MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Bara Selamat


__ADS_3

Darah Roy kontan mendidih dengar Bobby terlibat lagi ide membunuh Bara. Di sini Bobby yang diuntungkan bila Bara sempat meninggal. Arsy tetap di penjara sementara itu Bobby akan lancarkan aksi merebut Sania lagi. Sungguh rencana kotor. Arsy bodoh termakan rencana Bobby. Kini Arsy yang harus mendekam di penjara. Sungguh Arsy kepintaran sendiri. Bulat-bulat menyerahkan diri pada hukum.


"Kami ngerti pak Elmo. Semoga Bara terhindar dari bencana lebih besar. Kami ucapkan terima kasih perhatian pak Elmo."


"Sama-sama. Besok pagi Sania baru bisa tiba di sini. Kalian jaga dulu Bara."


"Siap pak!"


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.." hubungan ponsel terhenti. Selanjutnya Roy arahkan mata ke dua badak utusan Pak Elmo. Roy masih ingin memastikan kalau dua orang di depan mereka benar utusan Pak Elmo."Bolehkah kami tahu nama bapak-bapak ini?"


"Saya Baron."


"Saya Ritonga."


Roy lega karena nama mereka sesuai laporan Pak Elmo. Kini mereka boleh bernafas lega karena sudah pengawal kompeten lindungi Bara dari segala kemungkinan.


"Silahkan bapak-bapak laksanakan tugas! Terima kasih kesediaan bapak jaga bos kami." Roy tak lupa ucapkan terima kasih sekedar hargai jerih payah dua orang itu.


"Itu sudah tugas kami. Kami sudah bekerja cukup lama sama Pak Elmo. Nona Sania juga dalam pengawalan kami." sahut Ritonga sopan. Sekilas kedua orang itu tak punya skill lain selain ahli bertarung. Tak sangka mereka cukup sopan.


"Sania? Jadi selama ini Sania dikawal kalian?" tanya Rangga kaget. Sania punya latar belakang apa sampai dikawal dalam setiap gerakan.


"Iya...nona dikawal delapan orang setiap hari."


Sekar dan Putri melelet lidah surprise teman mereka punya bodyguard sampai delapan orang dalam setiap langkah. Bagaimana nasib Bara punya bini ratu di dunia nyata. Apa Bara tak tahu kehidupan Sania yang sebenarnya. Sedikit demi sedikit kesaktian Sania terkuak. Pantas wanita itu tenang dalam keseharian. Tak takut apapun walau sering pergi sana sini sendirian. Ternyata di belakang ada pengawal siap lindungi Sania.


"Siapa sebenarnya nona Sania? Bos mafia?" Roy memancing kedua laki bertubuh kekar itu.


"Kami tak tahu. Tugas kami hanya menjaga keselamatan nona Sania." Baron yang jawab tanpa niat buka jati diri Sania. Tugas mereka bukan ekspos Sania tapi mengawalnya.


Sudah Roy duga sulit dapat info dari pengawal setia. Mereka tentu dibayar mahal untuk tugas menyerempet bahaya. Mereka pertaruhkan nyawa untuk lindungi orang harus dilindungi. Mereka bertugas tak kenal waktu. Harus siaga dua puluh empat jam.


"Kami ngerti...Oya Rangga! Bawa Sekar dan Lisa pulang. Aku di sini bersama bapak-bapak ini. Kalau Bara sadar aku akan hubungi kalian."


"Ok...jangan lupa kasih kabar! Juga kalau Sania telah tiba. Adikku itu orangnya keras, tak pandang bulu kalau sudah marah. Aku takut Arsy dan Bobby akan tinggal nama kalau Sania ngamuk." Rangga sendiri ngeri bayangkan amarah Sania bila sempat tersinggung. Kita tunggu kelanjutan nasib Arsy dan Bobby.


"Ngaklah! Sania itu anak manis! Mulutnya tajam tapi hatinya baik." bela Roy ingat cocok lemah Sania.


Rangga tertawa tak setuju ucapan Roy. Roy belum kenal Sania seutuhnya. Yang dilihat Roy hanya kulit Ari Sania. Isi dalam masih terbungkus penuh rahasia.


