudah siap berkeluarga? Apa Sekar mau menikah dengan Roy? Itu harus kita tanyakan pada mereka! Tak boleh karena pekerjaan mereka menikah sembarangan."


"Emang dulu Lieve menikahiku bukan karena kerja dan untuk mbak Nania?"


"Kamu beda sayang! Dari awal interview kamu sudah menarik perhatianku. Cuma waktu itu Lieve ada Nania yang sakitan. Lieve ngerayu kamu saat itu kan janggal. Kita beda sayang. Kau takdirku!" Bara menyentuh pipi Sania gunakan tangan kiri. Sebelah tangan pegang stiur jalankan mobil.


Sania tak ingin membantah. Hubungan mereka penuh liku-liku sampai batas saat ini. Sania pasrah menjadi isteri Bara. Mungkin di sinilah dia berhenti berlayar. Kapalnya sudah lelah harungi lautan maha luas. Bara dermaga persinggahan terakhir.


"Sania coba tanya Roy apa idenya? Atau kita kasih asisten cowok."


"Teleponi dia saja. Tanya apa maunya?" usul Bara.


"Ok..." Sania keluarkan ponsel dari tas selempang keramat. Mata Sania tertuju pada ponsel cari kontak Roy.


Dari samping Bara menarik nafas lega Sania tidak murung lagi memikirkan Suhada. Perhatian Sania terpecah oleh pekerjaan. Dasar Sania penggila kerja.


"Halo... assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam ibu bos! Gimana keponakanku? Sehat?"


"Alhamdulillah sehat...kau di mana?"


"Lagi kontrol cafe. Sebentar lagi pulang. Kalian sudah di rumah?"


"Belum..lagi otw. Oya Pak Roy! Kapan rencana balik ke pulau B?"


"Any time tapi harus dengan Sekar."

__ADS_1


"Ngak usah mimpi bawa anak orang tanpa surat ijin. Akan kusediakan asisten cowok." tukas Sania cepat mematahkan hasrat Roy bawa Sekar begitu saja. Enak saja bawa anak gadis orang tanpa jaminan.


"Tega amat lhu nyonya Bara! Hatiku sedang dipenuhi bibit cinta Sekar. Masa harus layu sebelum tumbuh."


"Aku kuatir masa depan Sekar. Bisa kau rebus anak orang."


"Yee... suudzon amat! Kalau cewek akan dijadikan bini maka harus dihormati. Beda cewek untuk happy-happy. Aku serius sama Sekar. Diajak ke penghulu juga ok. Besok gimana?"


"Dasar sinting...emang anak orang tak ada harga? Lamar dulu sama orang tuanya. Kasih tahu orang tuamu kalau Pak Roy mau lamar anak orang."


"Ok...besok kusuruh mereka datang! Nikah kilat."


"Serius?"


"Seratus rius. Tanpa Sekar hasil kerjaku pasti kendor. Sekar belahan jiwaku. Semangat hidupku!" gombal Roy dapat angin untuk menikahi Sekar. Nikah dulu tanpa resepsi tak masalah. Yang penting halal di agama dan sah di hukum.


Pesta itu nomor kesekian. Kebahagiaan satu pasangan bukan diukur dari pesta mewah. Yang penting saling menyayangi dan saling mencintai.


"Tanya Sekar dulu Pak Roy. Apa Sekar siap jadi isteri playboy cap covid."


"Kok covid? Virus dong! Oya Sania...kamu ini tak adil. Sama si Rudi kamu panggil Kak. Jatuh ke aku kau panggil bapak! Memangnya aku tampak tua ya!" protes Roy kemukakan ganjalan di hati yang lama terpendam. Sania begitu bebas omong dengan Rudi sedang dengannya seolah ada pembatas.


"Ngak kok! Kalian sama di mataku. Semua Abangku. Aku cuma profesional dalam tugas. Pak Roy kan atasanku wajar dong panggil bapak. Rudi selevel denganku maka kupanggil kakak. Tak salah kan?"


"Kalau gitu turunkan pangkatku. Jadi OB saja." sungut Roy tak suka Sania bangun gap antara mereka. Roy ingin akrab dengan Sania seperti Roy.


"Ok...akan kubicarakan dengan Pak Bara. Jadi OB juga baik. Sekar jadi cleaning service. Kalian pasangan spektakuler." canda Sania dibalas tawa derai Roy.


