MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Jenguk Kintan


__ADS_3

Bara dan Sania makan siang tanpa didampingi sang mama yang sedang berakting jadi orang sakit. Sania cuma makan sedikit karena selera makan lagi kurang pas. Di otak Sania dipenuhi berbagai masalah Dari tugas kantor, anak Rudi dan masalah keluarga. Sebenarnya Sania tak tega hancurkan keluarga Suhada namun keluarga itu selalu berbuat curang demi hidup senang. Harus dikasih pelajaran sekali agar tahu yang namanya sakit hati.


Selama ini mereka selalu berada di puncak tak tahu bagaimana kehidupan orang yang telah jadi korban mereka. Yang penting mereka hidup layak penuh kemewahan. Sania harus pangkas sifat buruk mereka sampai ke akar-akar.


Bara melihat Sania tidak fokus nikmati makan siang. Orangnya ada di depan mata namun pikiran ntah melayang ke mana.


Bara ambil kesimpulan Sania tak suka makan siang bersamanya. Bara sangat sedih tapi laki ini tak punya hak melarang Sania memikirkan apa yang tersimpan di benak.


"Sania..kau kurang sehat?" tanya Bara tak pindahkan tatapan dari wajah muram Sania.


"Tidak Lieve..aku mungkin lelah. Aku harus selesaikan gambar bangunan Pak Zainal dan Dr.Cipto dalam minggu ini. Dan lagi Rudi belum kasih kabar soal Kintan. Aku kuatir terjadi sesuatu pada anak itu." suara Sania kuyu tak bergairah.


"Kau berhasil dapat kedua proyek itu?" Bara tak percaya segampang itu Sania yakinkan kedua orang kaya itu percayakan proyek pada mereka.


Sania mengangguk nyaris tak kelihatan. Gerakan kepala Sania kecil sekali.


"Serahkan satu padaku. Kita kerjakan sama-sama. Mana mungkin aku tega biarkan kamu bekerja sendirian."


"Terima kasih Lieve..kalau mama membaik aku mau ke rumah sakit lihat kondisi Kintan."


"Kan ada Arsy dan Rudi. Mereka orang tua Kintan. Tak mungkin mereka sia-siakan Kintan. Apalagi Arsy. Dia sayang pada Kintan kok!"


Sania ingin sekali kasih tahu pada Bara kalau Arsy tak peduli hidup mati Kintan. Dia pertahankan Kintan untuk menjerat Bara yang juga sayang pada Kintan. Namun Sania tak mau merusak image Arsy di mata Bara. Biarlah waktu yang buktikan bagaimana busuknya rencana Arsy. Tega campakkan anak kandung demi mengejar laki yang belum tentu didapati.


"Kita sudah mengenal Kintan maka wajar kita teringat padanya. Hidup ini timbal balik. Hari kau jaya besok belum tentu. Hargai setiap detik yang kita lalui. Isilah dengan hal positif."


Bara tertegun dikuliahi anak kecil. Umur Sania boleh lebih muda darinya tapi cara bicara Sania mirip nenek tua renta. Terlalu mendalam.


"Baiklah! Kita pergi lihat Kintan agar kau lega. Cepat makan. Makan yang banyak supaya gemuk dikit."


Sania meringis bayangkan semua makanan di meja pindah ke perut mungilnya. Lambung kecilnya pasti akan protes dipaksa kerja berat cerna setiap asupan makanan segerobak. Lantas gelambir muncul sana sini hiasi seluruh tubuh.


Sania bergidik ngeri bayangkan tubuh penuh lemak siap dipotong jadi daging bakar. Tanpa sadar Sania merinding geli.


"Kenapa kau?" Bara perhatikan reaksi aneh Sania. Gadisnya seperti sedang bayangkan suatu ilusi menjijikkan.


"Lemak.."desis Sania mual.


Kini Bara ngerti mengapa reaksi Sania aneh. Wanita jaman ini selalu takut gemuk padahal orang tua jaman dulu bangga kalau anak mereka sehat montok. Bawa rezeki.


