
Sania bukan menuntut Bara harus nafkahi dia. Namun dalam agama seorang suami wajib nafkahi isteri lahir batin. Bara jauh dari sosok suami sah. Sania isteri di bibir saja. Haruskah Sania menuntut Bara melakukan tugas suami atau tetap bungkam sampai Bara sadar.
Mungkin di saat Bara sadar Sania sudah duluan kabur bawa janin di perut. Tak sulit bagi Sania menghilang dari edaran hidup Bara. Kalau Sania pergi tak seorangpun bisa mencarinya selain Sania muncul sendiri.
Azan subuh berkumandang melarutkan keheningan pagi dini. Sania melepaskan pandangan keluar jendela menantang kegelapan di pagi hari. Di ufuk timur lamat-lamat terbit sedikit cahaya mentari. Sang mentari masih malu-malu kucing menampakkan diri. Belum tiba masa dia perlihatkan sinar yang jadi sumber kehidupan insan di dunia.
Sania membuang semua tayangan buruk yang baru bermain di otaknya. Sekarang fokus ke proyek biar cepat kelar. Sebagai isteri tugas Sania pagi ini bangunkan suami ibadah. Sholat Subuh.
Langkah kecil Sania berhenti di pinggir ranjang Bara. Tangan mungil Sania mengelus pipi kasar Bara. Jarum-jarum halus terasa menusuk telapak tangan Sania. Kumis dan jenggot Bara baru tumbuh seperti ratusan jarum pendek.
"Lieve...bangun! Sholat..."
"Hhhmmm.." suara bantal Bara terdengar berat. Mata laki itu masih merem tak berniat menatap wajah cantik di depannya.
"Dasar pemalas. Kutinggal kabur baru nyaho!" omel Sania tak peduli pada Bara suami
"Kabur ke mana? Suamimu di sini!" Bara menyahut sambil menguap besar.
Tak ada sahutan selain suara air di kamar mandi. Bara menduga Sania sedang ambil air wudhu untuk sholat. Yang satu ini Bara puji ketaatan Sania terhadap agama. Sania selalu menyempatkan diri mendirikan sholat di manapun kecuali sedang halangan. Ini patut jadi contoh teladan bagi wanita lain.
Sania keluar dari kamar mandi dalam kondisi bersih. Bara tak mau kehilangan waktu sholat bersama isteri tercinta. Salah satu tugas suami adalah menjadi imam bagi isteri. Imam yang pantas dihargai.
Beberapa menit kemudian keduanya khusyuk laksanakan sholat diakhiri cium tangan Bara oleh Sania. Bara mengelus wanita muda di depannya terharu pada ketaatan Sania sebagai isteri. Wanita inilah telah mengubah watak Bara. Dari dingin menjadi hangat.
"Terima kasih sudah mau jadi mama dari anak-anak kita." Bara mengecup kepala Sania yang masih terbalut mukena.
"Cuma itu? Bukankah Sania hanya isteri muda simpanan bos Bara?" sindir Sania mulai lancarkan sedikit perang kecil.
"Siapa bilang kamu simpanan? Semua orang tahu kamu bini Bara Jaya."
"Kita menikah tanpa pesta. Hanya ijab kabul tanpa ikatan pernikahan sesungguhnya. Kalau aku melenggang keluar rumah orang mengira aku masih single."
"Single apa? Tuh di perut sudah tersimpan Debay. Kembar lagi!"
"Kamu sudah menikah dan aku tidak." sungut Sania tinggalkan Bara yang tidak peka terhadap perasaan wanita. Di jari Bara masih terpakai cincin nikah dengan Nania sedang di jari Sania kosong melompong. Secara umum Sania belum ada ikatan pernikahan. Tak ada cincin nikah.
"Apa maksudmu sayang? Pagi-pagi main teka teki." Bara ikut bangun sembari melipat sajadah. Kain untuk sholat itu disusun di atas rak khusus untuk simpan peralatan sholat keduanya.
