MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Nania Pergi


__ADS_3

Nania merasa lega sudah ungkap kenakalannya di masa lalu. Mengapa Nania tak pernah berpikir suatu saat dia akan tuai hasil buruk dari kebusukkan masa lalu. Nania menyesal telah berbuat curang bodohi lelaki sebaik Bara.


Bara benar benar korban para wanita jahat. Untunglah Nania membawa seorang gadis baik untuk Bara sebagai balasan atas kesalahan di masa lalu. Nania yakin Sania akan mampu merawat Bara jauh lebih baik darinya. Hati Sania terbuat dari intan berkarat tinggi. Berkilauan terangi hidup Bara.


"Sania...kau jangan pernah tinggalkan mas Bara ya! Dia sudah cukup menderita karena aku dan Arsy. Sampai sekarangpun Arsy masih merongrong hidup mas Bara."


"Aku tahu mbak! Mbak jangan takut pada wanita wanita sampah gitu! Aku akan kawal mas Bara untuk mbak. Kita rawat bersama. Maka itu mbak harus sehat."


Nania tertawa getir, "Kamu sudah janji tak boleh ingkar ya! Ada satu lagi rahasia besar dalam hidup mbak. Ini memalukan juga aib terjahat. Mbak pernah coba rayu Fadil waktu tahu Fadil akan jadi pewaris kekayaan keluarga. Fadil marah besar tapi dia tak pernah buka rahasia ini. Fadil sayang pada abangnya. Dulu mbak hanya tahu bersenang senang tak pikir akibat dari perbuatan dosa. Berkali mbak khianati mas Bara. Waktu itu mas Bara tak menyentuh mbak sebagai isteri. Mbak mencari kesenangan pada laki lain."


"Astaghfirullah.." tanpa sadar Sania mengucap tak sangka Nania cukup bejat. Nania benar menuai karma buruknya. Sekarang Nania tak dapat apapun dari kesalahan masa lalu. Malah sekarang diserang berbagai penyakit. Allah itu tak tidur. Siapa menabur dia akan menuai.


"Sania...sekarang kau sudah tahu betapa jahatnya mbak! Hidup Bara hancur karena mbak dan Arsy. Kini tugasmu kembalikan harkat mas Bara." Nania tersengal lagi bikin Sania kuatir. Wajah Nania makin pucat seperti menahan rasa sakit luar biasa.


"Mbak ngucap ya dalam hati agar diberi kesempatan bertobat. Lupakan masa lalu. Kita buka lembaran baru. Kita tak perlu ungkit masa lalu. Sania yakin Allah akan buka jalan buat kita." Sania genggam tangan Nania erat erat tak sanggup lihat mata Nania makin redup.


"Kamu adalah anugerah dari Allah untuk mbak. Mbak serahkan mas Bara padamu. Sayangi dia, cintai dia dengan tulus. Mas Bara adalah laki baik. Obati luka di hatinya dengan cintamu. Beri di kebahagiaan yang tak pernah dia rasakan sejak menikah dengan mbak."


"Mbak...jangan omong lagi! Sania sudah janji pasti akan penuhi janji. Kita sama sama jaga Pak Bara. Mbak tidurlah!" Sania bujuk Nania agar tenang. Wanita ini tampak gelisah seakan ingin ungkap semua ganjalan di hati. Nania belum tenang sebelum buat pengakuan terakhir pada Sania.


"San...kau jangan tinggalkan mas Bara buat Arsy. Dia itu licik dan jahat. Halalkan segala cara untuk rebut mas Bara." Nafas Nania makin tersengal buat Sania takut terjadi sesuatu pada Nania.


"Sania berjanji...Sania berjanji." Sania cepat cepat berjanji agar Nania tenang.


"Peluk aku! Aku dingin." ujar Nania makin lemah.


Di sini Sania tak dapat tahan tangis lagi. Keadaan Nania makin drop. Sania segera memeluk Nania untuk beri kehangatan.


"Sania...mbak minta maaf atas segala kesalahan mbak."


