MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Prahara


__ADS_3

Rudi tak sangka demikian gampang dia dapatkan biaya pengobatan Kintan. Herannya Rudi tak kenal Sania namun Sania ringan tangan membantu Rudi.


"Terima kasih...terima kasih."


"Jangan biarkan Arsy jatuhkan nilaimu sebagai ayah kandung Kintan. Kalau Kintan sudah sehat perjuangkan anakmu. Arsy bukan ibu yang baik untuk anakmu." Sania beri pendapat


"Aku bukan tak mau tapi gajiku tak sanggup biayai hidup Kintan. Sekarang saja hidupku lepas makan."


Sania termenung dengar kejujuran Rudi. Rudi sudah jatuhkan harga diri berkata jujur pada Sania. Jarang jarang ada cowok mau buang rasa gengsi buat pengakuan jujur. Ini melukai harga seorang cowok.


"Kakak lulusan apa?"


"Sama dengan Bara. Cuma aku mentok di S1. Bara S2."


Sania mangut pahami maksud Rudi. Sebenarnya Rudi tak sejelek perkiraan Sania. Keadaan buat laki ini hilang rasa percaya diri. Rudi jadi minder pada orang lain.


"Kenapa tak minta kerja sama Bara. Dia lagi butuh anggota kejar target. Mungkin kau tertarik gabung sama Bara. Teman kalian Roy sudah gabung."


"Benarkah? Apa mungkin Bara mau maafkan aku?"


Sania tertawa kecil. Rudi takut Bara masih dendam ingat kejadian masa lalu. Orang bersalah tetap simpan rasa salah walau waktu telah melaju tinggalkan kisah lama.


"Percayalah! Bara itu orang baik. Dia pasti terima kamu. Buka lembaran baru. Demi Kintan dan Kintan Kintan lain yang sedang menunggumu." Sania menyentuh tangan Rudi beri semangat agar laki itu punya nyali bangkit kembali.


"Terima kasih. Kita baru kenalan tapi kau sudah beri aku bantuan sangat besar."


"Sama sama...tinggalkan no hpmu agar nanti ada orang hubungi kamu untuk bayar biaya Kintan. Untuk selanjutnya kamu cukup kabari orang itu. Tapi ingat! Tak ada nama Sania dalam pengobatan anakmu."


Andai bisa Rudi ingin menangis di hadapan Sania untuk lepaskan rasa bahagia. Bukan nangis sedih tapi nangis bahagia. Ternyata menjadi orang baik akan jumpa orang baik juga.


"Aku sangat berterima kasih nona. Kau bagai bidadari." ujar Rudi dengan mata berkaca kaca.


"Bidadari nyasar ya. Ayo kita ke bawah! Kalau ditanya Bara apa topik pembicaraan kita bilang saja kamu dapat kuliah gratis."


"Dosennya muda banget! Sekali lagi terima kasih."


"Maaf jangan ucap terima kasih lagi. Kantongku sudah penuh. Tak bisa tampung. Yok!" Sania duluan turun ke lantai dua di mana Arsy dan Bara sudah menanti.


Bara menanti di ruang dengan hati tegang. Bara takut Sania akan keluarkan kalimat kalimat sakti pojokan Rudi sampai batas limit. Untunglah raut wajah Rudi tidak buruk. Artinya semua masih terkontrol.


"Well...gimana? Puas kena sentilan patuh runcing burung Pipit kejam?" ejek Arsy senang Rudi diceramahi Sania.


Rudi duduk di sofa lebih rilex. Beban berat sebagai seorang bapak teratasi berkat bantuan Sania. Kini Rudi boleh unjuk gigi di depan Arsy kalau dia bapak bertanggung jawab.


"Aku berterima kasih pada Nona Sania telah buka hatiku. Kintan akan operasi. Aku akan pinjam uang sama keluargaku." kata Rudi dengan suara mantap.


Sania tersenyum senang Rudi sudah mampu atasi rasa minder. Semoga Rudi bukan laki brengsek tak bisa ambil hikmah dari kesalahan masa lalu.


