
Artinya Sania harus betah berada di samping bapak tua yang agak menyebalkan. Sania harus menata hati siap terima sifat buruk Bara yang kayak cuaca. Kadang panas, kadang dingin juga tak ketinggalan sejuk. Cuaca masih mending bisa diramal beda dengan sifat Bara yang tak dapat diraba. Perpindahan sangat cepat sesuka hati dia.
Sania menanti kehadiran Bara dengan sabar. Azan subuh sudah berkumandang memanggil umat muslim laksanakan sholat pertama di pagi hari. Masih menunggu sholat sholat lain sampai sholat terakhir yakni Isya.
Untunglah Bara kembali bawa perangkat yang dibutuhkan Sania untuk tunaikan tugas sebagai umat Islam.
Bara menyerahkan kain kain itu pada Sania. Bara sangat hargai ketaatan Sania pada agama. Sania contoh wanita saleha penghuni surga. Berhati emas dan tahu agama. Rajin sholat bukan jaminan seorang muslim jadi penghuni surga. Tak jarang sekarang ini manusia rajin sholat untuk pencitraan. Pakai hijab tak jamin wanita itu berakhlak bagus.
Semuanya tergantung bagaimana manusia sikapi hidup ini. Jadi baik atau buruk pilihan masing masing.
"Bapak tak sholat?" tanya Sania lihat Bara masih termenung setelah berikan kain sembahyang untuk Sania.
Bara tersentak malu ditegur gadis ingusan. Harusnya Bara yang bimbing Sania karena dia adalah imam keluarga.
Tanpa omong apa-apa Bara masuk kamar mandi ambil air wudhu. Sania memakai kain mukena sambil menunggu Bara selesai ambil air wudhu. Bara harus jadi imam bagi Sania.
Bara keluar dari kamar mandi ambil pakaian dari lemari lalu ganti di depan Sania tanpa peduli mata Sania ternoda oleh pemandangan erotis. Bara tak soalkan tatapan malu malu Sania. Wanita halal buatnya. Itu sudah cukup jadi pedoman Bara bergaul lebih intim.
Akhirnya kedua insan itu laksanakan sholat dengan khusyuk. Hari pertama tanpa Nania juga hari pertama Bara berduaan dengan Sania. Bara merasa diri telah suami sejati bagi isteri. Menemani isteri laksanakan sholat subuh. memang begitulah seharusnya keluarga sakinah.
Sania mencium tangan Bara setelah sholat berakhir. Lama Sania mencium tangan Bara sambil tundukkan kepala di tangan laki itu. Bara terharu dapat penghormatan begitu tulus dari isteri kecilnya. Tangan kiri Bara mengusap kepala Sania
"Terima kasih sudah hadir dalam hidupku. Kuharap kau jangan tinggalkan aku setelah Nania pergi. Jadilah semangatku!" pinta Bara pada Sania. Bara takut sekali kalau harus kehilangan dua wanita dalam waktu bersamaan.
Sania mengangkat kepala menatap lurus ke manik mata Bara cari kesungguhan laki itu memintanya tak pergi. Mata Bara sedikit berembun walau tak sampai keluarkan air mata.
"Aku tak kemana pak. Proyek kita masih jalan."
"Hanya untuk proyek?" tanya Bara agak kecewa. Ternyata Sania tak bisa singgah dalam hati. Dia tinggal karena proyek. Bukan karena ada perasaan pada Bara.
"Mbak baru saja pergi. Kita jangan bahas hal tak penting. Sekarang kita urus dulu pemakaman mbak Nania. Hari kita masih panjang." sahut Sania dengan suara kecil.
Bara bangkit dari sajadah sembahyang tanpa omong apa lagi. Laki itu keluar kamar tanpa menoleh pada Sania. Bara marah mengapa Sania keras kepala tak mau anteng jadi isteri yang baik untuk suami.
Sania menghela nafas buang ganjalan di hai. Sania belum bisa pastikan perasaan pada Bara. Trauma kan pengkhianatan Bobby masih terasa sakit. Luka di hati tak mudah sembuh dalam tempo singkat. Sania butuh waktu untuk memastikan perasaan model apa bisa dia berikan pada Bara.
"Maafkan aku pak Bara!" desis Sania pada diri sendiri.