"Mbak ngucap Asyhadu An Laa Ilaaha Illallah, Waasyhaduaanna Muhammadar Rasulullah." Sania membimbing Nania lafaz kan kalimat syahadat. Sania merasa Nania tak dapat bertahan lagi maka bimbing Nania di akhir hayat.


Suster yang melihat Nania drop langsung minta Sania pindah beri tempat pada mereka untuk menolong Nania. Suster beri tanda pada teman suster lain untuk panggil dokter.


Sania terpaku sambil nangis tak tahan lihat Nania sedang melawan sakaratul maut. Sania teringat pada Bara langsung keluar cari suaminya untuk lihat kondisi Nania.


Di luar Bara dan yang lain sudah ngerti Nania sudah gawat. Dokter dan para perawat panik berusaha menyelamatkan Nania.


Sania langsung menubruk Bara menangis di pelukan laki yang telah berjuang untuk Nania. Sania menangis sejadinya keluarkan rasa pedih di hati.


Bara mengusap kepala mungil Sania sambil mengecup ubun bini mudanya agar tenang. Suasana agak mencekam di saat Nania sedang berjuang hidup mati. Keluarga Nania sudah tiba walau terlambat. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.


"Mbakmu takkan apa. Dia sudah sering begini. Dia akan lalui hari ini. Jangan nangis! Kau baru sembuh sakit." Bara memeluk Sania erat erat tak ingin pisah.


Mata Nada kakak Nania memancarkan sinar tajam ingin mengirim laser lumatkan Sania. Dulu Nania jadi penghalang dia jadi nyonya Bara. Kini dapat saingan lebih berat. Gadis muda nan jelita. Mungkinkah Bara akan jatuh ke pelukannya?


"Pak...aku ingin mbak Nania." desis Sania dengan suara serak.


"Iya..tunggu dia kembali ke ruang rawat. Aku akan jaga kalian berdua. Kita akan bersama selamanya. Jangan nangis gadisku!" bujuk Bara berusaha kembalikan semangat Sania.

__ADS_1


Para medis keluar dari ruang ICU dengan kepala menunduk. Semua yang hadir sudah ngerti apa maksud perilaku para medis.


"Kami sudah berusaha tapi Allah lebih sayang padanya. Bu Nania sudah tenang. Kalian boleh masuk satu persatu untuk lihat beliau terakhir kali." Dr. Frans selaku dokter yang merawat Nania selama ini mewakili seluruh perawat dan dokter nyatanya Nania telah meninggal.


Sania langsung terkulai dalam pelukan Bara. Sania tak sanggup dengar berita duka ini. Berita ini jauh dari harapan Sania ingin Nania sehat. Waktu bersama Nania terlalu singkat. Mereka masih belum sempat pergi shopping sesuai janji, belum pergi ke Belanda tempat Sania dibesarkan. Tak satupun janji terealisasi tapi Nania sudah pergi.


Bara panik mendapatkan Sania jatuh pingsan lagi. Baru sadar tak lama pingsan lagi. Sania tak sanggup menahan kepedihan ditinggal Nania secara mendadak.


Para perawat langsung beri pertolongan pada Sania. Dr.Frans tak tinggal diam beri bantuan sesuai prosedur rumah sakit. Sania dibawa kembali ke ruang rawat inap.


Bara yang kebingungan harus urus yang mana duluan. Nania yang sudah pergi atau Sania yang tak sadar diri. Raut wajah Bara dingin membeku bak mayat hidup.


Orang tua Bara juga kasihan pada Bara yang tak pernah hidup tenang. Ada saja badai hampiri anak sulung mereka. Di saat sudah mulai sedikit bahagia bersama Nania, wanita itu terkena kanker. Bertahun berjuang inilah akhir perjuangan Nania. Kembali pada Yang Maha Kuasa.


"Biar kami urus Nania. Kamu jaga Sania. Dia pasti histeris kehilangan Nania." Roy ambil keputusan tanpa minta persetujuan Bara.


