MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Lahiran


__ADS_3

"Anakmu ramai? Kembar ya?" tanya Ranti bersemangat.


"Iya...kembar tiga."


"Wow...hebat! Kamu harus jaga kesehatan. Penuhi gizi anak-anak agar tumbuh sehat. Aku akan jadi Tante dari tiga bayi sekaligus. Amazing..."


Sania tersenyum tipis melihat Ranti semangat menyambut anak-anaknya. Tidak salah ijinkan Ranti akui diri sendiri Tante dari anak-anaknya. Untuk saat ini hati Sania terasa lega. Ntah kenapa ada rasa hangat mengalir di tubuh setelah ngobrol sebentar dengan Ranti soal anak. Harusnya rasa itu tak berhenti sampai situ. Semoga berlanjut tak ada limit waktu.


Rangga dan Bara saling lempar senyum lega. Sedikit demi sedikit Sania akan menerima Ranti terlepas dari masa lalu kelam mereka. Semoga kakak beradik itu bisa saling menerima lupakan kejadian buruk di masa lampau.


Semoga cahaya terang bersinar di hati masing-masing. Kekelaman tak perlu hadir di antara mereka. Ranti sudah petik buah karma atas kesalahan masa lalu. Semoga matanya terbuka pilih jalan benar untuk lanjutkan hidup.


Lima bulan kemudian.


Bara mondar mandir di depan kamar operasi bak seterika rusak. Pak Jaya, Bu Jaya, Lisa dan Rangga sangat terganggu oleh tingkah Bara grasa grusu tak tenang. Mereka semua sedang menanti Sania melahirkan lewat operasi Caesar. Anak Sania memang belum penuh sembilan bulan namun dokter sarankan operasi secepatnya karena kondisi kandungan Sania tak bisa menanti. Kandungan Sania terlalu besar berisi tiga janin. Terlalu besar resiko kalau harus tunggu sampai penuh sembilan bulan. Maka itu delapan bulan lebih dioperasi keluarkan para bayi-bayi itu.


"Bara...duduk nak! Kamu kayak gitu bikin hati mama ngilu." hardik Bu Jaya mulai tak sabar melihat kelakuan putranya mirip orang hilang akal.


"Aduh ma....Sania gimana? Kok tak ada suara sih? Dokternya ketiduran kali." gerutu Bara disambut tawa ejek Rangga. Lisa tersenyum simpul melihat Bara hilang akal sehat. Maklumlah baru pertama kali jadi seorang bapak.


"Huusss...omong seenaknya! Dokter juga lagi usaha. Duduk dan berdoa saja." Bu Jaya bangkit menarik tangan Bara untuk duduk manis. Bara terpaksa duduk masih tak tenang. Matanya sebentar-sebentar menatap pintu kamar operasi berharap ada laporan dari para media dari dalam.


Ooeekk... ooeekk...ketegangan terpecah oleh jeritan bayi dari ruang operasi. Bu Jaya dan Bara terloncat bangun dari kursi panjang. Suara bayi pertama terdengar seperti suara dari surga memanggil orang tercinta. Bara tak kuasa menahan tangis memeluk mamanya dengan terharu. Akhirnya datang juga malaikat yang dinanti berbulan-bulan.


Dada Bara seakan ingin meledak luapkan rasa bahagia. Bara telah menjadi seorang bapak.


"Selamat ya om Jaya!" Rangga ulurkan tangan menyalami Pak Jaya selaku kakek dari anak Sania. Penerus keluarga Jaya telah lahir.


Ooeekk... ooeekk...suara bayi kedua mengudara. Semua tepuk tangan gembira menyambut anak kedua yang belum jelas jenis kelamin. Sania dan Bara sengaja tak mau lihat jenis kelamin anak mereka biar jadi rahasia Ilahi. Sudah lahir akan ketahuan juga. Biarlah berjalan alami saja.


"Wah...bayi kedua suaranya lebih kencang. Kayak yang kedua ini laki." kata Pak Jaya dengan mata berbinar. Siapa tak bangga jadi tiga cucu sekaligus.


