MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Buka Jati Diri


__ADS_3

Sania tak mau mengecewakan Pak Jaya memberi kode pada Bara untuk ikuti saran Pak Jaya menata kantor baru mereka dulu. Pak Jaya demikian semangat membantu Bara mendapat tempat lebih baik dari kantor sekarang mana mungkin Sania lempar lelaki paro baya itu ke dalam jurang kekecewaan.


"Iya pa..kita piknik setelah semua berjalan lancar. Dan lagi rencana piknik ini terlalu mendadak. Sania tak ada niat lain selain ingin kita sekeluarga berkumpul biar makin akrab." Sania mengatakan isi hati agar Pak Jaya tak berpikir Sania hanya senang huru hara.


Pak Jaya menggoyang tangan ingin katakan bahwa Sania tak bersalah punya keinginan menyatukan satu keluarga agar makin saling mengenal satu sama lain.


"Tak usah dipikirin! Kita makan. Besok kalian kan harus ke PT. SHINY?"


"Iya pa..doakan kami semua lancar."


"Amin.."


Bu Jaya hidangkan buah apel dan anggur sebagai makanan penutup. Mata Fadil berbinar melihat kedua macam buah tersebut. Ntah apa yang terlintas di otak lajang jomblo itu lagi. Mau goda Sania atau sekak Bara yang kaku kayak tiang listrik.


"Wah..aku lebih suka apel dari pada anggur. Kakak ipar mau tahu? Aku lebih suka mengapelin kamu ketimbang menganggurin kamu." Fadil mulai lagi keluarkan jurus perontok iman cewek. Fadil memang perayu ulung mampu ciptakan gombalan setiap lihat objek cocok untuk dituangkan dalam gombalan.


"Fadil..kamu merasa hidupmu terlalu panjang ya? Mau mas bantu persingkat?" geram Bara ingin sekali layangkan tinju ke arah wajah sok imut itu.


Fadil terkekeh tak takut sedikitpun pada ancaman Bara. Makin Bara sewot makin besar semangat Fadil goda abangnya. Hatinya terhibur melihat Bara kesal menahan emosi. Fadil sangat suka pada Sania sejak awal jumpa. Namun sayang Sania masuk ke dalam keluarga sebagai kakak ipar. Bukan sebagai pacarnya.


"Fadil...jaga sopan santun! Sania itu kakak iparmu. Bukan cewekmu.." Bu Jaya ingatkan Fadil agar sadar diri. Bu Jaya tak mau ada konflik dalam keluarga gara-gara seorang wanita. Betapa malu bila tersiar di luar ada abang adik merebut seorang wanita dalam satu rumah.


"Ma..Fadil itu suka canda. Aku sudah kebal dirayu Fadil. Kupingku tak heran dapat rayuan gombal recehan Fadil." ujar Sania kalem tak mau masalahkan rayuan Fadil yang menurutnya hanya iseng. Fadil itu dasarnya laki baik. Mulut sedikit bocor namun dalam gerak-gerik masih dalam koridor sopan.


"Kakak ipar paling ngerti aku. Aku makin tenggelam dalam danau bening di matamu."


Bara merasa pantatnya makin berasap hendak bakar kursi saking geram pada Fadil yang belum tobat walau kena teguran sang mama. Sialnya Sania mendukung adiknya melontarkan rayuan yang selalu tepat sasaran.


"Aku sudah siap makan. Ayo naik atas Sania!" Bara bangkit dari kursi langsung ayun langkah panjangnya naik ke tingkat dua di mana kamar mereka berada.


Sania terpaksa ikut padahal belum puas makan gado-gado hasil racikan sang mertua. Sania ingin jaga wibawa Bara sebagai seorang suami agar Bara tak dianggap suami tak becus urus isteri.


"Maaf! Permisi.." Sania mengejar langkah Bara yang sudah capai tingkat dua. Dalam beberapa langkah saja Bara bisa capai tujuan. Sedang Sania harus puas merambat perlahan dengan postur tubuh mungil.


