
Bara bersyukur Rudi bisa sadar bahwa Sania adalah milik pribadi bos barunya. Bara berharap tak ada tragedi kedua bersaing merebut wanita dalam hidup Bara. Cukup Arsy dan Nania jadi wanita masa lalu yang suram. Tak perlu terulang lagi.
Acara ramah tamah Bara dengan anak buah berlangsung meriah penuh kekeluargaan. Di sini tak ada batasan bos dan anak buah. Malam ini mereka semua sama melebur dalam kebahagiaan. Besok penuh suka cita sedang menanti mereka.
Acara berakhir bubar masing-masing pulang ke rumah berkumpul dengan keluarga masing-masing. Bara dan Sania tentu saja pulang ke rumah orang tua Bara. Orang tua Bara tak ingin Bara dan Sania pindah dari rumah. Sania telah bawa angin segar di keluarga itu. Bara lebih ceria dan bersemangat mendulang dolar. Aura positif terpancar di keluarga Jaya.
Mobil Bara masuk ke pekarangan rumah yang mulai sepi. Jam digital di ponsel Sania menunjukkan pukul sembilan malam. Sekeliling tampak sepi tanpa kegiatan beramai. Hanya satu dua sepeda motor melintas di depan rumah. Itupun cuma sekali lewat.
Mata Bara menangkap bayangan mobil mewah terparkir di depan rumah orang tuanya. Dalam hati Bara bertanya tamu mana datang berkunjung di malam begini.
Tanpa curiga Bara menggandeng bininya masuk rumah yang terbuka lebar menerima tamu istimewa orang tuanya. Bara sedang bahagia tak terlalu open siapa tamu orang tuanya. Bara cuma ingin cepat istirahat menyambut hari baru dan kantor baru.
Sania tertegun melihat siapa yang bertamu malam-malam begini. Hati Sania tercekat tak enak melihat kehadiran manusia yang paling tak ingin dia jumpa. Mengapa kedua orang itu sampai datang ke rumah mertuanya. Mau bawa perkara apa lagi.
"Ini dia orangnya! Bara...ini Bu Amanda dan nona Ranti datang mencarimu. Ada yang penting hendak disampaikan." Bu Jaya bangun dari sofa menyambut Bara dan Sania.
Bara melirik Sania yang gelisah atas kehadiran Ranti dan mamanya. Sania bukan takut pada mereka tapi takut mereka asal omong bikin onar di saat dia dan Bara sedang senang hati.
Bara memeluk bahu Sania mesra mengajak wanitanya masuk ke ruang tamu dengan gaya seorang suami siaga melindungi isteri. Bara akan menjaga Sania dari ancaman dua manusia yang culas di mata Bara. Amanda dan Ranti dua wanita yang telah menoreh luka di hati Sania.
"Oya? Hal apa penting sampai bertamu malam begini." Bara tetap memeluk Sania pamer kemesraan. Bara sengaja lakukan ini supaya Amanda dan Ranti ngerti Sania adalah miliknya paling berharga saat ini.
"Begini nak Bara...kami ke sini dengan niat baik." Amanda bersikap manis pada Bara bak madu murni dari hutan.
"Oh.. terima kasih...memangnya ada apa Bu? Kami ingin istirahat karena hari ini kami sangat lelah."
"Begini...Ranti datang ke sini minta keadilan. Suaminya si Bobby ingin ceraikan Ranti karena mau nikahi wanita di sampingmu. Dia dan Bobby selingkuh." ujar Amanda berapi-api menuduh Sania telah main gila dengan menantunya.
"Masak sih? Sania adalah isteriku..kami sudah sah menikah. Mana mungkin dia selingkuh dengan Bobby. Sania dua puluh empat jam di sisiku. Kapan dia ada waktu hubungi menantu ibu? Kurasa Sania justru ingin menghindar dari masa lalunya. Aku percaya pada isteriku." Bara mengecup ubun kepala Sania bikin Ranti makin keki ingin mencekik Sania. Ranti makin ingin merebut Bara dari tangan Sania seperti dia rebut Bobby. Ranti yakin dengan pesona bintang top akan menundukkan Bara.