"Roy betul Bara. Biarlah Nania kita bawa pulang malam ini! Kita semayamkan di rumah papa saja. Itu terakhir dia singgah di rumah." Pak Jaya dukung Roy.


"Terima kasih. Kuharap Nania diurus baik malam ini." ujar Bara lemas.


"Pergilah lihat Sania! Dia butuh dukungan mu." Roy menepuk pundak Bara sebagai teman di kala suka dan duka.


"Tak bisa gitu! Bara adalah suami Nania. Mana boleh tak ikut pulang. Untuk apa urus gadis orang?" semprot Nada dengan nada tinggi.


"Sania juga isteri Bara." tukas Roy patahkan hasrat Nada bikin onar.


"Apa? Jadi Bara diam diam kawin lagi? Pantas Nania cepat mati tahan kesedihan. Di mana hatimu Bara? Isteri sakit kawin lagi. Laki macam apa kamu?" Nada menuding Bara berselingkuh dari Nania.


Bara tak mau dengar semua omong kosong keluarga Nania lagi. Kepalanya hampir pecah ingat kematian Nania mendadak juga kesehatan Sania. Mana ada waktu dengar ocehan tak bermutu dari pihak lain.


Bara sampai di ruang rawat Sania. Sania sudah sadar berkat bantuan Dr. Frans. Dokter itu menemani Sania sampai Bara datang. Dr. Frans berteman dengan Bara cukup lama sejak Nania sakit. Dr.Frans ngerti segala upaya telah Bara lakukan untuk kesembuhan Nania.


Sekarang dapat isteri baru yang muda belia. Itu rejeki Bara. Bara harus pintar jaga bini mudanya agar tak terjadi tragedi menyedihkan lagi.


Mata Sania berkaca kaca begitu lihat Bara. Kali ini Sania tak nangis hanya menyimpan rasa sedih dalam hati. Sania harus tegar lanjutkan cita cita Nania buat Bara bangkit dari keterpurukan. Sania ingin tuntaskan janji pada Nania.


"Pak.."


Bara segera memeluk Sania sebelum keluar tangisan. Sania tak boleh terlalu sedih yang bisa akibatkan dia pingsan.


"Kalian ngobrol! Kalau ada apa panggil aku." Dr. Frans tahu diri tinggalkan pasangan muda ini.


"Terima kasih dok!" sahut Bara tanpa melepaskan pelukan.


Kini tinggal Bara dan Sania berdua. Lidah Sania terasa kelu untuk ucapkan sepatah kata. Sania berjanji pada diri sendiri takkan buka kesalahan Nania pada Bara. Biarlah Bara mengenang Nania sebagai isteri sempurna. Kenangan indah biar tertanam di hati Bara.


"Kau tak apa?"


"Bohong kalau aku tak apa. Aku tak sangka ini pertemuan terakhir kami."

__ADS_1


"Nania memilihmu jadi pendamping terakhir pulang ke rumah Allah. Kau sangat penting bagi Nania. Penting juga buat aku. Aku sudah kehilangan Nania semoga tak kehilangan kamu lagi."


Sania teringat janji pada Nania harus jaga Bara sampai laki itu sukses lagi. Sania takkan ingkar janji. Dia akan bantu Bara bangun perusahaan besar yang sanggup tampung ratusan pekerja.


"Aku mau pulang. Aku mau kirim doa buat mbak."


"Tidak...kau masih lemah. Besok kita pulang."


"Aku mau dampingi mbak sampai titik terakhir. Aku janji akan kuat pak. Aku janji takkan nangis lagi."


"Kau ikhlas sekarang?"


"Ikhlas...Mbak sudah tenang. Tinggal kita kirim doa agar arwahnya diterima di sisiNya."


"Amin...baiklah! Aku urus kamu pulang. Tapi ingat kau harus kuat."


"Aku kuat."


Bara menghembus nafas lega Sania bisa diajak pulang. Artinya dia bisa ikut bawa jenazah Nania pulang ke rumah orang tuanya. Mungkin ini jalan terakhir Nania dapatkan pengakuan orang tuanya.