"Kau kurus makan banyak dikit. Dipeluk ada isi. Bukan peluk kerangka." ejek Bara


"Kerangka juga diincar serigala lapar." balas Sania tak mau kalah.


"Itu kasus lain. Serigalanya sudah terlalu lapar tak sanggup tahan diri untuk segera cicipi seonggok sisa daging." Bara mengerling penuh arti. Sania menelan ludah merasa bodoh kena jebakan perangkap sendiri. Pipi mulus Sania berubah warna memerah bak tomat matang.


Bara suka saksikan sikap malu-malu Sania. Makin tak sabar ingin rengkuh tubuh mungil ke pelukan. Jadi guling pengantar mimpi juga boleh. Niscaya mimpi akan lebih indah.

__ADS_1


"Dasar mesum.."


"Mesum? Mana ada laki bini selipkan kata mesum. Aku tak keberatan dibilang mesum oleh bini cantikku."


"Seumur bapak tak pantas ngerayu lagi. Kadaluarsa."


Bara mendelik dipanggil bapak oleh Sania. Sania mau ingatkan umur Bara tak muda lagi untuk sok abg. Masa Bara sudah berlalu sok centil ngerayu wanita sekalipun itu bini sendiri.


"Aku sudah siap makan." Sania bangkit dari tempat duduk menuju ke kamar mama Bara. Hati Sania belum tenang bila sang mertua belum fit. Berbagai dugaan buruk bermain di otak Sania. Pernah kehilangan mama tercinta bawa trauma berat di hati Sania. Kejadian pahit itu membatu di relung hati terdalam. Sania berdoa semoga keluarga Bara dilindungi Allah SWT.


Kebanggaan buat suami dapatkan bini berhati tulus. Bara tak ragukan akhlak Sania. Gadis ini baru mengenal Kintan namun gadis kecil itu sudah tertanam di hati Sania. Sania beri perhatian pada Kintan walaupun belum sepenuhnya.


Sania melihat mama Bara benaran tertidur lelap. Lega hati Sania meyaksikan mama mertua mulai stabil. Ntah bagaimana reaksi Sania bila tahu semua ini hanya akting Bara dan mamanya untuk tahan langkah Sania tak pergi ke lokasi proyek. Bara bisa dicincang Sania jadi daging kornet.


Bara menggamit lengan Sania begitu keluar dari kamar mamanya. Niat Bara aja Sania ke rumah sakit jenguk Kintan. Melihat kondisi Kintan secara langsung mungkin bisa bayar rasa penasaran Sania. Beban mental cukup berbahaya pengaruhi hidup seorang manusia.


Dasarnya Sania ada penyakit lambung. Andai ada tekanan mental bisa menyebabkan penyakit itu melebar ke mana. Bisa pengaruh ke jantung, darah tinggi dan sesak nafas. Bara mulai tahu kondisi mental Sania tak boleh terbeban pikiran maka memilih bawa Sania lihat langsung keadaan Kintan agar hati gadis itu terpuaskan.


"Kita ke rumah sakit lihat Kintan." ajak Bara setelah Sania menutup pintu kamar mamanya.


Sania angguk setuju. Rasa haus akan berita Kintan akan segera dihapus oleh pengertian Bara. Laki itu paham Sania tak dapat dipuaskan hanya dengan kalimat. Sania gadis cerdas tak bisa dibodohi dengan kata-kata rayuan. Andai Bobby pikir bisa bodohi Sania lagi artinya laki itu sedang mimpi hampa. Sania jauh lebih cerdik dari siapapun. Selama ini Sania masa bodoh karena memang terikat pada janji kerja.


Akhirnya Bara dan Sania berangkat ke rumah sakit cari tahu kondisi Kintan. Keduanya jalan beriringan tak ubah layak pasangan lain walau tak ada kontak fisik. Mereka lewati koridor rumah sakit cari tahu di mana Kintan pada petugas yang jaga meja bagian informasi.


