MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Balik Kantor


__ADS_3

Bara merasa tak bersalah maka berani angkat sumpah. Perasaan pada Arsy murni karena sahabat namun perasaan itu melenceng jadi benci karena Arsy bertindak terlalu jauh.


"Jangan anggap enteng sumpah! Bisa berbalik pada diri sendiri. Kita tak tahu esok akan muncul kisah apa. Kita boleh berencana tapi Tuhan yang tentukan."


Bara setuju omongan Sania. Di sini Sania kembali perlihatkan sikap dewasa sebagai wanita. Usia Sania jauh muda namun setiap langkah Sania penuh perhitungan. Wanita ini tidak grasa grusu bertindak.


"Lieve hanya ingin maaf darimu. Sebagai suami Lieve banyak kekurangan. Banyak dosa Lieve padamu. Sebagai suami Lieve telah gagal buat kamu bahagia. Lieve tak laksanakan tugas sebagai suami baik. Lupa kasih uang belanja, lupa beli cincin kawin. Ntah apa lagi dosa Lieve. Lieve selalu teringat padamu." Bara meraih kepala Sania menyatukan dahi bininya ke dahi dirinya. Bara bisa merasakan ******* nafas Sania lembut menerpa pipi dan hidungnya. Bau harum mints menyeruak di antara nafas Sania. Nafas Sania wangi sedang nafasnya bau naga karena tak sikat gigi sejak kejadian ditusuk Arsy.


"Aku tak butuh semua itu. Yang dibutuhkan hanya sekeping cinta tulus. Aku tak suka berbagi suami. Kalau Lieve ada niat berbagi cinta lebih baik kita akhiri sekarang dari pada sakit panjang. Aku serius Lieve! Yang penting Lieve jujur hendak nikahi wanita mana. Aku siap mundur dengan lapang hati. Kita tak perlu main kucing-kucingan."


"Omong apa itu? Tak ada wanita lain selain kamu. Cinta Lieve hanya untukmu."


"Semoga gitu! Sekarang Lieve istirahat saja. Aku mau ke kantor."


Mata Bara menyipit mendengar Sania berniat tinggalkan dia lagi. Dari tadi pagi dia sudah bersabar menanti isteri datang menemaninya. Datang-datang minta ijin pergi lagi. Bara auto patah semangat.


"Kau tak mau temani Lieve? Tuh Roy kelelahan jaga Lieve! Kau tungguin Lieve biar Roy pulang istirahat." Bara menunjuk Roy yang tertidur mirip orang mati.


Sania iba juga pada Roy yang setia kawan. Jarang ada teman setia saat ini. Adapun mungkin satu dua. Roy termasuk salah satu di antara yang langka.


Sania menghela nafas memilih mengalah ijinkan Roy pulang istirahat. Rudi sudah tak tampak. Mungkin sudah pulang untuk ke kantor. Di kantor tak ada yang memimpin juga tak mungkin. Rudi memang bukan bos besar namun paling tidak Rudi bisa ambil keputusan untuk hal penting dengan meminta ijin dari Bara.


"Baiklah! Aku akan tinggal sebentar." Sania menjauhi Bara dekati Roy untuk bangunkan laki itu. Sania mencolek Roy perlahan di tangan.


Sungguh mati tidur Roy. Dicolek berapa kali tak bangun. Laki ini mungkin terlalu lelah sampai lupa daratan. Berlayar jauh sampai ke Merauke di ujung timur Indonesia. Untuk kembali ke ujung barat perlu waktu.


"Sekar....kapan datang?" seru Bara agak keras untuk pancing Roy bangun.


Jurus Bara cukup ampuh. Roy terloncat bangun dengar nama sakti di hati hadir di situ. Mata Roy liar mencari orang yang dimaksud. Tak ada cewek lain selain bumil muda bini sang bos.


Roy hempaskan diri ke sofa sambil lontarkan tatapan mengandung permusuhan pada Bara. Roy sadar dikerjain Bara dan Sania gunakan nama Sekar pancing kesadarannya.


