MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Saingan Dalam Rumah


__ADS_3

Kehadiran Fadil di kantor bikin rusuh tapi sempat menghibur. Fadil benar benar manusia tak punya rasa takut. Anak itu sudah tahu Sania adalah kakak ipar namun semangat juang tak padam.


Andai Fadil lahir di jaman penjajahan Belanda mungkin negeri kita akan lebih cepat merdeka. Pejuang tangguh macam Fadil dibutuhkan di jaman itu. Cuma sayang Fadil lahir setelah negara merdeka. Jiwa pejuang diletakkan berjuang merebut cinta gadis pujaan. Gadis yang dicintai isteri abang sendiri pula.


Perjuangan Fadil bakal terhambat oleh batu besar menghadang di depan mata. Bara juga bukan orang gampang menyerah biarkan miliknya dirampas orang walau itu adik sendiri. Harga diri Bara akan berantakan bila Fadil berhasil menikungnya.


Muncul berita kekinian adik berhasil berebut isteri muda abang kandung. Mau tarok di mana wajah laki sebesar Bara. Simpan di brankas besi kali. Aman kedap suara.


Tak terasa waktu bergulir ke tengah hari. Pulau tengah masing masing karyawan mulai keluarkan bunyi keroncongan minta didiamkan. Dea wanita Batak paling tak mampu tahan lapar. Dea tak malu malu minta ijin duluan beli makan siang pada Sania.


"San...titip?" bisik Dea pelan segan bersuara keras karena Bara masih dalam ruang kantor.


Sania angkat kepala menatap Dea. Sania menggeleng pelan.


"Aku sudah janji makan sama anak gila tadi. Kalau kutolak kita semua takkan aman. Tanya bos mau makan apa! Mungkin dia tak pulang makan."


"Aku takut. Dia jarang makan di kantor. Biasa dia pulang makan sama isterinya." Dea kontan tolak usul Sania tanya makan siang Bara.


"Ya sudah biar aku saja. Usahakan jangan lama makan. Ada hal mau kubahas dengan tim kita."


"Beres...bos kuserah padamu."


Sania mangut kecil biarkan Dea memanjakan pulau tengah yaang sedang demo itu. Sania melirik Bara yang masih setia perhatikan PC komputer. Ntah apa yang menarik perhatian laki ini bisa betah berjam jam melototi benda mati itu.


Sania menghembus nafas perbaiki aura sebelum masuk ruang Bara untuk bertanya rencana laki itu mengisi perut.


Sania melangkah dengan pasti ke pintu kaca ruang Bara. Sania ulurkan tangan mengetuk kaca pelan. Ketokan Sania terdengar jelas karena ruang lagi sepi.


Bara mendongak lalu beri tanda agar Sania masuk. Bara merentangkan tangan melepaskan rasa tegang kaku berjam jam duduk.


"Pulang makan atau kupesan online?"


"Kau?"


"Aku sudah janji sama Fadil makan siang bersama."


"Kau beri perhatian padanya?"


"Dia adikmu. Juga adikku."


"Dia lebih tua darimu mana mungkin jadi adikmu. Apa kau tak tahu apa tujuannya datang ke sini?"


"Fadil hanya suka bercanda. Tak perlu bapak ambil hati."


Sania sengaja omong begitu supaya Bara tidak berpikir negatif terhadap adik sendiri. Sania yakin Fadil hanya bercanda merayunya. Dari jumpa pertama Fadil sudah konyol habis goda Sania. Waktu itu mereka juga tak kenal satu sama lain. Toh Fadil dengan gencar beri godaan


"Anak gila itu suka padamu. Kau harus sadar statusmu."


"Kamu cemburu pada adikmu?"


Bara besarkan mata tak suka dianggap cemburu pada Fadil. Dia dan Sania menikah hanya demi Nania. Tak ada feeling seperti pasangan lain.


"Siapa suka padamu? Aku cuma tak mau wanitaku tampil di umum bersama pria lain."


