MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Kelaparan


__ADS_3

Bara tentu saja setuju dengan usul Sania. Bara ingin jadi kompas hidup Sania. Menuntun wanita itu ke arah tepat. Bara tak ingin gap terbentang antara mereka. Harus ada jembatan kokoh siap jadi alat penghubung antara mereka. Yang lalu biarlah berlalu. Hari esok nan cerah telah menanti mereka.


"Kita buka lembaran baru ya sayang. Semoga tak ada kerikil halangi jalan kita lagi." Bara mengecup ubun kepala Sania yang masih berada di dekapannya.


"Iya... mungkin Lieve masih bertanya mengapa Sania bisa sesukses ini dalam usia muda. Lieve harus dengar semua tentang isterimu ini."


"Ok...Lieve siap jadi pendengar yang baik. Keluarkan semua ganjalan di hatimu. Baik buruk tetap isteri Lieve."


"Terima kasih dukungan Lieve! Seperti ceritaku dulu mama meninggal ditabrak waktu antar Sania ke sekolah. Waktu itu namaku masih Santi. Setelah mama meninggal Sania ditinggalkan bersama pembantu di rumah. Papa atau siapapun tak pernah datang jenguk Sania. Seminggu setelah itu datang Om Elmo dari Belanda jemput Sania. Dari situ tertanam dendam kesumat pada Suhada dan Amanda." Sania hentikan cerita sambil urut dada merasakan kepedihan ditinggal sang mama. Bara tak menyahut biarkan Sania keluarkan isi hati yang terpendam.


"Di Belanda Sania home schooling dia tahun. Selama itu Sania hidup dari dendam. Setiap tetes air mata adalah dendam pada keluarga di tanah air. Dua tahun Sania coba sekolah di sekolah umum coba ikut ujian sekolah tingkat atas. Sania berhasil lulus pindah kuliah di Harvard dalam usia relatif muda. Sania kuliah sambil menimba ilmu langsung dari perusahaan opa. Maka itu Sania tak kaget begitu lulus bisa berkarya. Opa wariskan seluruh kekayaan pada Sania didukung Om Elmo dan Om Wolf. Mereka adalah kakak kandung mamaku. Merekalah pengganti orang tuaku dan bimbing Sania jadi manusia berguna. Mereka ogah terjun ke bisnis karena mereka lebih memilih jadi dokter ataupun pengacara. Opa adalah tutor Sania menjadi macan bisnis." Sania kembali berhenti bicara untuk jeda ambil nafas. Bara tetap jadi pendengar baik. Hanya sekali-sekali tangan Bara mengelus kepala Sania beri kenyamanan.


"Opa berharap Sania dapat suami yang mencintai Sania apa adanya. Di Belanda nama Sania Mulder sangat top sebagai pengusaha muda maka Sania pulang ke tanah air mencari cinta. Sania melamar kerja di PT. Build. Bobby sangat baik selama Sania kerja. Setahun kerja di sana Bobby nyatakan cinta. Ya setahun lebih kami jalan bersama dan akhirnya kandas. Selanjutnya Lieve tahu kisahnya." Sania menutup cerita dengan helaan nafas panjang.


Sania usianya masih muda tapi kisah hidup lebih panjang dari sungai Nil. Semoga kisah Sania tetap berlanjut tanpa air keruh lagi. Semua bening mengalir lancar. Bara bersumpah akan menjadi nahkoda setia bagi Sania.


"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku! Kau adalah anugerah terindah dalam hidupku. Lupakan masa lalu kita. Kita buka lembaran baru." Bara berharap Sania bisa buang semua kenangan buruk.


"Iya Lieve! Kita punya tanggung jawab lebih besar sekarang. Anak-anak menanti kita beri kehidupan lebih baik."


"Yup...sekarang kita tidur! Hari ini cukup lelah bagimu. Kamu pasti baru tiba hari ini kan?"


"Kok tahu?"


Bara menyentik hidung Sania lembut. Menyentik dengan kasih sayang.


