
Pak Jaya mengecup kening Bu Jaya di hadapan anak dan menantu. Pak Jaya sengaja lakukan itu untuk beri contoh baik bagi anak-anaknya cara sederhana capai hidup bahagia. Tak perlu bergunung emas ataupun berkoper uang dolar. Cukup beri kedamaian dalam harungi bahtera rumah tangga.
Si usil Fadil sudah terbiasa lihat adegan mesra jaman kuno tak terkejut. Setiap hari dia saksikan kemesraan itu. Berulangkali sampai dia bosan.
"Tuh! ABG tempo dulu. Belajar biar cepat pisah!" Fadil omong gitu sengaja ditujukan pada Bara.
"Doa apa itu? Harusnya doain abangmu dan Sania langgeng hingga anak cucu." Bu Jaya menjewer kuping Fadil timbulkan kegaduhan. Fadil menjerit sakit dijewer sayang sang mama.
Fadil mengusap kupingnya yang merah mendelik tak senang pada Bara. Ini semua gara-gara Bara tak pandai bersikap mesra pada Sania. Fadil jadi sasaran mamanya peringatkan Bara harus mesra sedikit pada Sania.
"Ma..makan jangan banyak! Tuh kekuatan setara lima badak liar! Hancur kuping sexy ane." sungut Fadil
"Masih untung tak mama pindah ke dapur masak semur kuping. Sania...jangan dengar ocehan orang konyol ya! Pergi istirahat ya!" Bu Jaya mengalihkan pandangan pada Sania yang senyam senyum ikut senang pada kehangatan keluarga ini.
"Kakak ipar...aku titip rasa nyaman di hatimu sesaat kau istirahat. Bawa bayanganku dalam anganmu! Usir bayangan beruang kutub kembalikan ke habitatnya!" ejek Fadil masih belum puas ejek Bara.
"Pasti..." Sania acung jempol ikut isengi Bara.
Wajah Bara mulai hitam digoda secara barengan oleh Fadil dan Sania. Bara si manusia kaku mana ngerti cara bercanda. Merayu cewek mungkin masih pintar anak SD jaman now.
"Naik atas..." ujar Bara tak suka Sania terlalu dekat dengan Fadil. Walau adik kandung Fadil itu tetap lelaki. Ditambah Fadil suka pada Sania diungkap tanpa rasa malu.
Sania beri kode pada yang lain nyatakan ikut Bara naik ke lantai dua. Badan besar Bara duluan masuk kamar diikuti tubuh mungil Sania hilang ditelan pintu kamar.
Bu Jaya memukul pantat Fadil setelah bayangan suami isteri itu hilang ke dalam kamar.
"Jangan kebangetan sama abangmu! Dia bukan playboy macam kamu."
"Bukan playboy tapi punya stok segudang cewek licin. Aku sengaja bikin dia cemburu biar dia tak main gila. Mama pikir Fadil tak pantau hubungan Mas Bara dan Sania? Orang-orang masa lalu Mas Bara telah muncul. Arsy dan Maya. Mereka pasti akan gulingkan posisi Sania sebagai ratu keluarga ini. Sebagai pangeran muda aku wajib lindungi ratu. Tentu harus dapat restu dari ibu suri dan maha raja."
"Kau terlalu banyak nonton film silat. Pakai ratu ratuan segala. Eh...apa benar Maya juga balik sini?"
"Iya...bahkan kacaukan hubungan Mas Bara dan Sania. Untunglah Sania pintar tak terpancing. Semua tergantung mas Bara. Cuma satu kunyatakan kalau mas Bara tinggalkan Sania kalian harus restui aku menikahi dia." Fadil berkata serius ikrar kan niat jemput Sania bila pisah sama Bara.
"Huuusss.. amit-amit jabang bayi! Tak ada kata untuk mereka. Mama kok ngeri dengar ceritamu!"
