
Sania keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Bara menatap Sania dengan tatapan putus asa. Ada rasa kesal merajai hati namun terselip rasa bangga. Tak disangka macan kecilnya mampu lindungi diri dari terkaman pemangsa lebih kuat.
Sania lewati Bara sedikit grogi masih malu hadapi lelaki yang berstatus suaminya. Sehebat bagaimanapun Sania dia tetap anak gadis umum punya rasa malu pertama kali telanjang ria di depan laki. Walau laki itu suaminya.
Wanita-wanita penghamba materi mana kenal kata malu. Kulit muka mereka setebal kulit badak. Lempar kolor sama gampangnya lempar sampah. Moral setipis kertas pembungkus nasi.
"Mau pergi kantor?" tanya Bara lihat Sania berganti pakaian agak resmi. Mata Bara tak luput dari body aduhai Sania yang sempat dia sentuh. Bara masih menyimpan gairah ingin melahap Sania sampai habis. Tapi apa daya. Tukang kacau selalu ganggu niat baik Bara.
"Iya...aku harus selesaikan sketsa bank Pak Zainal secepatnya. Ditambah sketsa Dr.Cipto." sahut Sania mengeringkan rambut pakai handuk.
"Mau ke kantor dengan rambut basah?"
"Ini mau kukeringkan. Aku tak lihat hair dryer di sini?"
"Aku tak pernah pakai alat itu. Di rumah ada punyaan Nania."
"Jauh amat ambilnya. Sudahlah! Biar kering sendiri." Sania menyisir rambutnya yang basah. Bara tersenyum geli bayangkan Sania keluar kamar dengan rambut basah. Apa yang terlintas di benak orang yang lihat. Tentu saja bayangkan suatu adegan mesra antara suami isteri.
"Mau lapor kalau kau sudah jinak pada suami?" olok Bara menggoda gadis muda yang perlahan menempati kisi hati.
Sania mendelik perlihatkan mata cemerlangnya pelototi mulut bocor sang suami. Sudah tua tapi sok anak muda. Tak mempan diarahkan pada gadis bermental baja macam Sania.
"Emang aku kuda pake jinak segala?"
"Bukan kuda tapi macan kecil. Aku mulai ngerti cara kendalikan macan kecil macam kamu. Harus lembut."
"Kecil juga macan. Awas suatu saat kau diterkam! Aku mau ke kantor. Lieve di rumah saja. Jangan terima tamu orang berpakaian setengah meter kainnya." sungut Sania masih teringat bagaimana gencarnya Arsy mengejar cinta Bara.
Kelihatannya nyalaan api cinta antara Arsy dan Bara belum padam tuntas. Masih tersisa percikan api kecil. Bara belum bisa hapus nama Arsy dari memori di otak.
"Kenapa bawa orang dalam hidup kita? Percayalah! Arsy hanya masa lalu."
Sania menoleh balik badan hadap Bara. Sania sodorkan badan dekat Bara dengan tatapan dingin. Tanpa menyebut nama Bara sudah tahu siapa dimaksud. Artinya memang nama itu masih terukir di hati Bara.
"Makan tuh Arsymu!" ketus Sania dingin.
Bara segera memegang bahu Sania dengan kedua tangan. Bara tak mau Sania asyik pikir antara dia dan Arsy masih ada hubungan. Bara tak mau terjebak masa lalu. Kini dia punya berlian lebih berkilau untuk apa kerikil yang bikin langkah tersandung.
"Sania...dengar! Arsy atau siapa yang pernah ada dalam hidupku di masa lalu takkan kuijinkan ganggu kebahagiaan kita. Aku ingin mulai hidup baru bersamamu. Melupakan segala kepahitan. Gandeng lah aku mencari cahaya terang! Aku yakin kau bisa."
Sania mengangkat kepala menatap bola mata Bara cari kejujuran. Kepala Bara jauh lebih tinggi menyulitkan Sania melihat ketulusan Bara.