"Tuh kopermu belum dibongkar! Malam ini Lieve ingin memelukmu sepuasnya. Besok baru kita bertempur setelah tenagamu pulih." Bara ingin kasih tahu pada Sania kalau dia mencintai Sania tulus bukan dari nafsu. Bara mau Sania tahu di dunia ini masih ada cinta yang betul-betul keluar dari lubuk hati.


"Idihhh...genit! Oya ini obrolan terakhir. Penting...!"


"Apa lagi sayang? Bikin Lieve deg-degan. Apa salah Lieve?"


"Soal perusahaan. Lieve mau kita gabung atau Lieve bersedia jabat CEO SHINY?"


"Tidak...Lieve tetap akan merangkak pelan saingi kamu. Cuma Lieve minta sayang tahu batasan tugas bisnis dan tugas keluarga. Lieve tak larang sayang berkarya tapi ingat masih ada anak dan suami. Jaga diri dan jaga keluarga. Jadilah pimpinan yang baik bagi ratusan karyawan mu."


"Terima kasih Lieve! Beri lampu merah kalau Sania lupa diri. Jadilah imam Sania yang baik!"


"Insyaallah...Amin!"


"Kita tidur." Sania menarik selimut tutupi seluruh tubuh. Malam ini akan berakhir manis. Mungkin inilah malam terbaik dalam hidup Sania. Semua benang kusut yang bergulung bertahun-tahun terurai. Bara selaku suami memahami posisi Sania. Terpenting Bara tak tertarik pada nama besar SHINY.


Sania terbangun tanpa kicauan burung Pak Slamet. Sudah beberapa hari Sania tak dimanjakan oleh suara merdu dari paruh runcing itu. Sania terbangun oleh bunyi alarm dari ponsel pintar. Suara dari mesin buatan tangan manusia. Suara alam yang dirindukan Sania tertinggal di lingkungan rumah mertuanya. Sania tergelitik ingin cepat balik sana untuk dengar kicauan yang jadi obat penenang Sukma.


Sania membangunkan Bara untuk jadi imam sholat subuh. Sudah ada Bara maka laki itu wajib melakukan tugas memimpin keluarga jalankan rukun Islam.


"Selamat pagi Lieve!" sapa Sania mengecup pipi lakinya. Mata Bara belum bisa diajak bersahabat. Masih terbuai sisa mimpi semalam.

__ADS_1


"Ehm.." sahut Bara bergumam.


Sania tersenyum melihat wajah ganteng suaminya tak ubah seperti anak kecil sedang nakal. Dilihat berapa kalipun tetap ganteng walau muka bantal.


"Lieve sayangku! Sholat..."


"Lieve masih ngantuk. Ini hari Minggu kan?"


"Sholat tak kenal hari. Ayok bangun atau Kutinggal pergi ke musholla terdekat!" ancam Sania beranjak turun dari ranjang. Orang malas harus diancam baru bisa buka mata. Sholat mana ada hati libur. Mentang-mentang hari libur sholat juga diliburkan.


Bara tersentak dapat ultimatum singkat yang mematikan. Pagi buta gini Sania ingin ke musholla bukan pilihan baik. Pergi tanpa pengawalan suami lagi.


Bara meloncat bangun bak kelinci diimingi wortel segar. Laki ini segera mengejar Sania yang sudah duluan masuk kamar mandi.


Bara melirik badannya yang belum berpakaian. Tak bawa pakaian ganti mau tak mau Bara harus kenakan pakaian resmi untuk acara pesta semalam PT. SHINY. Dirikan sholat tanpa pakaian lengkap tidak sah sholatnya. Melanggar norma Islam.


Sania keluar dari kamar mandi sudah basah baru siap ambil air wudhu. Sania melirik Bara yang sedang kenakan pakaian semalam. Sania tak punya pakaian cadangan yang bisa dipakai Bara. Perbedaan menyolok antara tubuh Bara dan Sania tak ada cara bantu Bara pakai pakaian Sania walau hanya kaos oblong. Sania kecil mungil sedang Bara mirip dewa perang Yunani. Tinggi besar.


"Maaf Lieve! Tak ada pakaian untuk Lieve." Sania memelas lupa kalau suaminya tak tinggalkan jejak di apartemennya.


