
Roy termenung dengar kata kata Bara. Masih adakah kasih sayang tulus sesama manusia? Apa lagi Sania adalah rival Nania dalam rebut perhatian Bara. Mungkin Sania cari muka di depan Bara agar dapat kasih sayang lebih dari Bara.
"Sejujurnya aku masih ragu ada orang demikian tulus pada madu sendiri. Kalau ada artinya nasib kamu bagus. Dan lagi bini mudamu sangat cantik dan muda. Kamu yang sudah tua harus lebih sigap jaga daun mudamu." Dr. Frans ikut beri komentar tentang Sania.
"Kalian tak tahu bagaimana sosok Sania. Dia gigih majukan perusahaan sampai tak istirahat dengan baik. Proyek proyekku datang berkat dia." Bara menatap Sania yang masih terbaring belum sadar diri. Bara menyesal telah buat Sania ketakutan dicium di depan umum. Sania betul betul berlian murni belum tersentuh tangan nakal.
"Itu rejekimu. Mungkin balasan dari kesabaranmu terhadap Nania. Sebentar lagi gadismu akan sadar. Dan Nania mungkin agak lama sadar karena dia disuntik obat penenang untuk hindari stress rasa sakit." Dr. Frans menepuk bahu Bara beri rasa simpatik.
Bara tersenyum pahit. Kehadiran Sania dalam hidupnya akan menjadi berkah atau bencana belum tahu pasti. Sania perlahan dan pasti telah masuk dalam hatinya yang telah lama beku. Bara merasa dia tak bisa mencintai wanita lagi sejak kejadian beruntun buat Bara hilang kepercayaan atas cinta.
"Orang baik pasti akan dapat hasil hasil baik juga. Kau sudah berusaha cari kesembuhan Nania. Kami sudah lihat usahamu. Sania adalah bonus." Roy juga bangkitkan semangat Bara untuk berjuang untuk kedua wanitanya.
"Terima kasih."
"Ok...aku pergi dulu! Biarkan kedua wanitamu istirahat. Kalau ada apa apa teleponi aku." Dr. Frans beranjak pergi karena masih ada pasien lain harus ditangani.
"Terima kasih dok!"
Dr. Frans keluar dai ruang perawatan dua wanita Bara. Tinggal Bara dan Roy jaga Nania dan Sania. Keduanya enggan komunikasi tak tahu harus bahas apa tentang dua wanita yang sedang sekarat.
"Astaga..aku lupa ada janji sama Pak Zainal." seru Bara tiba tiba sampai Roy kaget.
"Janji apa?" Roy ikut panik.
"Bahas masalah tukar tanah. Tunggu kuteleponi mereka dulu." Bara cepat cepat ambil ponsel hubungi Dr. Cipto dan Pak Zainal.
Bara tak mungkin abaikan dua pelanggan penting yang bakal tambah rejekinya. Tanpa ragu Bara kabarkan musibah yang dia alami Sania. Bara tak mungkin ngaku bahwa Sania itu isterinya.
Untunglah Pak Zainal dan Dr. Cipto tak marah Bara ingkar janji. Mereka akan bahas masalah tukar tanah antara mereka. Bara bersyukur diberi kemudahan oleh Allah. Di saat terdesak begini Bara baru mengerti betapa besarnya karunia Allah padanya.
Sania mengerang kecil buat Roy dan Bara segera menoleh ke arah suara gadis mungil ini. Bara cepat cepat dekati bini mudanya sambil menggenggam tangan Sania.
Sikap Bara begitu lembut tak seperti biasa dingin. Bara mau kasih tahu Sania bahwa gadis ini sangat berarti baginya. Bukan hanya sekedar isteri dalam perjanjian.
Sania buka mata menatap Bara. Gadis ini masih linglung baru sadar dari mimpi.
"Hai..sudah sadar?" tanya Bara pelan takut bikin kaget orang yang baru siuman.
"Aku di mana?"
"Kau di rumah sakit. Kau pingsan waktu mandi. Aku yang bawa kamu ke sini."