"Pak Bara yang terhormat. Di sini tak ada yang tahu status kita. Santai saja. Kita saling hargai saja. Aku tahu batasan dan bapak juga. Aku cuma makan siang bukan bobok siang. Ikut saja kalau mau!" Sania mengajak Bara supaya lakinya puas. Laki itu besar sekali egonya. Mau menang sendiri.


Bara tak iyakan namun langsung bangkit dari tempat duduk nyamannya. Sebelumnya laki ini matikan perangkat komputer di meja untuk menjaga keamanan perusahaan.


Sania tersenyum kecil anggap Bara tak ubah anak TK suka berubah mood. Dirayu bentar juga kembali cerianya. Sania tak sangka laki segede Bara hatinya sempit. Perhitungan sama adik sendiri.


Lantai bawah sudah sepi. Karyawan mungkin sudah mencari pengganjal perut sesuai selera masing masing. Di depan pintu kantor cuma ada satpam menjaga sambil minum teh.


"Pak...kita sholat dulu. Kita cari mesjid terdekat." Sania menahan langkah karena azan Zhuhur berkumandang manggil umat menghadap.


Bara mengangguk, "Sholat di kantor saja. Kita sudah halal. Boleh sholat berduaan kan?"


Sania lagi lagi lupa kalau Bara sudah jadi suaminya. Sholat berdua tak jadi masalah lagi. Ke mana akal Sania sampai ajak Bara sholat di mesjid.


"Iya pak! Tuh ada Fadil! Kita ajak sekalian."


"Tak usah...dia mana tahu sholat?" Bara berkata dengan ketus. Tanpa peduli pada Sania laki ini balik ke lantai atas.

__ADS_1


Sania menggeleng lihat sifat tak bersahabat Bara. Mana ada abang tak suka pada adik sendiri. Rangga saja matian bela dia dan Agra. Sebisa lindungi kedua saudaranya. Ini punya adik dimusuhi.


Sania tak mau peduli pada kata Bara. Gadis ini berjalan keluar mendekati Fadil yang sudah menanti di parkiran mobil.


"Siap berangkat?" Fadil melambai.


"Jadi tapi kita sholat dulu! Ini waktunya sholat zhuhur. Ayo!"


Sania mengajak Fadil jadi muslim sejati. Andai Fadil tak pernah sholat maka harus ada yang bimbing biar sadar bagaimana jadi muslim yang taat.


"Apa aku bisa?" Fadil tampak ragu.


"Bisa...pasti bisa. Ayo boy jangan malas!" Sania menarik tangan Fadil agar ikut masuk kantor.


Fadil tak berdaya menolak permintaan Sania. Tak ada pilihan lain selain ikut Sania masuk kantor Bara. Sania tak tahu bagaimana groginya Fadil diminta kerjakan hal yang hampir tak pernah dia lakukan. Namun tetap harus ada yang pertama kali.


Bara sudah menanti di ruang sholat sederhana kantor. Laki ini mendengus kecil melihat adik tak disayang ikut masuk ruang sholat. Sania sendiri sudah rapi dengan mukenah sembahyang. Bara berdiri paling depan sebagai imam sholat.


Bara cukup baik melakukan kewajiban umat muslim dibanding Fadil yang seperti orang tolol. Anak laki ini kagok disuruh hal tak biasa. Sania beri senyum damai supaya Fadil tidak gugup.


"Ikuti Pak Bara!" bisik Sania takut ganggu konsentrasi Bara sebagai imam sholat.


Fadil mangut. Mulailah Bara memimpin bini dan adiknya jalankan salah satu rukun Islam. Suasana khusyuk terasa di ruang sholat kecil itu. Empat raka'at berjalan mulus sampai akhir. Sania mencium tangan Bara sebagai tanda bakti bini.


Fadil lirik Sania salam pada suami dengan takzim. Seharusnya dia yang di posisi Bara. Bara curang kawini gadis yang telah mencuri hatinya. Fadil banyak teman wanita namun tak satupun mampu mendatangkan getaran. Tak ada yang mampu klik hatinya. Sekali dapat sudah milik orang. Lebih tragis milik abang sendiri pula.


