MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Kesedihan Sania


__ADS_3

Hanya masalah sepele bisa picu amarah Sania hingga ucapkan kata tabu dalam rumah tangga. Bagi Bara itu hal kecil namun bagi Sania itu adalah cerminan sifat seorang laki sejati. Berani berjanji seberani itu pula ingkari. Sania bukan orang mudah dirayu pakai kalimat manis.


"Sania...kau tahu itu bukan tujuan aku! Kamu terlalu kanak-kanak gampang terbawa emosi." Bara berkata di depan pintu kamar mandi. Bara yakin Sania mendengar suaranya dari balik pintu.


Tak ada jawaban malah pintu kamar mandi terbuka. Wajah Sania basah oleh percikan air. Wanita muda ini sengaja tak keringkan wajah biar tetap dingin. Sania tak mau moodnya berubah jelek pengaruhi presentase di kantor nanti.


"Pak Bara...bagimu berjanji itu segampang ingkari. Dalam kamus ku tak ada kata-kata itu. Sekali kau ingkar tak ada kata diulang dariku." tegas Sania tenang. Sania berusaha kuasai diri jangan marah.


"Hanya Maya kau bisa semarah ini. Dia itu temanku dari SMA. Kami berteman sudah puluhan tahun. Mana mungkin aku sakiti dia di saat dia terpuruk."


"Oh...hanya seorang Maya bisa membuatmu lupa punya isteri. Bagaimana kalau muncul seribu Maya? Di mana posisi aku di matamu?"


Bara tergugu di skakmat Sania. Gaya Sania tenang bikin Bara makin gemas tak tahu harus gimana jelaskan kalau dia tak ada apa-apa dengan Maya. Cuma sekedar perhatian teman lama.


"Kau tak ngerti arti persahabatan! Kau terlalu tegang jalani hidup. Aku bersumpah tak ada perasaan apapun pada Maya. Jangan bikin suasana makin kacau!"


"Aku tak mengerti arti persahabatan kalian? Kuping kamu penuh kotoran ya? Tak dengar dia bilang mau jadi nyonya Bara. Sudah bercerai dari suami minta kamu tampung." Sania tak gunakan bahasa sopan lagi. Dalam kata sudah terselip kata kamu dan kau. Bara terlalu menjengkelkan.


"Ya ampun...itu kau simpan di hati! Aku akan jujur katakan siapa kamu biar dia mundur. Maya memang urakan dari dulu."


"Dia urakan ya! Aku bisa lebih dari dia. Kau mau lihat bagaimana kalau aku sudah gila? Cuma sayang manusia bermoral tempe macam kalian belum pantas pancing kegilaan ku."


"Sania...kau mau aku bagaimana baru ngerti bahwa aku betul anggap Maya teman."


"Gampang...usir dia dari hadapanmu! Aku mau lihat kamu tega ngak?"


"Mana bisa gitu. Dia temanku. Cemburu kok kebangetan! Aku tahu kau sayang padaku tapi tak perlu seekstrim itu toh!"


"Wah..ada yang kegeeran! Aku tak peduli kalian mau apa. Mulai detik ini kau dan aku end! Kita kembali sebatas bos dan bawahan." tegas Sania tak mau kompromi.


Bara dibuat bingung oleh sifat keras Sania yang sangat mengerikan. Tak disangka wanita selemah Sania bisa setegas itu. Padahal Bara pikir Sania bisa maklum dia temani Maya yang datang jauh dari Amerika. Bara juga sertakan Roy dalam perjalanan.


"San...aku sudah minta maaf! Aku sayang padamu tak mungkin berselingkuh. Nania saja tak pernah kuselingkuhi apa lagi kamu. Aku akan jelaskan pada Maya agar menjauh dariku. Kita bicara baik-baik. Ok?" Bara meraih Sania ke pelukan. Bara belum siap kehilangan Sania. Sania bagai pelita terangi hidupnya. Mana mungkin Bara mau kembali ke masa lalu kelam.