Sania berusaha mengingat semua kejadian sebelum dia pingsan. Sania agak syok jumpa Bobby ditambah ciuman Bara mendadak di depan umum. Sania merasa kepalanya agak pusing lalu tak sadar diri. Sania ingat dia sedang mandi telanjang. Lalu Bara yang bawa dia berarti Bara sudah jelajahi seluruh badan Sania lewat sinar mata. Sania menjerit kecil bayangkan Bara pelototi tubuh telanjangnya. Semua jadi tontonan gratis buat laki itu.
Bara dan Roy kaget Sania menjerit walau suaranya kecil. Kedua cowok itu mengira Sania merasa ada yang tak beres. Bara cepat cepat memeluk gadisnya. Sania makin syok dipeluk Bara secara tiba tiba.
"Pak Bara jangan gitu! Aku malu." seru Sania
"Ya Allah masih malu pada suami sendiri. Kau ngerti agama tapi tak ngerti bahwa menolak suami itu dosa."
"Kita kan bukan suami isteri betulan. Hanya untuk mbak Nania. Kalau mbak sembuh aku akan mundur."
Bara merasa dadanya sesak oleh kata kata Sania. Ternyata Sania tak ada rasa suka sedikitpun padanya. Bara pikir seiring waktu Sania akan luluh padanya. Pemikiran Bara salah.
Roy ikut dengar kata kata Sania kini yakin Sania bukan mengincar posisi pengganti Nania di hidup Bara. Sania tulus pada Nania. Roy kagum pada sifat welas Sania. Sudah jarang ada orang rela berkorban demi orang lain. Bara beruntung mendapat bini muda sebaik Sania.
"San...kita adalah suami isteri sah hukum dan agama. Ke depan mau gimana hanya Allah yang tahu. Selama kau masih isteriku maka aku wajib nafkahi kamu lahir batin. Kamu bukan tak tahu hukum wanita yang ingkari seorang suami."
Roy puji modus Bara menyudutkan Sania. Bara tentu tak mungkin lepaskan Sania begitu saja walau sesuatu terjadi pada Nania.
__ADS_1
"Aku...aku..." Sania gagap tak bisa jawab kata kata Bara.
Bara tersenyum menenangkan bini mungilnya agar jangan makin stress hadapi dirinya. Bara akan melangkah perlahan untuk raih simpatik Sania. Bertahun sudah dia lalui tanpa ikatan cinta, kini menunggu selangkah lagi dapatkan hati Sania mungkin bukan tantangan bagi Bara. Bara yakin kalau dia tanam bibit bagus panennya nanti akan berbuah manis.
"Jangan pikir apapun! Sehatkan badan dulu! Lihat mbakmu juga tidur di sini!" Bara menunjuk Nania yang terbaring pucat di ranjang satu lagi.
Sania kaget mendekap mulut tak sangka Nania juga berada di rumah sakit. Wanita itu lebih parah darinya. Nyaris mirip orang mati. Hanya perut masih turun naik tanda masih bernafas.
"Pak...kenapa mbak Nania?" tanya Sania kuatir.
"Dia sudah sering begini. Kondisinya lagi tak bagus. Kau harus kuat agar Nania tak makin stress lihat kamu sakit. Kalian sakit kok berjemaah?"
Sania menurunkan kepala menyesal telah pingsan merepotkan Bara. Laki itu tak gampang pertimbangan dua wanita sakit.
"Maafkan aku Pak!" lirih Sania kecil.
"Kenapa minta maaf? Toh kamu tak minta pingsan! Kau lapar?"
"Sedikit..." sahut Sania malu malu meong.
"Tuh ada Roy! Dia akan beli makanan untukmu! Mau makan apa?"
Sania melirik Roy malu. Masih muda tubuh rapuh. Sungguh memalukan sebagai anak muda. Roy melambai sambil beri senyum termanis pada bini muda nan menawan.
"Sania ngidam apa?" tanya Roy asalan.
"Lho??? Kok ngidam? Hamil sama siapa?" Sania melongo.
"Hamil hamilan kali. Canda..peace!" Roy angkat jari tanda nyerah.
