MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Pengumuman Pemenang


__ADS_3

Siapapun ingin hidup tenang tanpa badai. Tapi yang namanya hidup bermasyarakat mana ada kata tenang. Walau tanpa badai angin pasti akan datang menerpa.


Bara sudah yakin akan bergandengan dengan Sania meniti hari demi hari sampai ajal memisahkan mereka. Sudah bukan waktunya mencari kepuasan dari wanita-wanita penghamba materi. Bara tak ingin mimpi buruk berulang dalam sisa hidupnya.


Malam berlalu tenang membuai pasangan yang baru menemukan titik temu. Keduanya saling berbagi kehangatan songsong esok penuh tantangan. Apalagi esok adalah titik awal Bara memulai debut bertanggung jawab terhadap satu proyek raksasa. Bara akan yakin melangkah selama bergandengan dengan isteri penuh bakat itu.


Azan subuh memaksa Bara buka mata. Dari jauh Bara mendengar panggilan wajib bagi umat Islam. Hati Bara terasa sejuk mengingat karunia dari Tuhan berlimpah padanya. Bara harus lebih baik lagi menjadi umat beragama.


Sania masih lelap dalam mimpi. Bara perhatikan wajah imut nan cantik di hadapannya. Mengapa Bobby demikian buta tak melihat pancaran sinar mutiara alami dalam genggaman. Bobby bodoh lepaskan mutiara demi batu kelereng tak berharga. Dasar Bara bernasib mujur mutiara jatuh ke tangannya secara gaib. Sungguh lucu mengingat pertama kali mereka jumpa dalam sesi wawancara di perusahaan. Bara sempat ilfil pada Sania karena mengira Sania jual tampang cari kerja. Untung Roy bermata jeli minta Bara rekrut Sania. Tidak tanggung-tanggung rekrut sampai ke tempat tidur. Sania cantik milik Bara.


"Sayang..bangun.." bisik Bara lembut membangunkan puteri cantik dalam dekapan.


Sania buka mata sayunya perlihatkan muka bantal kelas berat. Sania sungguh lucu seperti orang linglung tak kenal siapa di depan mata.


Lama Sania mengumpulkan memori baru sadar berada dalam kamar bersama suami halal.


"Pagi Lieve.." Sania menggeliat lemaskan otot sambil menguap besar. Masih ngantuk dia.


"Tak mau sholat subuh? Mandi sono!"


"Hemmm..badanku pegel Lieve.." keluh Sania gerakkan badan kiri kanan cari nyaman. Bara cari kesempatan membantu Sania hilangkan pegel dengan mengurut punggung wanitanya. Bukannya mengurut tapi membelai mencoba cari sela menggoda Sania. Panggilan azan subuh terlupakan sesaat.


Sania menepis tangan jahil Bara makin merambat ke mana-mana. Gelora nafsu Bara bangkit lagi padahal semalaman dia garap lahan baru Sania. Rasanya tak puas-puas nikmati setiap jengkal tubuh Sania.


"Mau kupotong tangannya?" ancam Sania sembari bangun menuju ke kamar mandi. Bara meringis tak dapat jatah pagi yang nyaris dia raih.


"Sadis amat nih bini! Kalau tak ada tangan bagaimana belai tubuh bahenolmu?"


"Pinjam tangan Roy!" tukas Sania seenak udel. Bara menggeram kalah debat. Dari mana ide pinjam tangan Roy. Enak banget si Roy menjamah tubuh orang yang dia sayangi. Mimpipun tak Bara ijinkan Roy menyentuh tubuh Sania. Apa lagi di alam nyata.


Bara dan Sania mandi junub alias mandi wajib bagi insan yang telah melaksanakan percintaan. Mandi wajib harus dilakukan setelah bersetubuh apa lagi ingin melaksanakan sholat. Itu wajin bagi umat muslim.


Cahaya remang-remang surya muncul malu-malu kucing dari balik gumpalan awan. Sebentar lagi seluruh persada akan diterangi cahaya keemasan mentari pagi memberi harapan bagi insan-insan di dunia lewati setiap deti dengan suka cita.