"Andai kata Fadil benar berarti pindah gedung lebih dekat sudah pas. Papa akan tempatkan beberapa penjaga usir wanita-wanita nakal itu hadir merusak kebahagiaan Bara. Sania adalah pilihan tepat." kata Pak Jaya tak ijinkan orang-orang dari masa lalu Bara hadir kembali usik ketenangan rumah tangga Bara.
"Harus itu...mama juga sayang pada Sania. Sederhana tidak serakah."
"Kita kawal bersama. Dan kau Fadil jangan coba-coba punya niat jahat pada abangmu ya! Masih banyak gadis lain." Pak Jaya ingatkan Fadil buang pikiran ingin rebut Sania dari Bara.
"Siapa tahu kisah ke depan." gumam Fadil seraya pergi ke kamarnya di belakang.
Bu Jaya dan Pak Jaya saling berpandangan tak tahu harus omong apa. Untuk sementara Fadil hanya goda Sania pakai rayuan gombal. Dilakukan secara terangan tak bersembunyi dari Bara. Tapi orang tua Fadil takut joke ringan Fadil berubah jadi perasaan bulat ditujukan pada Sania.
Di dalam kamar Bara masih tak terima Fadil gombalin bininya tiap hari. Ada saja tingkah Fadil cari perhatian Sania. Bara kalah total soal rayu merayu namun kharisma Bara lebih kuat dari adiknya. Dari postur tubuh Bara sudah menang jauh.
__ADS_1
Sania rasakan perasaan horor keluar dari aura suaminya. Bara cemburu pada adik sendiri. Sania meletakkan tas selempang di atas meja lalu ambil pakaian bermaksud mandi hilangkan bau keringat menyengat hidung. Sania ingin Bara hanya rasakan Sania berbadan wangi bila berdekatan. Bukan Sania bau kecut.
"Tunggu...aku ikut!" Bara cepat-cepat menahan Sania yang hendak kunci pintu kamar mandi.
Sania goyangkan jari telunjuk larang sang suami ikut mandi. Bukannya mandi nanti malah terjadi goyang dumang dalam kamar mandi. Bara seperti banteng liar doyan lakukan ritual suami isteri. Laki itu ketagihan cicipi keindahan tubuh sang bini. Setiap ada kesempatan harus laksanakan ritual penting suami isteri.
"Aku akan jadi anak manis. Mandi doang!"
"Bisa dipercaya?"
"Jamin...pasti.."
"Awas kalau genit!" Sania mengalah beri jalan pada Bara ikut masuk. Bara kegirangan layak anak kecil dapat permen lezat. Tak ketinggalan senyum licik hiasi wajah tampan itu.
Tak ada yang tahu kejadian dalam kamar mandi. Yang ada hanya terdengar ******* berat Bara diselingi racauan yang muncul dari bibir mungil Sania.
Satu jam kemudian acara mandi kelar. Sania dan Bara keluar dengan rambut basah dan senyum lebar parkir di wajah Bara. Bara dapat hadiah besar karena patuh jadi anak baik. Mandi sore tanpa membantah.
Bara membantu Sania mengeringkan rambut panjangnya. Sebentar lagi jadwal sholat magrib dilanjutkan santapan makan malam. Keluar rambut basah pasti akan jadi bahan ejekan si usil Fadil.
Sania duduk di bangku meja toilet sambil sisir rambutnya yang basah. Bara ambil hair dryer bantu sang bini keringkan rambut indahnya. Bara tak habis bersyukur dapat bini jauh lebih ok dari yang dulu. Bara benar-benar dapat hidayah dari kegagalan masa lalu.
"Lieve...besok pengumuman pemenang tender. Lieve harus kuat iman tak tergoda cobaan dari luar. Pasti banyak suara miring datang hantam kita. Lieve jangan goyah! Kita menang karena kita mampu."
"Aku ngerti. Kau jangan pernah tinggalkan aku ya! Aku masih goyah tanpa kamu. Mental ku tak sebagus kamu." Bara gerakan hair dryer sesuai arah sisiran Sania. Rambut indah Sania helai demi helai terbangan kena hembusan angin mesin pengering rambut itu. Ini jadi pemandangan indah di mata Bara. Yang menyangkut Sania semua terasa indah.
