
Bara tersenyum mendapatkan Sania punya juga rasa takut. Bara mengira bini mudanya tak kenal kata takut. Gadis itu galak tak gampang ditakuti. Mental Sania kayaknya sudah tertempa kuat. Gadis pada umumnya penakut dan gampang digertak namun Sania lain dari yang lain. Tak mempan digertak cuma gampang iba hati.
Kelemahan Sania adalah pantang melihat orang tertindas ataupun melihat orang tenggelam dalam duka. Sania ingin jadi orang pertama ulurkan tangan meraih orang membutuhkan.
Tak lama kemudian pizza orderan Sania sampai diantar jasa kurir. Fadil berbaik hati membayar beberapa kotak makanan berisi pizza aneka varian.
Tanpa permisi Fadil menenteng makanan itu masuk ke ruang kerja abangnya. Kalau dia minta ijin ikuti tata krama sampai tahun depan tak bakalan dapat ijin. Mungkin pizza sudah berkapang ijin itu hanya angan belaka.
Bara tak bisa berkata kata waktu lihat adiknya nyelonong masuk tanpa ijin. Bara tak terkejut lagi sama kelakuan konyol Fadil. Dari kecil mereka tak pernah akur. Ini karena Fadil manja tak mau paham kesusahan orang.
Pas pula dia anak bungsu, dimanja sampai ke dasar sumur oleh sang mama. Bara wajib mengalah asal Fadil mau.
Untuk Sania tak ada kata mengalah. Tak gampang dapat sumber manusia perfect macam Sania. Pintar dan cantik. Mana mungkin Bara akan rela diambil alih Fadil.
"Makan kita?" tawar Fadil meletakkan pizza di meja untuk tamu. Dia sendiri menempatkan bokong di sofa panjang sambil membuka kotak pizza cari tahu mana seleranya.
Sania merasa jijik lihat cara Fadil cari seleranya. Setiap kotak diperiksa pantau mana sesuai selera. Sania langsung dekati lajang muda itu.
"Dil...di kotak ada tercantum variannya! Jangan dibongkar gitu!" Sania menepis tangan Fadil yang hendak melanjutkan buka selanjutnya.
"Aku mau beef..."
"Baik...Pak Bara mau yang mana?" Sania bertanya pada Bara yang hanya diam lihat tingkah Sania dan Fadil.
"Apa saja asal jangan racun!"
Fadil tertawa geli. Bara bisa juga canda. Biasa abangnya cuek bebek terhadap wanita. Di matanya hanya ada Nania isteri penyakitan.
"Mas Bara mau coba sianida? Aku punya stok. Cuma sebelum makan bikin surat wasiat takkan menuntut siapapun kalau dijemput malaikat elmaut." guyon Fadil.
Bara tak gubris candaan Fadil. Adik gila itu bisa lebih gila kalau diladeni. Ntar malah kesal sendiri. Ambil sikap diam adalah emas itu jalan terbaik.
"Apa saja." sahut Bara.
"Saos cabe dan tomat?"
"Boleh...kuharap kau fokus gambar design bank! Dan kau Fadil jangan ganggu Sania! Ini kantor bukan tempatmu bermain."
"Aku mau kerja sini."
"Tak ada lowongan. Urus kerjamu di kantor papa. Kau sudah besar. Sudahi sikap manjamu!" Bara menyerang Fadil yang asyik kunyah pizza setelah dapat selera yang dia mau.
Dasar Fadil manusia berkulit badak. Omongan Bara dianggap angin lalu. Tujuannya berada di kantor Bara tak lain ingin meraih simpatik Sania. Saniapun peramah tak menolak kehadiraannya secara gamblang makin bangkitkan semangat Fadil bersaing dengan Bara meraih cinta Sania.
"Fadil..ikuti kata abangmu. Kami sedang mengurus proyek. Bukan waktu main main. Kita bisa ngobrol selepas kerja." bujuk Sania lembut supaya Fadil paham tak ganggu waktu kerja mereka.