Begitu juga penghuni keluarga Jaya. Secercah harapan baru sedang mengintai mereka menanti pengumuman pemenang tender PT. SHINY. Walau sudah ada gambaran bahwa mereka pemenang tapi mendengar secara resmi merupakan kebanggaan tersendiri. PT ANGKASA JAYA telah buktikan bisa sejajar dengan jasa konstruksi lain.


Pak Jaya beserta isteri bangun pagi menanti sepasang pengantin baru itu sarapan di meja. Sebagai orang tua tak urung mereka bangga dengan prestasi yang dicapai anak-anak. Semua ini berkat Sania yang punya talenta tinggi. Tanpa bimbingan Sania sampai detik ini Bara bukan siapa-siapa.


Bara dan Sania turun dari loteng sambil gandengan tangan menuju ke maja makan. Tak tampak bayangan Fadil pagi ini. Tukang gombal kelas wahid itu tak muncul ikut makan sarapan. Bara menarik nafas lega tak perlu kesal dengar rayuan maut Fadil pada Sania. Pagi ini harusnya di awali dengan mood bagus dan stamina full power.


"Selamat pagi Pa..Ma.." sapa Sania sopan. Wajah Sania segar tak ubah bunga baru siap peti dari kebun. Mekar berseri.

__ADS_1


Bara juga kelihatan sangat fit pancarkan aura manly yang strong. Tampaknya kedua insan ini siap tempur menerima hasil pengumuman dari PT. SHINY.


"Pagi sayang...ayo sarapan!" Bu Jaya melambai tangan meminta Sania dan Bara cepat bergabung. Makan bersama akan pererat rasa keluarga. Segala suka dan duka bisa dibagi sambil nikmati santapan.


Sania duduk sebelah Bara melirik sarapan yang full kalori. Ayam goreng dan nasi goreng berisi sosis. Sania ingin katakan no tapi takut melukai hati sang mertua sang pasti susah payah masak untuk mereka.


"Mau minum susu atau teh? Atau kopi?" tawar Bu Jaya masih ingin menyenangkan hati Sania.


Sania malah malu sendiri dilayani sang mertua. Dalam hukum keluarga harusnya menantu layani mertua. Ini malah terbalik.


"Tak usah repot ma..Sania bisa.." sahut Sania terbata menutup malu.


"Kau tak usah malu..nanti mama akan ajar kamu masak biar Bara makin sayang padamu."


"Ma..tak perlu pandai masak aku tetap sayang Sania. Dia sudah cukup sempurna di mataku." Bara membela Sania agar jangan merasa terpojok oleh saran sang mama. Wanita belum sempurna bila tak kenal peralatan dapur itu kata orang tua jaman dulu. Namun Bara tak peduli itu. Yang penting Sania berada di sisinya itu sudah merupakan karunia terbesar bagi Bara.


"Kita makan agar Sania dan Bara cepat ke kantor. Jam berapa kalian mau ke SHINY?" lerai Pak Jaya agar Sania tak makin segan.


"Kami ke kantor bentar jemput Roy! Dia ikut dalam proyek ini. Aku sudah angkat dia jadi wakilku di ANGKASA. Aku dan Roy sudah lama berteman jadi kurasa beri dia satu posisi penting tak ada ruginya."


"Roy cukup bagus tapi mengapa kau tak angkat Sania jadi wakilmu?" Pak Jaya menatap Sania tunggu reaksi wanita itu tak dapat jabatan penting di kantor.


"Jangan pa..Sania cukup jadi perancang dan jadi isteri Lieve saja. Itu sudah kehormatan bagiku." sahut Sania berusaha bijak dukung pilihan Bara. Sebagai isteri harus patuh sama keputusan suami selama itu merupakan jalan lurus. Tak berliku-liku melenceng sana sini.


"Terima kasih sayang.." Bara menyentuh kening Sania dengan lembut. Pemandangan ini yang diharap kedua orang tua Bara. Anak dan menantu akur satu sama lain.