"Sania itu tampang hello Kitty hati Rambo. Nanti kau lihat Arsy jadi tahu bulat atau perkedel goreng?"


Sekar dan Lisa tertawa geli dengar istilah Rangga. Sania dilukiskan jadi sosok monster terbungkus dalam boneka imut.


"Ok...kalian balik sana! Hati-hati di jalan." Roy beri peringatan. Kalau sudah ada niat buruk dari pihak Arsy bisa jadi orang sekeliling Sania ikut jadi target keluarga Arsy. Tak ada yang tahu rencana busuk dari pihak lawan.


Rangga membawa Sekar dan Lisa tinggalkan rumah sakit. Rangga masih harus balik ke kantor lanjutkan pekerjaan yang tertunda.


Tinggallah Roy dan dua pengawal bertampang datar jaga di depan ruang rawat Bara. Sekilas dilihat orang akan heran mengapa di depan ruang rawat Bara ada penjaga. Cuma ada dua pemikiran orang. Bara itu penjahat yang sedang sakit dan yang kedua Bara itu orang sangat penting sampai harus ada pengawal.


Roy memilih menunggu Bara dalam ruang. Roy ingin istirahatkan badan sejenak halau rasa penat. Jantung Roy juga cukup lelah diajak maraton dari pagi tadi. Sekarang butuh ketenangan agar daya kerja jantungnya kembali normal.


Roy rebahkan badan di sofa kecil. Sofa itu terlalu kecil untuk tampung laki segede Roy. Rebahan di situ tak ubah seperti kertas di paksa masuk kotak kecil. Sesak tak muat.

__ADS_1


Namun Roy tak punya pilihan lain selain coba cari posisi ternyaman untuk buang semua kegalauan. Roy pejamkan mata mencari kata damai.


Tak perlu waktu lama Roy hanyut dalam tidur lelap. Dua laki tinggi besar tertidur nyenyak. Satu berada di brankar rumah sakit dan satunya bergulung di sofa. Keheningan melanda ruang itu. Sepi tanpa suara. Sekali-kali terdengar lenguhan Roy memutar badan cari posisi nyaman.


Menjelang sore Roy terbangun mendapatkan dirinya berada di tempat asing. Roy mengumpulkan ingatan di mana dia sekarang. Ingatan Roy masih kabur terpengaruh sisa muka ngantuk.


Tak lama Roy ingat kalau dia sedang menjaga Bara yang terluka ditusuk Arsy. Roy cepat-cepat bangun hampiri Bara. Laki itu belum sadar dari reaksi obat bius. Biasa tak lama pasien akan segera siuman selesai operasi. Mengapa Bara makan waktu cukup lama untuk sadar.


Ada rasa kuatir mengendap di hati Roy. Jangan-jangan terjadi sesuatu pada Bara. Roy meraba kening Bara yang tampak mengeluarkan keringat. Kening Bara agak panas seperti demam. Roy segera keluar mencari perawat ataupun dokter untuk cek kondisi Bara.


Sebelumnya Roy pesan pada dua robot hidup itu untuk jaga Bara. Tak ada yang boleh masuk selain dirinya. Roy berpesan untuk hindari segala kemungkinan.


Roy bisa pergi dengan tenang cari dokter. Untunglah ada dokter jaga siaga dua puluh empat jam. Begitu dapat laporan Roy para medis tak buang waktu bergerak meninjau kondisi Bara.


Seorang dokter perempuan dan seorang perawat memeriksa kondisi pasien bernama Bara. Roy memantau dari sudut ruang beri ruang pada dokter untuk ceking kesehatan Bara.


Dokter itu memeriksa bola mata Bara lalu cek suhu tubuh Bara pakai termometer canggih. Cukup di tempelkan ke kening Bara langsung muncul hasil. Tak ada reaksi panik dari dokter itu. Artinya Bara masih dalam kondisi terkontrol.


"Gimana dok?" buru Roy begitu dokter itu selesai memeriksa Bara.