"Cewek cowok tak masalah! Yang penting selamat. Pabriknya masih baru. Masih bisa cetak Bara kecil lain." gurau Rangga ikut bangga. Predikat om telah tersandang di bahu. Kini Rangga om dari dua keponakan yang belum jelas rupanya. Ikut Bara atau Sania tak jadi soal. Kedua orang tua bayi tampangnya rupawan. Anak-anak mereka pasti akan terlahir rupawan juga.


Suara bayi ketiga belum terdengar walau telah lewat beberapa menit. Seharusnya bayi ketiga sudah waktunya menjerit menyusul kedua saudaranya yang duluan lahir.


Rasa was-was kembali melanda seluruh keluarga Sania. Belum pikir yang baik tentu pikir yang buruk. Apa yang paling bontot kondisinya tak sehat atau ada kendala lain? Berbagai amukan pertanyaan bermain di benak tiap orang.


Bara kembali gelisah goyang kedua lutut tak henti. Bu Jaya yang duduk di samping Bara kena imbas goncangan dari ayunan lutut Bara yang goyang tak henti. Bu Jaya mendesah ingin marah tapi terhalang oleh rasa cemas sama.

__ADS_1


"Aduh...kenapa sih belum ada suaranya?" ujar Bara menyugar rambut pakai jari tangan.


"Sabar nak! Dokter kan lagi usaha. Percayalah! Allah itu maha pemurah. Semua kuasa Dia. Kalau milik kita tetap milik kita." Pak Jaya berusaha redakan emosi Bara yang tak stabil.


Nasehat boleh terucap dari mulut sang kakek tapi dalam hati laki tua itu tak kalah panik dari Bara. Andai beliau ikut panik siapa yang akan jadi tiang penyanggah semangat yang lain. Maka itu Pak Jaya sok tegar.


Pintu kamar operasi dibuka. Dokter Maria yang menangani Sania keluar dari ruang operasi masih mengenakan masker dan pakaian khusus operasi. Bara paling duluan hampiri dokter wanita itu.


"Dok...gimana anak isteriku?"


Dokter Maria membuka masker sambil tertawa lebar. Tak usah dijawab semua tahu operasi berjalan sukses. Kalau gagal tak mungkin seorang dokter berani tertawa lebar.


Helaan nafas lega terdengar sana sini. Semua mengucap syukur dalam hati Sania dan bayinya selamat.


"Semua sehat. Sang papa boleh masuk. Dua pangeran dan seorang Puteri. Kami tertawa karena yang paling bungsu di puteri tak nangis malah senyum begitu kami angkat. Anak cantik dan ajaib. Kuakui anak kecil itu bayi paling cantik pernah kutemui. Dia pamer dekik di pipi." ujar dokter Maria masih tertawa lucu ingat bayi Bara yang paling bungsu.


"Terima kasih dok! Aku boleh lihat anak-anak aku?" tanya Bara diliputi rasa bahagia tak terlukiskan. Membayangkan saja dada terasa hangat apa lagi kalau lihat langsung.


"Tentu saja. Ibunya sadar kok! Kan bius lokal. Cuma anak-anak masih harus dibantu di inkubator selama seminggu. Lihat perkembangan kesehatan mereka. Secara umum tak ada masalah. Semua normal." dokter Maria menerangkan dengan sabar. Anak-anak Bara terlahir belum cukup waktu jadi masih perlu observasi kesehatan mereka. Di tambah berat badan mereka juga kurang dari satu setengah kilo maka perlu perawatan intensif.


"Kami akan ikuti nasehat dokter. Permisi..." Bara bergegas masuk ke dalam jenguk Sania dan anaknya. Bara tak sabar ingin segera jumpa penerus trah keluarga Jaya.


"Selamat ya pak Rangga! Anda sudah dapat tiga keponakan." Pak Jaya menyalami Rangga.


"Terima kasih. Bapak juga jadi kakek dari tiga bayi lucu. Semoga mereka tumbuh sehat jadi anak Soleh dan Soleha."


"Amin..."