Bara tahu kesulitan Sania langsung angkat tubuh Sania lebih tinggi agar sejajar dengan wajahnya. Kini kedua pasang saling bertautan. Bara tak berkedip biarkan Sania rasakan ketulusan yang terbit dari dasar hati terdalam. Bara mau Sania tahu dia benar ingin bangun keluarga sakinah bersama gadis ini.
Sania kalah tak sanggup menantang bola mata Bara. Tatapan tajam Bara mengalahkan pamor Sania. Akhirnya Sania menunduk tak bisa lanjutkan acara tatap menatap.
Bara jadi gemas tak bisa kontrol diri melihat bibir ceri persis di depan bibirnya. Tak pelak Bara curi start caplok bibir mungil itu. Pertama Sania menutup bibir rapat-rapat tak ijinkan Bara jelajahi bibir mungilnya.
Maestro macam Bara mana mungkin kalah sama macan lugu yang berada dalam pelukan. Bara memaksa Sania buka bibir dengan gigitan lembut di ujung bibir. Sania tak kuasa melawan kelembutan Bara memilih nikmati ciuman paksaan Bara.
Keduanya berciuman dalam tempo panjang sampai Sania tak bisa bernafas. Bara melepaskan bibirnya dari bibir Sania sambil tersenyum kecil.
"Bibirmu manis!" desis Bara menahan gairah tersisa pagi tadi.
Sania menunduk malu menyembunyikan kepala ke dada bidang Bara. Bara tahu macan kecilnya sudah tak punya daya melawan pesona laki sendiri.
__ADS_1
Tanpa buang waktu Bara angkat Sania ke tempat tidur. Bara tak mau pikir kantor dan gedoran pintu kamar lagi. Diketok sampai pintu jebol Bara janji takkan buka. Dia harus tuntaskan ritual yang sudah berkali tertunda. Sekarang atau tidak sama sekali.
Harum lembut parfum Sania bikin otak Bara makin tak waras. Persetan dengan semua masalah. Kini waktunya perlihatkan betapa gagahnya Bara sebagai suami.
Pakaian keduanya melayang sana sini kayak sampah dicampakkan ke lantai. Bara hanya ingin cepat dapatkan halnya sebagai suami. Tubuh Sania yang penuh bercak merah kini bertambah lagi. Bara iringi Sania mendapatkan rasa indah menjadi miliknya. Sania gadis muda tak berpengalaman butuh tutor handal untuk menuju puncak asmara.
Sania melayang-layang di awang kenikmatan digandeng Bara. Sania tak malu mendesah lagi. Setiap sentuhan Bara bak sengatan listrik setrum badan Sania. Sania tak sabar ingin rasakan seutuhnya jadi wanita Bara.
"Kau indah sayang. Aku lakukan ya!" Bara minta ijin melakukan hal terpenting dalam hidup Sania. Sekali Bara maju maka mahkota Sania akan runtuh.
Sania mangut. Bara mengecup kening Sania selembut mungkin sebelum mendorong senjata pamungkas menuju ke liang kenikmatan Sania.
"Sakit Lieve..." ujar Sania tatkala senjata rudal balistik Bara meluncur ke sasaran.
"Sebentar saja! Sabar sayang." Bara tak ragu lanjutkan walau Sania mengeluh. Tetap harus ada yang pertama. Bara bersyukur terpilih jadi yang pertama.
Perlahan rasa nyeri berubah jadi rasa nikmat. Tanpa sadar Sania melenguh nikmat memompa semangat Bara selesaikan tugas seorang suami sampai tuntas.
Bara menemukan sensasi baru melakukan percintaan dengan Sania. Baru kali ini Bara rasakan liang bersegel. Bara unboxing milik Sania yang masih terbungkus rapi.
Sungguh berbeda bercinta dengan gadis perawan. Melelahkan namun mendatang kepuasan dan rasa bangga. Jutaan bibit ****** Bara tuangkan ke rahim Sania dengan harapan tercipta generasi baru untuk keluarga Jaya.
Bara mengecup bibir Sania setelah ritual penting berakhir dengan kepuasan dalam diri masing-masing.
"Terima kasih sayang. Aku jadi yang pertama dan terakhir untukmu." Bara mengelus pipi bininya penuh syukur.
