MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Suami Baru


__ADS_3

Bara mengangguk yakin akan penuhi permintaan Sania. Bara sudah banyak bersalah pada Sania jadi wajar sekali-sekali memanjakan wanita itu. Sania mau beli apa saja akan Bara sanggupi.


"Ayo katakan mau beli apa?" Bara perlihatkan wajah tak sabar ingin tahu hadiah apa diminta Sania.


"Janji harus tepat ya!"


"Janji.." Bara tetap yakin bisa beli keinginan Sania.


"Tak menyesal?"


"Lieve lebih menyesal bila tak mampu beli keinginan sayang. Percayalah! Lieve orang tepat janji. Seperti matahari setiap hari janji akan terbit."


"Oh so sweet...ok..Sania tak perlu malu-malu lagi. Sania mau ...." senyum licik terhias di sudut bibir Sania bangkitkan jiwa curiga Bara. Apa maunya ibu hamil ini. Sedang merencanakan apa?


Sikap Sania mencurigakan. Hendak meminta kok seperti maling akan ditangkap aparat. Berdiri jauh dari Bara serta ancang kabur. Permintaan berat apa yang ada di otak Sania.


"Mau apa?" Bara tak sabar ingin tahu isi hati Sania.


"Sania beli suami baru." ujar Sania sambil buka pintu kamar. Setengah badannya pindah keluar setengah lagi berada di kamar.


"Apa?" seru Bara tak percaya permintaan super dahsyat Sania. Sungguh tak masuk akal minta suami baru. Bara merasa ada yang salah dengan otak Sania. Bukannya minta perhiasan mewah malah minta suami baru. Lebih baik Bara mati ketimbang penuhi permintaan Sania yang super menyakitkan.


"Mau ingkar? Ingat janjimu mau penuhi semua permintaanku. Sania mau suami baru yang ganteng kayak oppa Korea." Sania memberi senyum manis pada Bara bikin laki itu makin kesal.


Bara berjalan ke arah Sania hendak cubit pipi yang mulai tembem itu. Sebelum Bara tiba di depannya Sania sudah duluan kabur menutup pintu dengan kencang. Tawa derai Sania memenuhi seluruh lantai atas. Sania begitu bahagia bisa kerjain Bara. Balas dendam yang manis.


Orang-orang di lantai bawah terkesima dengar tawa Sania begitu lepas tanda sedang senang hati. Apa gerangan buat wanita ini nikmati senja dengan hati puas. Bara telah berbuat apa menyenangkan isteri mungilnya.


Sania turun ke lantai bawah dengan hati-hati takut terpeleset di tangga. Sania sangat menginginkan bayi-bayi tersebut. Punya anak-anak montok impian semua ibu-ibu muda. Apa lagi kalau anaknya cantik. Bisa jadi satu kebanggan tersendiri.


Pak Jaya dan Bu Jaya yang sedang santai menanti magrib menoleh ke arah Sania yang tiba dari lantai atas. Dari belakang Bara menyusul dengan wajah merah padam menahan amarah.


"Sania...apa maksudmu suami baru? Aku ini apa?" seru Bara membuat kedua orang tua yang sedang santai bingung.


Suami baru untuk siapa? Siapa mau kawin lagi? Pertanyaan itu bertubi-tubi menyala di benak kedua insan berumur itu.


"Ada apa? Kok ribut?" tanya Bu Jaya melerai.


"Tanya mantu kesayangan kalian! Minta hadiah suami baru. Mau poliandri?" Bara memasukkan tangan ke saku celana dengan gusar.


Bu Jaya menajamkan mata ke Sania yang cengar-cengir senang bisa pancing emosi Bara. Hati Sania puas lihat Bara mencak-mencak kesal. Beginilah suasana hati Sania waktu dapat foto Bara dan Arsy. Kini Bara rasakan gimana kesal punya suami tukang selingkuh.


"Sania tak salah toh! Lieve tawarin hadiah. Ya minta suami baru! Iya kan ma?" ujar Sania santai.


