
Fadil ikuti langkah Roy dengan santai tak open pada delikan mata Bara. Bara betul hilang akal hadapi adik bengal macam Fadil. Tak ada kata menyerah dalam kamus Fadil untuk mencari simpatik Sania.
Kalau bukan kondisi Nania tidak bagus ingin sekali Bara lepaskan bogem mentah ke wajah sang adik. Dan ini adalah rumah sakit bukan ring tinju. Bara mengurut dada berusaha sabar.
"Mama pergi lihat Sania dulu. Papa dan Bara sini saja." Bu Jaya mencoba adil pada kedua menantunya. Sudah Bara dan Pak Jaya kawal kondisi Nania maka Bu Jaya memilih lihat keadaan mantu mudanya.
Sania berseru girang melihat kehadiran Fadil. Sania senang dijenguk Fadil yang konyol juga usil. Bersama Fadil suasana akan lebih rilex. Kata kata yang keluar dari bibir Fadil selalu undang senyum orang.
"Hai kakak iparku yang cantik." sapa Fadil riang seakan Sania sehat tak kurang apapun. Pemuda ini menarik kursi dekatkan ke tempat tidur rumah sakit pingin lihat lebih dekat kondisi Sania.
"Fadil? Sama siapa?"
"Sama jenderal dan panglima. Kau kenapa? Rindu padaku? Aku dapat tugas ke Medan berapa hari maka tak kunjungi kamu." Fadil keluarkan kata rayuan tanpa malu.
Roy mendehem keras sadarkan Fadil itu bini abangnya. Fadil tulikan kuping tak terima protes dalam bentuk apapun. Fadil hanya tahu gadis di depannya pantas dikejar.
"Oh...sudah beres tugasmu?"
"Ya sudah...aku rindu padamu. Wajahmu jadi penghias bantal tidurku. Aku serasa tidur bersama bayanganmu." gombal lanjutan Fadil.
Roy tak habis pikir ada adik tak tahu malu merayu kakak ipar sendiri di depan orang. Apa dia tak takut Bara ngamuk? Roy berdiri agak jauh pantau tingkah urakan Fadil jangan menjurus melecehkan nilai Sania.
"Belajar dari mana rayuan maut mu?"
"Bukan merayu tapi ungkap rasa cinta. Tanggal merah libur tapi aku tak libur mencintaimu." Fadil makin berani lontarkan gombalan maut.
Sania terkekeh digombalin adik ipar nan konyol. Roy merasa perutnya mual dengar gombalan murahan Fadil. Dasar cowok edan. Kakak ipar sendiri digombalin tanpa ampun.
"Waduh nih anak! Salah makan obat ya! Aku yang sakit kok kamu yang gila?"
"Aku gila??? Ya aku tergila-gila padamu." gombalan jilid dua keluar lagi dari bibir Fadil.
"Fadil...jaga sikap dan ucapanmu!" tiba tiba Bu Jaya masuk tanpa ketok pintu. Sania ingin bangkit untuk beri salam hormat namun ditahan Bu Jaya. "Tak usah bangun nak! Bagaimana? Enakan?"
"Alhamdulillah sudah enakan Bu." sahut Sania sopan.
"Syukurlah! Mama kaget waktu Bara bilang kalian dua masuk rumah sakit bersamaan. Memang sakit apa?"
"Mungkin kecapekan Bu tapi sekarang tak masalah lagi. Maaf sudah merepotkan!" Sania menyesal telah bikin heboh pingsan tiba tiba.
"Anak bodoh. Sakit kok minta maaf? Cepat sembuh. Jangan kerja kelewat capek! Banyak istirahat."
"Iya Bu!"
"Mau mama bawa sesuatu?" tawar Bu Jaya ramah.
"Tak usah. Besok juga pulang. Gimana mbak Nania? Sudah sadar?"
"Sudah mending cuma masih perlu perawatan. Kau tenang saja. Banyak dokter tangani Nania." timpal Roy hilangkan rasa kuatir Sania.
"Kalau sehat kenapa harus banyak dokter?"