Sania mendengus sedih punya laki tak peka. Pantas dijuluki kulkas lima pintu. Saking beku tak tahu yang namanya kehangatan suami isteri. Kehangatan bukan hanya nyatakan cinta dan bercinta. Ada yang lebih berharga dari sekedar omong kosong. Perhatian. Sania tak keberatan dikasih uang belanja lima puluh ribu sebulan. Bukan nominal uangnya tapi perhatian Bara terhadap kebutuhan bini. Lima puluh ribu beli pembalut paling dapat dua bungkus kecil.
"Pikir sendiri." ketus Sania masuk kamar mandi menutup pintu dengan sedikit keras.
Kepala Bara nyut-nyutan belum kena kopi pagi. Pagi buta Sania berulah lagi. Awal pagi yang buruk. Demit mana usik mood Sania sampai sejudes ibu tiri. Bara duduk di tepi ranjang mengingat semua ocehan pagi Sania. Apa maksud Sania hanya Bara sudah menikah dia belum. Janin sudah tumbuh di perut masih bilang belum nikah. Mimpi apa Sania omong gitu?
Bara pusing hadapi ibu hamil. Ternyata mau jadi bapak tak gampang. Ada tantangan berat harus dilangkahi. Sanggupkah Bara bersabar menuruti semua permintaan dan mood Sania yang sering berubah.
Sikap judes Sania tak mereda sampai di meja sarapan. Muka Sania masih butek kusam tak bercahaya sebagaimana biasa. Bara tak berani bersuara takut salah omong lagi. Bisa-bisa kartu merah tanpa kartu kuning. Langsung ditendang keluar dari lapangan.
__ADS_1
Suasana di meja makan dikit mencekam. Masing-masing takut salah omong mengingat ada orang lagi sensi. Sekata keluar dari bibir efeknya bisa ledakkan otak Bara.
Bu Jaya bisa membaca situasi tak kondusif. Tak usah diceritain Bu Jaya tahu Bara telah melakukan kesalahan. Tapi Bu Jaya hanya bisa berakting tak ada apa-apa.
"Sania mau mama bikinkan pecel?" pancing Bu Jaya coba bangkitkan semangat Sania.
"Pecel ya? Tapi Sania ingin udang goreng tepung dan sate kambing."
Bara merasa kupingnya salah dengar. Sania anti daging minta sate kambing?Logika dari mana selera ibu hamil melenceng jauh dari sifat asli.
"Oh...ok..udang goreng tepung dan sate kambing. Nanti mama masak." Bu Jaya tak kalah surprise selera baru Sania. Dari pencinta vegetarian lari ke daging merah.
"Terima kasih...mama the best!"
"Jadi cek up hari ini?"
"Ngak tahu ma...Lieve mungkin sibuk." ujar Sania asal bunyi.
Bara ingin bantah namun diberi kode oleh Bu Jaya agar diam. Sifat Sania berubah sedikit sah sah saja selama hamil. Selera saja berubah total apa lagi tingkah. Selama tak merugikan Bu Jaya masih bisa toleransi.
"Sania...Bara kan sudah janjian sama dokter cek up hari ini. Sesibuk apa tetap harus pergi." Bu Jaya berkata mengubur kekesalan Bara. Kapan Bara bilang sibuk hari ini. Bara sengaja kosongkan jadwal pagi ini demi ajak Sania cek up. Sania berbalik tuduh Bara sibuk.
Punya bini hamil bukan menyenangkan tapi menyusahkan. Untunglah Bara sekali cetak dapat dua. Untuk selanjutnya Bara memilih cukup dua anak saja. Ikut program pemerintah cukup dua anak. Ternyata pemerintah memahami penderitaan bapak-bapak Punya bini hamil maka keluarkan kebijakkan dua anak supaya tak menyiksa bapak-bapak.
Itu akal melenceng Bara. Program dua anak cukup untuk menjaga populasi penduduk agar jangan meledak dan menjaga kesejahteraan masyarakat tak terbeban lusinan anak. Mitos banyak anak banyak rezeki sudah usang. Di jaman serba sulit gini banyak anak banyak bencana.