"Semua boleh tapi itu tak boleh. Mana ada sejarah wanita punya suami dua."

__ADS_1


"Lalu laki boleh berbini dua? Tak adil dong! Pokoknya Lieve harus bayar janji. Suami baru yang ganteng. Kayak bintang K pop Korea. Lieve yang pilih!"


Pak Jaya dan bininya melongo. Di antara dua orang ini siapa yang gila? Suami yang beri janji atau isteri yang kelewatan minta hadiah super aneh. Namun kedua orang tua itu memilih diam biar keduanya selesaikan masalah mereka.


"Tidak ada suami baru. Yang ada hanya Bara Jaya. Ayo naik atas! Sebentar lagi magrib! Sholat cuci otakmu biar tak karatan." Bara meraih tangan Sania dengan cepat. Sania tertawa cekikan melempar senyum pada Pak Jaya dan isterinya.


Kedua orang tua itu segera sadar kalau Sania sedang kerjain anak mereka. Dari senyum Sania sudah dipastikan Sania tak berniat jelek selain goda Bara. Mereka tahu Sania bukan perempuan murahan.


Logikanya mana ada isteri minta suami baru pada suami sendiri. Semua tahu itu hanya akalan Sania goda Bara. Tak ada yang perlu dicemaskan.


Di dalam kamar Bara mendudukkan Sania di tempat tidur lalu berlutut di depan Sania. Mata Bara menatap lurus ke mata Sania yang bening tanpa dosa. Bara bertekad menangkan hati Sania agar tak berpaling darinya. Harapan Bara hanyalah hidup bahagia bersama Sania.


"Sayang...kau masih marah pada Lieve sampai minta suami baru?"


"Ya dan tidak. Lieve gampang terpesona oleh wanita. Sania juga bisa. Cuma Sania tak suka main belakang maka minta secara resmi." kata Sania melemaskan badan ke kasur.


Bara menarik Sania bangkit untuk dengar curhatannya. Persoalan mereka tak boleh berlarut-larut. Makin lama mengendap dalam hati akan jadi penyakit. Sama-sama tak nyaman.


"Sayang...Lieve bersumpah tak tertarik pada Arsy. Kalau Lieve mau sama dia sudah dari dulu. Lieve bantu dia karena Kintan. Sejak Kintan sehat Lieve tak pernah hubungi Arsy. Kau tahu semua kegiatan Lieve."


"Lieve berani angkat sumpah tak tidur dengannya?"


"Dulu pernah sebelum menikah dengan Nania. Setelah Lieve pulang tanah air tak pernah hubungan lagi. Dia hamil anak Rudi. Mereka menikah. Lieve mana mungkin menikung teman sendiri. Lieve tak munafik bohongi kamu. Dulu Lieve sempat pacaran dengan Maya, lalu Maya main hati dengan dosen kami itu suaminya sekarang. Arsy datang menghibur dari situ kami dekat. Waktu itu Arsy baru putus dengan Rudi. Kami bersama setahun lebih. Selanjutnya kisahnya kau tahu. Lieve tak pernah berkhianat dari Nania maupun kamu. Ini Lieve berani sumpah atas nama Allah." Bara angkat jari menyatakan bahwa dia jujur pada Sania.


Sania menghela nafas mencoba percaya pada cerita Bara. Sania melihat kesungguhan di mata Bara. Bara telah berkata sejujur-jujurnya. Namun Sania sulit untuk percaya pada lelaki karena trauma masa lalu. Mamanya kena tipu laki brengsek dan dia dibodohi laki bejat. Dua kisah ini hancurkan impian Sania akan mahligai rumah tangga indah. Yang nampak di mata Sania hanya kekelaman.


"Lieve...sejujurnya Sania sangat trauma pada pernikahan. Sania ingin mendapat tempat di hati suami tanpa berbagi. Mungkin ini egois karena dalam agama kita dibolehkan poligami asal adil. Cuma Sania tak sanggup berbagi hati dan jijik bayangkan Lieve bergelut dengan perempuan lain. Sania siap mundur bila Lieve ada niat poligami."