Sania terdiam dalam pelukan Bara. Pelukan Bara memang nyaman namun sikap plin plan Bara telah melukai hati Sania. Mana ada laki tega abaikan bini demi perempuan lain.


"Untuk sementara kita jalani hidup masing-masing sampai bapak tentukan pilihan. Aku sedikit egois tak suka barangku dibagi. Dari awal pernikahan aku sudah bilang jangan main gila! Aku tak punya toleransi di situ."


"Tidak...aku tak mau pisah! Aku bisa gila tanpa kamu. Lebih aku kehilangan segalanya dari pada kehilangan kamu." Bara bersikukuh tak mau ditinggal Sania.


"Kehilangan segala tak soal tapi tak mau kehilangan masa lalu. Gini saja! Datang padaku kalau bapak sudah siap! Kata kan apa mau bapak biar kita bisa tentukan masa depan kita sendiri. Jangan buat aku menghilang dari kornea matamu! Aku ini setan yang bisa raib kapanpun."


"Aku siap sekarang. Tak usah ragu. Pagi ini juga kita temui Maya! Aku tak mau ada duri di daging. Kita cabut sampai akar agar tak ada ganjalan antara kita." Bara mencoba beli hati Sania berjanji akan katakan jujur pada Maya kalau dia sudah beristeri.


"Terserah...lepaskan aku! Aku bikin sarapan pagi." Sania menepis tangan Bara yang masih erat memeluknya. Bara tak rela kehilangan cahaya hati. Sania perlahan telah menyatu dalam hati Bara.


"Berjanjilah kau takkan tinggalkan aku!"

__ADS_1


"Aku janji tak tahu apa bisa tepati. Aku ada guru yang ajar berjanji sebanyak mungkin untuk diingkari." sahut Sania santai.


"Ya Allah...segitunya kamu siksa suamimu. Dosa tau.."


"Masih tahu dosa? Temani wanita lain lalu abaikan bini di rumah apa itu pahala?" sekak Sania gemas pada pendirian Bara yang rapuh. Pantas Bara dibodohi wanita-wanita mata dolar.


"Itu lagi...pokoknya aku ikut kamu saja! Terserah kamu mau bilang apa! Aku ikut kata-kata kamu. Panggil aku Lieve...bukan bapak!"


Sania tak biarkan tubuhnya lama-lama dalam pelukan Bara. Sania takut dia luluh oleh pelukan hangat laki itu. Tak boleh gampang maafkan Bara. Bara harus dapat pelajaran supaya ke depan bisa hargai pernikahan mereka.


"Lepaskan! Aku mau bikin sarapan."


"Kita sarapan bersama Maya sekaligus klarifikasi statusmu pada Maya."


"Tidak...aku tak mau kacaukan rencanaku tampil di PT.SHINY. Aku tak bodoh cari wanita gatal hanya untuk unjuk siapa aku. Lucunya selera bapak payah banget. Selalu bekas orang. Bapak tukang loak ya! Tampung barang bekas melulu."


Bara merasa lehernya tercekik diganyang kalimat pedas Sania. Mulut Sania benaran seperti silet bermata dua. Tajam atas bawah. Hebatnya Sania tak berkata kasar walau setiap katanya mengandung bisa mematikan. Setiap kata selalu terucap pelan dan santun.


Bara melepaskan Sania mengikuti bini mungilnya menuju ke dapur. Dapurnya tetap bersih tanpa kotoran. Gimana mau kotor orang tak pernah dipakai.


Sania keluarkan roti tawar lalu panggang di toaster. Pekerjaan gini gampang buat Sania asal jangan disuruh masak bermacam masakan. Terutama masakan Indonesia yang aneka ragam. Sania memang buruk diajak bincang soal dapur. Dari kecil hingga dewasa Sania tak pernah diajar masak. Cuma Sania pintar buat salad karena itu makanan kesukaan. Aneka salad Sania kuasai.