Sania menghembus nafas lega. Sania takut Roy salah sangka dia sedang mengandung anak Bara padahal mereka belum ngapain. Sania masih belum rela tanggalkan gelar perawan Ting Ting. Sania masih punya rencana lebih bagus untuk masa depannya.
"Kau pingin apa? Atau aku yang beli?" tawar Bara harap Sania mau berikan sedikit rasa manis padanya.
"Apa saja asal jangan lemak!"
"Aku saja pergi! Aku tak enak jaga dua wanita sakit. Takut jatuh cinta pada salah satunya." gurau Roy dibalas delikan mata Bara.
"Pergilah! Jangan banyak bacot bro!" usir Bara
Roy angkat kedua tangan sambil senyum ngejek pada Bara. Bara mana mungkin ijinkan orang lain usik posisi ternyaman saat ini. Punya bini muda cantik berbakat pula. Roy takkan nolak bila Bara tawarkan bininya itu buatnya. Janda bekas teman juga tak apa.
"Pak...mbak Nania tak apa kan?" tanya Sania setelah Roy pergi.
"Begitulah dia! Aku sudah berusaha agar dia tak menderita. Tapi apa dayaku?" Bara melempar pandangan ke arah Nania yang masih tidur karena pengaruh obat tidur. Ntah sampai kapan Nania akan jalani hidup begini.
"Aku sudah hubung saudaraku tapi belum ada jawaban. Oya...kita masih ada janji sama Pak Zainal! Aku pergi sekarang. Bapak di sini jaga mbak." Sania teringat janji sama klien untuk bahas pertukaran tanah.
Sania hendak cabut infus di tangan untuk tunaikan tugas sebagai penengah antara Dr. Cipto dan Pak Zainal. Pekerja profesional harus tepat janji walau harus seberang lautan dan daki gunung.
Bara menahan tingkah konyol Sania cari mati. Sakit begini masih ingat kerja. Apa begini Bobby tekan Sania cari proyek? Sania jadi maniak worker. Gila kerja.
"Jangan bergerak!" bentak Bara tak sabaran lihat kelakuan bodoh Sania.
"Pak...ini gimana?" Sania panik ingkar janji sama klien.
"Nyawamu lebih penting dari proyek. Proyek bisa dicari kapanpun tapi kamu cuma ada satu. Tak mungkin kucari ganti bila hilang." Bara memeluk Sania ungkap rasa sayang dari lubuk hati.
Sania terpana kena rayuan maut Bara. Kali ini Sania tak mendorong tubuh Bara agar menjauh lagi. Cuma Sania belum bisa membalas pelukan Bara. Biarlah laki itu yang memeluknya. Bara berhak melakukannya karena dia adalah suami sah Sania.
__ADS_1
"Terima kasih tak menolakku." bisik Bara lembut di kuping Sania.
"Pak...ini rumah sakit! Malu.." desis Sania melirik ke pintu takut sewaktu muncul orang lain.
"Siapa berani larang aku peluk macan kecilku?" Bara masih belum mau lepaskan pelukan yang sudah dinantinya berbulan. Tubuh Sania lembut dan harum bikin otak jernih.
"Dasar mesum!"
"Mesum gimana? Wajar suami peluk bininya. Dan lagi kan cuma peluk. Belum minta jatah."
Wajah Sania bersemu merah digoda Bara. Arah pembicaraan Bara menjurus ke arah intim. Sania masih segan bahas hal ginian karena merasa belum cukup pengalaman.
"Pulang otaknya dibawa laundry biar bersih."
Bara tertawa dengar nada sewot Sania. Bara melepaskan pelukan meletakkan kedua tangan di lengan atas Sania menahan gadis itu untuk bergerak.
"Hari ini kau istirahat sini. Aku bisa jaga kalian berdua sekaligus. Aku lega kau tak apa. Oya aku kabari papa dan mama dulu ya!"
"Jangan! Kasihan orang tua datang sini. Toh aku tak apa."
