MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Rudi Diakui Keluarga


__ADS_3

Sania harus bersabar ingat janji terakhir pada Nania. Sania sudah janji pada Nania untuk dampingi laki sampai laki itu benar benar bangkit dari keterpurukan. Janji pada orang sekarat adalah hutang yang tak boleh dilupakan.


"Sekarang kita ke mana dulu?" tanya Bara tak punya pendapat. Bara serahkan semua keputusan pada Sania atur jadwal selanjutnya.


Sania menimbang cari langkah tepat agar tak siakan hari ini. Waktu juga tak pagi lagi. Malam hari keluarga Jaya akan buat acara tahlilan untuk doakan arwah Nania agar tenang di alam lain. Sania tak mau ketinggalan baca doa untuk Nania. Sania harus ada di tempat pada saat baca doa tahlil.


"Lieve...kita pulang saja. Mungkin Sania bisa bantu mamamu siapkan acara tahlilan malam ini."


Bara bersyukur Sania tak rewel ingin ke kantor. Bara lebih suka kalau Sania betah di rumah. Sania baru dapat tekanan batin cukup berat. Beristirahat di rumah jalan terbaik.


"Aku antar kamu ke rumah dulu. Aku harus pergi karena dipanggil Roy."


Sania menatap curiga pada Bara seakan insting Sania mengatakan ada yang tak beres. Roy tak mungkin berani ganggu Bara bila tak ada hal penting. Apa Roy tak punya otak ganggu Bara di saat isteri baru meninggal.


"Any problem?"


"Tak ada. Roy cuma mau aku lihat posisi peletakkan tanaman sebelum di cor semen. Tak masalah." Bara merangkul pundak Sania bersikap tak ada apa apa.


"Oh...Lieve pergi saja! Aku bisa pulang sama taksi. Oya..aku singgah sebentar ke rumah sakit jenguk Kintan. Boleh?"


"Aku antar!"


"Tak usah. Bolak balik buang waktu. Lieve kan harus buru waktu untuk tahlilan malam ini."


Bara suka sifat mandiri Sania tak manja minta perhatian Bara. Gadis ini cara menempatkan diri. Bara kejar waktu tak mungkin Sania minta waktu lakinya lagi. Sania tak mau bersikap kanak-kanak menyusahkan Bara.


"Baiklah! Tapi janji telepon aku kalau sampai rumah sakit."


"Iya...ayok kita turun!" Sania mengambil tas yang tadi sempat diletakkan di lantai. Bara meraih tas itu dari tangan Sania berjalan keluar.


Sania ikut dari belakang sambil tersenyum merasa aneh sudah ada pengawal baru yang siaga dua puluh empat jam. Apa Sania akan habiskan seluruh hidup berbakti pada Bara? Mungkinkah Sania akan percayakan sekeping hati pada Bara? Hanya waktu bisa menjawab. Wallahu a'lam.


Bara pergi ke lokasi proyek sementara Sania pergi ke rumah sakit. Sebelum pergi Sania mencoba hubung Rudi tanya posisi laki itu. Rudi tentu saja dengan senang katakan di mana posisi dia. Sania adalah malaikat penyelamat putrinya. Tanpa Sania mungkin Kintan hanya menunggu waktu tinggalkan dunia ini.


Sania berhasil mencari Rudi. Di situ hanya ada Rudi sendirian menanti Kintan dioperasikan. Bayangan Arsy tak tampak sama sekali. Sania bertanya tanya ke mana wanita genit itu?


Mata Rudi langsung berbinar melihat Sania datang lewati koridor rumah sakit dengan gaya anggun. Rambut hitam terurai ditambah gaun warna cream muda di bawah lutut. Sania seperti bidadari di mata Rudi datang bawa kebajikan.


"Hai...sudah masuk ruang operasi?" tanya Sania begitu berhadapan dengan Rudi.


"Sudah hampir satu jam. Semoga operasinya lancar."


"Amin...Kak Rudi sudah kabari orang tua soal Kintan?"