"Sudahlah! Hanya pakaian. Toh baju ini belum kotor! Lieve ambil air wudhu dulu. Kita sholat bersama."


"Takut Sania kabur lagi?" olok Sania terkekeh.


"Persis..." Bara acung jempol iyakan analisa Sania. Sayap Sania tumbuh makin kokoh. Siap terbang ke tempat yang tak bisa dijangkau Bara maka itu Bara tak mau kecolongan lagi.


Tak lama kemudian keduanya sholat bersama. Sholat terpendek di antara sholat lima waktu berakhir singkat. Sania panjatkan doa semoga keluarganya dihindarkan dari hujan badai kehidupan. Sudah cukup mereka lalui badai cukup berat. Saatnya terbit terang.


Sarapan air putih. Itulah slogan pagi ini. Bara menggeleng melihat keteledoran Sania. Mau ajak hidup hemat juga tak model gitu. Paling tidak, ada bubur putih walau hanya berada sedikit garam.


Sania meringis tatkala mata Bara hakimi isterinya yang tak punya kalkulator buat hitung hitungan dengan isi perut. Bagi Bara lapar sebentar tak masalah tapi ini menyangkut Debay dalam perut Sania.


Keduanya duduk nelangsa di kursi sofa. Menunggu bukan jalan solusi. Bunyi keroncong di usus tetap berlanjut tanpa aksi.


"Sayang tunggu sini! Lieve keluar beli makanan. Sekitar sini ada jual makanan?"


"Tak usah...mas Rangga kan mau ke sini sama Agra. Biar mereka yang beli. Lieve mau makan apa?"


"Boleh juga. Biar kutelepon mas Rangga." Bara merogoh kocek di mana ponselnya bersemayam. Layar diaktifkan telusuri nomor Rangga. Sebentar saja muncul nama orang yang dimaksud. Bara segera klik nama itu. "Assalamualaikum mas Rangga."


"Waalaikumsalam...tumben pagi telepon? Sania ngambek lagi?"


"Oh tidak. Sudah jinak! Ini mau merepotkan dikit."


"Syukurlah kamu berhasil lulus jadi pawang macan. Emang ada apa?"


"Di sini bersih sekali. Saking bersih kulkas juga bersih. Imbas perut kami ikutan bersih. Bisa bawa sarapan?"

__ADS_1


Rangga terbahak-bahak dengar kata kiasan Bara menyindir rumah Sania yang terlalu bersih. Saking bersih bebas stok makanan.


"Baiklah! Kami juga sedang bersiap ke sana. Si Agra tak sabar mau jumpa kakaknya. Secepatnya. Ok?"


"Trim's mas. Kami tunggu. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Bara lega tak perlu tinggalkan Sania sendiri cari makan. Bara masih kuatir tiba-tiba Sania raib tak jelas. Suka menghilang itu kelebihan Sania. Bara harus kerja keras hilangkan sifat buruk ini. Sania harus diajar hadapi kenyataan. Bukan menghindar.


Bara menarik Sania duduk lebih dekat untuk rasakan betapa hangatnya bersama orang tercinta. Segalanya jadi berarti bila bersama makhluk yang menguasai hati.


"Sayang...mulai hari ini tak boleh punya acara kabur-kaburan ya! Kamu punya Lieve yang siap jadi super heromu. Ingat itu!"


"Ingat...Oya...tak lama lagi Joachim mau balik ke Jerman. Roy atau Rudi ke pulau B."


"Nanti kita rapatkan bersama. Sugeng juga cocok ke sana. Oya...soal hadiah Sugeng! Apa bukan Idemu beri dia mobil?"


Sania tertawa sadar kalau Bara tak tolol seperti dugaannya. Tanpa sedikit sulap Sugeng mana mungkin jadi pemenang utama. Dari awal Sania memang ingin beri hadiah pada karyawan rajin itu. Sugeng siap temani Bara dalam suka duka. Wajar dapat sedikit penghargaan.