"Fadil mana ma?" tanya Sania tak melihat laki tukang gombal di meja makan. Ke mana anak lajang itu?


"Fadil ijin pergi memancing bareng kawan kuliah dulu. Pas week end tak banyak kerja ya biarin dia rilex." Pak Jaya yang jawab.


Sania merasa kehilangan gurauan lucu Fadil di meja makan. Ada saja ulah Fadil semarakkan suasana acara makan yang kadang membosankan.


Sania sok ngerti mangut kecil. Selanjut bisa ditebak. Santap sarapan tanpa obrolan panjang. Hany tanya jawab sederhana seputar proyek. Pak Jaya menduga Sania memang pakar di bidangnya. Setiap pertanyaan dijawab mulus. Bara saja kalah total.


Bara dan Sania meluncur ke kantor ambil semua persiapan untuk bertandang ke kantor PT. SHINY. Sania tak ragu sedikitpun melangkah lebih dalam ke perusahaan besar itu. PT SHINY bergerak banyak bidang. Hampir seluruh dunia ada jaringan PT SHINY yang mendunia. Kekayaan pemilik PT besar itu mungkin tak tertampung satu gudang. Perusahaan itu menggurita cakup nyaris seluruh belahan dunia.


Bara dan Roy yang tegang walau sudah tahu keputusan kemenangan berada di tangan mereka. Bara dan dua perusahaan lain yakni Oceanic dan Jagat Raya masuk ke ruang rapat sementara Sania menghilang ntah ke mana. Wanita ini memisahkan diri begitu masuk gedung kantor SHINY. Ke mana perginya Sania menjadi perhatian Bara. Apa yang dilakukan isterinya yang penuh misteri itu.


Bara dan Roy kebat kebit menanti kehadiran pemilik PT. SHINY yang bakal umumkan pemenang tender. Wajah tegang hiasi setiap peserta tender. Tentu saja mengharap bisa lolos jadi pemenang tunggal.


Bara gelisah tanpa Sania. Tempat duduk empuk serasa berduri datangkan rasa tak nyaman. Sania bisa jadi obat penenang bagi Bara. Ntah kenapa tanpa Sania nyali Bara menciut bagai balon kempes hilang udara.

__ADS_1


"Ssssttt...santai bro!" bisik Roy berusaha kendalikan emosi agar tenang. Padahal kondisi Roy tak jauh lebih baik dari Bara.


"Sania kabur tinggalkan kita." balas Bara ikutan berbisik. Kaki Bara bergoyang-goyang di bawah meja siratkan rasa gelisah tak terkira.


"Mungkin ke toilet...Sania bukan orang yang mau lepas tanggung jawab. Dia sedang uji nyali kita. Sania mu punya sejuta akal kerjain kita. Kita jangan kalah mental. Harus tegar. Masak kalah sama anak kemarin sore." Roy mencoba beri pendapat mengapa Sania menghilang.


Bara coba berpikir positif kalau Sania memang beri kesempatan pada Bara dan Roy tampil tanpa dukungan darinya. Sania ingin Bara muncul sebagai pemilik sah PT. ANGKASA JAYA langsung hadapi pengumuman pemenang tender.


Tak lama berselang hadir dua orang bawa map berisi hasil dari pemenang tender. Mereka bukan pemilik PT. SHINY tapi hanya wakil dari pemimpin untuk beritahu hasil akhir dari tender besar ini.


Bara meremas tangan menyiapkan mental dengar langsung kemenangan mereka. Keringat dingin merembes muncul di permukaan kulit padahal ruang itu ada pendingin ruangan alias AC.


"Selamat datang kembali bapak-bapak terhormat. Di sini kami mewakili bos kami yang kebetulan ada halangan. Setelah kami rapat dewan direksi maka kami langsung umumkan yang berhak mengerjakan proyek ini. Bagi yang belum berhasil bukan karena karya kalian tak bagus cuma mungkin kurang sesuai dengan harapan para pimpinan kami. Maka dengan mengucap puji syukur pada Tuhan kami nyatakan PT. ANGKASA JAYA menjadi mitra kami. Sekian dan terima kasih." salah satu dari dua orang itu umumkan yang berhak maju menjadi pengelola proyek PT. SHINY.