__ADS_1
"Sania wanita culas...dia menipu uang Bobby sampai bermiliar-miliar. Sekarang Bobby ingin ceraikan Ranti nikahi Sania. Apa ini bukan suatu perselingkuhan? Kau jangan bodoh nak! Kau berhak dapat isteri yang lebih baik." Amanda merayu Bara lontarkan tatapan horor ke arah Sania.
Pak Jaya dan Bu Jaya nonton tak bisa ikut campur karena tak tahu topik apa dibincang kedua belah pihak. Sania santai tak ambil pusing semua ocehan Amanda. Terserah Bara bagaimana menilai Sania. Baik buruk Sania sudah ada dalam notes Bara.
"Bu apa yakin Sania curi uang Bobby. Kata-kata ibu harus dipertanggung jawabkan. Kita harus panggil Bobby untuk bicarakan masalah besar ini. Aku takkan tinggal diam bila tuduhan kalian tak ada bukti " Bara balik mengancam Amanda. Menuduh tanpa bukti bisa dikenakan banyak pasal. Pencemaran nama baik, menuduh tanpa bukti.
"Aduh nak Bara! Kau belum kenal siapa Sania. Dia itu wanita ngak benar. Selalu cari mangsa orang kaya poroti harta mereka. Bobby terjebak dalam rayuan wanita matre ini. Kau harus hati-hati. Kau lihat nasib anakku Ranti. Bakal dicerai Bobby. Kasihan anak dalam kandungan! Coba kau pikir bagaimana hancurnya hidup Ranti?" Amanda memelas sambil mengelus punggung tangan Ranti. Ranti yang dapat angin pura-pura menyusut air mata kadal. Air mata untuk kadalin Bara.
Sania menghela nafas saksikan akting tanpa sutradara. Sungguh akting jelek, jadi figuran saja tak pantas. Bagaimana mau jadi bintang top. Sania heran ke mana urat malu kedua orang ini. Dalam keadaan hamil masih sempatkan diri ganggu kehidupan Bara.
"Bu...coba bicara baik-baik dengan Bobby. Sania tak mungkin mau kembali pada Bobby. Mungkin hanya amarah Bobby sesaat. Percayalah! Tak ada rencana apapun di antara Bobby dan Sania. Sania tak pernah goda Bobby apa lagi kuras uang Bobby. Kami bukan orang kaya. Kami hanya numpang pada orang tua kami. Pulang dan coba cari solusi." Bara berusaha bijak tak memperkeruh keadaan. Bara masih punya nalar melihat Ranti dalam kondisi berbadan dua. Bara mana tega membuat Ranti makin drop.
"Bobby sendiri yang bilang bakal ceraikan Ranti karena mau kembali pada Sania. Artinya kamu juga harus ceraikan Sania biar bisa balikkan sama Bobby. Ibu sarankan cari jalan terbaik. Biar Sania kembali pada Bobby dan kamu bisa dapat Isteri jauh lebih baik dari Sania. Misalnya Ranti anakku. Ranti anak baik, sehat dan cantik. Subur lagi. Kalian bisa banyak anak." Amanda keluarkan segala jurus orang mabuk merayu Bara masuk perangkap palsunya.
Bara tertawa mengejek niat Amanda menyodorkan anaknya yang sedang hamil pada dirinya. Sudah kabur ke mana akal sehat orang ini. Fitnah Sania lalu sodorkan anaknya pada Bara. Tunggu Bara jatuh ke jurang kena amnesia mungkin baru bisa ngerti niat Amanda. Dalam keadaan waras Bara tak mungkin tertarik pada usulan konyol ini.