Rudi menggeleng sedih. Orang tuanya sudah terlanjur benci pada dirinya yang hampir buat perusahaan bangkrut karena dia foya foya bersama Arsy. Keluarganya mana mau datang melihat Kintan yang sakitan sejak lahir. Bisa bertahan sampai umur enam tahun sudah merupakan anugerah.


"Kasih kabar kak. Mau datang atau tidak itu urusan mereka. Bagaimanapun Kintan adalah darah daging mereka. Percayalah! Harimau saja rak tega mangsa anak sendiri. Kita ini manusia bukan hewan."


Rudi ragu untuk kasih kabar pada keluarganya takut dicaci maki lagi. Rudi diusir dari keluarga sudah cukup malu. Bagaimana kalau orang tuanya keluarkan kata tak pantas untuk anaknya yang sedang berjuang melawan maut.


"Aku takut." Rudi masih tak berani hubungi keluarga sendiri.

__ADS_1


"Tetap harus kita coba. Ayoklah kak! Telepon nenek Kintan" bujuk Sania beri kekuatan pada Rudi untuk mencoba.


Rudi menatap Sania dipenuhi wajah cemas. Sania menyentik jari di depan mata Rudi hapus rasa ragu yang takkan habis kalau tak dicoba.


"Aku coba."


"Baca bismillah dalam hati sebelum telepon. Dan ucapkan salam assalamualaikum. Ini wakili kamu adalah bapak Kintan yang gagah."


Rudi tersenyum dipuji Sania. Rudi dibuat kayak anak kecil diangkat angkat dulu baru mau diminta kerjakan sesuatu. Tapi cara Sania cukup ampuh. Terbukti Rudi patuh.


Sania perhatikan Rudi menekan nomor seseorang dengan tangan gemetar. Rudi kelihatan sangat trauma pada amarah keluarganya.


"Assalamualaikum... mami ya! Ini Rudi..." Rudi berkata dengan bibir bergetar.


"Waalaikumsalam...Ya Allah! Akhirnya kau teleponi mami. Di mana kau nak?" Rudi mendengar Isak tangis dari seberang sana. Hati Rudi bergetar hebat ternyata sang mami tak marah padanya.


"Aku di rumah sakit mi...Kintan sedang dioperasi. Aku minta doa papi dan mami untuk cucu kalian. Doakan dia selamat ya!" ujar Rudi tak dapat menahan air mata. Cairan bening meleleh tak dapat dikontrol. Jatuh lewati pipi kusam Rudi.


Sania ikut terharu melihat Rudi meleleh air mata. Seorang laki gagah kalah sama panggilan nurani terdalam sebagai bapak dari anak punya kelainan jantung.


"Kintan anakmu? Operasi? Kau butuh bantuan uang nak?"


"Tidak mi..cuma perlu doa opa dan omanya. Maafkan Rudi telah banyak berbuat salah! Kini aku hanya punya Kintan. Doakan dia selamat!"


"Kami pasti berdoa untuk anakmu. Katakan di rumah sakit mana? Papi dan mami ke sana."


"Benarkah papi dan mami mau datang? Kalian sudah maafkan Rudi?"


"Ya Allah terima kasih...Rudi tunggu kalian!" Rudi ucapkan puji syukur dapat berkah sangat besar. Semua ini tak lepas dari campur tangan Sania. Rudi makin agungkan Sania sebagai malaikat tanpa sayap.


Sania ikut bahagia dengar orang tua Rudi mau datang. Artinya kehadiran dia di rumah sakit tak sia sia. Satu keluarga cerai berai bisa berkumpul lagi merupakan Rahmat dari Allah.


"Sania...terima kasih. Kau adalah penyelamatku. Kau bagai pelita terangi jalanku yang selama ini gelap gulita. Kau telah bawa aku keluar dari kegelapan." ujar Rudi bak pujangga ke sasar.


"Lebay...aku turut berbahagia. Oya...kalau Kintan sudah sehat kau bisa mulai kerja. Bara mulai kewalahan tak ada tangan kanan."


"Tentu...tentu...Terima kasih San!" Rudi menjabat tangan Sania erat erat hendak salurkan rasa terima kasih tak terhingga. Sania malah tak nyaman diperlakukan berlebihan oleh Rudi. Sania cepat cepat menarik tangannya dari sentuhan Rudi.