"Untukmu apa yang tidak? Aku pergi setelah makan. Minta no wa mu? Kita bisa chatting."
"Aku tak hafal no baruku. Aku ada setiap hari. Tak kabur ke mana."
"Ok.." sahut Fadil manis bikin Bara ingin segera enyahkan sang dari dari fokus matanya. Fadil sungguh mengganggu mood Bara.
Sania mengambil sekotak pizza lalu antar ke meja Bara harap laki itu makan sesuai selera.
__ADS_1
Bara menatap kotak pizza di atas meja dengan bingung. Tak ada piring maupun garpu bagaimana dia makan? Apa Bara harus ikuti gaya koboi Fadil comot piza pakai tangan tanpa peralatan makan? Itu bukan gaya Bara sebagai bos satu perusahaan besar.
"Begini cara makannya?" tanya Bara sinis.
"Maksud bapak?" Sania malah tidak ngerti maksud pertanyaan Bara. Sania sendiri terbiasa makan pizza langsung comot dari kotak. Rasanya lebih nikmat daripada pakai peralatan makan yang bikin ribet.
"Aku bukan gelandangan makan tanpa sendok garpu. Ambil di pantry."
"Idihhh..ribet amat. Asal tangan bersih tak perlu alat alat itu. Coba ini!" Sania mengambil sepotong pizza lalu sodorkan ke mulut Bara. Bara tertegun.
Sania masih tak patah semangat ingin Bara rasakan makan pizza ala kadar. Bara tak menolak lagi tatkala pizza itu menyentuh bibirnya. Secara naluri mulut Bara menyambut pizza dari tangan Sania.
Ada rasa aneh disuapi bini kecilnya. Perasaan Bara tergelitik berasa ada sesuatu rasa hangat menyelinap di situ. Sudah berapa lama Bara tak rasakan perhatian kecil dari seorang wanita. Perlakuan Sania sederhana namun mendatangkan kesan mendalam dalam rongga hati Bara.
Fadil mendehem iri pada Bara disuapi Sania. Fadil mengharap suatu saat dia akan rasakan apa yang Bara rasakan saat ini. Fadil berjanji akan berjuang rebut Sania selama Sania belum benaran jatuh cinta pada Bara.
"Aku pergi ya baby! Aku aku kunjungi kamu. Di mana kamu tinggal?"
"Pergi sana! Sania isteriku, memangnya dia mau tinggal di mana?" bentak Bara usir Fadil.
"Oh maaf aku lupa Sania bini imitasi Bara. Ok..nanti malam aku akan datang baby. Jangan terlalu dekat dengan monster jadian! Kau bisa ditelan mentah mentah." Fadil mengedipkan mata sebelum angkat kaki dari ruang kantor Bara.
Kepergian Fadil diiringi tawa kecil Sania. Bagi Sania apa yang dilakukan Fadil hanyalah anak kecil butuh perhatian. Tak perlu keras sama orang konyol macam Fadil. Cukup ikuti semua pola pikir sederhananya. Semua akan aman.
"Lanjut suap aku!" pinta Bara tak mau kalah cari perhatian Sania.
"Siap pak!" Sania mengulurkan tangan memberi potongan pizza ke mulut Bara. Laki itu makan dengan lahap. Suap demi suap potongan pizza berpindah ke perut Bara.
Dea menduga ada sesuatu antara Sania dan bosnya. Sania baru kerja sudah bisa mendapat kepercayaan bos, berhubungan cukup intim pula. Apa keduanya berselingkuh di belakang bini Bara.
Hati Dea kurang suka bila Sania mencoba merayu Bara. Itu bukan perbuatan terpuji. Di balik itu Dea ragu juga beri penilaian soalnya Sania cukup kenal adik Bara. Dea yang sudah lama di sini tak tahu Bara ada adik laki ganteng.
