MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Dua Wanita Culas


__ADS_3

Dua wanita gila berkomplot memisahkan Sania dan Bara. Dada Bara serasa mau meledak menahan emosi. Sedikitpun Bara tak sangka Arsy demikian tega berbuat keji pada Sania demi mencapai tujuan. Ingin sekali Bara hajar Dhenok yang sudah lama kerja dengannya.


Bara tak sangka Dhenok simpan rasa cinta padanya. Bertahun bersama tak ada gejala Dhenok merayu selain berpakaian seronok menggoda iman laki. Bara anggap angin lalu asal kerja Dhenok beres. Bara tak punya hak menegur cara Dhenok berpakaian karena itu privacy setiap orang.


"Jangan sembarangan fitnah! Kapan aku suruh kamu rekam dan kirim ke Sania?" Seru Arsy memandang benci pada Dhenok.


"Aku fitnah? Kau sendiri bilang Sania tak pantas berada di sisi Pak Bara. Hanya aku Dhenok yang cocok karena duluan kenal Pak Bara. Sania hanya pelacur murahan. Ingat kata-kata itu?" balas Dhenok tak mau kalah diintimidasi Arsy.


"Kau hanya barang loakan. Apa pantas dampingi Bara? Ngaca...kalau tak punya uang beli kaca biar kusumbangkan." Arsy menghina Dhenok sambil tertawa licik.


"Dasar kau pelacur uang receh! Kau ajak aku singkirkan Sania ternyata untuk muluskan jalanmu dekati Pak Bara! Licik sekali kau. Aku punya bukti chat kamu. Jangan harap bisa salahkan aku! Kau yang arahkan aku. Pak Roy...buka wa dan baca chat dari rubah tua ini! Buktikan dalang semua ini adalah dia! Aku hanya korban hasutan rubah tua ini." Dhenok arahkan kepala pada Roy yang memegang ponsel Dhenok.


Arsy kontan gelisah melirik Bara yang masih syok lihat konspirasi hebat menghancurkan keluarganya. Orang yang dia anggap sahabat ternyata seorang wanita licik berhati busuk. Bara menyesal telah buang tenaga dan pikiran mengayomi Arsy.


Roy tak tunggu lama segera buka chat Dhenok dan Arsy. Wajah Roy berubah geram pada dua rubah gila ini. Setali tiga uang. Sama-sama busuk.


"Ternyata kau tak berubah Arsy. Berapa orang ingin kau tenggelamkan dalam dasar lautan? Apa belum cukup Rudi hancur? Kau belum puas ganggu Bara?" Roy dekatkan wajah ke wajah Arsy habiskan nafas panas. Roy ingin gampar wajah cantik itu. Namun seorang ksatria sejati takkan menyakiti fisik wanita. Roy masih menjunjung harga diri Arsy..


"Apa urusanmu? Bara adalah milikku dari awal. Hanya satu kesalahan kecil kami berpisah. Kini aku harus ambil kembali milikku. Sania itu apa? Sania itu hanya gula-gula pemanis para bos. Mana mungkin disamakan dengan aku sarjana luar negeri." Arsy busung dada dapat angin lihat Bara hanya diam. Wanita ini tak tahu api sedang berkobar dalam dada Bara siap panggang orang yang fitnah Sania.


Roy tertawa renyah tanggapi sikap arogan Arsy sok sarjana luar negeri. Di mata Roy saat ini Arsy hanya seonggok sampah siap dibuang ke tong sampah.


"Arsy... Arsy... betapa hebat sarjana luar negeri. Asal kau tahu Sania lulusan Harvard S2. Cumlaude...umurnya baru dua puluh empat. Kamu berapa? Tiga dua? Empat dua?" ejek Roy gatal mulut. Roy tak sabar ingin hina Arsy sampai punya rasa malu.


"Dia isteriku yang suci lahir batin. Bukan sisaan orang lain." timpal Bara buka suara bela keberadaan Sania,"Aku laki pertama baginya. Dan kau bangga bisa obral badan pada setiap laki?"