Sania tertawa kecil melihat Roy kembali kuyu. Sehari tak jumpa pujaan hati energi terkuras habis. Sekar seperti alat cas isi semangat Roy.


"Pulanglah! Mandi dan jumpai bidadari hatimu. Sekar pasti rindu padamu juga." nasehat Sania bijak agar Roy kembali semangat.


"Dia juga rindu? Apa dia bilang padamu rindu padaku?" mata Roy kontan bersinar cerah.


"Tak perlu dibilang pasti rindu. Biar kukawani bosmu. Kalau nakal kuminta dokter suntik rabies. Biasa...orang kelewat banyak cinta jadi keracunan cinta. Obatnya ya vaksin rabies." Sania mengerling Bara yang masam diejek Sania.


Roy terkekeh maklumi kekesalan Sania pada Bara. Sania belum puas siksa Bara secara oral. Siapa tak kenal mulut tajam Sania. Sekali. berucap tancap di jantung.


"Ok deh! Aku akan ke kantor jumpa pujaan hati. Vitamin penambah semangat. Bukan vaksin Anti covid 19 apalagi vaksin rabies." Roy bantu Sania kucilkan Bara. Roy sengaja bantu Sania supaya Bara makin sadar bahwa wanita-wanita yang kejar Bara hanya virus harus dijauhi.


"Teruskan...Kujamin kalian dua akan kukirim urus proyek di tempat terpencil." rengut Bara tak senang dijadikan bahan ejekan.

__ADS_1


"Wow...aku tak sabar ingin segera bertapa di tempat terpencil. Siapa tahu anakku bertambah satu lagi jadi empat. Sekali melahirkan dapat empat. Hemat waktu dan hemat tenaga." sambut Sania tak gentar ancaman Bara.


Lain Sania lain pula Roy. Laki ini takut dibuang ke tempat sepi kawal proyek kecil. Bukan Roy mengeluh soal kerja tapi tak sanggup berpisah lama dari Sekar. Sekar jadi candu baru Roy. Sehari tak jumpa selaksa bertahun tak bersua. Dahsyatnya cinta yang baru bersemi.


"Aku menyerah...kalian berdua diskusi saja persoalan kalian. Jangan libatkan aku! Aku permisi. Kalau ada apa-apa telepon saja! Okay?" Roy ancang ambil langkah seribu sebelum Bara makin brutal beri tugas jauh dari jangkauan mata Sekar.


Sania acung jari satukan ibu jari dan telunjuk bentu tanda ok. Roy merapikan rambut lalu pergi keluar. Sekejab mata Roy hilang dari pandangan. Kini tinggal Sania dan Bara berada satu ruang. Tak ada orang lain ganggu Bara lepaskan rindu pada Sania.


"Kemarilah sayang!" Bara menepuk kasur di sampingnya agar Sania mau datang.


Sania bukannya datang malah duduk santai di tempat bekas Roy duduk sambil tidur tadi. Sania rileks badan tunggu apa yang akan dibicarakan Bara. Sania tak mau banyak bicara agar Bara kira dia sudah besar hati maafkan dia. Menjadi seorang Sania berkelas harus teguhkan iman tak mudah goyah oleh gombalan Bara.


"Well..mau omong apa?" tanya Sania menyilangkan kaki bersikap arogan.


"Apa iya harus gitu sayang? Aku ini Lievemu."


"Lieve sejuta umat?"


"Ya ampun...nyatanya sayang masih marah! Ini dilarang agama. Marahan tak boleh lebih dari sehari. Sekarang katakan gimana caranya agar sayang maafkan Lieve!"


"Aku tak marah...ngapain marah pada orang tak peka? Buang tenaga."


"Kalau tak marah kenapa tak mau dekat Lieve? Lieve rindu padamu, pada anak-anak dalam perutmu! Ke sinilah! Atau Lieve yang ke sana." Bara menyibak selimut berniat turun dari brankar untuk duduk di samping Sania. Gerakan Bara terhalang selang infus dan kabel layar monitor yang pantau semua detak jantung serta tekanan darah.


Sania bukan buta tak lihat keinginan besar Bara untuk dekati dia. Sania tak tahu seberapa besar niat Bara namun laki itu berusaha menunjukkan kesungguhan hati berbaikan dengan Sania.