"Iya Lieve..." sahut Sania pendek ketus.
Semalam Sania salah makan apa? Pagi ini kok sangat merepotkan.
"Setelah dari rumah sakit kita langsung ke kantor ya! Kita rapat sekaligus bagi tugas di antara pegawai. Besok Roy ikut maka penanggung jawab kantor tak ada."
"Lieve boleh tak ikut. Biar aku pergi dengan Roy. Ajak Sekar!"
"Mana boleh gitu! Aku harus terjun lapangan juga dengar penjelasan mu. Tak mungkin Lieve buta soal proyek ini."
"Terserah! Alat berat sudah di sana."
Bara terhenyak kaget dengar Sania sudah kirim alat berat ke sana. Mengapa Sania tak cerita sudah bergerak memulai proyek. Di mana nilai Bara selaku pemimpin kalau alat berat sudah lengkap dia tahu menahu. Seberapa arogan Sania menangani proyek? Bergerak seperti siluman. Tahu-tahu dapat kabar alat berat sudah di sana.
"San...alat berat dari mana kau sewa? Kenapa tidak diskusi sama Lieve?" Bara tersinggung ketinggalan berita penting.
"Kupinjam dari PT. SHINY. Kita cukup bayar harga sewa dipotong dari uang proyek kita. Uang dari PT. SHINY akan masuk ke rekening kita setelah kita balik dari pulau B. Jujur uang segitu banyak harus jadi tanggung jawab kita berdua. Satu sen kita keluarkan harus ada hitam putih. Jangan karena dengar nominal banyak kita hamburkan. Terutama untuk pengeluaran tak penting di luar proyek. Dana ini harus cover semua pengeluaran proyek." Sania tunjukkan tangan besi tak ijinkan Bara pegang uang proyek sendirian. Sania belum sepenuhnya percaya pada Bara.
"Aku tak ngerti maksudmu sayang?"
"Sederhana... untuk cairkan uang ini harus ada ijinku. Lieve tak bisa cairkan uang tanpa tanda tanganku. Begitu juga sebaliknya. Ini demi kelangsungan proyek kita."
__ADS_1
Semua terdiam dengar cara Sania urus masalah keuangan Mega proyek ini. Tampak sekali Sania tak percaya pada Bara kelola keuangan proyek PT. SHINY. Dari segi mana Sania curiga Bara akan main belakang. Ini proyek menyangkut harga diri Bara. Jauh dari kemungkinan Bara akan hambur uang ke tempat lain.
"Sayang...kau terapkan sistim militer pada Lieve?"
"Bukan...mungkin Lieve lupa berapa banyak Kintan akan muncul minta bantuan Lieve? Aku harus jaga proyek besar ini sampai tuntas."
Pak Jaya dan Bu Jaya paham tujuan Sania memegang uang proyek. Wanita ini takut Bara gunakan uang ini untuk beri bantuan pada teman lama yang jual nama seseorang demi capai maksud tujuan. Dengar uang triliunan semua mata berubah ijo.
"San...Lievemu bukan orang bodoh! Terserah kamu gimana bagusnya. Ayok cepat sarapan jangan terjebak macet!" Bara menyerah dengan hati tak puas. Perpanjang masalah hanya perpanjang kekesalan hati. Ibu hamil selalu benar.
"Maksud nak Sania itu bagus Bara. Kalian berdua bisa kerja sama selesaikan proyek ini. Dana ini sangat besar maka harus hati-hati kita jaga. Dan kau Bara...sudah cukup kau main-main dengan perempuan tak benar. Sekarang kau papa dari sepasang anak kembar. Jaga hati dan sikap." nasehat Pak Jaya mendukung cara Sania mengawal dana lumayan besar. Salah sedikit semua akan hancur musnahkan apa yang sudah terbangun..
"Bara ngerti..." Bara terpojok tak bisa berkutik mengingat masa lalu dia gampang terprovokasi membantu teman dalam kesusahan. Hasilnya dia jatuh nyaris tenggelam. Untunglah jumpa Sania bangkitkan kepercayaan Bara. Jasa Sania dalam hidup Bara tak dapat dihitung dengan jari.