"Maksudku di sini banyak dokter tak perlu kuatir. Mbakmu akan baik baik saja." Roy masih beri angin segar pada Sania agar jangan banyak pikiran. Kondisi Sania sendiri juga bukan fit betul.
"Nak Roy betul Sania...kau jaga kesehatan biar Bara tak kuatir padamu." timpal Bu Jaya. Sebagai ibu yang bijak Bu Jaya tak boleh bela kiri kanan. Walau Nania tak dapat tempat di hati keluarga namun tetap harus diperhatikan dalam keadaan darurat begini.
__ADS_1
"Syukurlah!" bibir mungil Sania mengucap syukur orang yang dikasihi tak terjadi hal buruk.
"Kakak ipar tersayang harus banyak istirahat. Tak perlu kuatir apapun karena ada pangeran tampan siap melayani dua puluh empat jam." Fadil sok keren mampu merawat Sania. Laki muda ini tak tahu kalau Bara bisa membunuhnya bila coba dekati Sania jauh dari batas sebagai adik ipar.
"Fadil..jaga mulutmu!" bentak Bu Jaya halus.
"Aduh ma..aku kan sayang pada kakak iparku. Ya kan? Aku rela ditangkap polisi bila melanggar peraturan mencintai kakak ipar." Fadil makin ngawur omong yang bukan bukan bikin otak panas. Andai Bara dengar bisa perang saudara.
Bu Jaya dan Roy terbatuk batuk dibuat sikap konyol Fadil. Anak ini betul betul cari masalah di saat orang lagi genting gini.
Sania santai saja sudah tak heran sifat konyol Fadil. Sania sudah kebal dirayu Fadil. Dari awal jumpa di supermarket Fadil sudah merayunya. Bahkan berani minta numpang makan walau baru kenal belum satu jam. Sania tak ambil hati atas kelakuan Fadil.
"Mama kembali ke ruang perawatan Nania ya! Kamu yang banyak istirahat. Ayo Fadil jangan ganggu kakakmu! Kita semua keluar." perintah Bu Jaya tak mau lihat Fadil makin konyol.
"Aku temani Sania saja. Kalian jaga saja Nania. Kasihan Sania tak ada kawan ngobrol." tolak Fadil bersikukuh mau jaga Sania.
"Biar aku saja yang jaga Sania. Kalian pergi lihat Nania. Bara sudah amanahkan Sania padaku." Roy berkata mengusir Fadil secara halus. Fadil bukannya akan buat Sania tenang tapi kacaukan pikiran gadis ini gara mulut ember Fadil.
"No way..Sania akan jadi tanggung jawabku." ngotot Fadil tak mau pergi dari ruang rawat Sania.
"Fadil..ikutlah Mama dulu. Aku mau tidur sebentar. Nanti kau bisa balik lagi." ujar Sania lembut tak mau sakiti hati Fadil yang berniat baik padanya.
Fadil mengangguk karena Sania yang omong. Lajang muda ini segera angkat kaki dari ruang rawat Sania tanpa protes lagi. Bu Jaya beri kode pada Roy untuk jaga Sania. Roy tentu saja bersyukur bisa usir virus mematikan dari sekeliling Sania.
Fadil kelihatannya memang suka banget pada Sania. Segala tata krama dia abaikan demi pujaan hati. Bara bakal dapat saingan musuh dalam selimut. Adik sendiri terangan nyatakan cinta pada kakak ipar. Ntah bagaimana kelanjutan kisah cinta segitiga nan rumit ini.
Di tempat lain tak jauh dari ruang rawat inap Sania, Bara kelihatan bingung hadapi kondisi Nania yang sangat buruk. Kalau terjadi sesuatu pada Nania maka dia akan kehilangan dua wanita sekaligus. Sania udah janji akan pergi dari hidupnya bila Nania sehat. Bagaimana kalau Nania meninggal? Seratus persen Sania akan angkat kaki dari hidupnya. Bara sudah nyaman bersama Sania. Tak ingin kehilangan gadis yang mulai mengisi kekosongan hatinya.
"Bara...gimana Nania?" tanya Bu Jaya yang baru datang dari ruang rawat Sania.