Sania sudah tak sabar ingin jumpa Kintan lihat bagaimana hasil operasi. Harapan Sania tentu saja sama dengan harapan orang terdekat anak kecil itu.


Bara dapat informasi Kintan sudah dirawat di ruang VIP khusus anak-anak. Tanpa buang waktu Bara ajak Sania mencari kamar Kintan di rawat. Beriringan kedua suami isteri itu menuju ke tempat dimaksud.


Ada gambar Doraemon pemilik pintu ajaib. Teletubbies yang suka berpelukan, Upin Ipin si kembar nan lucu serta gambar-gambar lucu lainnya. Ini akan jadi pandangan menyenangkan bagi anak kecil yang kadang rewel kalau sudah sakit.


Bara hentikan langkah persis di salah satu pintu ruang rawat. Bara dapat informasi kalau itu ruang rawat Kintan. Bara mengetok pintu kamar pelan takut ganggu orang sakit. Sania mematung tunggu orang di dalam buka pintu.


Harapan Sania terkabul. Sosok Rudi buka pintu agak surprise lihat Bara datang bersama Sania. Rudi belum tahu kalau Bara dan Sania sepasang suami isteri. Rudi hanya tahu Sania pegawai inti kantor Bara. Punya power atur perusahaan.


"Ayo masuk!" Rudi menyingkirkan beri jalan pada Sania dan Bara masuk. Sania jatuhkan mata pada tubuh mungil terbungkus kain selimut sedang tidur. Sania sedih badan sekecil itu harus dibedah untuk cari di mana sumber penyakit. Kintan anak kuat mampu lewati cobaan sangat berat. Semoga cukup sekian penyakit di tubuh mungil itu.


"Katanya mau telepon. Bunyi tit saja tak muncul apalagi tut." Kata Sania kesal pada Rudi.


Rudi memohon maaf merangkap tangan ke dada. Rudi tak enak hati tak kabari Sania padahal sudah janji akan beri kabar begitu Kintan sadar diri.


"Maaf San! Hpku meninggal. Belum sempat dikubur." Rudi mengeluarkan ponsel dari kantong perlihatkan penyebab tak kasih kabar.


Sania yang sudah kesal sampai ke ubun melemah. Ternyata Rudi punya kesusahan sendiri. Sania malah kasihan pada laki itu kehilangan alat komunikasi. Jaman ini ponsel sudah jadi alat vital setiap insan. Berita apapun sampai seketika tanpa perlu proses panjang.


"Kenapa tak pinjam hp orang lain? Telepon bentar kan gak makan banyak pulsa."


"Aku tak hafal nomormu. Sori nona cantik! Kalau abangku datang ganti jaga Kintan aku akan cari ganti hp."

__ADS_1


Bara tak suka lihat cara Rudi bicara dengan Sania. Rudi bicara seakan sangat kenal Sania. Begitu akrab sampai berani memuji di depan hidung Bara. Bara mendecak kurang senang. Sania merasakan bau asam cuka di ruang rawat Kintan. Bara terserang demam cemburu.


"Mana Arsy?" tanya Bara sadar Arsy tak ada di dekat Kintan.


"Arsy tidak pernah datang sejak Kintan dioperasi. Dia sudah alihkan hak asuh padaku. Dia tak mau urus Kintan lagi karena merasa dekat sama tujuan."


Bara tak ngerti omongan Rudi tentang tujuan Arsy. Dari kecil Arsy yang jaga Kintan. Mengapa di saat Kintan sudah dapat kesehatan dia malah mundur. Rencana apa pula terbit dari otak kotor wanita itu.


"Nania sudah meninggal. Tak ada halangan baginya untuk kembali padamu." Rudi terus terang niat besar Arsy.


Sania bukannya marah malah tertawa kecil mengejek Bara. Arsy sedang buka kisah lama untuk diperbaharui. Kerennya di update. CLBK.


"Kami tak ada hubungan lagi. Arsy hanya masa lalu. Aku sudah punya penuntun baru yang segalanya melebihi Arsy." tegas Bara tak mau Sania berpikir aneh-aneh hubungannya dengan Arsy.