Sania melihat Bara duduk di sofa dengan tampang kusam. Ternyata lakinya masih terpengaruh oleh ocehan Fadil kirim rayuan setiap jumpa.


Sania tersenyum ayunkan langkah menuju ke pangkuan suami. Tanpa malu-malu Sania tempatkan bokong indahnya di atas paha Bara. Kedua tangan Sania bergerak berkalung di leher Bara sambil hadiahkan kecupan ringan di pipi.


Bara menangkap kepala Sania tak ijinkan wanitanya lepaskan bibir dari pipi. Malah Bara geser pipi perlahan agar mecapai bibir Sania. Bara tak puas hanya dapat kecupan kecil di bibir. Laki ini ******* bibir halal miliknya sampai nafas Sania terengah-engah habis oksigen.


Sania mendorong kepala Bara menjauh untuk ambil nafas. Sania bisa mati kehabisan nafas bila ciuman liar Bara dilanjutkan.


"Lieve..mau jadi duda?"

__ADS_1


"Kok duda? Ini bini di depan mata."


"Aku hampir tewas habis oksigen. Ciuman kok kayak trenggiling **** semut. Kira-kira dong!"


"Sungguh tak profesional. Gimana kalau diajak lomba berciuman terpanjang?"


"Emang ada lomba kayak gitu? Otak panitia mana segitu porno adakan lomba tak masuk akal?"


"Aku pernah baca di majalah ada lomba gitu di luar negeri. Masa kau tak tahu?"


Sania menggeleng. Walau tinggal di luar negeri Sania masih hargai kesopanan sebagi umat beragama. Dalam keluarga Sania di Belanda sangat hargai adat ketimuran juga junjung nilai keagamaan.


"Kami tak ikutan gaya hidup bebas. Kami sangat hormati orang yang tahu tata krama dan junjung tinggi sopan santun.


Bara tahu Sania tak bohong. Dia telah dapat hak sebagai laki pertama dalam hidup Sania. Akhlak Sania sebagai isteri soleha tak diragukan cuma Bara takut suatu saat Sania tergelincir karena serangan Fadil hujani rayuan gombal pada wanitanya.


"Aku takut kehilangan kamu." ujar Bara jujur pada Sania juga pada diri sendiri. Bara mulai rasakan rasa sayang pada Sania perlahan dan pasti. Bukan karena kepintaran Sania mencari proyek tapi sifat baik Sania. Sania kadang tampak cuek tapi dia sangat perhatian hal sekecil apapun dalam hidup Bara.


"Aku takkan ke mana-mana kalau Lieve selalu jujur dan terbuka. Kalau suatu saat Lieve merasa sudah tak cocok hidup bersama. Langsung jujur tak perlu main gila di belakang. Aku siap dua puluh empat jam dengar kejujuran seorang lelaki sejati."


"Omong apa kamu? Aku bisa gila kalau kau tinggalkan! Aku tak mau kehilangan lagi. Sekarang ceritakan tentang dirimu! Aku mau mengenalmu luar dalam."


Sania merasa badannya menegang Bara mu tahu masa lalunya yang sangat menyedihkan. Sanggupkah Sania buka semua cerita suram keluarganya? Bukan satu kisah pantas dibincangkan. Lebih tepat disebut tragedi.


"Begitu beratkah beban masa lalumu?" Bara tanya perlahan takut sakiti perasaan Sania. Perasaan seorang wanita tak sekuat lelaki, wanita cepat hancur bila terkenang rasa sakit masa lalu.


Sania menarik nafas panjang lalu menghembus lewat mulut seakan ingin buang beban di dada.


"Mamaku peranakan Belanda dan Indonesia. Opaku memiliki perusahaan di sini bergerak di bidang meubel. Mamaku pulang ke sini untuk meneruskan usaha opa. Di sini dia kenalan sama laki bernama Suhada. Mereka saling jatuh cinta dan menikah. Setahun menikah terbongkar rahasia Suhada kalau dia sudah punya isteri bernama Amanda. Nyatanya mamaku hanya isteri ketiga Suhada. Isteri pertama Suhada sudah meninggal karena sakit. Mamaku terlalu cinta pada Suhada menerima semua kekurangan laki itu. Di saat umurku delapan tahun mamaku meninggal karena kecelakaan. Mamaku meninggal ditabrak supir yang katanya ngantuk. Supir itu dipenjara selama dua tahun lalu bebas." cerita Sania dengan mata kosong. Kesedihan jelas terbayang di wajah cantik itu. Bara memeluk Sania makin erat beri kekuatan pada Sania teruskan cerita yang tak manis.