Bara mengusap wajah lelahnya sambil geleng kecil. Bu Jaya paham maksud Bara. Kondisi Nania pasti makin drop.
"Ya Allah...apa rencanamu nak?"
Bara menatap mamanya tak bisa beri jawaban. Bara bisa punya rencana apa? Bara hanya bisa berdoa Nania diberi kesembuhan untuk melanjutkan hidup. Tapi semua Allah yang punya kuasa tentukan nasib seorang manusia.
"Maaf...siapa bernama Sania? Pasien sudah sadar mau jumpa orang yang bernama Sania." seorang perawat keluar dari ruang ICU bertanya pada Bara.
Bara dan Bu Jaya saling berpandangan puji syukur akhirnya Nania sadar walau sempat dikatakan koma. Ternyata Allah Maha Besar dengar doa tulus seorang suami ditinggalkan.
"Ada sus tapi Sania juga sedang dirawat di sini. Apa mungkin kita jumpakan mereka?" tanya Bara ragu Sania bisa dijumpakan sama Nania dalam kondisi begini. Bara takut Sania kembali syok bila lihat kondisi Nania.
"Maaf pak! Keadaan pasien kurang bagus. Biarkan dia jumpa orang yang dia mau agar perasaannya tenang. Ini akan bantu penyembuhan pasien."
Bara menimbang kata kata perawat yang mengandung kebenaran. Mungkin kedua wanita itu jumpa akan bawa angin segar bagi Nania.Kalau Nania sehat otomatis Sania ikut bahagia.
"Aku akan jemput Sania." Bara bulatkan tekad bawa Sania jumpa Nania. Segala resiko biarlah jadi taruhan terakhir.
Bara melangkah dengan mantap menuju ke ruang rawat Sania. Tanpa ragu Bara harus jumpakan kedua wanitanya. Mungkin Bara adalah lelaki paling bahagia di dunia ini. Dua bininya saling menyayangi tanpa cekcok seperti rumah tangga yang lain bila poligami.
Roy berdiri di luar kamar rawat Sania tanpa lakukan apapun. Laki itu tampak bosan menunggu orang sakit tapi apa daya. Roy sudah janji pada Bara untuk jaga Sania. Janji itu hutang yang harus dibayar. Roy bayar kontan tanpa cicil.
"Roy..Sania gimana?" tanya Bara begitu dekat Roy. Roy tersenyum pada Bara artinya semua aman.
"Sania tak rewel malah manis."
__ADS_1
"Nania mau jumpa Sania."
"Nania sudah sadar? Alhamdulillah...ayo kita jumpakan mereka biar Sania tenang lihat madunya sehat. Di dunia ini mungkin ente yang hebat bisa satukan dua hati dalam hatimu."
"Jangan ngaco bro! Kau tak tahu gimana pusingnya aku saat ini. Kita coba dulu ajak Sania." Bara mengetok pintu ruang rawat Sania untuk hormati privasi Sania. Bara tak mau sembarangan walau Sania adalah miliknya.
"Masuk.." sahutan dari dalam ijinkan Bara masuk.
"Assalamualaikum.." Bara masuk sekalian beri senyum lembut pada bini mudanya.
"Waalaikumsalam..pak Bara..gimana mbak Nania?"
Bara menghela nafas. Dari mulut Sania tetap utamakan Nania. Ntah apa yang akan terjadi bila Nania benaran tak tertolong. Sania bisa jatuh pingsan lagi.
"Mbakmu sudah sadar. Dia mau jumpa kamu."
Sania mengangguk tanpa pikir dua kali. Wajah Sania pancarkan semangat empat lima pejuang sejati.
"Ayok!" Sania turun dari tempat tidur dengan semangat berapi api. Tak ada kabar lebih baik dari pada dengar Nania mulai sadar.
Bara dengan telaten memapah Sania berjalan ke ruang ICU. Sania sudah cukup fit untuk jalan sendiri tanpa perlu bantuan kursi roda. Sebenarnya Sania sudah bisa pulang karena kondisinya tak masalah. Tinggal menanti kesembuhan Nania baru bisa datangkan kedamaian dalam hati.