"Aku mau mereka datang lihat kalian berdua. Kalau Nania saja sakit beliau beliau takkan datang. Mungkin kehadiranmu bisa buat papa dan mama bisa dekatan sama Nania." Bara jelaskan mengapa kabari kedua orang tuanya kalau Sania dan Nania masuk rumah sakit.
"Jadi selama ini kedua orang tuamu tak pernah akur sama mbak?"
Bara menggeleng. Ada pancaran redup warnai bola mata Bara. Tak ada kilatan cahaya sedikitpun. Seberapa buruk hubungan Nania dan keluarga Bara. Menurut Sania Nania bukan orang buruk. Tapi mengapa keluarga Bara tak terima Nania. Kesalahan apa telah dibuat Nania?
"Mengapa Pak?"
"Bukankah sudah kucerita kisah kami?"
"Aku tak lupa. Semua orang punya masa lalu. Baik atau buruk sudah terlampaui. Buat apa diungkit-ungkit?" ujar Sania. Sania sendiri bingung dia mampu keluarkan kalimat ini. Dia sendiri tak bisa move on dari masa lalu.
Kesalahan papanya dan perempuan bernama Amanda tak pernah bisa dihapus dari memori Sania. Sania tetap ingat semua kekejaman orang di masa lalu yang bikin Sania trauma akan kata cinta. Cinta mamanya pada laki bernama Suhada telah bawa tragedi menyedihkan.
Bara mengelus pipi mulus Sania perlahan. Bara ingin salurkan emosi terpendam dalam dada. Menyentuh pipi lembut Sania bisa tenteram kan hati.
"Papa dan mama belum bisa maafkan Nania! Ada sesuatu yang tak bisa kukatakan padamu. Aku tak mau kamu gambar bayangan buruk tentang Nania di benakmu. Cukup kau kenal Nania sekarang. Kau paham maksudku?"
"Tidak..."
"Nania banyak bersalah di masa lalu. Tapi sudahlah! Tak usah dibahas lagi. Kau istirahat saja. Tunggu Roy balik kau makan! Aku telepon papa dan mama ya!" Bara menepuk pipi Sania lalu keluar dari ruang perawatan.
Sania melirik Nania yang terbaring lemah. Wajah wanita itu pucat pasi seperti tak ada aliran darah. Sania makin iba pada wanita itu. Kesalahan apa yang telah diperbuat hingga di benci keluarga Bara. Jujur Sania ingin tahu tapi takut dibilang kepo oleh Bara.
Sania yakin suatu saat Bara akan buka cerita ini. Sania tak punya pilihan lain selain menanti. Air tetap akan mengalir waktu terhalang bebatuan keras. Kisah Nania pasti akan terbuka suatu saat.
Sania tak dapat berbuat apapun selain patuh jadi anak manis menanti datang pengasuh. Sania ingin teleponi Lisa namun ponsel tertinggal di rumah. Bagaimana bisa nyasar ke rumah sakit saja Sania tak tahu. Bangun bangun sudah di rumah sakit. Bagaimana bisa bawa ponsel?
Sania yang sedang terbuai lamunan dibuat kaget tiba tiba Nania mengerang keras. Nafasnya tersengal susah bernafas.
Jantung Sania nyaris copot lihat kondisi madunya tiba tiba berubah.
"Pak Bara.." teriak Sania sekeras mungkin. Sania turun dari tempat tidur hampiri Nania yang seperti ayam potong." Mbak...ya Allah! Ngucap mbak...ngucap!"
Bara masuk tak kalah kaget lihat kondisi Nania. Tanpa pikir panjang Bara segera panggil perawat dan dokter. Keadaan jadi panik karena Nania kejang kejang dalam keadaan tak sadar diri.
Untunglah dokter dan perawat segera datang. Nania langsung didorong keluar untuk di tempatkan di ruang yang ada peralatan lebih lengkap. Nania dilarikan ke ruang ICU.
Sania membeku lihat Nania disorong keluar. Jantung Sania hampir berhenti lihat kondisi orang yang ingin dia lindungi. Sania tak dapat berbuat apapun untuk menolong Nania.
__ADS_1