Bara bangkit dari hadapan Sania duduk di samping isterinya. Bara melingkar tangan ke bahu Sania rapatkan ke tubuhnya. Bara tahu perasaan Sania diselingkuhi namun Bara tak selingkuh. Bara selalu jaga mata dan hati.


"Sayang...Lieve bukan laki baik tapi Lieve tak pernah berniat jadi penjahat cinta. Ingat dulu waktu Nania minta Lieve nikahi kamu? Lieve menolak karena takut tak bisa adil pada kalian. Nania sakitpun Lieve tak pernah tidur dengan wanita lain sampai kau datang. Kita lupakan masa lalu. Kita buka lembaran baru bersama anak-anak kita."


"Lieve yakin cuma ada Sania?"


"Yakin...kamu masih muda. Lieve sudah berumur. Takutnya malah kamu yang keberatan punya laki tua. Lieve harap matamu tertutup untuk laki lain terutama pada si kunyuk Fadil. Lieve cemburu padanya."


Sania tertawa kecil dengar curahan hati Bara. Bara terlalu jujur ungkap perasaan hati. Cemburu pada adik sendiri.


"Fadil itu adik bagiku walau dia lebih tua. Kami saling menyayangi sebagai saudara. Dia kukenalkan pada saudara jauh di Jerman. Kelihatannya mereka klop. Selama di Jerman berdua terusan. Semoga mereka bisa jadian. Fadil akan sering ke Jerman karena telah kerja sama dengan perusahaan alat berat di sana." Sania menenangkan Bara soal Fadil.


"Gitu ya! Dia kelihatannya cinta mati padamu. Dia ngaku akan kejar kamu sampai kapanpun."


Sania tertawa lagi lihat keseriusan Bara bahas soal Fadil. Sania sedikitpun tak ada perasaan pada Fadil selain merasa dapat teman lucu. Suka gombal perlihatkan talenta playboy kondang.


"Sania dan Fadil hanya teman doang! Dia lucu menghibur tak seperti Lieve kaku kayak tiang listrik di jalan. Lieve.. Berjanjilah jujur pada Sania! Kita jujur hati lega. Baik buruk tetap kita lalui. Lebih sakit sekarang daripada sakit panjang."

__ADS_1


"Lieve manusia biasa tak luput dari dosa dan kesilapan tapi Lieve akan berusaha jauhi semua larangan agama dan hal yang tak kau sukai."


"Semoga gitu. Sudah azan magrib. Kita sholat dulu!" Sania berusaha lepas dari rengkuhan laki halal baginya. Bara bukannya melepaskan Sania malah pererat pelukan.


" Ini sedang azan. Lieve berjanji akan sayang dan cinta padamu sampai maut memisahkan kita. Tak ada wanita lain dalam hidup Lieve selain kamu, mama dan anak kita kalau ada ceweknya. Kalau Lieve melanggar janji biar tak diterima langit bumi." Bara berjanji dari lubuk hati. Sania bergidik dengar janji Bara. Mampukah Bara tepat janji? Setiap kalimat yang terucap itu doa. Semoga Bara bisa tepati janji agar terhindar dari adzab.


"Sudah ach...janji melulu. Yok sholat." Sania menepis tangan Bara dari tubuhnya. Sebenarnya Sania bergetar dengar janji Bara yang terlalu berat. Terpeleset sedikit Bara bakal jatuh ke jurang nista.


"Sayang percaya pada Lieve?"


"Percaya...yok sholat!"


"Terima kasih. Noktah hitam antara kita semoga terhapus. Kita berjalan di jalan bersih."


"Ngoceh terus. Waktu sholat segera berlalu." Sania bangkit setelah bebas dari rengkuhan Bara. Makin lama duduk makin ngawur ocehan Bara.