"Tidak ada yang perlu kuatir. Semua masih terkontrol. Demam bapak ini wajar karena efek luka. Tidak terlalu tinggi. Nanti kami drip obat demam."


"Tapi kenapa belum sadar. Seharusnya dari tadi dia sudah sadar. Apa ada yang tak beres?"


"Reaksi setiap orang terhadap anestesi berbeda. Ada yang cepat, ada yang lambat. Sejauh ini bapak ini masih normal. Semua bagus. Monitor tunjukkan seluruh fungsi tubuh berjalan normal. Kita bersabar tunggu bapak ini sadar. Kalau sadar nanti panggil kami."


"Dokter yakin semua masih terkontrol?" tanya Roy cerewet.


"Yakin pak! Semoga bapak ini cepat sadar."


Dokter dan perawat pergi tinggalkan Roy bersama Bara. Sejujurnya Roy merasa bosan duduk berdiam diri tak lakukan apapun. Paling nonton YouTube di ponsel buang rasa jenuh. Barapun tak tahu kapan sadar. Ini penyiksaan kecil buat Roy.


Sedang Roy utak atik layar ponsel tiba-tiba ada panggilan masuk. Nama Rudi muncul di layar. Roy tak ragu sambut telepon dari temannya.


"Halo..kapan ke sini bro? Gue hampir jamuran sendiri di sini."


"Gue di dekat kamar Bara tapi tak diijinkan masuk oleh dua Gorila gede." Roy dengar nada kesal Rudi.


Roy tertawa kecil bayangkan rasa kesal Rudi dilarang masuk oleh pengawal Bara. Kedua bodyguard itu mana ijinkan Rudi masuk tanpa persetujuan Roy. Namanya juga lagi dikawal, tak mungkin Rudi bebas masuk.


"Hehehe...Bara jadi orang penting. Pakai dikawal. Gue akan keluar." Roy menutup ponsel keluar menyambut Rudi.


Rudi kurang senang dicegat tak bisa masuk kamar Bara padahal dari pertama dia yang urus Bara. Giliran mau jenguk Bara sudah ditolak mentah-mentah. Harga diri Rudi yang setinggi gunung Himalaya terusik.


Kepala Roy menyembul dari balik pintu sambil tersenyum ngejek. Roy suka lihat tampang kesal Rudi. Ini bisa jadi hiburan di kala sepi gini.


"Bapak-bapak ini anggota kita. Kalau dia mau masuk biarkan. Dia ini tukang pukul Pak Bara." Roy usilin Rudi biar tambah kesal.


"Oh maaf! Kami tidak tahu. Kami hanya diperintah tak ijin sembarangan orang masuk. Silahkan pak! Maafkan kalau salah sangka!" Baron dengan sikap sopan minta maaf. Laki gentleman. Tak malu akui kesalahan. Biasa cowok paling sulit minta maaf walau salah.


Rudi busungkan dada lewati dua pengawal baru Bara. Mata Rudi menatap lurus ke depan tak mau adu pandang dengan orang yang telah injak harga dirinya.


Roy sengaja buka pintu lebar-lebar bungkukkan badan layak hormati yang mulia raja terhormat.


"Silahkan Yang mulia raja singa!"

__ADS_1


"Sialan ente...diangkat tinggi lalu ente banting hingga hancur. Dasar Wiro sableng panuan!" sungut Rudi lewati Roy dekati Bara yang masih betah lelap.


Mata Rudi menyipit melihat Bara belum juga sadar. Sama seperti Roy rasa kuatir timbul juga di hati Rudi. Mengapa sudah berjam-jam siap operasi belum juga sadar. Atau ada kelainan pada tubuh Bara.


"Roy...apa kata dokter? Kok belum ada reaksi?"


"Tadi ada...cuma bilang reaksi orang terhadap obat bius berbeda. Semua normal. Bara tunggu Sania sampai kali. Besok dia sudah di sini."


"Oh...Oya...siapa gorila di depan? Tampangnya seram."


"Bodyguard dari Pak Elmo. Kata Pak Elmo keluarga Arsy mulai bergerak bantu Arsy. Bobby terlibat berkat nyanyian Arsy. Tangan-tangan super power mulai bergerilya. Demi menjaga keamanan Pak Elmo kirim pengawal."