"Bu...Isteri aku cuma Sania. Ranti itu isteri Bobby. Mana bisa bilang hendak dijodohkan dengan aku langsung terjadi. Kita masing-masing ada keluarga sendiri. Tak terpikir olehku mau terima wanita hamil anak orang. Aku juga tak mampu biayai hidup seorang bintang top. Sania orang sederhana cocok jadi isteriku. Aku bukan orang kaya seperti Bobby. Maaf ya Bu! Lupakan semuanya!" Bara melepaskan pelukan Sania merangkap kedua telapak tangan minta maaf. Bara ingin kedua orang itu cepat tinggalkan rumah mereka.
"Bu Amanda...sudah cukup. Hargai kami sekeluarga. Sania adalah menantu keluarga ini. Tak ada yang boleh gantikan dia termasuk anak anda. Sebagai orang tua anda seharusnya bijak cari jalan damaikan anak dan menantumu. Bukan datang sini bawa fitnah. Andai Sania pencuri seperti katamu mengapa Bobby mau balikan sama Sania? Itu artinya Sania punya nilai tinggi. Dan kami tak terima orang lain ganti Sania." Pak Jaya bangkit dari sofa berdiri menghadap Amanda yang punya sakit jiwa. Orang waras mana berani menawarkan anak yang sedang hamil pada laki lain. Kelihatannya Amanda sudah hilang akal sehat.
"Aduh Pak Jaya...kalian tak tahu betapa liarnya Sania. Dia goda Bobby...lihat ini! Kami punya banyak foto-foto mereka berduaan. Ada yang di hotel. Lihat!" Amanda mengeluarkan setumpuk foto dari tas mahalnya. Tampaknya Amanda sudah siapkan senjata hendak lumatkan Sania hingga lumer.
Tak ada yang berniat lihat foto-foto tersebut apa lagi Bara. Di masa lalu Sania adalah kekasih Bobby. Wajar mereka punya banyak kenangan. Bara tutup kuping bila ada yang mau jelekkan Sania. Andai Sania nakal seperti cerita Amanda tak mungkin Bara bisa rasakan kesucian Sania.
"Maaf ya Bu! Ini sudah malam. Kami mau istirahat. Kapan-kapan kita ngobrol lagi. Mungkin tak sopan usir tamu tapi kami sekeluarga memang tak nyaman ibu jelekkan menantu kami." Pak Jaya kontan minta Amanda tinggalkan rumahnya.
"Aduh Pak Jaya...kalian belum kenal Sania. Dia itu licik dan jahat. Dia bidik orang kaya macam kalian untuk penuhi pola hidup mewah. Lihat Bobby sekarang? Jatuh miskin karena diporoti wanita ini. Kalian pasti nyesal piara kucing garong murahan." Amanda belum menyerah raih simpatik keluarga Jaya. Semangatnya patut dapat pujian. Tak tahu malu juga tak tahu diri.
"Kami dengan senang hati merawat kucing imut macam Sania. Bukan kucing garong. Bobby bangkrut apa bukan karena ibu Amanda rajin sokong anak sendiri tilep harta suami?" Bu Jaya ikutan buka suara karena sudah tak sabar ingin membalas semua fitnahan pada Sania. Sania adalah menantu baru yang telah mencuri hati keluarga Jaya.
__ADS_1
"Kalian pasti nyesal telah menolak anakku Ranti. Dia gudang uang bila siap melahirkan nanti."
"Bu pulang dari sini cari dokter jiwa. Ibu mungkin perlu dokter jiwa karena terganggu. Ibu pikir anakku itu tong sampah tempat tampung sampah busuk? Jangan mimpi mau jadi bagian keluarga kami! Kami memilih hidup sederhana bersama mantu kami dari pada punya gudang uang tapi sisaan orang." Bu Jaya keluarkan sindiran pedas. Bu Jaya gregetan lihat cara kotor Amanda jatuhkan Sania yang tak tahu apa-apa. Sania pintar tak mau ikut nimbrung biarkan Bara sekeluarga beri pembelaan untuknya. Ini bisa jadi patokan bagi Sania lihat ketulusan keluarga Bara padanya.