"Bagus...cepat bersiap berangkat! Hari ini hari Senin..Macet di mana-mana."
Sania bangkit dari meja makan hendak naik ke lantai atas berbenah untuk berangkat ke kantor. Sebelumnya Sania dan Bara harus ke rumah sakit dulu cek ulang kondisi Debay dalam perut Sania. Bara ingin memastikan kondisi Sania bisa diajak pergi jauh.
Sania tampak manis memakai terusan warna biru bersih. Warna terang cerahkan mendung di hati Bara. Hati Bara sedikit terobati oleh penampilan rapi Sania. Cantik tanpa ekspos bahasa tubuh.
Bara berpakaian rapi layak seorang bos sejati. Setelan jas warna biru dongker di padu celana warna senada. Pakaian keduanya cukup serasi. Orang yang melihat langsung tebak mereka memang pasangan suami isteri.
Keduanya berangkat menuju ke rumah sakit di mana Bara sudah buat janji cek up kandungan Sania. Dulu Bara sering keluar masuk rumah sakit ini antar Nania kemoterapi ataupun tiba-tiba Nania drop. Para perawat yang bertugas hampir semua mengenal Bara pelanggan tetap rumah sakit. Semua berakhir sejak Nania meninggal.
Bara kembali ke rumah sakit ini sebagai calon papa anak kembar. Tak ada ******* sedih Bara dan tatapan iba dari perawat lagi. Film telah ganti. Bara datang dengan wajah segar memantau kesehatan calon ibu anak-anak seta pertumbuhan janin Sania.
Bara dan Sania diiring ke ruang praktek dokter Obgyn untuk memastikan pertumbuhan janin Sania. Beberapa ibu hamil ikut antri di ruang khusus ibu hamil. Sania bergidik melihat perut buncit para ibu hamil. Terlalu besar seperti busung lapar. Apa dirinya akan seperi ibu-ibu itu?
"Kenapa sayang?" Bara perhatikan Sania tampak gelisah berada di antara ibu-ibu hamil.
"Apa kelak aku sejelek mereka?" tanya Sania berbisik di kuping Bara.
"Siapa bilang jelek? Sexy malah..." Bara mengecup kening Sania.
"Kok aku merasa seperti sapi bunting? Serba gede!"
"Itu wajar bagi ibu hamil. Setelah melahirkan semua kembali normal. Semua ibu muda harus lalui tahap ini. Kodrat wanita harus melakukan tugas mulia beri penerus pada keluarga. Kau dan para ibu hamil terpilih jadi pembawa berkah bagi suami. Di luar sana banyak pasangan tak dapat keturunan. Maka itu kita harus bersyukur dapat kepercayaan." Bara mengurai panjang lebar agar Sania tak takut perubahan fisik kelak. Sania tak boleh terlalu memikirkan keburukan jadi ibu hamil.
"Lieve benar...kita harus bersyukur!"
"Gitu dong! Ayo senyum biar anak kita cakep! Jangan manyun terusan!"
"Lieve menjengkelkan sih! Ngak peka!" sungut Sania mewek.
"Ayo katakan apa salah Lieve! Kau tak cerita bagaimana Lieve tahu di mana salah Lieve? Lieve manusia biasa. Tak luput dari khilaf dan dosa."
"Lieve pelupa atau pura-pura lupa punya bini harus di nafkahi?"
__ADS_1
"Ya Allah...Lieve benar-benar lupa beri nafkah buat sayang! Maaf...maafin Lieve!" Bara menepuk jidat melupakan tugas utama sebagai suami. Berbulan nikahi Sania tapi tak pernah ngasih duit satu senpun. Sania terlalu perkasa buat Bara tersisih tak ingat punya kewajiban beri uang belanja pada Sania. Padahal Bu Jaya pernah ingatkan Bara ngasih uang belanja pada Sania. Mengapa Bara teledor lupakan tugas penting itu.