"Lieve...cobaan bukan saja datang dari saingan tapi juga dari wanita-wanita seperti Maya. Aku tak ada toleransi untuk itu. Aku bukan malaikat bisa terima suami main gila. Aku siap bila Lieve jujur pilih siapa. Jangan menutupi kebohongan demi nafsu!"
"Tak ada gunanya berjanji. Yang penting kau rasakan ketulusanku. Aku membutuhkanmu menata hidupku. Seluruh hidupku kupercayakan padamu." ujar Bara diplomatis.
"Semoga gitu adanya. Hari Minggu nanti kita ajak pergi piknik yok! Aku akan ajak Rangga dan Agra."
"Mau ke mana? Terserah kamu! Aku ikut saja."
"Kita diskusi sama papa dan mama."
"Ok..." sahut Sania riang. Bertahun bekerja sama Bobby tak kenal kata istirahat membuat Sania tak ubah seperti robot pencipta uang. Jatuh ke tangan Bara kerja juga jadi prioritas utama. Sania kerja keras untuk membantu Bara memajukan perusahaan. Langkah demi langkah Sania lalui antar Bara mencari kata sukses. Sania sudah buka jalan buat lakinya, tinggal bagaimana Bara jaga jalan itu tetap lancar bebas hambatan.
Azan magrib tiba memanggil seluruh umat muslim luangkan waktu menunaikan tugas sebagai muslim sejati. Sania dan Bara tak mau ketinggalan segera berwudhu sholat perpindahan waktu dari siang jemput malam.
Keduanya sholat dengan khusyuk mencari pahala memohon ampunan dosa yang terjadi secara sengaja maupun tak sengaja. Seribu kata maaf diturunkan selama insan Allah menyadari kesalahan berjanji akan taubat.
Seusai sholat sepasang suami isteri itu turun ke bawah bergabung dengan anggota keluarga lain. Waktunya makan malam. Bu Jaya sudah masak makanan lezat untuk Sania. Aneka masakan daging dan ikan tersedia di meja makan. Untuk sayuran cuma ada gado-gado dan cap cay seafood. Mungkin itu yang bisa Sania jadikan lauk. Sania kurang suka daging merah yang akan datangkan banyak penyakit. Sania menganut pola hidup sehat tak konsumsi daging merah.
Bara yang mulai paham Sania tahu aneka jenis masakan mamanya tak sesuai selera sang menantu namun Bara juga tak mau kecewakan niat baik sang mama.
Pak Jaya dan Fadil sudah duluan hadir di meja makan. Bu Jaya masih sibuk atur hidangan di meja agar makin mengundang selera makan hadirin.
__ADS_1
"Ma...sudah cukup! Sania diet ketat tak banyak makan. Maklumlah wanita masa kini tak boleh ada lemak lebih." Bara berusaha bijak tak mau Bu Jaya kecewa.
"Makan yang banyak nak! Tak baik diet. Gemuk dikit juga tak apa. Bara suka gadis sehat dan gemuk." ujar Bu Jaya menyendok semur daging ke piring Sania.
Sania hanya tersenyum tak menolak. Membantah perkataan orang tua tak ada dalan ajaran agama. Sania berusaha hindari jadi pembangkang walau harus bertentangan dengan prinsip hidupnya.
Bara meringis memahami situasi yang sedang dihadapi Sania. Menolak tak bisa, menerima jadi bala. Kini lihat bagaimana Sania sikapi hal ini menjadi makan malam penuh makna.
"Wah...ini apa namanya? Mirip salad tapi bumbunya kacang." Sania menunjuk gado-gado di atas meja dekat Fadil.
"Waduh...baru hari ini ada orang tak tahu namanya gado-gado. Kamu ini asalnya dari mana sih?" Fadil menyodorkan campuran aneka sayuran ditambah telor dan kerupuk.