Bisa berbagi sudah merupakan kebahagiaan tersendiri bagi Sania. Harapan Sania tak ada lagi duka di sekelilingnya. Semua berhak bahagia.


"Oya...mana Arsy?" Sania edarkan mata ke setiap sudut ruang tak temukan wanita genit itu.


"Katanya Nania meninggal. Dia harus hibur Bara. Mungkin lagi bersama Bara." tebak Rudi tak open Arsy mau berbuat apa. Hati Rudi sudah tak ada tempat buat wanita mata duitan itu. Tinggalkan Rudi waktu laki itu jatuh miskin.


"Tidak mungkin...Bara sedang ke lokasi proyek. Ibu macam apa tega terlantarkan anak demi cari muka. Bara bukan orang mempan dirayu wanita seharga gopek gitu." ujar Sania kesal pada Arsy yang tega tinggalkan anak sedang berjuang hidup mati. Sania mengepal tinju ingin lumatkan wajah munafik Arsy.


"Aku tak peduli dia mau apa. Arsy sudah bilang gak asuh Kintan diserah padaku. Setelah Kintan sehat aku mau bikin surat agar Arsy tak ganggu Kintan lagi."


Sania acungkan jempol puji sikap kesatria Rudi berani ambil alih Kintan dari ibu tak bertanggung jawab.


"Selama ini Kintan tinggal sama siapa?"

__ADS_1


"Sama pembantu. Biaya pengobatan dari Bara. Jujur kubilang tanpa Bara mungkin Kintan sudah meninggal. Jasa Bara cukup besar pada Kintan. Arsy pertahankan Kintan kan hanya untuk jerat Bara. Sekarang Nania sudah meninggal, dia tak perlu Kintan lagi untuk cari Bara."


Sania tertawa sinis dengar penjelasan Rudi. Arsy tak tahu kalau Bara sudah dikawal macan cantik bisa koyak orang orang berniat busuk pada laki itu. Sania takkan ijinkan wanita manapun kacaukan pikiran Bara selama pulihkan perusahaan. Bara hanya punya tugas fokus pada pekerjaan.


"Arsy terlalu percaya diri. Bara sudah punya pilihan sendiri untuk gantikan Nania. Bagi Bara Arsy hanya masa lalu usang. Bara tak punya alasan menoleh ke belakang."


Rudi heran mengapa Sania sangat tahu masalah pribadi Bara. Apa hubungan dua orang ini? Rudi putar otak analisa di mana Sania berdiri di dalam hidup Bara. Masuk dalam ranah pribadi atau hubungan atasan dan karyawan.


"Oya...ini ada sedikit pegangan untukmu! Pergunakan untuk biaya cek ulang Kintan." Nania menyodorkan satu kartu warna emas pada Rudi."Jangan minta uang pada orang tuamu! Nanti mereka pikir kamu hubungi mereka demi biaya pengobatan Kintan."


Rudi menggeleng, "Tak usah. Aku punya sedikit tabungan. Mungkin cukup untuk biaya cek up Kintan. Kau sudah berbuat banyak untuk Kintan."


"Ini tak gratis...kalau kau sudah kerja bisa cicil aku! Ambillah! Biaya operasi sudah lunas kan?"


Rudi mengangguk pelan. Rudi tak tahu harus bagaimana balas Budi baik Sania. Untuk biaya operasi saja Kintan habisan Beratus ratus juta, kini Sania tambah uang tunai lagi. Seberapa kaya Sania mampu biayai operasi Kintan sampai tuntas.


"Terima kasih San..kelak aku janji akan bayar semua uangmu. Aku janji."


"Aku tunggu. Ingat...jangan minta sepeserpun dari orang tuamu! Perlihatkan ketulusan dan baktimu pada keluarga. Rangkul kembali keluargamu. Beri Kintan kehangatan keluarga." Sania menepuk bahu Rudi kasih semangat.


"Akan kuingat semua kata katamu."