Rudi mangut sok tahu. Rudi kenal keluarga Arsy. Mereka cukup terpandang tapi jarang dukung Arsy. Arsy selalu mencoreng muka keluarga itu. Bahkan mereka tak peduli hidup mati Arsy. Mengapa tiba-tiba mereka turun tangan bela Arsy.


"Aku tak percaya keluarganya berniat baik bela Arsy. Pasti ada udang di balik rempeyek."


"Kita harus bicara sama Pak Elmo. Sekarang dia yang terjun langsung kawal kasus Arsy. Beliau mau jebloskan Bobby ke penjara."


Rudi termenung berusaha cari sela mengapa tiba-tiba keluarga Arsy peduli pada Putri angkat mereka. Apa tujuan utama orang-orang berbisnis kotor itu?


"Gue bingung deh! Kita tunggu aksi mereka. Aku siap jadi saksi buat Bara."


"Bagus...kau jaga Bara dulu. Gue pulang mandi. Ntar malam kita jaga berdua. Sendiri sepi."


"Ok...balik sini bawa makanan! Bawa kopi dan cemilan juga."


"Kayak cewek saja pakai cemilan segala. Eh pinjam kuda besi ente. Punya gue di rumah."


Rudi merogoh kantong celana keluarkan kunci mobil lalu serahkan pada Roy. Sesama teman tak boleh pelit. Suka sama dirasa duka sama ditanggung. Itulah bunyi teman sejati.


Roy angkat kunci tinggi-tinggi sambil beri senyum ganjen meruncingkan bibir kirim ciuman mesra. Rudi merasa perutnya mual dapat kiriman tak diharapkan. Jeruk makan jeruk. Rudi masih waras suka cewek tulen.


"Pergi sana! Ente persis banci kalengan yang mangkal di lampu merah. Sumpah jijik sampai ke otak." Rudi mendekap mulut supaya tak terpancing hendak muntah.


Roy makin tertawa cekikan. Bahagia bisa ganggu teman yang selalu pasang wajah kecut. Tertawa bisa kurang rasa tegang antara mereka. Seharian mereka terbungkus suasana kalut. Nasib bos mereka bagai di ujung tanduk. Walau belum sadar tapi dokter sudah berani jamin Bara tidak ada masalah ini merupakan jawaban melegakan.


"Sania...Sania..." terdengar panggilan lirih dari bibir Bara.


Tanpa diberi komando kedua laki di ruangan berlomba dekati Bara. Mata Bara berkedip-kedip hendak dibuka. Masih berat tapi laki itu berusaha besarkan mata.


Roy dan Rudi tak sabar harap Bara segera sadar. Andai Bara sadar maka jauh dari kata kritis.


"Bara...Bara...kau dengar gue?" Rudi menepuk bahu Bara pelan biar laki itu cepat kuasai diri.


Bara bereaksi pada suara Rudi. Kepala Bara perlahan miring ke arah Rudi. Matanya masih sayu seperti belum sadar sepenuhnya.


"Mana Sania?" lirih Bara kecil sekali.


"Akan segera tiba! Dia sudah berangkat dari Amsterdam. Kau harus kuat...Sania menangis tak henti. Ini sangat tidak baik untuk bayi kalian. Kau yang tabah." Rudi ulurkan tangan genggam tangan Bara.


"Aku di mana?"


"Kau dirawat setelah ditusuk Arsy! Kau sudah selamat. Sekarang jaga kesehatan biar punya tenaga jaga anak kembar kalian." lanjut Rudi memberi spirit pada Bara untuk berjuang melawan maut.


"Kau jaga Bara. Aku panggil dokter dulu!" Roy ambil inisiatif panggil dokter periksa kondisi Bara yang baru sadar dari pengaruh obat bius.

__ADS_1


Dengan langkah besar Roy keluar cari para medis untuk cek up kesehatan Bara. Bara bisa siuman merupakan karunia dari Tuhan. Roy sudah kuatir kondisi Bara yang tak urung sadar. Puji syukur Bara siuman.


__ADS_2