"Sarapannya cuma roti?" tanya Bara lihat cuma ada dua potong roti bakar. Apa bisa kenyang kan perut?


"Aku orang miskin tak mampu beli sarapan mahal. Mau makan atau tidak terserah!" Sania mengambil potongan roti olesi dengan selai coklat.


"San...kita sarapan di luar nanti! Kau harus kenyang agar fit presentase nanti. Aku dan Roy akan ikut kamu ke SHINY."


"Terserah! Ondel-ondel jangan ikut! Jangan bikin malu di kantor orang! Ondel-ondel mu akalnya jongkok."


"Tak baik menghina orang. Maya itu S2 lho!"


"Peduli amat! Mau S2 mau es teller bukan urusanku." Sania fokus pada roti dan susu hangat untuk tenangkan perut agar jangan bikin ulah di tempat rapat.


Bara tak mau berdebat lagi. Laki ini masuk kamar mandi bersihkan diri untuk sambut pagi penuh gonjang ganjing gara Bara tak jemput Sania sesuai janji. Bara nyesal juga telah abaikan Sania. Bara pikir Sania wanita penuh pengertian bisa maklum dia temani Maya yang sedang berduka. Nyatanya Sania jauh lebih berbahaya dari wanita lain. Tidak ngamuk tapi bisa tendang Bara ke comberan pakai bibir bermata silet.


Bara tak bawa pakaian terpaksa pulang ke rumah ganti pakaian lebih resmi untuk pergi presentase ke PT. SHINY. Bara memilih pulang ke rumah dia di mana dulu dia tinggal bersama Nania. Dari situ lebih dekat kantor dari pada pulang ke rumah orang tuanya.


Sania langsung berangkat ke kantor untuk siapkan semua file untuk dibawa ke PT. SHINY. Mereka berangkat terpisah karena Sania masih ogah beri peluang pada Bara merayu dirinya. Sania bukan wanita cepat termakan rayuan recehan. Cukup sekali Sania rasakan gombalan penuh jigong dari Bobby. Sania tak mau terpeleset dua kali.


Sania tiba di kantor lebih cepat dari karyawan lain. Suasana kantor masih sepi. Belum ada satupun pegawai datang. Keheningan menguasai seluruh ruang lantai dua.


Sania iseng-iseng masuk ruang Bara lihat bagaimana profil Bara sesungguhnya. Dari awal masuk Sania tak melihat Bara pajang foto keluarga. Baik dengan Nania maupun dengan Fadil. Yang ada hanya perangkat komputer serta peralatan umum kantoran.


Sania penasaran sekali bagaimana masa lalu Bara sampai dia begitu ingin melindungi wanita dari masa lalu. Sania sudah dengar dari Nania sendiri dan Bara juga sudah cerita sekilas namun Sania merasa masih ada yang ditutupi laki itu.


Sania coba tarik laci meja Bara harap menemukan sesuatu. Laci pertama Sania tak temukan apapun begitu juga deretan kedua. Di laci terakhir Sania menemukan sesuatu yang menarik hati. Satu kotak perak berukir bunga anggrek. Kotak itu indah menggambarkan kelembutan sang pemilik. Sania suka sekali ukiran di kotak itu. Seperti peninggalan kuno. Bukan produk masa kini. Bisa dibilang barang antik.

__ADS_1


Sania beranikan diri buka kotak itu. Darah Sania terkesiap melihat isi kotak itu. Ternyata berisi foto-foto Bara masa muda bersama para teman di Australia. Sania lihat satu persatu jatuh pada foto di mana Maya masih kurus duduk di atas pangkuan Bara. Tangan Maya terkalung di leher Bara sambil tertawa lebar. Maya cukup cantik di jamannya. Mengapa sekarang berubah aneh.?


Sania membalik belakang foto itu dan temukan fakta lebih menyayat hati. Tertulis dengan huruf besar EVERLASTING LOVE.