Fadil berjanji akan belajar agama agar bisa merebut Sania dari Bara. Fadil tahu rahasia antara Bara dan Sania. Secara tak sengaja Fadil dengar percakapan Bara dan Sania pada hari lamaran Sania. Pernikahan mereka hanya pernikahan di atas kertas. Tak ada rasa cinta serta perasaan.


Fadil yakin akan menangkan Sania. Bara sudah punya Nania tak boleh tamak ingin kuasai dua wanita sekaligus.


Bara kembali ke ruang kantor seusai sholat. Tak ada tanda tanda Bara ingin melanjutkan acara makan siang di luar.


Sania dan Fadil menanti di meja kerja Sania dengan harapan laki itu mengatakan sesuatu. Ikut pergi atau menetap di kantor.


Wajah Fadil berubah muram. Bayangan makan siang romantis bersama Sania makin menjauh gara Abang galak.


"Gimana ini?" tanya Fadil pelan dekat kuping Sania.


Keduanya seperti tahanan menanti vonis hidup mati. Kalau beruntung penjara seumur hidup. Hakim Bara sedang tak bergairah baca hasil sidang menetapkan dua tersangka tanpa dosa. Keduanya tak tahu apa salah mereka harus dihukum kelaparan.


"Kita pesan pizza makan sini saja. Sama saja makan di gerai pizza." pinta Sania tak tega melihat Fadil nyengir kelaparan.


"Terserah! Asal makan bersamamu di mana saja pasti nikmat. Roti tawar rasanya akan manis bila diolesi senyum manis mu." rayu Fadil


"Rayuan pulau kelapa...ngak mempan! Aku pesan ya!" Sania mengeluarkan ponsel memesan pizza daging dan vegetarian. Sania sengaja beli lebih untuk dibagi sama karyawan lain. Berbagi itu indah masih terukir di hati Sania.


Sania melempar pandangan ke arah Bara yang kembali menekuni PC komputer. Berita apa sanggup menyita seluruh perhatian Bara sampai tak open sekeliling. Dia demikian fokus membaca sesuatu di layar komputer. Sekali kali alisnya turun naik. Bara makin menarik bila serius begitu.


"Jangan dilihat terus! Nanti luntur." ucap Fadil kurang suka Sania menatap Bara terusan.


"Isshhh asalan deh! Aku cuma mikir bos itu lagi ngerjain apa? Serius banget."


"Dia memang gitu. Sok tekun tapi ngak ada hasil. Hasilnya tuh wanita wanita pengerat." sahut Fadil malas


"Apa maksudmu?" Sania penasaran dengan kalimat Fadil. Dalam kalimat Fadil menyebut wanita wanita. Seberapa banyak wanita dalam hidup Bara. Masih adakah wanita lain selain Nania.


Hati Sania sedikit tercubit perih kalau Bara memang seorang player. Pengorbanan yang dia terasa tak berharga bila Bara seorang kolektor wanita. Sania bersedia menikah karena lihat kasih sayang Bara pada Nania. Bara suami setia pantas dapat rasa hormat.


"Bara terlalu lemah terhadap wanita. Hasil kerja keras dia habis diperas wanita bertulang lunak. Papa dan mama kesal sama dia karena hal ini."


"Dia piara banyak selir?"


"Selir? Terlalu tinggi pangkat itu untuk mereka. Cocoknya panggil tikus tikus dari parit. Kau pasti akan tahu sendiri bila lama di samping Bara. Siapkan mental!"


Sania tertawa sinis. Harapan hidup tenang tanpa gangguan wanita wanita macam Ranti kelihatannya hanya angan kosong. Sania tak tahu gimana kelanjutan kisah nikah mereka. Info dari Fadil cukup panas di kuping Sania.


"Aku tak peduli tikus atau marmut kena scabies. Gatal sana sini. Aku cuma tahu mbak Nania."


Fadil tertawa sinis, " Aku tak berhak buka cerita tentang mereka. Kau akan tahu secara alami. Perlahan tapi pasti."


"Dari kalimatmu seakan hidup ku akan diwarnai konflik."