"Syukurlah! Sekarang kalian ke rumah sakit urus persetujuan operasi Kintan. Secepatnya. Setiap detik adalah waktu berharga bagi orang sakit." Bara lega akhirnya ada jalan keluar buat Kintan tanpa harus korbankan uang proyeknya.


"Iya..Oya Bar..apa aku boleh lamar kerja di sini?" Rudi merasa memang waktunya mencoba tanpa ingat masa lalu.


Bara menatap Sania menduga bini mudanya yang beri jalan pada Rudi untuk bergabung pada perusahaannya. Tanpa masukkan dari Sania Rudi mana tahu kantornya lagi butuh pegawai yang mampu bantu dia handle proyek.


"Setiap saat kau bisa gabung. Sekarang urus Kintan dulu."


"Terima kasih. Aku pergi dulu. Nona Sania...terima kasih." Rudi bungkuk hormat pada Sania.


"Kak Rudi jangan sungkan! Kau pasti bisa. Dan jangan panggil aku nona! Cukup Sania."


"Akan kuingat! Besok aku akan balik untuk lamar kerja secara resmi." Rudi melangkah dengan gagah tak peduli pada tatapan aneh Arsy.


Arsy tak sangka Rudi berubah setelah ngobrol dengan Sania. Apa Sania punya ilmu hipnotis bisa kendalikan pikiran orang?


Bara mendehem lontarkan pandangan marah pada Sania. Ingin rasanya Bara cubit bibir Sania agar tarik kembali kata kata ijinkan Rudi panggil dia dengan nama biasa. Di tambah panggilan kak untuk Rudi bikin Bara mau gila. Terhadap suami sendiri panggil Pak. Terhadap teman baru mesra bukan main.


"Awas kau macan kecil!" desis Bara nyaris tak terdengar.

__ADS_1


"Maaf pak! Aku kembali kerja. Silahkan lanjutkan acara drama kalian! Permisi." Sania sengaja goyang pantat kiri kanan perlihatkan bongkok sexy nan padat.


Bara menggeram dalam hati. Bisa bisanya bocah cilik ini kacaukan konsentrasi kerja Bara. Goyangan aduhai Sania masih terbayang di otak Bara. Tontonan gratis goyang senggol Sania merusak syaraf Bara. Bara makin ingin cepat bawa Sania ke posisi isteri lahir batin.


"Bara..kau mau ajak Rudi kerja sini?" suara Arsy buyarkan lamunan Bara terhadap goyang senggol Sania.


"Maaf apa yang kau bilang?" Bara masih duduk terpaku dari bayangan Sania.


"Kubilang kau mau rekrut Rudi?"


"Mungkin iya. Kerjaku banyak Roy sudah aku ajak walau belum resmi. Roy sedang kerjakan proyek perumahan. Mungkin Rudi bisa bantu aku di proyek lain."


"Kau banyak proyek ya. Mungkin kita bisa pergi belanja sedikit untuk Kintan. Kintan butuh mobil lebih besar untuk bawa dia jalan." ucap Arsy manja berusaha menarik perhatian Bara.


"Aku tak bisa tarik uang proyek di luar kebutuhan proyek. Semua di bawah kendali Sania. Proyek proyek dia yang handle. Keuangan juga di bawah kuasanya. Aku tak punya apapun."


"What? Seorang karyawan pegang uang milyaran?" seru Arsy guncang ruang Bara.


Bara mengangguk tak open pada seruan Arsy. Di otak Bara cuma ada rencana licik jebak Sania ke pelukannya. Dia harus bikin rencana matang ikat Sania sebelum diculik orang lain.


"Arsy...kau ke rumah sakit lihat keadaan Kintan! Selepas kantor aku akan nyusul ke sana. Pastikan Rudi urus Kintan dengan baik." Bara berkata serius garap Arsy tak lalai urus Kintan. Rudi boleh berjanji tapi apa laki itu mampu wujudkan harapan semua orang?


Arsy mengangguk lemas. Bara betul. Arsy belum boleh percaya sepenuhnya pada Rudi. Siapa tahu keluarga Rudi tak setuju pinjami Rudi uang. Bisa gagal rencana operasi Kintan. Nyawa Kintan jadi taruhan.