Bara tersenyum puas bisa memeluk Sania lagi. Sania bagai raja obat menyembuhkan luka bekas tusukkan Arsy. Semua deritanya terbayar lunas bersamanya hadirnya Sania.


"Terima kasih sayang. Lieve janji takkan siakan kamu dan anak-anak. Semua tak penting bagi Lieve selama kamu ada. Lieve akan semampu mungkin penuhi semua permintaanmu. Kita lupakan semua kisah tak menyenangkan. Kini hanya ada kita bersama anak kita." ujar Bara seraya mengecup pipi Sania.


Sebenarnya Sania tersentuh omongan Bara tapi Sania tak mau terlalu cepat menyerah nanti Bara besar kepala. Biarlah semua berjalan pelan bergerak ikuti arus. Biarlah waktu yang tentukan ke mana akan dibawa hubungan ini.


Seminggu kemudian Bara sudah diijinkan pulang. Rawat jalan karena lukanya sembuh dengan cepat. Keinginan Bara untuk sembuh banyak membantu kesembuhan laki itu. Semangat Bara yang membuat dia cepat pulih. Ditambah tonic penambah semangat hidup berada di samping tiap hari maka Bara cepat pulang.


Pagi itu awan tebal bergelayut di langit tanda akan segera turun hujan lebat. Awan kelabu membentuk mendung tebal tutupi cahaya matahari. Tak disangkal akan turun hujan besar basahi bumi.


Angin bertiup sedikit kencang menampar pohon dan tanaman bunga di halaman bergoyang kiri kanan ikuti kehendak hati sang Bayu.


Setiap insan di bumi auto malas keluar rumah ketimbang harus melawan curahan air dari langit. Tapi yang berkepentingan mau tak mau harus jejakkan kaki keluar untuk mengais rezeki atau bertugas sesuai pekerjaan yang sedang digeluti.


Bara masih bergulung dalam selimut di pagi hari ini. Sania sudah tak tampak berada di tempat tidur laki itu. Sania jarang bermalasan di ranjang kendatipun sedang hamil. Sania tak manja gunakan kehamilan sebagai alasan berleha di rumah. Beraktifitas justru akan menambah kekuatan Sania menjaga kesehatan. Bergerak dalam porsi wajar takkan ganggu perkembangan sang bayi.


Sania persiapkan diri masuk kantor setelah sekian lama absen. Sania mau tahu perkembangan kantor Bara setelah dia tinggal pergi. Ada perkembangan atau jalan di tempat.


Soal Bara Sania tak kuatir karena di rumah ada Bu Jaya yang siaga merawat anaknya. Ibu mana tega melihat anak kandung sendiri menderita? Bu Jaya sengaja rahasiakan di mana adanya Sania untuk beri pelajaran pada Bara hargai isteri. Dari awal mereka sudah tahu Sania ke mana. Maka itu mereka tidak susah hati walau Sania pergi tanpa pesan.

__ADS_1


Keluarga Jaya berangkat ke Jerman di mana Sania sudah menanti di sana. Selesai urusan bisnis mereka bertolak ke Belanda di mana adanya keluarga Sania dari sebelah pihak mamanya. Jaya sekeluarga dijamu bak raja di kastel mewah keluarga Muller. Pak Jaya sekeluarga dimanjakan oleh Sania. Segala kebutuhan terpenuhi termasuk keliling berbagai destinasi wisata di Belanda.


Di tanah air Bara nelangsa ditinggal bini, di Belanda Jaya sekeluarga menikmati liburan penuh kemewahan. Bahkan Sania berencana ajak mertua dan adik iparnya pesiar dengan kapal super mewah di lautan bebas selama seminggu. Sayang rencana itu berantakan karena Arsy terlanjur bikin ulah berniat habisin Bara. Mau tak mau mereka harus segera pulang melihat kondisi Bara.


Puji syukur Bara diberi umur panjang bisa lewati musibah. Semoga cukup sekian cobaan buat Bara. Ke depan bisa hidup aman sentosa bersama keluarga kecilnya.


