
Rudi masih belum paham maksud Bara agar Rudi tak lepas kontrol suka pada Sania. Sampai kapanpun Bara takkan lepaskan Sania. Bara butuh hawa segar setelah bertahun hirup udara penuh polusi. Sania bawa oksigen segar mana mungkin Bara siakan pembawa semangat baru dalam hidupnya untuk orang lain. Kali ini Bara tak boleh kecolongan Sania dirampas orang lain.
"Pikir sendiri! Oya San..kita pulang! Masih harus urus cara tahlilan nanti malam bukan?" Bara sengaja ajak Sania pulang untuk hindari obrolan makin intim antara Rudi dan Sania.
"Iya Lieve...maaf ya Kak Rudi. Kami ijin dulu. Kalau Kintan sudah bisa ditinggal segera masuk kantor." ujar Sania ramah layak sahabat baik. Bagi Sania hanya obrolan biasa namun dada Bara rasa mau meledak dengar Sania dengan enteng memanggil Rudi dengan panggilan akrab kakak.
"Ok...tinggal no hpmu! Aku akan hubungi kamu kalau sudah beli ponsel baru!"
Sania bermaksud beri nomor hpnya agar gampang komunikasi dengan Rudi namun Bara dengan sigap cari alasan halangi Sania dan Rudi berhubungan lebih intim.
"Urusan kantor datang ke kantor saja. Tak perlu wara wiri di ponsel. Ayo pulang!" ketus Bara tak ramah. Rudi melongo dilarang ambil no ponsel Sania. Apa Bara masih dendam padanya? Lalu apa hubungan dengan Sania
Otak Rudi belum diajak bekerja maksimal belum bisa tangkap ke mana arah amarah Bara. Rudi tak tahu dada Bara mulai mendidih hendak ledakkan rasa kesal yang menyumbat jantung. Kalau dipendam terus bisa kena serang jantung permanen.
"Kami balik dulu ya! Jaga Kintan dengan baik. Assalamualaikum.." Sania menatap Rudi mohon pengertian tingkah Bara yang sedikit over.
Rudi tersenyum maklum walau belum jelas apa yang terjadi. Kini Rudi butuh bantuan Bara untuk memulai karier di bidang yang sama dengan Bara. Mau tak mau Rudi harus sabar hadapi teman lama sekaligus bakal bosnya.
"Waalaikumsalam.." sahut Rudi.
Bara menyeret Sania berlalu dari ruang rawat Kintan. Bara tak sabar ingin hapus semua bayangan Rudi dari pelupuk mata Sania. Gadisnya tak boleh suka pada Rudi. Bara tak mau tragedi masa lalu terulang di saat segala berubah baik.
Sikap ketus Bara sangat mengganggu Sania. Bara tak boleh dendam pada Rudi atas segala yang telah berlalu. Andai Baa dendam artinya dia masih punya rasa sayang pada Arsy. Belum rela Arsy pernah jadi milik Bara.
Pola pikir Sania yang salah persepsi pasti akan bawa gap lebar antara Bara dan Sania. Bara mengira Sania ada hati pada Rudi sedangkan Sania mengira Bara belum bisa move on dari Arsy. Benang kusut mulai membelit pasangan baru ini. Kalau tidak cepat diurai pasti akan bawa petaka.
Bara masih ngambek dalam perjalanan pulang. Kelakuan bos PT ANGKASA JAYA persis anak SD sedang kena marahan sama teman sebangku. Muka sewot minta dibujuk pakai mainan atau permen manis.
Sania ikutan diam tak mau menambah keruh suasana. Diam adalah emas sangat berguna diterapkan pada saat begini. Biarlah Sania diam sampai suasana hati Bara lebih adem.
"Kita pulang terus atau mau singgah di satu tempat?" tanya Bara setelah jauh dari rumah sakit.
"Bukankah mama kurang sehat? Kita harus ada di rumah sampai beliau fit. Kita pulang saja." ujar Sania pengertian tak mau porak porandakan mood Bara makin parah.
"Ya..." sahut Bara singkat. Ntah kenapa Bara merasa sendiri agak tolol cepat terpancing emosi bila Sania dekat dengan seseorang atupun gadis itu tak open padanya. Waktu kejadian Arsy Bara cepat pulih. Kenapa sampai pada Sania dia kayak anak kecil suka uringan.
"Lieve marah ya?" tanya Sania hati-hati melirik air muka Bara tak cerah.
"Menurutmu? Apa pantas wanita bersuami mesra sama laki lain?" Bara tak dapat tahan diri jujur rasa kesalnya.
Sania tertawa kecil, "Lieveku cemburu ya?"
"Cemburu? Ngapain cemburu pada orang yang suka rebut hak orang. Dan lagi kalau target yang dimasalahkan suka genitan ya terserah!"
Sania tak dapat tahan tawa dengar nada ketus Bara. Bara masih jaga gengsi tak mau akui perasaan sesungguhnya pada Sania.
"Bawa mobil ini ke doorsmeer cuci. Bau asam cuka. Asem banget!" ejek Sania sengaja ganggu mood Bara soal perasaan sebenarnya pada Sania.