"Iya Bara..aku ke rumah sakit sekarang." Agak ogahan Arsy bangkit dari sofa menuju ke arah pintu.


Sania dan Dea melirik Arsy sekilas lalu kembali kerja. Di badan Arsy tak ada yang menarik selain lihat pakaian minim kain.


Sania menggeleng bayangkan diri berpakaian kayak Arsy. Apa akan banyak cowok pasang mata ke badannya? Ditatap puluhan pasang mata Sania akan merasa telanjang bulat. Sania bergidik sampai keluarkan suara merinding.


"Kenapa kau?" Dea ikutan geli dengar Sania keluarkan kata Idihhh panjang.


"Lagi bayangkan pakai baju pakaian kain setengah meter."


Dea tertawa renyah, "Kau tak cocok berpakaian gitu. Tubuhmu terlalu bohay. Biji mata pejantan lompat keluar ntar."


"Aku juga ogah. Asetku mahal tak boleh diobral sembarangan."


"Boleh suka tapi jangan jatuh cinta ya! Aku masih suka bau maskulin cowok macho."


Dea tertawa dicandai Sania. Betapa damai dapat teman kerja sebaik Sania. Sudah jarang sesama rekan kerja saling back up. Tak jarang saling menjatuhkan dengan cara licik untuk keuntungan pribadi.


Suasana kantor kembali tenang. Sania mulai santai kerjakan tugas setelah kirim pesan singkat pada seseorang untuk bantu Rudi selesaikan biaya rumah sakit Kintan.


Sania bantu Rudi dengan ikhlas tanpa pamrih. Dapat membantu orang dalam kesusahan adalah berkah buat Sania. Sania tak merasa dirugikan bila yang bersangkutan memang butuh biaya untuk hal benar. Andai untuk dibawa ke arah salah satu senpun Sania tak rela.


Suasana tenang Sania terusik oleh bunyi ponsel di meja kerja Sania. Tanpa ragu Sania sambut penelepon.


"Assalamualaikum..ada apa? Kau hamil karena Rangga?"


"Waalaikumsalam..Ya Allah nih bocah! Omong tak pakai saringan. Kalau kau pulang sini kujamin nafas mu tinggal seupil. Dasar anak gila! Makin hari makin gila." omel Lisa tak puas Sania duluan goda dia. Harusnya Sania yang kena godaannya memakai topik Bara.


"Filterku rusak. Aku sedang tugas. Katakan ada apa?" ketus Sania.


"Kau sudah lihat berita rumah bintang sinetron top dieksekusi sama pengacara pemilik pemegang sertifikat."


"Oh..cuma berita basi gitu?"


"Reaksimu cuma oh? Ini berita besar. Betapa malunya Ranti dieksekusi pas sedang ada acara reality show. Habis deh nama baik pelakor itu. Aku puas San...dendam ente sudah dibayar lunas."


"Semua ada karmanya. Aku kerja dulu. Besok malam aku pulang. Bilangin ibu masak sayur Bening."


"Ya Allah...apa tak ada menu lain? Dengar nama sayur bening aku sudah mual. Kamu sanggup makan. Nanti kusuruh mama bikin gado gado. Sama enak dengan sayur bening."


"Terserah. Oya gimana Agra? Apa menyusahkan kamu?"


"Agra anak baik. Dia ngak pernah bikin masalah kok. Ente tenang saja. Kedua saudaramu aman di tanganku."

__ADS_1


"Abangku yang tak aman di tanganmu. Jangan perkosa dia ya!"


Lisa tergelak gelak dengar ocehan konyol Sania. Rangga segitu besar mana mungkin dikerjain Lisa. Yang ada Lisa dikerjain Rangga.


"San..aku kangen. Sudah berapa hari tak jumpa."


"Aku juga. Oya gimana proyek kalian? Aman?"


"Aman. Mas Rangga sudah beli tanah untuk bangun doorsmeer. Dia turun tangan sendiri. Mulai ada kegiatan. Cuma papa kebingungan cari montir gantiin mas Rangga."


"Dia kan bisa sambil bantu papamu. Kok fokus banget?"


"Masih bantu tapi kan sebentar bentar kontrol pekerja. Keluar beli ini itu. Pokoknya kacau deh!"