Jangan jangan Sania kerabat dekat Bara maka mereka akrab. Dea berusaha berpikir positif terhadap Sania. Soalnya Sania tak perlihatkan gaya kecentilan berusaha jerat Bara. Sebaliknya Sania terlihat tak suka pada Bara.
Sania minta ijin keluar setelah Bara merasa cukup kenyang. Sania sendiri belum sempat makan karena asyik urus bos dan adiknya yang tak tahu adat.
Sania meletakkan kotak pizza di meja Dea lalu ambil sekotak untuk dia makan sendiri. Sania sudah terlalu lapar untuk jelaskan untuk apa kotak diletakkan di meja Dea. Sania ada penyakit maag akut yang bisa kumat setiap saat. Di saat banyak kerja begini Sania harus jaga pola makan. Tak boleh drop jelang tender proyek PT SHINY.
"San..ini untuk apa?" tanya Dea masih tidak ngerti makna Sania meletakkan pizza di meja kerjanya. Dari dalam kotak memang tercium bau keju khas pizza.
"Oh maaf...tadi Fadil pesan terlalu banyak. Bagikan sama teman lain. Ambil sesuai selera kalian. Kamu harus banyak makan biar air asi banyak."
Wajah Dea berubah cerah dapat rezeki nomplok mendadak. Tak usah disuruh Dea pasti akan bersihkan isi kotak pizza. Jarang jarang dia dapat makan makanan mahal itu. Dia dan suami harus hemat untuk irit biaya hidup yang makin tinggi. Ditambah kelahiran anaknya. Biaya bertambah karena pakai baby sister rawat anaknya.
"Terima kasih."
"Bukan padaku tapi sama adik bos. Dia yang bayar."
"Tolong sampaikan ya! Oya kalau ada lebih boleh aku bawa pulang untuk suami aku?"
Sania mengangguk ijinkan Dea bawa pizza bila memang tak habis. Deapun bergerak bawa kotak pizza ke lantai bawah untuk dibagi sama rata sama karyawan lantai bawah.
Sania sendiri tenggelam dalam potongan pizza penganjal perut. Sania cuma sanggup habiskan sepotong pizza. Perut langsing Sania malu malu menampung makanan lebih banyak. Asal sudah diisi sedikit makanan sudah cukup diamkan pulau tengah Sania.
__ADS_1
Perlahan sinar matahari makin redup minta waktu untuk istirahat di belahan bumi Indonesia. Mentari akan remajakan diri di belahan bumi lain gantian dengan waktu sekarang.
Tak terasa waktu jam kantor sudah berlalu. Para karyawan beres beres ingin pulang berkumpul dengan keluarga. Sania juga gitu persiapkan diri pulang. Hari ini Sania akan main sebentar di rumah Bara untuk menyenangkan hati Nania.
Bara beri kode pada Sania datang ke ruangnya sebelum tinggalkan kantor. Sania sudah pasti takkan mau ikut mobil Bara pulang ke rumah. Ini akan menimbulkan gosip tak sedap di kalangan orang kantor. Nama pelakor bakal tertera di jidat mulus Sania. Belum waktunya mereka umumkan kalau mereka adalah pasangan suami isteri.
Sania sempatkan diri jumpai Bara sebelum turun ke lantai bawah. Lakinya kelihatan sangat letih. Guratan kelelahan terukir jelas di wajah itu. Bara hanya duduk manis di meja bisa juga merasa lelah. Stamina suaminya sangat buruk. Untung Sania hanya isteri dalam kertas. Bagaimana kalau Sania dalam arti sebenarnya. Mampukah Bara nafkahi Sania lahir batin?
"Kau mau pulang ke rumahku?"
"Iya. Mau jumpa mbak Nania sebentar. Bapak kenapa? Kok lesu amat?" Sania perhatikan rona wajah Bara tak sedap dipandang.
"Aku sudah pelajari Rancanganmu tentang pulau B. Kuakui rencanamu sangat bagus dan detail walau harus ada sedikit perubahan. Kendala kita di alat berat." keluh Bara agak putus asa.