Arsy merasa terhina dengar kalimat Bara yang tak jaga perasaan lagi. Bara benar-benar geram pada kelakuan Arsy yang sangat tak pantas. Manfaatkan Dhenok demi capai kepuasan sendiri. Dasar Dhenok bego gampang masuk perangkap Arsy. Kini semua terbongkar. Dhenok siap-siap angkat kaki dari perusahaan. Bara tak mungkin biarkan cewek berbahaya berada di sekitarnya. Kelak ntah kejadian apa muncul lagi.


"Aku masih perawan pak!" seru Dhenok semangat ingin disamakan dengan Sania.


Semua mata mengarah pada Dhenok yang tak tahu malu. Promosi gratis cari perhatian Bara. Bukannya senang punya karyawan masih gadis tapi Bara justru jijik cara Dhenok jual diri.


"Lalu apa hubungan denganku? Isteriku hanya Sania."


"Kenapa Sania boleh isteri bapak dan aku tidak. Aku lebih duluan datang sini. Sania belakangan. Mengapa bapak pilih dia? Aku jauh lebih cantik dari Sania." teriak Dhenok mulai tak terkontrol emosi.


"Stress...kau hanya karyawan sini. Tak lebih. Apa aku harus kawini setiap karyawan yang kerja di sini? Kenapa otakmu jadi picik Dhenok? Cinta itu bukan barang bisa diperjual belikan. Ini masalah hati. Kau pergilah sebelum aku lapor polisi. Dan kau kupecat!" Bara terpaksa turun tangan kejam untuk hindari bencana lebih panjang.


Dhenok menangis dipecat Bara tanpa ampun. Dhenok hanya terobsesi jadi isteri Bara yang dia kagumi sejak masuk kerja. Dhenok cinta mati pada bosnya. Sekarang semua jadi kacau. Dipecat secara tak terhormat dan malu bukan main ketahuan jebak Bara bersama Arsy.

__ADS_1


"Ambil barangmu dan jangan balik sini! Sini tak butuh orang licik." Roy ikutan beri vonis tak kenal kata ampun, "Pak Satpam tolong kawal nona Dhenok ambil barangnya dan pastikan tak ada yang tertinggal. Mulai hari ini orang ini dilarang injak kantor."


"Siap pak! Ayo nona Dhenok!" satpam itu mengangguk sopan lalu persilahkan Dhenok naik ke ruang kerjanya bereskan barangnya. Dhenok lunglai tak bertenaga dapat hukuman sangat kejam. Siapa sangka nasibnya berakhir tragis gara-gara berniat jelek.


Arsy tersenyum senang Dhenok kena depak dari kantor. Artinya musuh Arsy berkurang satu merebut hati Bara. Sania sudah pasti kabur tak terima melihat kemesraan Bara dan Arsy. Arsy berdoa Sania pergi sejauh mungkin dari Bara. Peluang bersama Bara akan makin besar.


Dhenok dan satpam hilang ditelan kotak lift menuju ke lantai di mana Dhenok bertugas. Kini Bara dan Roy fokus adili Arsy yang merasa di atas angin. Arsy yakin Bara tak berani kasar padanya mengingat cinta mereka dulu.


"Dengar ya Arsy! Sania itu tak tergantikan. Selicik apapun kamu takkan bisa usir Sania dari kehidupanku. Cukup sekian kau permainkan hidupku! Kuharap kau jangan muncul di hadapanku atau aku akan ambil jalur hukum!" geram Bara menahan emosi agar jangan meledak.


Arsy dekati Bara berusaha meraih tangan besar Bara. Arsy sengaja bertingkah manja curi simpatik Bara sebagaimana biasa. Laki mana tak luluh didekati cewek se bohay Arsy.


Bara menepis tangan Arsy dengan kasar. Bara menatap jijik pada wanita yang pernah singgah di hatinya. Bara bukannya senang justru makin kesal lihat Arsy tak merasa bersalah telah ciptakan kekacauan dalam rumah tangganya.