__ADS_1
"Kamu yang kecut."
"Kecut toh banyak yang ngantri! Lieve ngak mau ikut antri nyium bau kecut? Hari ini aku promo. Gratis.." gurau Sania berusaha hidupkan suasana cerah. Sania tak suka lihat Bara bad mood. Ini akan pengaruhi kerja mereka yang makin menumpuk.
"Siapa mau nyium bau kecut?"
Sania sodorkan pipi dekat wajah Bara yang sedang fokus ke jalan raya. Sania mau lihat reaksi Bara diberi pipi gratis isteri yang belum dia resmikan pembukaan segel pabrik.
Bara singgung senyum tipis di bibir Sania akhirnya berani berbuat lebih berani padanya. Awal yang baik untuk iringi Sania ke pelukan.
Bara tak siakan kesempatan mengecup pipi ranum Sania. Sekilas namun bawa makna mendalam. Bagi orang lain mungkin hanya ungkapan sayang antara suami isteri tapi bagi Bara adalah jalan menuju ke titik awal rumah tangga sakinah.
"Fokus nyetir Lieve! Jangan buat kita nyusul mbak Nania! Proyek masih menanti kita."
"Kau masih hutang padaku. Kau harus bayar di rumah nanti."
"Hutang? Hutang apa? Aku belum pernah ambil uangmu." Sania panik dibilang ada hutang. Sania tak merasa punya hutang pada Bara. Jangankan hutang. Uang belanja saja Bara tak pernah kasih ke Sania walau sudah menikah cukup lama.
"Apa kamu pikir hutang hanya hutang uang? Hutang sebagai isteri." Bara menekan nada suara agar Sania tahu status sebagai isteri Bara Jaya.
"Oh.." Sania paham maksud Bara menuntut hak sebagai suami. Wajar kalau Bara ingin haknya sebagai suami. Sania tak menampik kalau Bara punya hak atas dia sejak ijab kabul. Namun mereka punya perjanjian tak libatkan masalah asmara dalam pernikahan ini.
"Lieve jatuh cinta padaku?"
"Kalau iya kenapa? Siapa berani melarang aku jatuh cinta pada bini kecilku?" Bara mulai utarakan isi hati walau masih dipenuhi rasa ragu. Benarkah cinta atau hanya pelarian ditinggal Nania.
"Tak ada manusia terlahir sempurna. Kau sangat pintar. Gedung tinggi bisa kau taklukkan. Aku tak percaya kau tak sanggup taklukkan panci dan kuali. Jadikan kekuranganmu jadi kelebihanku! Aku siap jadi tutor buatmu jadi ibu rumah tangga yang baik."
Sania bukan tak hargai niat baik Bara. Cepat atau lambat Sania harus berkeluarga, punya keturunan dan hidup normal sebagai isteri setia menanti suami di rumah. Tapi bukan sekarang. Sania belum bisa tinggalkan dunianya saat ini. Darah Sania masih panas ingin menantang dunia hasilkan karya terindah.
"Ada masanya Lieve. Tidak saat ini." desah Sania tak berani ambil keputusan langkah selanjutnya.
"Kamu bisa belajar dari sekarang tanpa harus tinggalkan duniamu. Aku tahu kamu hanya fokus kerja. Kamu sangat berbakat."
"Ntahlah Lieve! Kita jalani dulu yang ada. Cuma jangan banyak harap dariku! Aku tak manis seperti bayangan Lieve."
"Itu tak penting bagiku! Aku cuma kenal kamu sebagai Sania bini mudaku. Semoga kau bisa terima aku yang jauh lebih tua darimu."
Sania terkekeh Bara akui dia sudah tua. Sebenarnya Bara belum tua. Cuma masalah demi masalah bebani pundak merampas cahaya hidup laki ini. Semoga ke depan Bara bisa lebih bebas menata hidup sesuai keinginan.
"Aku tak masalah Lieve tuaan dikit. Tapi aku cuma minta Lieve jaga perasaanku. Andai Lieve mau selingkuh jangan sampai aku tahu! Aku akan angkat kaki dari lingkaran bola matamu. Ingat itu!" Sania tak main-main ungkap kata yang memang sudah lama terpendam dalam hati.
Bara mengerjit alis heran mengapa Sania menduga dia akan selingkuh. Analisa Sania sangat dangkal. Tak ada dasar sama sekali. Selama bersama Nania yang sakitan saja Bara tak main gila. Apalagi kini punya bini jauh sempurna. Mana mungkin Bara ambil resiko main gila.
"Cuma segitu rasa percayamu padaku?"
Sania teringat Arsy dan Dhenok yang terangan suka pada Bara. Bisa jadi suatu saat Bara jatuh perangkap wanita-wanita penghamba cinta Bara.
__ADS_1
"Aku percaya pada Lieve tapi aku tak percaya pada ular-ular licin di sekeliling Lieve."
"Kalau gitu kau yang harus jaga aku dari patukan ular berbisa. Aku milikmu sepenuhnya. Jangan biarkan orang lain rebut aku dari tanganmu!" Bara melirik Sania harap Sania beri respon yang bisa menyenangkan dia.