Sania malu-malu kucing tak berani menatap wajah laki yang baru merenggut mahkota kebanggaannya. Sekarang Sania baru merasa malu barusan tadi mendesah manja pada Bara. Sania seperti wanita tak tahu malu mendesah nikmat pada permainan Bara. Sania akui kehebatan Bara taklukkan dia yang selalu tak ingin bercinta. Sania kalah pada komitmen sendiri. Pesona Bara terlalu kuat dilawan.
"Kenapa malu? Sekarang tak ada rahasia antara kita. Aku sayang padamu. Kita jangan saling tutupi apapun masalah. Persoalan apapun kita hadapi sama-sama. Ok?"
"Sekarang kau mau tidur lagi atau mandi?"
"Mandi lagi?" Sania teringat dia baru saja mandi wajib satu jam lalu. Kini harus ulang mandi gara-gara keisengan Bara. Iseng tapi berbuah hasil luar biasa. Sania dan Bara berhasil menyatukan dua visi berbeda jadi satu hati.
"Kau tak mandi? Biar kumandikan." olok Bara sambil mengedipkan mata.
Sania mendorong wajah mesum Bara menjauh dari wajahnya. Sania takut gairah Bara muncul lagi susun serangan baru merusak niat Sania untuk ke kantor. Percintaan tak boleh ganggu jadwal kerja yang sudah Sania rangkai dari semalam.
Sania segera bangkit namun tertahan karena ada rasa ngilu menjalar di bawah. Tak sakit namun cukup ganggu.
Bara perhatikan Sania seksama ikut merasakan rasa perih setelah bercinta sama Bara. Bara sendiri agak susah tembus liang kenikmatan Sania, ada rasa ngilu di batang rudalnya. Tapi itu pengalaman baru bagi Bara. Rasakan barang ORI tetap lebih nikmat dari pada dapat barang kw dua yang terjun bebas.
Tanpa banyak omong Bara membopong isterinya masuk kamar mandi. Keduanya tak ubah anak kecil tanpa dosa telanjang bulat berpelukan menuju ke arah kamar mandi.
Bara dan Sania mandi bersama diselingi kecupan ringan dan canda manja. Bara tak habis-habisnya kagum pada kesintalan tubuh Sania. Tubuh mungil namun semua proposional menggoda iman. Bara tak perlu berkhayal bayangkan tubuh mungil itu lagi. Dia sudah miliki tubuh itu seutuhnya.
Setelah mandi Sania berpakaian secepatnya untuk kejar waktu. Sania menepis rasa tak nyaman di bawah perut. Sania tak boleh manja. Mau enak tapi tak mau berkorban. Itu bukan gaya Sania.
Bara santai tak berniat ke manapun karena masih dalam suasana berkabung. Bara hanya perhatikan bini kecilnya berdandan ala kadar tapi tetap menggoda mata para laki. Untunglah Sania bukan wanita suka umbar tubuh dengan pakaian sexy. Pakaian Sania termasuk pakaian sopan tak perlihatkan aurat walau tak berhijab.
Bara tak menuntut Sania harus tampil tertutup layak muslim sejati. Cukup Sania tahu diri tak berpakaian kain setengah meter. Bara tak ragukan akhlak Sania. Sejauh ini Sania melangkah belum tergelincir menjadi hamba nafsu liar. Sania menyerahkan diri pada pemilik sah.
"Aku pergi ya Lieveku!" Sania sengaja tambahkan kata ku untuk menyenangkan laki yang baru habiskan waktu indah bersamanya.
"Jangan kelewat capek! Aku menunggumu pulang."
__ADS_1
"Ya Lieve." Sania putar badan hampiri Bara ulurkan tangan. Bara menyambut tangan Sania lalu Sania raih tangan suaminya tempelkan di jidat.
Hati Bara bagai tersiram air dari surga. Hari ini adalah hari penuh berkah. Bara merasa menjadi kepala rumah tangga dalam arti sebenarnya. Isteri cantik dan saleha. Inilah nikmat dari Allah untuk insan berhati bersih.