Singkat cerita Nania berhasil di bawa ke rumah duka keluarga Bara. Berhubung sudah terlalu malam maka Nania tak dikebumikan malam itu. Nania akan dikubur esok hari.


Sania tak menangis lagi. Sania harus ikhlasin kepergian Nania. Mungkin ini jalan terbaik untuk Nania bisa bebas dari penyakit yang telah merebut cahaya hidupnya. Nania sudah tenang di tempat semestinya.


Sania membaca surah Yasin di samping Nania iringi kepergian Nania. Suara Sania merdu lantunkan ayat ayat suci menyejukkan iman. Semua tak sangka Sania bisa baca Ayat suci. Dipikir Sania hanya wanita penggoda masuk dalam hidup Bara.


Cukup banyak orang datang melayat walau hari sudah malam. Keluarga Jaya cukup terpandang dan disegani oleh tetangga. Tak heran banyak yang luangkan waktu beri penghormatan terakhir pada Nania.


Keluarga Pak Bur juga datang bersama Rangga. Mereka turut ucapkan belasungkawa sebagai sesama umat muslim. Sania tampak tegar tak menitik setetes air mata pun. Bukan saatnya menangisi kepergian Nania tapi harus mendoakan wanita itu agar layak kembali ke sisiNya. Nania sudah banyak berbuat dosa semasa hidup. Sania berdoa semoga segala dosa Nania diampuni.


Rangga turut prihatin pada nasib Nania. Adiknya berjuang untuk Nania pada akhir tak dapat apapun. Nania pergi juga menoreh luka di hati Sania. Sebagai abang Sania, Rangga wajib melindungi adiknya dari semua rintangan.


Rangga dan Agra sengaja duduk dekat Sania untuk hibur gadis itu. Rangga berharap Sania segera lepas dari Bara setelah Nania tak ada. Sania berhak lanjutkan hidup dengan orang yang dia cintai. Bukan memaksa diri hidup bersama orang tak tepat.


"Kau mau mas temani?" tanya Rangga sambil genggam tangan Sania. Sania geleng pelan tak mau merepotkan Rangga.


"Tak usah mas. Sania kuat kok. Mas jaga Agra dengan baik saja." Sania berusaha perlihatkan senyum. Sekalipun Sania tersenyum namun tetap senyum hambar. Senyum tanpa rasa.


"Kau jangan takut untuk keluar dari hidup Bara kalau mang tak suka. Kau masih ada abang."


"Untuk apa takut? Aku masih terikat tugas. Kami akan bersama sampai misiku kelar. Mas urus saja doorsmeer dan Agra."


Rangga tak bisa berbuat apa melihat sifat keras Sania. Rangga tak tahu apa yang sedang dicari Sania. Sania tampak lemah lembut tapi kepala kayak terbuat dari batu. Keras tak bisa digoyahkan.


Bara yang melihat Rangga dekat dengan isterinya merasa hatinya dirayapi sesuatu perasaan aneh. Bawaan mau marah cuma tak tahu harus diarahkan ke mana. Mungkinkah dia mulai cemburu pada laki yang dekati bini mudanya?


Bara tak mau ketinggalan kereta segera hampiri Sania yang asyik ngobrol dengan Sania. Bara pasang gaya sok cool biar disegani Rangga yang dianggap rival. Sania belum cerita siapa Rangga sesungguhnya. Bagi Bara setiap laki yang dekat Sania adalah rival. Termasuk adik sendiri si Fadil.


Fadil lebih ekstrim lagi. Berani terangan merebut Sania tanpa peduli status Sania dalam keluarga. Kepergian Nania akan lancarkan aksi Fadil mencari simpati Sania. Fadil tahu hubungan Bara dan Sania terbentuk karena permintaan Nania. Tak ada cinta antara dua orang itu.

__ADS_1


Namun sayang Fadil tak ingat kalau cinta itu akan datang seiring waktu dan kebersamaan dalam tempo lama. Bara mulai rasakan benih benih halus mulai tumbuh di hati.


__ADS_2