"Arsy...jauhi aku! Aku masih berbelas kasihan padamu. Jangan harap aku tertarik pada wanita licik macam kamu! Dulu aku buta tak lihat sosok aslimu. Kini mataku telah terbuka. Kau mirip setan yang gentayangan cari mangsa. Pergi sejauh mungkin dari hidupku. Pergi sebelum aku berubah pikiran ajak kamu ke kantor polisi."


Arsy menatap Bara tak percaya sanggup keluarkan kalimat menyakiti hatinya. Di mana Baranya yang dulu? Bara yang selalu ada setiap Arsy menemukan kesulitan. Bara tak pernah tinggalkan Arsy dalam suasana apapun. Ke mana perginya Bara?


"Kau mengusirku?" tanya Arsy dengan wajah pucat pasi. Tangan Arsy yang ingin menyentuh Bara sampai bergetar hebat tak sanggup menahan kesedihan dipandang rendah oleh Bara.


"Bukan cuma usir tapi tak mau lihat tampangmu di manapun." tegas Bara mundur agak jauhi Arsy.


"Lalu?" tanya Roy dingin.


"Bara harus jadi bapak anak ini. Aku tak tahu harus minta tolong pada siapa lagi. Nikahi aku Bara! Paling tidak sampai anak ini lahir." Arsy menangis memohon Bara bertanggung jawab anak di perutnya. Bara menghela nafas membayangkan kesedihan Sania hamil tanpa didampingi suami. Siapa yang akan jadi sasaran omelan ibu hamil yang lucu.


"Siapa bapak anak ini? Bara?" Roy menghujam tatapan kejam pada Arsy dan Bara. Roy janji akan hajar Bara walau itu bos dan sahabatnya. Bara termasuk manusia laknat bila hamili Arsy di saat Sania juga hamil.


"Aku tak tahu...aku lupa! Tapi ini bukan masalah. Asal Bara bersedia nikahi aku tutup malu semua ok."


"Ok kepala lhu! Orang yang tanam aku yang kena getah. Tidak...aku tak ada hubungan dengan anakmu. Aku sudah punya Sania. Dia juga sedang hamil. Kunasehati kamu cari bapak anak ini minta tanggung jawabnya." ujar Bara tegas. Bara tak mau terperdaya oleh ulah licik Arsy lagi. Cukup sekian jadi budak Arsy.


"Tapi tak ada yang mau tanggung jawab. Semua takut rumah tangga mereka hancur."


"Nah itu kamu ngerti! Aku juga tak mau rumah tanggaku hancur. Apa lagi itu bukan anakku. Pergilah Arsy! Jangan permalukan diri sendiri! Lupakan aku!"


"Kau tak kasihan padaku?"


"Tidak...siapa kasihan pada isteriku sekarang ini? Semua ini ulahmu dan Dhenok. Aku masih berbaik hati tak beri sanksi hukum. Aku mau pulang. Kau urus wanita mengerikan ini Roy! Aku tak mau dia datang ke kantor ini lagi." Bara melebarkan kaki keluar dari gedung kantor tanpa menoleh pada Arsy. Bara harus tegas pada wanita licik ini. Ranti dan Arsy sebelas dua belas tak kenal kata malu. Selalu anggap tinggi diri sendiri lecehkan nilai orang.

__ADS_1


Bara tak ingin melihat ke belakang yang hanya bikin luka makin menganga. Bara makin mantap maju mencari Sania sambut hari lebih baik. Tugas utama Bara adalah cari keberadaan Sania. Merangkul bini mungilnya mendaki puncak kesuksesan.


Kembali pada Arsy dan Roy. Satpam dan Dhenok sudah turun dari lantai atas. Di tangan Dhenok memegang kotak kecil berisi barang-barang Dhenok yang tersimpan di meja kerja. Tak banyak bawaan Dhenok karena memang tak tinggalkan barang di meja laci. Hanya sedikit buku dan alat make up.


Dhenok meludahi Arsy waktu lewat di depan wanita itu. Dhenok tak terima Arsy manfaatkan dia dekati Bara. Dasar otak udang. Mau saja jadi perisai Arsy maju tahan senjata orang. Dhenok dapat hasil menyakitkan. Dipecat tanpa pesangon dan seumur hidup tak bisa jumpai idola hati.