Kini tinggal bagaimana Bara arahkan bahtera ke mana lajunya. Sebagai kapten Bara harus punya prinsip kuat kemudikan bahtera agar jangan karam diterpa badai cobaan. Sekali Bara salah arah bahtera pasti kandas.
"Hati-hati nyetir! Ingat masih ada yang nunggu di rumah." Bara ingatkan Sania.
Sania melangkah ke arah pintu hendak pergi. Namun tiba-tiba Sania hentikan langkah ingat sesuatu. Bara heran mengapa Sania ragu pergi. Masih pingin dipeluk atau ada yang tertinggal.
"Sprei Lieve..." kata Sania ingat bekas noda di sprei. Sania malu kalau seisi rumah sempat tahu dia baru saja kehilangan gelar perawan.
Bara menyibak selimut mencari apa yang dimaksud Sania. Di atas sprei warna abu tercetak noda merah muda. Itulah bukti Bara telah tunjukkan keperkasaan membobol liang nikmat Sania.
Bara tersenyum menyentuh sprei yang masih sedikit basah, "Tak apa. Akan kuurus."
"Tapi..." Sania bersikap ragu tak percaya Bara bisa mengurus sprei tanpa ketahuan seisi rumah.
"Tenang...aku akan rendam sendiri. Demi isteri kecilku apapun kulakukan."
"Janji?"
Bara angkat tangan janji akan tepat janji. Sania menarik nafas lega segera keluar pergi ke kantor. Sebenarnya Sania ingin istirahat pulihkan tenaga yang terkuras layani badak liar. Tapi tugas segudang larang Sania bermanja-manja.
Sania meluncur ke kantor sementara Bara masih tak percaya di usia gini masih bisa dapatkan gadis bernilai plus. Nania sungguh baik hati memberinya wanita pilihan. Mungkin inilah balasan Nania pada segala pengorbanan Bara pada wanita itu. Nania mengantar sebutir berlian berkarat tinggi ke hadapan Bara untuk pancarkan kemilau jalan Bara.
Pintu kamar Bara diketok dari luar. Kini Bara tak jengkel lagi karena sudah tuntas hasrat di hati.
"Masuk!" ujar Bara tegas.
Seraut wajah welas muncul dari balik pintu dengan sedikit ragu.
"Bara? Kamu ok?" tanya Bu Jaya takut ganggu anaknya lagi.
"Mama...masuk! Sini!" Bara menepuk kasur mahal minta mamanya duduk di samping.
Rona wajah Bara demikian cerah tanda aman. Wanita paro baya ini selidiki apa yang bikin mood anaknya berubah baik. Tadi pagi masih pasang wajah monster. Sekarang senyum sendiri mirip orang sinting.
"Sania sudah pergi kerja cuma makan sepotong roti. Semalam makan sepotong roti, pagi juga roti. Mana ada gizinya?" omel sang mama ingat Sania pergi terburu-buru.
"Dia sedang kejar target. Mama minta pembantu ganti sprei aku. Ini kotor." Bara sengaja perlihatkan bekas jejak merah jambu di sprei. Bara ingin kasih tahu mamanya kalau bininya adalah gadis perawan.
Bu Jaya belalakkan mata tak sangka Bara telah tunaikan kewajiban sebagai suami. Ada rasa haru menyelimuti hati Bu Jaya. Anaknya telah mendapat yang terbaik. Badai telah berlalu. Habis gelap terbitlah terang kata Ibu Kartini.
"Kau gila...kenapa kau ijinkan Sania kerja? Dia pasti sedang tak nyaman." Bu Jaya menjewer kuping Bara secara mendadak. Bara tak sempat mengelak hanya bisa pasrah dapat hukuman dari sang mama.
"Aduh ma! Dia yang mau pergi kerja. Kalau kularang bisa hilang jatah nanti malam."
"Dasar anak bodoh! Sania mana berani minta libur. Kamu yang harus jaga dia. Sudah pergi ke bawah biar mama yang urus spreimu."
"Ma...jangan ungkit masalah ini ya! Sania malu kalau ketahuan hubungan denganku."
"Kenapa malu? Kau toh suaminya! Ditiduri sejuta kali juga halal."
"What? Sejuta kali? Banyak amat."
__ADS_1