Rangga mengeluarkan ponsel mengabari Suhada kalau Sania sudah melahirkan. Sebagai kakek Suhada harus tahu bahwa di keluarga mereka telah bertambah generasi baru. Setelah itu Rangga kabari keluarga Pak Bur selaku orang tua angkat Sania. Semua mengucap syukur dapat Rahmat luar biasa.


Lisa lain pula mengabari teman-teman mereka berita baik ini. Sama semua harapan orang yang sayangi Sania. Yaitu bersyukur atas kelahiran anak-anak Bara dan Sania dalam kondisi sehat.


Sania di tempatkan di ruang VVIP atas permintaan Rangga. Sania telah cukup lelah mencari rezeki. Di masa tersulit gini pantas dapat perhatian penuh dari keluarga dan para medis. Rangga tak peduli berapa biaya yang harus dia bayar, yang penting Sania dapat fasilitas terbaik. Rangga takkan mampu bayar jasa Sania padanya. Mengangkat dia dari pinggiran menuju ke puncak tangga. Sekarang Rangga telah tumbuh kuat menjadi pemimpin bijak bagi seluruh karyawan Sunrise. Sunrise telah menjadi perusahaan dipercaya berkat kegigihan Rangga bersihkan nama baik Sunrise.


Sore itu datang Ranti bersama Suhada dan sepasang suami isteri berbusana muslim. Baik laki maupun perempuan kenakan pakaian sopan tertutup aurat. Ranti sendiri telah berhijab menanggalkan pakaian ketat nan sexy yang selama ini jadi trend Ranti.


Sania yang ditemani Bu Jaya paling melihat Ranti berubah seratus delapan puluh derajat. Wajah yang biasa berdandan menor telah hilang berganti wajah welas penuh kesabaran. Sania tak sangka ada orang mampu ubah Ranti di angkuh jadi wanita shalihah.


Lama Sania dan Ranti saling menatap tanpa bersuara. Hanya mata mereka yang bicara. Dari sorot mata Ranti tetap mengharap kata maaf dari adiknya. Sejauh ini Sania belum ucapkan telah maafkan Ranti walau kadang mereka ngobrol.

__ADS_1


"Ayo duduk! Maaf kami tak bisa suguhkan apapun. Maklumlah rumah sakit!" Bu Jaya persilahkan para tamu duduk di sofa. Ruang rawat Sania tak ubah seperti hotel mewah. Semua serba luks sesuai dana yang dibayar.


"Terima kasih! Oya kenalkan ini pengasuh pondok pesantren Nurul Huda. Pak Imron dan ini isterinya Umi Fatima." Ranti perkenalkan pasangan suami isteri yang ikut datang menjenguk Sania.


Kedua pasangan itu merapatkan tangan di dada memberi salam. Dari raut wajah bisa terbaca keduanya adalah orang beriman dan sabar. Senyum mereka tulus tanpa sikap sinis.


"Terima kasih mau datang." Sania ikut rapatkan tangan dari atas tempat tidur. Orang model gitu tak bisa salaman langsung kalau bukan muhrim. Sania sangat tahu agama maka paham cara salam mereka.


"Kami datang temani dek Ranti! Dek Ranti akan segera jadi keluarga kami maka kami dengan senang hati datang." ujar Umi Fatima lembut.


"Maksud Umi? Kak Ranti akan masuk pesantren?" Sania tak sadar memanggil Ranti dengan sebutan kak. Ranti yang dengar panggilan itu hatinya kontan sejuk. Pengakuan ini yang ditunggu Ranti selama berbulan-bulan. Cuma sayang Sania masih dingin.


"Lebih kurang begitu! Tujuan kami ke sini ingin memastikan persetujuan kalian sebagai keluarga Ranti. Umi akan melamar dek Ranti untuk menjadi isteri kedua Abi." Umi Fatima mulus sekali meminta Ranti menikah dengan suaminya.