"Lalu kamu bagaimana?"


"Aku terlantar di rumah sendirian. Untunglah keluarga mamaku datang dari Belanda membawaku pulang ke sana. Sejak itu aku tinggal di Belanda sampai umur lima belas tahun. Aku masuk Harvard di usia belia. Aku lulus sampai jenjang S2 dalam waktu lima tahun. Di samping itu aku juga ambil jurusan design grafik sebagi kuliah tambahan. Itu cuma sampai S1 karena waktuku tak cukup. Pulang ke Belanda bantu opa. Opa tempatkan aku di Jerman kelola perusahaan di sana. Dua tahun di Jerman aku balik ke Indonesia cari pengalaman. Dua tahun aku kerja di PT.BUILD ya Lieve tahu kisah selanjutnya."


"Tak kusangka biniku yang mungil otaknya titipan Albert Einstein. Kamu sudah jumpa papamu?"


Sania menggeleng, "Aku tak punya papa. Dia merebut semua hak mamaku. PT. Sunrise itu punya mamaku. Begitu mama meninggal Suhada dan Amanda ambil alih perusahaan. Setelah mama meninggal ternyata Suhada kawin lagi. Wanita itu meninggal waktu melahirkan Agra."


"Agra adikmu?"


"Iya..mas Rangga anak bini paling tua. Ranti anak Amanda, aku naka ketiga dan Agra anak ke empat. Agra juga nyaris kehilangan nyawa kalau bukan mas Rangga selamatkan dia bawa dia ke panti asuhan. Rangga terkucil terbuang gitu saja maka dia hidup di luar tanpa peduli pada kekayaan keluarganya. Hidupnya juga sulit."


Bara tak habis pikir bagaimana sosok Suhada sebenarnya. Tega terlantarkan anak demi kekayaan. Apa harta bisa dibawa mati? Harta Tahta dan Wanita memang rangkaian yang bisa tutupi sanubari seorang manusia serakah. Suatu saat Suhada pasti menyesal telah bodoh buang darah daging sendiri demi harta.

__ADS_1


"Sayang..kini kau punya sandaran. Tak perlu ingat masa lalumu. Kita hidup apa adanya bersama anak-anak kita. Aku bukan pengusaha kaya seperti Bobby atau yang lain. Tapi aku janji akan penuhi semua kewajiban sebagai suami."


Sania tersenyum membalas niat baik Bara. Untuk sekarang Sania tak ragu perhatian Bara. Rasa nyaman yang ditawarkan Bara sudah wakili perasaan tulus laki itu. Bara tak seperti Fadil pintar ngerayu namun itu tak penting. Pointnya adalah kesetiaan.


"Terima kasih Lieve..hatiku sedikit lega telah berbagi denganmu. Semua ini adalah fakta. Aku mau bilang PT. Sunrise sudah kukuasai. Kini mas Rangga jadi presiden direktur perusahaan itu. Tuhan itu ada mata. Suhada curangi konsumen dari Amerika kini terjerat masalah hukum. Aku beli sahamnya dan tempatkan Mas Rangga sebagai pemimpin."


"Kau??? Kenapa kau lakukan hal ini? Dana beli perusahaan tidak kecil. Dari mana kau ambil dana sebesar itu?" Bara kaget begitu enteng Sania katakan telah ambil alih Sunrise. Dana yang harus dikucurkan bukan sejuta dua juta. Wanita semuda Sania bisa lakukan gebrakan demikian mengerikan. Seberapa besar power wanita semungil Sania.