"Aku bisa apa kalau Lieve mau main serong? Semua tergantung kepribadian Lieve. Saat ini aku pemilik Lieve tapi bukan berarti aku harus batasi langkah Lieve. Langkah Lieve harus panjang menjangkau seluruh daratan. Seorang laki harus gagah hadapi tantangan. Kerikil kecil pasti akan berada di depan mata. Hati-hati saja melangkah."
Bara terpana di kuliahi Sania. Bara tampak kecil dapat wejangan dari isteri yang usianya jauh di bawah namun pola pikir mirip nenek. Kesekian kali Bara dapat kuliah gratis dari anak kecil. Seharusnya Bara malu tapi apa yang disampaikan Sania itu fakta. Mau atau tidak Bara berbuat curang semua adalah pilihan sendiri. Jalan mana jadi pilihan Bara. Dia sendiri yang bisa tentukan.
"Aku akan jalan di jalan terang. Sudah cukup lama aku terdampar dalam kegelapan. Cahaya matahari sudah bersinar dalam hidupku. Tak mungkin aku melangkah ke arah kelam lagi."
Sania tak mau jawab janji Bara. Biar waktu yang jawab kejujuran Bara terhadap mahligai pernikahan mereka.
Mobilpun sampai di depan rumah keluarga Jaya. Sania segera turun setelah buka safety belt mobil. Tinggal Bara berenung dalam mobil. Sania berkata benar. Bara sendiri yang bisa atur bagaimana harus melangkah. Bukan orang lain. Bara mau jatuh atau bangun tergantung pada hasrat yang ada dalam diri sendiri.
Bara peringati diri sendiri harus teguh tak boleh tergoda rayuan maut wanita yang ingin posisi nyonya Bara. Sekali Bara tergelincir semua akan sirna.
Bara menyusul Sania masuk rumah mencari gadisnya. Saat ini Bara hanya ingin berdua dengan Sania agar gadisnya terbiasa bersamanya. Tak kabur lagi kalau keadaan lagi intim.
Bara menemukan Sania sedang bincang dengan mamanya. Bu Jaya sudah bangun dari sandiwara tanpa honor. Sutradara buruk macam Bara tak bertanggung jawab terhadap pemain. Bintang utama ditinggal merana sendirian di rumah.
"Bara..sudah pulang?" suara ceria Bu Jaya kembali berkumandang seisi rumah.
"Bersama mantu kesayangan mama. Kami lihat Kintan." Bara berterus terang walau tahu mamanya tak suka pada anak itu. Kintan cukup menyita perhatian Bara selama ini. Syukurlah sudah ada tangan lebih berhak mendekap gadis kecil itu.
"Bara..Kintan itu bukan anakmu! Jangan buang waktu di badan anak itu!" tukas Bu Jaya perlihatkan mimik tak senang.
Sania cepat-cepat genggam tangan mertuanya jangan sampai emosi merangsang peredaran darah naik lagi.
"Ma.. Kintan baru saja dioperasi. Sekarang dia dalam kondisi stabil. Orang tua kak Rudi sudah ambil alih pengobatan Kintan. Kita hanya perlu kirim doa." Ujar Sania menyakinkan mertua tak usah kuatir kalau Kintan akan bebani Bara lagi.
"Benarkah? Syukurlah! Mama kasihan juga pada anak kecil itu. Punya ibu kok kayak ulat bulu."
"Ma..tak usah ingat manusia tak perlu. Yang penting mama sehat. Kita masih ada pengajian malam ini. Sania akan lihat persiapan makanan. Kita pesan dari toko kue?"
"Tak usah nak! Sudah beres. Kau kelihatan lelah. Pergilah istirahat sampai sore! Bara ayok ajak Sania istirahat!"
Bara bersorak dalam hati punya mama sangat pengertian tahu apa yang dibutuhkan dirinya saat ini.
"Siap nyonya besar! Ayo sayang aku antar ke kamar!" Bara menarik tangan Sania berlalu dari mamanya.
Bu Jaya tersenyum lihat kegembiraan Bara bisa habiskan waktu bersama Sania. Bu Jaya ingin mendorong Bara agar lebih sering habiskan waktu bersama Sania. Bu Jaya sudah tak sabar ingin punya cucu dari Bara. Insan mungil impian para oma harus segera hadir di keluarga. Bu Jaya sudah terlalu lama menanti moments gendong cucu dan mendengar rengekan manja dari mulut mungil sang cucu.
Bara membawa Sania ke kamar mengharap ada kemajuan di antara mereka walau hanya sekedar kecupan kecil di bibir. Dari yang kecil pasti akan berubah besar. Bara tak sabar menanti waktu itu tiba jadikan dia suami sejati untuk Sania.
Sania masuk kamar mandi sampai di kamar. Sania sangat hobi mandi apalagi di saat cuaca panas gini. Segala rasa penat hilang bila terkena curahan dingin air segar.
Bara hanya tersenyum tipis biarkan Sania bersihkan diri sebelum jatuh dalam dekapan Bara. Bayangan tubuh Sania yang sintal bermain di mata Bara. Tubuh putih mulus.
__ADS_1