Bara ikut senyum dengar canda Roy dan Sania. Bara tak kuatir hubungan Sania dan Roy akrab. Bara kenal Roy bukan pagar makan tanaman. Roy selalu dukung Bara asal jalan yang ditempuh Bara tak keluar rel. Tak heran hubungan baik itu terawat hingga sekarang.


"Ciiisss..pede amat! Kutunggu kabarmu. Secepatnya balik ke pulau B. Kita sudah molor cukup lama. Soal alat berat langsung konfirmasi padaku."


"Siap nyonya bos! Jangan terlalu fokus ke proyek pulau B. Fokus saja ke proyekmu dan Bara. Jaga mereka sampai lahiran. Ok?"


"Ok...tutup ya. Assalamualaikum..." Sania menyimpan ponsel lalu menatap Bara dari samping.


Bara jauh lebih ganteng dari Roy. Dari segi manapun Bara jauh lebih menarik. Bisanya Roy klaim dia paling ganteng.


"Lieve ganteng kan?" Bara sadar Sania terpesona padanya.


Sania tersipu malu ketahuan curi pandang ke wajah suami. Tak ada hukum bagi isteri kagum pada suami. Justru berpahala hormat dan sayang suami.


"Ciiisss sama saja dengan Roy. Narsis..." Sania buang muka keluar jendela untuk tutupi rasa malu. Bara tersenyum melihat Sania masih malu padanya.


Semua yang ada pada Bara milik Sania semuanya. Tapi rasa malu itu tetap datang walau Bara halal dipandang.


"Lieve hanya milikmu. Milik Sania Jaya. Ok?"


"Ok...tapi kalau ketahuan main gila akan Kucincang jadi perkedel." ancam Sania tak main-main.


"No problem."


Perjalanan akhirnya tiba di rumah sakit. Tanpa banyak tanya Bara parkir mobil di tempat teduh agar mobil tak panas walau matahari mulai pudar. Senja mulai menjelang waktu mereka tiba di rumah sakit.


Sebentar azan magrib akan berkumandang. Namun aktifitas di sekitar rumah sakit masih ramai. Orang hilir mudik dengan berbagai keperluan. Tentu saja tak jauh dari orang sakit dan masalah kesehatan.


Bara hentikan mobil di parkiran tak memaksa Sania turun. Laki ini mau Sania kumpulkan keberanian maju lawan trauma masa lalu. Ini bisa jadi terapi bagi Sania keluar dari dendam membara.

__ADS_1


Lama kedua berdiam diri dalam mobil. Mata Sania agak liar menatap jauh ke gedung rumah sakit. Di situ tertidur musuh abadi Sania. Musuh sekaligus orang yang telah berjasa hadirkan Sania ke dunia ini. Sania sendiri tentu bagaimana kata hati.


Bara tak berani mengusik Sania sampai Sania punya nyali untuk turun dari mobil. Semua keputusan ada di tangan Sania.


"Lieve...kita sholat dulu baru masuk!" Sania mengeluarkan suara karena samar-samar terdengar azan magrib. Sania tak ingin kehilangan moments berharga mengadu pada Allah semua kisahnya dari hari ke hari.


"Kau ada bawa kain untuk sholat?"


"Ada dong! Muslim sejati." Sania menepuk tas selempangnya dengan bangga. Tas jelek itu bisa menampung semua kebutuhan Sania. Sania mana perduli segala tas Hermes atau tas Gucci. Tak ada guna tenteng tas mahal bila tak dibarengi hati bersih.


"Lieve bangga padamu. Kau tak pernah menyusahkan Lieve."


"Harus ada pengecualian. Yok cari tempat untuk sholat!"


"Kita sholat di mushola rumah sakit saja. Seluk beluk rumah sakit ini Lieve kenal betul sejak mbakmu sakit. Waktu Lieve banyak terbuang di sini. Tapi Lieve tak menyesal pernah punya isteri Nania. Terlepas plus minusnya dia berjasa membawamu pada Lieve."


Hati Sania terasa sejuk punya suami tahu terima kasih walau Nania telah membawa banyak duka pada Bara. Ada yang ditinggal Nania buat Bara yakni isteri saleha dan pintar.


"Kita turun!" ujar Sania mantap. Sania mulai punya keberanian masuk rumah sakit walau harus diawali dengan sholat magrib. Mungkin Allah sengaja atur waktu Sania tiba di sana pas waktu magrib. Langkah Sania akan lebih ringan masuk ke sana walau belum ada final akhir langkah Sania.