"Sebenarnya hadiah mobil itu tak ada. Mobil memang khusus kusediakan untuk dia. Kalau kuberi gitu saja yang lain pasti iri maka kugunakan kesempatan ini beri padanya."


Bara tak habis pikir bagai Sania bisa tahu itu nomor Sugeng. Semua nomor tersimpan di wadah kaca transparan. Tak ada kesempatan main curang. Bagaimana cara Sania undi nomor Sugeng masih jadi tanda tanya besar di otak Bara.


Sania tertawa kecil perlihatkan cincin mungil di jari kelingking model belah rotan. Sangat sederhana tak sesuai untuk seorang CEO bernilai trilliunan. Bara bingung lihat cincin itu. Apa hubungan dengan hadiah Sugeng.


"Waktu bagi undangan untuk Sugeng sudah kami beri tanda nomornya. Kertas atas nama Sugeng kami lekatkan besi magnet kecil. Jadi waktu diaduk cari pemenang kertas itu akan melekat di cincinku karena cincin ini terbuat dari besi. Mudah kan? Ini bukan curang tapi caraku kasih hadiah tanpa bikin iri yang lain. Anggap nasib Sugeng sedang mujur."


Bara manggut-manggut kagum pada cara Sania beri kado indah pada Sugeng tanpa timbulkan rasa iri di hati sesama karyawan. Sania memang lain dari yang lain. Masih mampukah Bara berpindah hati?


"Terima kasih sayang. Kamu penuh kejutan. Kelak jika ada karyawan berprestasi akan kupakai teknikmu beri hadiah."


"Kita harus memikirkan Theo, Savitri, Dea, Mosa lagi. Kita pikir cara lain beri penghargaan. Mereka sangat setia padamu. Mereka ada waktu Lieve terpuruk. Kini Lieve sudah bisa berdiri tegak maka tuntunlah mereka bergerak lebih maju."


Bara mengecup kening Sania hargai semua wejangan Sania. Berbahagialah karyawan yang punya bos sebaik Sania. Bara percaya Sania selalu perhatikan kesejahteraan semua karyawan yang bekerja di perusahaannya.


"Lieve akan ingat itu. Besok sayang langsung ke SHINY?"


"Tidak...tunggu Om Elmo selesaikan peralihan dan bereskan pembukuan baru serah padaku. Paling cepat jalan dua bulan. Kalau Sania melahirkan kelak Lieve mau bantu handel SHINY sebentar?"


"Itu sangat berat sayang. Otak Lieve tak sebagus otakmu." tolak Bara secara halus. Bara tak mau dianggap numpang hidup sama Sania. Jadi benalu isap darah Sania. Sania boleh berkarier setinggi langit tapi tetap harus ingat di bawah masih ada yang setia menanti.


"Apa Sania jual semua saham agar bisa fokus sama keluarga?" gumam Sania ntah pada diri sendiri atau pada Bara.


"Jangan...Lieve tak batasi kamu berkarier tapi tetap ingat di rumah masih ada yang menunggumu pulang. Sejauh burung bangau terbang akan tetap ingat sarang hangatnya. Sayang juga harus gitu. Boleh kepak sayap selebar mungkin tapi tahu arah pulang."


"Tapi Sania bukan cuma urus SHINY di sini. Di Amerika, Jerman, Belanda juga harus diikuti. Semua perlu pimpinan mereka. Apa Sania sanggup bagi waktu untuk jalani perjalanan begitu lelah?" Sania menatap jauh keluar jendela. Dari sana Sania melihat cahaya matahari mulai garang. Awan-awan warna putih bertengger di langit biru jadi satu objek memanjakan netra.

__ADS_1


"Nanti kita pikir bersama. Terangkan pada Lieve sistim kerjamu. Mungkin Lieve bisa bantu kamu ringankan beban. Apa keluargamu di sana tak ada yang mau teruskan usahamu?"


"Banyak yang bantu tapi setiap kuartal harus rapat untuk hitung untung rugi. Yang bantu saudara jauh. Mereka berada di posisi penting. Joachim termasuk keluarga walau agak jauh. Dia banyak bantu Sania kembangkan bakat."


__ADS_2