Lebih baik tenangkan diri dengan berwudhu lalu sholat mengadu pada Yang Maha Kuasa. Suasana hati pasangan muda ini agak lega setelah pecahkan salah paham antara mereka. Semua ganjalan hati bisa terhapus berganti hati lebih cerah.


Seusai makan malam Bara tepati janji bawa Sania belanja. Bara mau bayar waktu yang tersia antara mereka. Mereka jarang berlibur bahkan berjalan berdua di umum saja jarang. Mungkin saatnya Bara berubah lebih perhatian pada Sania yang sedang hamil.


Bara ingin memanjakan Sania semampu mungkin. Tujuan utama Bara adalah beli cincin kawin untuk Sania. Lebih baik terlambat dari pada tak ada.


Singkatnya keduanya berjalan santai di mal besar. Tak jauh dari mereka tampak beberapa laki berbadan besar mengikuti setiap langkah mereka. Sania sadar kehadiran orang-orang itu tapi Bara tak sadar. Bara tak tahu mereka dikawal empat laki bertubuh raksasa. Mereka adalah pengawal tetap Sania dari pertama datang ke tanah air.


Bara mengajak Sania ke toko permata. Sania menolak alasan tak suka pakai perhiasan. Tapi Bara bersikeras hendak beliin Sania tanda ikatan cinta. Sania tak bisa menolak niat tulus Bara. Seharusnya dari awal Bara beli cincin nikah tak tunggu sampai hari ini. Cuma Sania tak ingin perpanjang masalah lagi. Uang penting Bara sadar kalau Sania adalah wanita satu-satunya buat Bara.


Sania melihat pajangan perhiasan di dalam lemari etalase toko. Semua indah sesuai porsi mata yang lihat. Sania tidak silau oleh Kilauan batu berlian. Bagi Sania itu tak penting. Yang penting niat orang yang membeli.


Pramuria toko melayani dengan ramah harap Sania tertarik pada pajangan perhiasan mereka. Sania meneliti dengan seksama satu persatu perhiasan. Bara ikut dari samping menanti Sania jatuhkan pilihan.


"Coba ini!" Sania menunjuk satu cincin platinum bermata berlian kecil-kecil. Kelihatan sangat sederhana namun manis.


"Sayang...itu kecil banget! Pilih yang lebih besar batunya. Kayak biji selasih saja." protes Bara tak setuju pilihan Sania.


Pramuria toko segera sadar kalau orang yang belanja ini orang tajir. Dengan senyum ramah pramuria itu mengeluarkan cincin bertahta berlian sebesar biji jagung. Bara tertarik pada cincin yang harganya tentu tak murah. Demi Sania tersayang soal dana tak jadi soal.


"Ini model terbaru. Harga bisa diskon kalau tertarik. Boleh dicoba dulu nona!" Pramuria itu memberi cincin itu pada Sania.


"Tak usah! Itu terlalu menyolok. Aku mau yang ini saja." Sania tetap ingin cincin pilihan dia pertama.


"Tapi ini kecil kayak kamu. Pilih yang lebih besar kenapa? Ini pertama kali Lieve kasih hadiah buatmu. Lieve mau yang terbaik."


"Lieve...tak penting besar kecil. Sania hanya butuh ketulusan Lieve. Cukup ini saja. Kita masih butuh banyak dana untuk anak-anak. Terima kasih niat baik Lieve." Sania mengelus lengan kokoh Bara siratkan rasa terima kasih tak terhingga.


Pramuria toko perhiasan salut pada kepribadian Sania tidak tamak. Ganti wanita lain minta yang lebih mewah dan mahal. Makin gede permata makin bagus. Kalau bisa yang segede bola kaki permatanya. Cuma sayang Sania bukan wanita matre memeras suami.

__ADS_1


"Tapi sayang...Lieve suka yang model baru itu!" Bara pertahankan pilihannya. Hati kecil Bara ingin bayar semua duka Sania dengan barang berharga. Cuma Bara tak tahu Sania tak peduli sama yang namanya kemewahan. Sania hanya butuh ketulusan hati Bara.


__ADS_2