Sania berangkat ke kantor diantar Fadil. Fadil tak ijinkan Sania pergi sendirian ke kantor mengingat peringatan Pak Elmo tentang lawan yang sedang mengincar Bara dan Sania. Fadil merasa wajib menjaga kakak iparnya selama Bara belum sembuh total. Fadil memang suka pada Sania namun Fadil masih waras untuk menikung abang sendiri. Perhatian pada Sania murni karena rasa sayang keluarga.


Sejak Sania hamil Fadil menjaga mulut untuk tidak merayu Sania lagi. Perasaan wanita hamil tak sama dengan wanita umum. Wanita hamil lebih sensitif. Salah omong bisa runyam.


Mobil mewah Fadil berhenti di depan kantor Bara persis di depan pintu masuk. Sania turun dengan hati-hati karena di perutnya ada isi tiga janin Bara. Sania bertanggung jawab menjaga titip Allah tersebut.


"Sania...kalau mau pulang telepon aku ya! Aku jemput kamu." Ujar Fadil menyembulkan kepala dari balik kaca mobil.


Sania mengangguk dibarengi senyum lembut. Senyum inilah bikin Fadil tak bisa lupakan Sania. Dari awal jumpa di supermarket dulu Fadil selalu teringat pada Sania. Siapa sangka Sania justru jadi kakak ipar.


"Hati-hati di jalan! Jangan ngebut!" Sania ingatkan Fadil.


Fadil angkat tangan bunyikan klakson melajukan mobil tinggalkan pelataran parkir kantor Bara. Perlahan mobil itu merayap menghilang di tikungan.


Sania balik badan menatap gedung kantor yang dia tinggalkan satu dekade. Sania rindu pada Dea dan teman-teman satu geng. Tanpa pikir lama Sania ayunkan langkah ke arah lift. Sania disambut hormat oleh satpam yang mengenal Sania sebagai bini bos mereka.


"Selamat datang Bu Sania." sapa satpam sopan.


"Terima kasih." balas Sania tak kalah ramah.


Sania melewati para karyawan yang bertugas di lantai bawah dengan senyum penuh persahabatan. Sebagai istri bos Sania tak tunjukkan sikap arogan. Sania merendah agar tak ada gap antara bos dan bawahan. Membentang jarak akan menekan mental bawahan. Mereka akan selalu merasa rendah diri. Tak jarang membuat kerja jadi amburadul.


Sania ingin mengurangi tekanan pada bawahan ajak mereka bekerja sama dalam wadah pas. Semua berjalan di atas divisi masing-masing sesuai keahlian mereka.


Tak terasa Sania tiba di lantai sepuluh tempat dia bertugas. Di sana sudah ada Dea dan Putri. Keduanya bersorak riang begitu derap sepatu hak rendah Sania berdetak memecah kesunyian di lantai itu.


"Sania..." Putri merentangkan tangan siap menampung tubuh mungil Sania ke pelukannya.


Tanpa susah payah Sania mendarat di pelukan Putri disusul Dea tak mau berdiam diri. Dea ikut memeluk Sania dari samping. Ketiga wanita itu saling berpelukan melepaskan rasa kangen. Mereka tak ubah seperti boneka Teletubbies berpelukan.


"Kami rindu banget Sania. Gimana kesehatanmu? Katanya hamil anak Pak Bara." tanya Dea tanpa melepaskan pelukan.


"Aku sehat dan bayi-bayi aku juga sehat. Kalian gimana?"


"Kami ya gini! Eit tunggu...katamu bayi-bayi. Memangnya anak Pak Bara kembar?" usil Dea penasaran.


"Iya...kembar tiga. Mereka semua sehat." jawab Sania bahagia bisa kasih surprise pada rekan kerja.


"Apa? Tiga? Kayak anak kucing saja." ujar Dea kaget tapi ikut senang.

__ADS_1


"Pak Bara perkasa. Sekali cetak dapat tiga. Semoga aku juga gitu. Sekali cetak dua atau tiga." timpal Putri berharap nasib semujur Sania.


__ADS_2