"Kamu kok ngerti amat mas Rangga ke sana kemari? Pasang cctv di badan mas Rangga ya?"


"Aku punya mata sis! Mata itu tugasnya melihat. Wong pujaan hati maka harus dipantau. Takut diculik nek lampir."


Kini giliran Sania tertawa. Sania lega kedua saudaranya ada yang jaga. Lisa punya perasaan cinta pada Rangga itu adalah point baik. Lisa pasti akan rawat orang tercinta sebaik mungkin.


"Terima kasih Lis."


"Huuusss...banyak adat! Aku lakukan semua ini untuk masa depanku. Demi yayang Rangga."


"Genit amat! Papa dan mamamu aman kan?"


"Aman sih cuma langkah papa jadi pendek. Tak boleh dekat dekat ke warung Bu Susi. Pergi jauh harus ikut. Telat pulang dikit dicari. Kasihan juga papa."


"Jangan salahkan mamamu! Beliau hanya jaga harta karunnya. Bu Susi gimana?"


"Mana kutahu. Lihat aja jijik! Anak bengkel juga dilarang beli nasi di sana."


"Baguslah! Aku kerja dulu. Bos sudah sepuluh kali tembak mata ke arahku. Dikira aku pacaran."


"Dia sudah minta jatah?"


"Dasar otak kotor! Ngak ada jatah jatahan. Sudah ya. Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.."


Sania menutup ponselnya termenung. Sania teringat kata Lisa tentang Ranti. Ternyata pengacara suruhannya mulai bergerak. Sudah saatnya Bobby dan Ranti tuai karma buruk mereka. Berani berbuat harus berani tanggung jawab.


Sementara di kantor Bobby laksana kebakaran jenggot rumahnya di datangi orang untuk ambil alih rumah yang dia tempati sekarang. Bobby lupa kalau rumah itu adalah hadiah dari PT SHINY untuk kado pernikahan gadis itu.


Sania tak jadi nikah maka kembalikan hadiah itu pada yang berhak. Pihak PT SHINY rencana jual rumah itu karena Sania menolak terima rumah tersebut.


Bobby terpaksa telepon pengacaranya untuk urus masalah ini. Bobby mau tuntut PT SHINY yang dianggap permalukan dia.


Pak Anton selaku tangan kanan Bobby langsung turun ke tempat kejadian jumpa pengacara PT SHINY. Tak ada jalan terbuka untuk Bobby karena sertifikat memang atas nama Sania. Satu satunya jalan adalah membeli rumah itu dengan harga lumayan mahal.


Bobby benar benar pusing mengingat keuangan kantor juga lagi seret. Mundur artinya dia telah kalah dari Sania. Sania gadis tolol di mata Bobby. Sania yang cinta mati padanya.


Pak Anton berdiri di hadapan Bobby melapor semua hasil nego dengan pengacara PT SHINY. Bobby sudah berada di gang buntu. Tak ada jalan maju lagi.


"Apa pihak sana tak bisa kasih kelonggaran barang setahun?" tanya Bobby dengan wajah kusut.


"Seminggu buat kalian pindah atau beli rumah itu. Sudah ada pembeli hendak ambil alih." lapor Pak Anton takut takut.


Bobby memukul meja saking kesalnya. Perusahaan kacau kini ditambah masalah baru. Rumah tempat tinggalnya akan di eksekusi. Kepala Bobby serasa mau pecah.


Belum lagi permintaan Ranti yang setinggi langit. Tiap hari menghambur uang tanpa peduli hidup mati Bobby cari rejeki. Yang penting jalani hidup glamor seorang bintang top.


"Berapa mereka buka harga?"


"Lima puluh milyar."


"Apa? Rumah segitu harga lima puluh milyar? Gila apa?"

__ADS_1


"Pasaran rumah daerah itu memang segitu. Rumah bapak lebih mewah dari yang lain. Harga itu sudah wajar."


Bobby mengusap wajah penuh keringat dingin. Kalau benamkan lagi uang segitu perusahaan makin tenggelam. Tak disangka kemegahan Bobby selama ini karam karena satu kesalahan fatal. Satu saja bawa akibat mengerikan.


__ADS_2