Bagi Bara itu adalah langkah awal yang baik. Sania mantap masuk. Sania turun dari mobil diiringi Bara berjalan barengan ke mushola. Bara yang sudah sering keluar masuk rumah sakit waktu Nania sakit tak asing letak musholla. Beriringan mereka ayunkan langkah menuju ke tempat ibadah bagi umat Islam.


Sania berwudhu di tempat khusus wanita sedang Bara memisahkan diri di tempat khusus pria. Beberapa orang ikut dirikan sholat di mushola mengadu pada Ilahi agar orang sakit diberi kesembuhan.


Sania dan Bara sholat diberi jarak antara wanita dan pria. Para pria dirikan sholat bagian depan sedang wanitanya ambil shaf di belakang. Masing-masing khusyuk lantunkan ayat sholat dan berdoa.


Sania tak ketinggalan memohon diberi hati lapang untuk melihat orang telah melukai hatinya lebih dekat. Allah mempunyai sejuta kata maaf untuk seluruh umatnya. Mengapa Sania tak terpikir memberi maaf cukup sekali pada orang yang sedang berjuang melawan maut. Sania harus bisa.


Bara duluan selesai sholat menanti Sania selesaikan doa dan harapan di hadapan Yang Paling Mulia di mata umat Islam yakni Allah SWT. Biar Sania puaskan diri mengadu. Bara berdiri dekat mushola kecil di rumah sakit. Mata Bara sekali-kali melirik Sania yang masih setia bersujud.


Ponsel Bara berbunyi dering. Panggilan masuk dari seseorang. Bara mengeluarkan hp dari saku celana lalu gunakan jari menggeser layar lambang bulatan hijau.


"Halo... assalamualaikum."


"Waalaikumsalam!" jawab Bara pelan takut suaranya ganggu orang masih khusyuk sholat.


"Kalian di mana? Kok belum tiba?"


"Kami baru selesai sholat. Kami sudah di rumah sakit. Sania masih ragu jenguk bokap kalian. Kau datang sini tenangkan dia! Kami di mushola rumah sakit."


"Ok...tunggu di sana! Ada Agra bersamaku. Orang tua Lisa juga ada. Kami ke sana bersama biar adikku yang bengal itu tak bisa kabur lagi."


"Tapi janji jangan maksa! Ini bahaya buat anak kami. Dokter sudah pesan Sania tak boleh tertekan. Ingat jaga perasaan Sania."


"Tenang...Sania itu adikku! Tak mungkin aku sakiti dia! Aku juga tak ingin terjadi sesuatu padanya. Apalagi menyangkut keponakanku yang ramai."


"Datanglah!" Bara matikan ponsel dengan sedikit gelisah. Mata Bara kembali melirik Sania yang sedang berberes melipat kain bekas sholat. Kain sembahyang Sania termasuk yang sederhana tanpa hiasan motif bordiran. Sania sengaja cari yang simpel agar gampang di bawa ke mana saja. Kainnya juga dari bahan ringan.


Semua tersusun rapi kembali ke tas selempang multi guna. Badan Sania terasa ringan setelah melaksanakan ibadah magrib. Sania bertekad jumpa Suhada walau berat. Mungkin ini doa pertama untuk kesehatan buat Suhada. Selama ini Sania selalu berniat buruk pada laki itu.


Saatnya Sania membayar semua kesalahan pada Suhada selaku orang tua. Sania tak pantas doakan hal buruk pada bapak sendiri terlepas dari kesalahan apapun. Sania tetap anak wajib hormat pada orang tua.


Sania keluar dari tempat sholat menemui Bara yang masih setia menanti. Sikap setia ini mampu mengetok hati Sania untuk percayakan masa depan pada laki itu. Tak perlu melirik cowok lain lagi. Cukup Bara seorang jadi imam dunia akhirat.


"Lieve..." panggil Sania lebih santai.


Bara balik badan hadap Sania dengan seulas senyum damai. Tangan Bara terulur meraih pundak Sania menyatu ke dadanya. Sania tak menolak walau dilirik orang yang lewat. Mereka tak buat salah untuk apa takut digunjing. Bara hanya ingin protek sesuatu miliknya.

__ADS_1


__ADS_2