"Good...aku pergi dulu ya! Ingat jangan bocorkan siapa yang bayar biaya operasi Kintan! Kita musuhan kalau ada yang tahu." ancam Sania tak mau ada yang tahu dia bantu Rudi.


Rudi tak percaya masih ada orang setulus Sania. Sudah memberi bantuan sebegitu besar namun tak mau diekspos. Kalau orang lain berbondong-bondong cari sensasi di media beritakan beri bantuan ini itu. Bantuan sekutil namun berita seluas langit.


"Aku janji. Hati-hati di jalan. Aku akan kabari kamu kalau Kintan keluar dari meja operasi."


"Ok...jaga anakmu baik-baik! Itu harta paling berharga."


"Siap Bu Sania."


Sania terhibur lihat Rudi temukan surga yang hilang. Ibu dan keluarga adalah pelindung paling aman buat seorang anak. Tanpa kasih seorang ibu hidup seorang anak bagai layangan putus. Melayang tak tentu arah menanti kapan jatuh.


Sania sudah rasakan kepahitan tanpa kehadiran seorang ibu di saat dia membutuhkan pembimbing. Bertahun Sania hidup dalam kesunyian tanpa belaian seorang ibu. Walau keluarga sebelah ibunya mencoba beri apa yang jadi penghapus dahaga Sania. Tetap terasa beda. Oleh sebab itu Sania tak ingin ada orang kehilangan pelukan hangat seorang ibu.


Di keluarga Suhada terjadi kehebohan di mana saham perusahaan jatuh ke titik terendah. Para investor ramai ramai jual saham dan tarik dukungan pada PT Sunrise. Di belakang itu secara diam diam ada tangan lain membeli saham keluarga Suhada. Suhada dan Amanda tak tahu siapa yang punya kuasa demikian besar meraup saham mereka sampai tujuh puluh lima persen.


Hanya orang punya latar belakang hebat mampu beli saham bernilai fantastis. Suhada dan Amanda menduga siapa yang begitu kuat keluarkan dana sangat besar untuk kuasai perusahaan mereka.


Suhada dan Amanda Dilanda rasa ketakutan kehilangan perusahaan. Nilai saham di tangan mereka cuma sisa dua puluh lima persen. Itupun dua puluh persen masih tertera nama Mama Sania. Surat keterangan saham ntah di mana karena sejak kematian mama Sania dokumen saham ikut hilang.


Suhada dan Amanda duduk termenung di kantor tak tahu harus bagaimana. Wajah keduanya kuyu kusam tak bergairah. Keagungan Direktur Amanda tak tersisa. Wajah yang biasa kinclong berganti raut wajah mirip nenek sihir kehilangan tongkat sakti.


"Apa yang harus kita lakukan?" desah Suhada lemas duduk di kursi kebesaran perusahaan PT Sunrise. Laki paro baya ini menutup muka dengan tangan kesal kerajaan megah runtuh seketika.


"Bobby juga lagi susah. Kondisi perusahaan juga tak bagus. Andai dia bisa dapat proyek PT SHINY mungkin kita tertolong. Tapi Ranti bilang Bobby tak mampu tangani proyek itu tanpa tangan kanannya. Anak itu sudah resign sejak Ranti menikah." Kata Amanda lebih mirip mengeluh. Gesture tubuh Amanda gambarkan betapa nelangsanya wanita ini. Orang yang sudah terbiasa hidup di atas angin kini terhempas oleh badai ciptaan sendiri.


Membangun kerajaan di atas penderitaan orang lain bukanlah suatu kebanggaan yang bisa ditampilkan. Karma itu tetap berjalan. Bukan tak datang tapi tunggu waktu tepat. Kini tibanya saatnya Amanda menuai karma buruk. Kehancuran beruntun siap menerpa keluarganya. Ranti sudah diambang remuk sejak tersiar rumah yang dibanggakan ternyata milik orang lain. Nama Ranti jadi trending topik disebut penipu kondang.


"Lalu apa langkah Bobby?" tanya Suhada.

__ADS_1


"Ranti bilang Bobby ingin menikahi gadis itu agar bisa maju tender proyek PT SHINY. Anak kita bakal makin menderita."


__ADS_2