Sania melongo. Apa kuping penuh kotoran salah dengar atau kupingnya kena radiasi alat rumah sakit tak berfungsi dengan baik. Mana ada di dunia ini ada isteri melamar perempuan lain untuk suami sendiri. Terbuat dari apa hati Umi rela berbagi suami. Berlian atau emas murni?


"Kak Ranti menikah dengan Pak Imron sebagai madu Umi?" ulang Sania untuk pastikan dia tak salah dengar.


"Iya benar! Kami sudah berembuk cukup lama. Tapi dek Ranti tak mau sebelum dapat restu dari adiknya yaitu kamu. Kami sudah tahu semua kisah kalian. Dek Ranti sudah cerita. Dapat restumu artinya dek Ranti siap buang masa lalu."


"Kalau aku tak setuju?" Sania menantang Umi mau tahu kenapa wanita itu rela dimadu. Rencana apa sedang dimainkan wanita itu. Mau permainkan Ranti cari dana untuk pesantren atau motif terselubung lain.


"Dek Ranti sudah bilang tanpa restu dari adiknya dia takkan menikah."


"Beri aku alasan mengapa kak Ranti harus menjadi madu Umi?"


Jiwa baja Sania muncul lagi. Sania yang keras kepala tak gampang percaya orang tak mungkin langsung angguk. Ranti memang bukan kakak kandung Sania namun Ranti tak tahu hal itu. Rangga dan Sania masih rahasiakan hal ini karena melihat Ranti sudah cukup hancur. Rasa kemanusiaan melarang mereka berbuat keji tenggelamkan Ranti sampai karam.


"Umi tak bisa punya anak. Rahim Umi sudah diangkat beberapa tahun lalu. Abi memang tak masalahkan hal ini karena di pesantren masih banyak anak lain. Tapi Umi harus adil pada Abi. Tak mungkin Abi tak punya keturunan. Dek Ranti pilihan tepat." ujar Umi Fatima tegas tak malu pada kekurangan sendiri.


Sania terdiam mulai ngerti tujuan Umi minta Ranti jadi madunya. Bukan hal mudah lepaskan suami poligami. Harus siap mental setebal tembok Great Wall di China.


Sania menatap Suhada dan Ranti gantian. Suhada tak ada reaksi artinya berserah pada keputusan anak-anak. Ranti menunduk tak berani menantang mata tajam Sania. Nyali Ranti tak sebesar Sania. Dulu Ranti mengandalkan backing Amanda dan nama besarnya. Sekarang dia tak punya apapun selain keluarga.


"Kak....Kau sanggup berbagi suami? Itu tak gampang. Sifat sirik dan dengki tetap menyatu dalan hati kita sebagai manusia. Kalau kakak sanggup jalankan tapi kalau ragu jangan bergerak lagi! Cukup berdiri di tempat tunggu kesempatan lain. Kakak masih muda. Sekali kalah bukan berarti tak berguna selamanya." Sania berkata sok dewasa nasehati Ranti. Ranti angkat kepala menatap Sania.


Pancaran mata Sania terasa sejuk di mata Ranti. Sania boleh tak ucapkan kata maaf tapi perhatian Sania melebihi sejuta kata maaf. Ranti menyesal telah sakiti adik sebaik Sania. Andai waktu bisa diputar Ranti ingin berbaikan dengan Sania dari dulu.


"Kakak yakin bisa jadi teman baik Umi. Kakak merasa nyaman hidup di pondok pesantren sambil belajar ilmu agama. Di sana tak perlu pujian atau nama besar yang menyesatkan. Di sana tak ada yang kenal Ranti sang bintang. Yang ada hanya Umi Ranti." ujar Ranti sendu.

__ADS_1


"Pak Imron sudah dengar? Kakak aku bersedia jadi isteri bapak. Tapi ingat! Bapak harus adil pada dua isteri bapak. Jangan pilih kasih antara mereka! Beri porsi sama. Kalaupun kelak Kak Ranti punya anak jangan siakan Umi Fatima. Beliau sudah berkorban demi bapak dapat keturunan. Jadi hargai Umi dan Kak Ranti. Aku bukan ngancam tapi mengingatkan."


__ADS_2