Suster ruang ICU mengambil alih Sania dari tangan Bara. Ruang ICU tak boleh sembarangan dikunjungi orang tak berkepentingan. Ruang itu khusus untuk merawat pasien riwayat penyakit sudah stadium kronis.
Sania terenyuh lihat tubuh Nania penuh selang tempel sana sini. Nafas Nania tersengal bernafas satu satu bisa ditebak. Hati Sania terasa sakit merasakan derita madunya. Kalau bisa Sania ingin minta setengah sakit Nania biar sama rasa.
"Mbak.." panggil Sania langsung genggam tangan Nania yang dingin.
"Sania..kau datang! Mbak senang jumpa kamu lagi." ujar Nania dengan nafas pendek agak sesak.
Sania tak tega lihat Nania susah payah keluarkan kata. Sania menggeleng tak ijinkan Nania banyak bicara untuk hemat tenaga.
"Mbak jangan banyak bicara! Tunggu mbak sembuh kita ngobrol panjang lebar seperti biasa. Tidurlah! Sania menunggumu di sini."
"Mbak mau terima kasih padamu telah beri waktu indah padaku. Selama ini semua memandang rendah padaku. Hanya kamu yang anggap aku ini sebagai manusia berharga sampai mau korbankan diri menikah dengan mas Bara." ujar Nania tak indahkan permintaan Sania untuk istirahat.
"Mbak kita ini sudah kayak kakak adik kandung. Jangan pikir yang bukan bukan! Kita kan sudah janji mau jalan jalan ke Belanda. Di situ ada rumahku sebesar istana. Ayoklah! Tidur!" bujuk Sania lembut.
"Mbak takut tidur takkan bangun lagi. Mbak mau cerita padamu biar mbak tak bawa penyesalan kelak. Mbak sudah banyak dosa. Mungkin mbak ngaku padamu akan ringankan beban di hati."
"Semua orang pernah bersalah. Kalau kita tahu jalan pulang Allah pasti akan maafkan kita!" Sania menguatkan Nania agar jangan putus asa.
"Mbak pernah bohongi mas Bara tentang anak Doni. Anak itu mbak gugurkan karena orang tua mas Bara tak mau akui anak itu. Mbak bohong mbak jatuh tangga padahal mbak cuma singkirkan anak yang jadi duri dalam rumah tangga mbak."
Sania tercengang mendengar penuturan Nania. Tak sangka Nania menyimpan masa lalu sangat kelam. Sania tak bisa berkata apapun saking bingung tak tahu harus bilang apa.
"Soal Doni meninggal juga tak luput dari kesalahan mbak. Mbak dengar Arsy dan Bara putus timbul niat mbak kuasai Bara. Doni tahu rencana busuk mbak dan kami bertengkar. Doni pergi dari apartemen dalam keadaan mabuk dan tabrakan. Doni meninggal di tempat. Mbak rekayasa seolah Doni amanahkan Bara untuk nikahi mbak. Bara langsung sanggupi karena kecewa pada Arsy. Mbak sudah dapat karma dari kesalahan mbak." Nania buka lembaran kelam masa lalunya. Sania benar benar tak sangka drama hidup Bara dan Nania sangat kacau. Kasihan Bara jadi korban orang orang egois.
"Mbak..jangan diteruskan! Asal mbak sudah tahu salah Allah sudah hapus dosa mbak. Sekarang istirahat." Sania menepuk punggung tangan Nania perlahan. Sania hanya bisa buat Nania tenang dulu jangan ingat masa lalu.
"Kamu jangan tinggalkan Bara walau apapun terjadi pada mbak! Berjanjilah!"
"Sania janji mbak!"
"Terima kasih. Mbak kenal siapa Arsy dan kak Nada. Mereka manusia licik manfaatkan kebaikan mas Bara. Kau kuat dan tegar. Kau harus lindungi mas Bara dari wanita histeris yang hanya mau harta."
__ADS_1
"Kita sama sama jaga suami kita. Makanya mbak harus kuat. Sania bersumpah akan jaga pak Bara untuk mbak. Sudah senang kan?"
Nania angguk lemah sambil tersenyum. Nania lega Sania mau jaga Bara dari tangan tangan wanita penghamba materi.