"Kudoakan kau busuk di neraka.! cetus Dhenok tak bisa simpan kebencian.


"Kasihan kau cewek iblis! Kena kau! Mimpi terlalu tinggi mau jadi nyonya bos."


"Kau yang iblis...kusumpahi kamu wajahmu hancur kena adzab."


Roy pusing dengar kedua wanita ini berdebat saling klaim keturunan iblis. Keduanya memang cocok jadi saudara iblis binti setan. Sama busuknya.


"Sama-sama iblis tak usah ribut. Dan kau Arsy...jauhi Bara! Kamu tak cocok berada di lingkungan alam nyata. Pergi ke alam gaib sono!" Roy mengusir kedua wanita yang bisa bikin kepalanya botak.


Rambut Roy rontok satu persatu bila melihat kelanjutan perang duo iblis. Roy bikin gerakan tangan usir duo iblis keluar dari gedung kantor. Roy terlihat tak sopan namun memang itu jurus ampuh usir setan. Setan tak perlu panggung di umum. Setan mana ada rasa malu.


"Cisss..tak usah sombong. Aku Arsy takkan berhenti sebelum Bara bertekuk lutut mohon kembali padaku. Aku ini Arsy..." Arsy menunjuk dada dengan angkuh.


"Kutambah dikit biar lebih manis. Arsy Dajjal...Ok? Huuusss pergi wahai kau iblis penggoda! Enyah kau dari permukaan bumi! Kembali kau ke neraka jahanam!" Roy pasang suara keren layak dukun profesional mengusir setan dari bumi.


"Kau...awas kau Roy!" seru Arsy marah dilecehkan. Kedua satpam tak dapat tahan tawa melihat gaya Roy sudah layak dianggap dukun sakti.


Dhenok ikut tertawa di antara rasa sedih. Dhenok menyesal ikuti saran Arsy. Semua sudah terlanjur terjadi. Nasi sudah jadi bubur. Mau dibalik juga tak mungkin. Penyesalan selalu datang terlambat. Dhenok sedih meninggalkan gedung yang baru dia tempat tak lama. Banyak kenangan manis tertinggal di sana walau baru di mulai. Sayang cepat berakhir.


Perlahan kedua wanita itu pergi dari gedung. Dari jauh Roy masih mendengar perdebatan kedua wanita itu. Masa bodoh mau berdebat apa. Sudah pasti saling menyalahkan. Peduli amat.


Kini Roy bersiap tinggalkan gedung kantor. Besok dia harus ke pulau B sesuai instruksi Sania melalui Putri. Roy yakin Sania takkan tinggalkan proyeknya. Kesempatan Bara untuk merebut hati Sania masih terbuka. Roy hanya ingin lihat kawannya hidup damai bersama anak isteri. Tak ada niat lain.


"Bapak-bapak...ingat pesan Pak Bara! Kedua wanita ini tak boleh injak lantai kantor. Tahan mereka walau apapun terjadi. Lapor saja ke pihak kepolisian bila mereka nekat. Mereka orang berbahaya." Roy beri pesan pada dua satpam baru gedung.


"Siap pak! Kami akan teruskan pada satpam lain. Kami akan amanah." janji salah satu di antara mereka.


"Bagus...aku permisi. Bertugas dengan baik ya!"


"Siap pak!"


Langkah Roy terasa lebih ringan telah berhasil ungkap kejahatan Arsy. Tak ada cela buat Bara berbaik hati pada Arsy lagi. Detik ini mungkin Bara sakit hati pada Arsy. Arsy demikian tega jebak Bara untuk singkirkan Sania dari sisi Bara. Di mana kemanusiaan Arsy? Sejahat-jahat orang takkan tega jebak yang dicintai.

__ADS_1


Arsy bukan mencintai Bara tapi hanya terobsesi pada nama besar Bara. Apa lagi Bara sedang naik daun dikejar puluhan proyek besar. Wanita mana tak tergiur berdiri di samping laki itu.


__ADS_2