"Kalian akan nyesal tolak Ranti. Kita lihat seberapa hebat mantu kalian? Tunggu saja! Kami permisi.."
"Silahkan!" Bu Jaya berlari kecil buka pintu lebar-lebar kasih jalan buat anak ibu itu keluar dari rumah mereka.
Ranti mengerling genit pada Bara yakin laki ini akan takluk padanya. Laki mana sanggup menolak pesona Ranti. Dia tetap anggun walau hamil. Pola hidup Ranti yang tinggi membuat dia harus tetap punya duit untuk menutupi pengeluaran besar. Ekonomi Bobby sedang sekarat maka Ranti harus cari tulang punggung baru.
Pak Jaya sekeluarga menarik nafas lega setelah dua manusia aneh itu pergi dari rumah mereka. Bara memeluk Sania erat-erat tak terpengaruh oleh omongan Amanda. Bara memilih percaya pada Sania dari pada dengar omong kosong dia manusia sinting. Berpulang pada kebenaran ocehan Amanda tentang Sania lebih banyak cacat dari fakta. Sania hidup sederhana tak seperti orang banyak duit, tak foya-foya beli barang mewah. Tas selalu bawa tas selempang yang jauh dari kata mewah. Mobil juga mobil mungil sederhana.
"Sania...pergi istirahat! Tak usah ambil hati ocehan orang gila. Sudah stress tuh orang! Kami percaya kamu anak baik. Ayo pergi tidur sini!" Bu Jaya menepuk Sania dengan penuh kasih sayang. Tingkah Bu Jaya cerminkan dia tak ragu pada akhlak Sania.
"Mamamu benar! Hari ini kalian juga lelah. Anggap saja lelucon sambut kehadiran kalian. Syok terapi sambut masa depan lebih gemilang." Pak Jaya ikut angkat suara beri dukungan pada Sania.
Sania mengangguk sambil tersenyum manis. Kalau hanya sekedar mop kosong tak gampang pukul mental Sania sampai KO. Cuma Sania tak habis pikir mengapa Amanda dan Ranti tak punya ******** sedikitpun. Ranti sedang hamil besar bisa ditawarkan pada Bara seolah barang loakan. Katanya bintang top tapi kelakuan tak ubah sampah.
"Aku sudah biasa hadapi kedua orang itu. Aku kenal mereka dari dulu cuma tak kusangka mereka akan berbuat sejauh itu. Oya Lieve...pergilah mandi dulu! Aku ingin bicara dengan mama sebentar." Sania teringat sesuatu mendorong Bara duluan naik ke lantai dua.
Tubuh besar Bara tak bergeming didorong tenaga mini Sania. Sania tak putus asa masih kuras segenap tenaga usir Bara ke atas.
"Hei..hei..kenapa nyonya kecilku? Mau bersepakat serahkan aku pada Ranti?"
"Begitulah! Lieve dan Ranti cocok. Kami mau tentukan tanggal nikah kalian." olok Sania mengedipkan mata melucu.
"Jangan jadikan aku badut ya! Tega amat kasih aku limbah Bobby. Awas kau..." ancam Bara kurang sehat dijadikan target lelucon.
"Tenang Lieve...nanti aku jadi wasit kalian di malam pengantin. Biar kami berembuk kapan melamar Ranti." ujar Sania kalem di sambut tawa derai kedua orang tuanya.
__ADS_1
"Kurang waras...tertular virus dari Amanda dan Ranti." omel Bara melangkah pergi naik anak tangga menuju ke atas. Laki itu menoleh sekali penuh ancaman ke arah isterinya. Sania acungkan jari bentuk love kepada Bara.