__ADS_1


Fadil merentangkan tangan tak mau bercerita lebih jauh. Fadil tak mau dianggap cari muka buka semua borok Bara. Kalau Bara gentle pasti akan buat pengakuan pada Sania. Kisah cinta Bara yang sangat rumit.


"Makanya kubilang aku lebih imut. Kenapa tak pilih aku?"


Sania mencubit lengan dengan gemas karena lajang itu buat gaya sok imut. Bibirnya dipilin seolah hendak cium Sania.


"Aduh sakit..." jerit Fadil menarik perhatian Bara.


Bara mengerut kening lihat keakraban Sania dan Fadil. Keduanya memang sopan namun Bara tetap tak senang bini mudanya terlalu dekat dengan adik sendiri.


"Sania...masuk!" Bara memanggil Sania masuk ruang kerjanya.


Fadil dan Sania saling bertatapan lalu tertawa kecil. Sania tahu bos tak suka dia ngobrol intim dengan Fadil adiknya.


Sania menepuk punggung tangan Fadil lalu bangkit dari bangku masuk ruang kerja. Fadil mengedipkan mata tanda ok.


Sania masuk berdiri di hadapan bos sekaligus suami tak tercinta.


"Bapak panggil saya?"


"Sejak kapan kau jadi pengasuh bayi tua?"


"Bayi tua? Emang ada?" tanya Sania masih kurang tangkap sindiran Bara.


"Ada...bayi tak tahu diri. Tukang kacau.."


Otak cemerlang Sania mulai bekerja dengan baik ngerti maksud Bara. Tujuan Bara tak lain nyindir Fadil yang ganggu jam kerja mereka.


"Fadil datang hanya ingin dekat abangnya. Tak ada hukum larang adik jumpai abang kandung."


"Kau pikir dia tulus jumpai aku? Tujuannya kamu. Kakak iparnya." geram Bara


"Bapak cemburu ya?"


"GE ER amat kamu! Siapa cemburu? Ini kantor bukan play group anak kecil."


"Ok...kami pergi makan di luar kalau ganggu pemandangan bapak."


"Kau berani? Kucatat perselingkuhan pertamamu."


"Ini disebut selingkuh? Kami tampil di tempat umum bukan berduaan. Awas kalau kulihat bapak berduaan dengan wanita lain! Kucincang sampai lumer."


"Kita lihat siapa yang mulai bikin cerita. Kutuntut kamu ke meja hijau."


"Wow aku takut...bapak panggil aku cuma bahas ini? Dasar kekanakan..." omel Sania balik badan hendak pergi.


"Tunggu...nanti malam kita bahas proyek PT SHINY!"


Langkah Sania terhenti dengar Bara mau buka hati terima Mega proyek impiannya. Jiwa Sania benaran tertantang ikut tender. Gimanapun Sania masih perlu tutor senior beri masukan agar proposal nya lebih sempurna. Bara pilihan tepat. Dia cukup jeli serta teliti.


Sania yakin proposal mereka akan dilirik PT SHINY bila Bara turun tangan.


"Baik suamiku!" sahut Sania semangat. Senyum manis Sania bisa lelehkan besi baja apalagi cuma seorang Bara. Laki yang sudah lama terdampar di gurun gersang. Kini muncul tempat teduh nan segar. Sedikit banyak jiwa gersangnya tersirami.


"Kita pergi makan?" tanya Bara.


"Aku sudah pesan pizza. Kita makan di sini saja." Sania melirik Fadil yang tampak mulai bosan duduk di meja kerjanya.


"Bayimu ikut makan?"


"Menurut bapak?"


"Tadi panggil suami sekarang bapak. Plin plan."


"Tadi keseleo. Lidahku terpilin." Sania bersilat lidah tak mau akui Bara suami.


"Tuhan dengar doamu!"


"Isshhh...bapak! Mau punya bini omongannya bindeng? Amit amit deh!"


"Makanya jangan bohongi suami! Dosa tahu.."

__ADS_1


"Iya pak! Maaf!" Sania perlihatkan wajah memelas minta dikasihani. Gimana kalau Allah murka benar buat lidahnya terpilin.


__ADS_2