Tangan Sania membeku serasa kaku. Ternyata Bara punya cinta sangat besar pada Maya. Pantas dia tak tega melihat Maya menderita karena bercerai. Mengapa Bara dan Maya tak menyatu waktu itu. Mengapa Bara justru memilih Arsy? Benak Sania dipenuhi berbagai pertanyaan.


Sania mengembalikan foto dan kotak ke posisi semula lalu bergegas kembali ke tempat duduk untuk atur nafas. Sania tak mau Bara pergoki dia sedang menyelidiki masa lalu hitam Bara. Mampukah Sania bertahan dengan lelaki yang tak punya pendirian tetap? Betapa kacau kisah cinta Bara.


Mood Sania berubah makin jelek. Mengapa di saat penting gini semua harus terbongkar. Sanggupkah Sania presentase pagi ini? Sania mulai memikirkan resiko pakai nama perusahaan Bara maju ke tender PT. SHINY. Dana yang akan mengalir ke kantong Bara tidak sedikit. Sania takut Bara akan limpahkan dana ke badan wanita-wanita bermata dolar.


Dea datang dengan wajah ceria kontras dengan wajah murung Sania. Dea bisa melihat wajah Sania demikian pucat seperti menahan sakit. Bukan sakit di fisik namun sakit di dalam.


"San...are you ok?" tanya Dea dok bahasa Inggris.


"Aku tak apa cuma gugup akan maju di tender besar." Sania berkelit tak ingin orang tahu isi hatinya yang sedang galau.


",Aku ada beli bubur sumsum untukmu. Mau coba?"


"Terima kasih kak! Aku baru sarapan. Tunggu bentar lagi."


"Ok...kalau kurang sehat lebih baik pulang istirahat." nasehat Dea tak tega lihat betapa pucatnya Sania.


"Aku tak apa...bolehkah aku minta teh hangat?"


"Tentu sayang...kau duduk manis saja! Aku akan minta ob antar ke sini." Dea segera penuhi permintaan Sania prihatin kondisi teman kerjanya.


Tak lama muncul Bara, Roy dan Maya. Sania menahan nafas tak ingin lepaskan beban yang menghimpit dada. Pagi-pagi Bara masih sempatkan diri jemput wanita dari masa lalu. Seharusnya Bara tegas pada Maya katakan fakta. Bukan beri harapan kosong buat wanita itu makin betah di samping Bara.


"Sania...ikut masuk!" kata Bara tanpa perhatikan wajah Sania yang pucat.


Sania bangkit dari tempat duduknya sambil ucapkan istiqhfar. Semoga Allah beri kekuatan untuk Sania lewati cobaan hari ini. Sania mantapkan langkah masuk ke ruang Bara cari tahu apa tujuan Bara ajak dia ikut gabung dengan teman masa lalunya.


Maya dan Roy sudah duluan duduk di sofa. Gaya Maya jauh lebih baik dari kemarin. Tampang ondel-ondel tak kentara pagi ini. Mungkin sang ondel-ondel sudah sadar kalau tampangnya mengerikan.


Sania berdiri di depan meja Bara seperti biasa dia menghadap sang atasan. Bara menatap Sania temukan bini kecilnya sangat pucat. Sontak Bara kaget.


"Kau kurang sehat?"


"Tidak pak..ada apa?" tanya Sania dingin.


"Mari sini! Duduk sini!" Bara menepuk pahanya agar Sania mau mendekat. Sania justru tak bergerak seperti patung terpaku di lantai.


"Apa maksudmu Bara?" seru Maya tak terima Bara meminta Sania duduk di atas pangkuan Bara.


Bara bangkit dari bangkunya dekati Sania. Tanpa ragu Bara memeluk pundak Sania untuk nyatakan posisi Sania di hati.


"Sania isteriku Maya! Kami sudah menikah beberapa bulan lalu." ujar Bara lantang.

__ADS_1


Roy tersenyum ikut bangga Bara berani ambil sikap di pagi ini. Bara harus membunuh hasrat gila Maya untuk kembali padanya.


__ADS_2