"Kita bisa sewa. Yang vital kita beli. Aku akan minta uang muka besar bila kita menang tender. Kita bisa beli sebagian alat berat dengan uang itu. Keuntungan uang kontan akan sedikit namun kita dapat nama. Selanjutnya bapak bisa terima proyek proyek besar. Dan lagi bapak sudah punya alat berat pribadi." Sania beri penjelasan dengan lembut. Kondisi Bara yang agak kacau tak bisa dibawa bicara keras.
Sania tahu Bara inginkan proyek ini tapi laki ini juga takut tak mampu penuhi target kerja yang lumayan rumit.
"Pak kita hadapi bersama. Aku janji akan dampingi bapak sampai proyek tuntas."
"Aku masih ragu."
"Doakan saja agar tender kita diterima! Asal ada kemauan pasti ada jalan. Kita pulang saja. Bapak kelihatan kurang sehat."
"Aku tak apa. Kau pulang dulu. Aku akan nyusul."
"Kurasa kita pulang bersama saja. Bapak kelihatan kusut. Mungkin sampai di rumah bisa disetrika Bik Sur." gurau Sania hendak usir rasa tegang Bara.
Bara berusaha tersenyum diolok Sania, "Baiklah kita pulang! Kau ada bawa pakaian? Kuharap kau mau nginap. Kita bisa bahas kerja kita lebih detail."
"Cuma bahas kerja bukan?"
Bara tertarik pada pertanyaan Sania seakan ingin menggoda imannya. Sania beri kode atau memang sedang menguji mental Bara.
"Kau mau lebih? Aku sehat untuk bermalam pengantin." balas Bara tak mau kalah.
"Tak usah! Tak ada malam pengantin. Kita bukan suami isteri benaran. Ayo pergi! Aku duluan jalan mau ambil pakaian dulu di apartemen."
"Aku ikut ke apartemenmu." Bara cepat cepat bangkit dari bangku mengejar Sania yang sudah duluan kabur.
Sania sengaja cepat keluar dari kantor meninggalkan Bara karena hendak bicara dengan seseorang. Sania hendak bicara leluasa di kamar mungilnya. Tak ada yang boleh tahu apa yang akan dibahas dengan orang misterius yang selalu membantu Sania melaksanakan tugas rahasia.
Sania pura pura tak melihat Bara ikuti mobilnya menuju ke apartemen. Tadi bilangnya masih ada urusan kantor kini ngekor seperti anak ayam ikut induk. Sania biarkan Bara berbuat semaunya asal jangan melewati batas kesabaran Sania.
Sesampai di apartemen Sania tak menanti Bara memarkir mobil. Laki itu bukan orang bodoh tak tahu jalan ke kamarnya. Sania langsung naik ke lantai sembilan di mana kamarnya berada.
Rencana Sania hubungi seseorang harus ditunda lagi kalau Bara ada. Sania tak leluasa bicara di depan Bara. Soal yang bakal dibahas menyangkut perusahaan mamanya dulu yakni PT Sunrise yang saat ini dikuasai Suhada dan Amanda.
Perusahaan itu cukup besar waktu dikelola mamanya hingga mamanya tewas ditabrak orang ngantuk. Sania sudah suruh orang selidiki orang yang telah tabrak mamanya. Malam ini Sania akan dapat result dari detektif yang disewanya. Maka itu Sania menolak Bara berada di sekitarnya.
Bara tak boleh tahu segala rencana besarnya merebut kembali haknya. Sania tak boleh gagal karena moments ini sudah dinantinya selama lima belas tahun. Sania berjuang sejak kecil agar bisa kuat untuk menegakkan keadilan yang telah punah. Keadilan bukan satwa harus dilindungi maka dibiarkan punah. Tak ada kata adil selama orang berhati sempit bermain licik di belakang.
Uang adalah penentu siapa benar atau salah. Uang juga yang tentukan hitam putih hukuman seorang narapidana jahat. Ya yang.
__ADS_1