"Oh..bagiku semua terserah Arsy! Kini aku hanya ingin cari uang banyak besarkan Kintan. Asal Kintan sehat itu merupakan karunia Tuhan."


"Eh..dari tadi ngobrol lupa soal Kintan. Gimana hasil operasi Kintan?" potong Sania tak biarkan dua mantan Arsy bahas Arsy.


"Operasi sukses. Kintan sudah jauh lebih baik. Tinggal pemulihan dan cek up sampai tiga bulan ke depan." lapor Rudi dengan mata berbinar.


Kuping Sania selalu adem kalau dapat kabar baik. Senyum Sania merekah hiasi wajah cantik gadis itu. Rudi terpana memuji maha karya Tuhan sungguh luar biasa. Makhluk cantik di depan mata sungguh ciptaan paling indah. Cantik, pintar dan baik hati.


Bara mendehem halau pesona Sania dari biji mata Rudi. Tambah satu saingan lagi di arena hidup Sania. Bara harus perketat ruang gerak bini mudanya supaya tak menjaring lirikan mata pejantan tangguh lain.


"Syukurlah Kintan dapat perawatan bagus. Semoga anakmu cepat sehat." doa Sania tulus.


"Amin. Oya...keluarga sudah terima Kintan. Aku disuruh pulang ke rumah oleh keluarga." ujar Rudi berbagi kabar bahagia buat Sania. Berkat dorongan Sania Rudi bisa menjalin hubungan silaturahmi yang terputus.


"Alhamdulillah... akhirnya! Kau sudah punya tulang belakang. Keluarga adalah tulang penyanggah hidup kita. Kita mendapat kekuatan asal didampingi tulang kuat." Sania ikut bahagia akhirnya Rudi bisa kumpul keluarga kandung. Kintan juga telah punya sangkar untuk hangatkan badan. Tubuh ringkih itu kini telah punya tempat sandarkan diri.


"Semua berkat kamu San! Tanpa nasehatmu seumur hidup aku tak berani hubungi keluargaku. Ternyata aku salah. Mereka juga rindu padaku. Abangku dan kakak ipar malah akan rawat Kintan kalau aku pergi kerja." Rudi celoteh panjang lebar suara kan rasa bahagia tak terhingga.


Sania ikut suasana ceria di hati Rudi. Tak disangka saran kecil darinya bawa berkah maha besar bagi Rudi. Asal kita tahu jalan yang kita lalui salah dan bersedia balik arah tentu ada cahaya terang siap sambut kepulangan kita. Rudi telah dapat anugrah terindah dari kesadaran akan salah masa lalu.


Bara jadi kambing congek tak paham arah obrolan Rudi dan Sania. Bara mana tahu Sania dan Rudi ada jumpa di belakang dia. Semoga Sania tak punya moral tipis macam Arsy tega curangi Bara.


Bara masih kurang percaya pada Rudi takkan ulang kesalahan sama pada dirinya. Kalau saja Rudi suka pada Sania artinya kejadian lama terulang lagi. Bara akan jadi korban cinta buta Rudi.


"Minggu depan aku sudah bisa kerja. Apa aku sudah diterima?" tanya Rudi mengharap jawaban Sania soal pekerjaan dijanjikan.


"Tuh bosnya! Tanya langsung." Sania menunjuk Bara pakai bibir mirip ceri matang itu.


Sumpah mati Bara ingin ***** bibir itu lagi. Kalau tak ada Rudi di situ Bara jamin tak bisa kontrol diri untuk biarkan bibir ceri Sania nganggur tak dipakai.


"Boleh asal jangan ngelaba!" sahut Bara dingin plus datar. Kalau bisa Bara ingin menekan Rudi sampai tak punya hasrat pada Sania.


"Ngelaba? Apa maksudmu?" Rudi perlihatkan mimik wajah bingung.

__ADS_1


"Jangan suka harap milik orang!"


"Memang milik siapa ingin kurampas? Aku takkan bodoh jatuh ke jurang sama."


__ADS_2