"Aku takkan sentuh uangmu. Bukankah uang bulanan saja Lieve tak kasih ke aku?" Sania sengaja ambil moments ini ejek Bara yang lupa kewajiban nafkahi isteri.


Bara menepuk jidat sadar telah lalai tunaikan kewajiban sebagai suami. Bara lupa beri uang belanja buat Sania walau Sania sendiri tak pernah minta.


"Maaf..kesibukkan kita bua aku lupa nafkahi kamu!"


"Mungkin lupa punya isteri ini? Ada isteri lain?"


"Omong apa kamu? Istriku cuma kamu. Untuk selamanya." Bara mengelus pipi Sania lembut biar Sania rasakan perasaan tulus darinya. Sania hanya tertawa kecil tak begitu terharu. Bara belum kenal Sania lebih dalam. Suatu saat Bara akan dibuat lebih kaget oleh Sania. Cukup sekian Sania buka jati diri.


"Bersiap sholat Isya Lieve..itu tiang pegangan buat kita agar jangan jatuh dalam jurang dosa." Sania bangkit dari paha Bara menuju ke kamar mandi ambil air wudhu. Setelah berbicara panjang lebar kisah masa lalu ujungnya tetap menyerahkan diri pada Illahi.


"Sania..tak kusangka Ranti adalah kakakmu sendiri." ujar Bara sebelum Sania masuk kamar mandi.


Sania menahan langkah menoleh ke arah Bara heran mengapa Bara tiba-tiba mengatakan hal ini.


"Mereka tak mengenalku. Kuharap Lieve tak bongkar statusku. Mas Rangga bilang ini demi melindungi nyawaku agar tak berakhir tragis."


"Sedemikian burukkah Suhada?" gumam Bara masih tak percaya ada bapak tega hancurkan hidup anak kandung sendiri. Hati Suhada terbuat apa mamou berbuat keji demi harta. Anak sendiri tak bernilai sama sekali.


"Itulah dia! Dalangnya Amanda. Aku tak tahu apa yang akan terjadi bila mereka tahu aku yang beli perusahaan mereka. Mungkin besok aku tinggal nama." Sania sengaja katakan betapa sadisnya pasangan psikopat tersebut.


"Aku ngerti..mulai saat ini kau tak boleh jauh dari aku. Aku akan melindungimu dari segala ancaman." ikrar Bara sungguh ingin melindungi wanitanya.


"Lieve cukup simpan kisah ini baik-baik. Aku pasti aman selama kedua orang itu tak tahu siapa aku!"


"Baiklah! Kita tutup buku tentang masa lalumu. Kini aku lega tak perlu cemburu pada Rangga lagi. Ternyata dia betulan abangmu." akhirnya muncul pengakuan Bara cemburu pada Rangga yang menurutnya terlalu campur urusan dia dan Sania. Rangga berhak ikut campur karena Sania adalah adik sedarah.


"Ciiisss..pake cemburuan! Norak tahu.." Sania mencibir lalu masuk kamar mandi ambil air wudhu.


Bara tak menyangka punya bini mungil bernyali harimau. Tubuh boleh mungil tapi derap langkah segede bigfoot. Bigfoot manusia berkaki besar dalam legenda di pegunungan Himalaya. Makhluk misterius yang masih jadi perdebatan para pencari fakta. Sania bertubuh mungil namun kelakuan tak ubah mirip bigfoot. Berlangkah gede serta misterius.


Bara menyusul Sania ambil air wudhu tak mau ketinggalan laksana sholat terakhir hari ini. Menurut agama Islam umatnya wajib sholat lima waktu, itu kewajiban. Sholat Dhuha, sholat tahajud, sholat tasbih, sholat istikharah, sholat taubat dan beberapa macam sholat lain adalah sholat sunnah. Sholat sunnah dianjurkan namun tidak diwajibkan. Tidak berdosa bila tak dilaksanakan namun mendatangkan pahala bila dilaksanakan.


Pasangan muda itu melaksanakan sholat Isya empat raka'at dengan khusyuk. Sania berdoa semoga pernikahan mereka jauh dari cobaan sampai waktu tak ditentukan.

__ADS_1


__ADS_2