Sania perhatikan campuran sayuran diberi siraman bumbu kacang. Jujur baru kali ini Sania melihat ada makanan campuran begini. Biasa dia makan campuran sayuran dan buahan diberi minyak wijen dan saos tomat. Kadang diberi mayonaise. Sania sudah lama tinggal di luar negeri. Pola makan terbawa ke arah barat yang lebih utamakan gandum dari pada nasi.
"Aku baru lihat hari ini. Boleh kucoba?" Sania tertarik untuk cicipi makanan mirip salad namun kuahnya kacang. Kalau dipikir-pikir Sania termasuk norak. Makanan khas Indonesia di kenal seluruh lapisan masyarakat tua muda. Sania seumur gini baru lihat kali ini.
"Ayo makan yang banyak! Rasanya segar kok!" Pak Jaya persilahkan Sania mencoba gado-gado hasil olahan mama mertua.
Pak Jaya ingin sekali bertanya masa kecil Sania dihabiskan di mana? Mengapa gado-gado tak masuk dalam daftar menu wanita muda ini. Siapa sesungguhnya wanita ini.
Sania mengunyah campuran sayuran berbumbu kacang dengan mata terbelalak. Rasanya sungguh luar biasa. Ada rasa manis dan pedas diakhiri rasa asam walau tak kentara. Jauh lebih enak dari salad mayonaise. Bu Jaya tersenyum senang lihat reaksi Sania terhadap makanan yang baru pertama dia rasakan.
"Wah...enak banget! Tiap hari makan juga tak bosan."
"Selain gado-gado ada yang namanya pecel. Campuran sayuran juga. Pecel tak semanis gado-gado. Besok mama buatkan. Pecel sayuran direbus semua. Gado-gado banyak bahan mentah. Nanti coba mana lebih enak."
"Wah...merepotkan mama! Sania doyan sayuran. Kurang suka daging." Sania punya kesempatan ungkap isi hati tentang selera makannya. Tepat waktu tak sakiti hati mertua.
"Menantu keturunan kambing. Aku mau kok jadi penggembala kambing imut macam mantu mama ini. Aku siap urus kambing cantik ini." Fadil mulai lagi lancarkan serangan rayuan gombal.
"Fadil...jaga mulut! Mau kujahit ya!" omel Bara tak suka Fadil merayu bini mudanya.
"Dirayu dikit takkan rusak kok! Kakak ipar juga senang dirayu. Dari mana hidup dalam kesunyian di Antartika. Dingin membeku." Ucap Fadil santai sambil kunyah nasi di mulut.
"Makan jangan ribut!" lerai Bu Jaya masih senang lihat Sania masih antusias sama gado-gado Made in Indonesia. Halal maknyus di mulut.
"Oya...saya dan Sania rencana piknik keluarga. Apa pendapat papa dan mama?" tanya Bara teringat usul Sania adakan piknik keluarga yang hampir tak pernah terjadi di keluarga.
"Rencana kapan?" tanya Bu Jaya tertarik.
"Besok..."
"Gimana kalau Minggu depan? Papa harus siapkan kantor kalian dalam minggu ini. Papa mau Senin ini kalian sudah pindah." jawab Pak Jaya masih utamakan pekerjaan.
"Senin belum bisa. Masih banyak berkas belum bisa dipindahkan."
"Rencana papa besok kalian mulai kumpul berkas penting. Minggu kita pindahan. Komputer dipindah sekalian. Tidak dibawa juga boleh. Setiap meja sudah papa siapkan perangkat komputer cuma papa pikir mungkin karyawanmu lebih nyaman pakai perangkat sendiri maka papa usulkan dibawa."
__ADS_1
"Tapi Sania ingin kita berkumpul Minggu ini." protes Bara takut Sania kecewa. Sania menyentuh tangan Bara agar jangan terus membantah. Niat Pak Jaya memang baik ingin melihat kantor anaknya lebih baik dari sebelumnya.
"Papa maklumi niat nak Sania ingin keluarga kita makin kompak. Kita utamakan tugas dulu. Setelah itu berpesta."