Bara dan Roy mengucap puji syukur atas berkah dan Rahmat dari Allah SWT pada perusahaan mereka. Berkat kegigihan Sania mereka yang nothing menjadi something. Kedua wakil PT. SHINY menyalami Bara dan Roy. Disusul dua saingan Bara. Walau ada rasa kecewa tapi mereka sudah duga Bara dkk yang bakal menang. Rancangan dari PT. ANGKASA JAYA terlalu detail juga sempurna. Namun semangat tak boleh kendor selagi masih ada luang.


Hati Bara plong seolah batu besar yang menghimpit di dada terangkat sudah. Kini tinggal laksanakan janji mengerjakan amanah sebaik mungkin. Roy merasa matanya panas ingin mengalirkan lahar panas melalui pipi menuju ke lantai. Roy tak kuasa menahan rasa haru bisa terjun tangani Mega proyek. Semua ini serasa mimpi.


"Kalau ada lowongan boleh sertakan kami. Semoga kami bisa jadi bagian dari proyek ini." ujar wakil Oceanic mengajak Bara kerja sama. Proyek ini terlalu besar dikerjakan satu perusahaan. Kalau Bara berbaik hati berbagi sedikit bagian mungkin tak ada penolakan.


"Tentu..kita semua berharap proyek ini sukses. Kami akan tinjau ulang saran dari anda semua. Kantor kami selalu terbuka untuk kalian." sahut Bara ramah tak mau dicap angkuh setelah meraup proyek besar ini.


"Terima kasih...semoga jalan ke depan kita bisa bergandengan."


"Amin.."


Para peserta tender bubar masing-masing pulang ke tujuan. Bara dan Roy kebingungan harus ke mana cari Sania di gedung seluas begini. Kedua laki itu bingung mau jalan ke arah mana cari bini mungil Bara. Keduanya mirip anak kecil tersesat di hutan belantara. Mau tanya pada siapa karena semua karyawan tampak sibuk urus bagian masing- masing.


"Ssssttt...juara yang terbuang." ujar Roy lirik sana sini harap Sania segera muncul bawa mereka keluar dari kebingungan.


"Dasar Sania..selalu gitu kalau sudah di sini. Apa sih hubungannya dengan pemilik perusahaan ini?" omel Bara mulai dilanda rasa jenuh terabaikan.


"Kau suaminya masak ngak tahu apa hubungan mereka? Jangan-jangan Sania anak dari pemilik perusahaan ini nyamar jadi isterimu." Roy beri analisa konyol.


Andai Sania tak cerita kisah hidupnya mungkin analisa Roy masuk akal. Tapi Sania sudah cerita siapa orang tuanya maka otomatis dugaan ini gugur.


"Maaf pak! Anda Pak Bara dan Pak Roy?" tiba-tiba muncul satu makhluk super bohay berpakaian sexy menggoda iman. Wajah orang itu tak terlalu cantik namun penampilan memukau merontokkan iman. Semua serba plus. Muka belakang dapat nilai perfect.


Roy menelan air saliva terpukau oleh pemandangan indah menggoda Sukma. Bagaimana orang yang kerja sama dengan wanita ini? Apa mampu menahan diri tak tergoda?


"Iya kami..." sahut Bara cepat sadar dari pesona penggoda iman.

__ADS_1


"Silahkan ikut aku temui pimpinan kami untuk melaksanakan penanda tanganan perjanjian proyek!" Si sexy menunjuk jalan agar diikuti Roy dan Bara. Sepatu high heels berdetak sepanjang jalan mengikuti goyangan pinggul jumbo berbalut rok super ketat. Lekuk bokong jumbo tercetak jelas di balik rok mini.


__ADS_2