Sania bangkit dari sajadah tempat dia laksanakan sholat bersama Bara. Sania tak punya waktu berpikir lain selain berberes untuk antar Nania menuju ke tempat peristirahatan terakhir.
Sania tak bawa baju terpaksa memakai pakaian kemarin. Di rumah orang tua Bara mana ada pakaian untuk gadis muda macam Sania. Sania tak punya pilihan lain selain memakai pakaian kemarin.
Sania turun dari lantai atas ke bawah mencari Bara. Sania mau minta maaf secara langsung telah membuat suaminya galau. Bara baru saja kehilangan orang tersayang. Emosi pasti tak stabil. Sania harus banyak mengalah walau umurnya lebih muda dari Bara.
Bu Jaya atau mama Bara berseru senang melihat menantu satu-satunya saat ini sudah bangun.Bara minta kain sembahyang untuk Sania sudah dapat ponten tinggi dari mama Bara.
"Sania..turun sarapan nak!" ajak Bu Jaya menarik tangan Sania ke meja makan.
"Bu..ini terlalu pagi untuk sarapan. Sania mau baca surah Yasin untuk mbak Nania dulu. Pas baru siap sholat. Boleh?"
"Ya ampun anakku! Tentu saja boleh tapi dengan janji tak boleh panggil ibu lagi. Panggil mama kayak Bara." ujar Bu Jaya ceria. Tak ada kesan dia tak suka pada Sania wanita pilihan Nania.
"Terima kasih Ma..Sania ke sana dulu ya!" Sania menunjuk tempat jenazah Nania disemayamkan.
__ADS_1
"Pergilah!"
Sania luruskan langkah ke arah Nania berbaring. Sekeliling Nania tak ada orang berjaga. Padahal kata orang tua jenazah tak boleh ditinggal sendirian. Harus ada orang di samping sampai dikuburkan.
Sania mencari penutup badan dan kepala untu lantunkan ayat ayat suci iringi kepergian Nania ke alam baka. Alam keabadian. Semoga jalan Nania dilapangkan. Segala dosa terampuni.
Bara sibuk mengurus tempat pemakaman layak untuk Nania. Inilah yang terakhir bisa diberi Bara untuk Nania. Segala keburukan Nania akan dihapus, yang baik jadi kenangan indah.
Pemakaman berjalan lancar sampai detik terakhir. Nania benar telah melepaskan semua rasa sakit dan beban berat di hati. Nania telah tenang kembali pada pencipta. Kisah hidup Nania telah tamat. Tinggal kenangan buat orang yang pernah mengenal Nania.
Sania pulang ke rumah orang tua Bara sebentar lalu minta diantar pulang ke apartemen karena Sania tak bawa baju ganti. Keluarga Bara tak ijin Sania pulang cepat ke tempatnya namun Sania punya alasan sendiri untuk ambil pakaian ganti.
Bara mana mau biarkan Sania pulang sendiri. Laki ini ambil inisiatif antar bini mudanya ambil pakaian ganti. Bara tetap akan bawa Sania balik ke rumah orang tuanya sampai Nania lalui tujuh hari.
Sania malas berdebat terpaksa biarkan Bara mengantarnya. Mobil Sania juga masih tertinggal di kantor Bara. Untuk saat ini Sania tak mau bikin mood Bara makin jelek. Mereka masih punya banyak tanggung jawab terhadap tugas proyek.
Sekitar apartemen sepi karena penghuni sudah pada pergi kerja. Di situ rata-rata tinggal orang kantoran. Tempat strategis di pusat kota. Mau ke manapun dekat.
Sebelum masuk ke kamar, Sania perkenalkan Bara pada para satpam untuk hindari pandangan negatif orang. Sania tak mau imagenya rusak hanya karena salah paham. Nanti para satpam mengira Sania wanita nakal suka bawa laki ke rumah. Sekarang kan banyak para laki menyimpan selingkuhan di apartemen mewah untuk hindari pantauan isteri di rumah.
Setelah laporan terlaksana Sania dan Bara segera naik lift menuju ke lantai sembilan. Bara dan Sania tak banyak ngobrol malah berkesan saling hindari buka pembicaraan. Bara yang biasa suka goda Sania memilih bungkam karena menyimpan rasa kesal Sania belum mau menerima status resmi sebagai isteri Bara.
Rasa canggung makin terasa tatkala keduanya masuk apartemen Sania. Bara masuk langsung duduk di sofa biarkan Sania lakukan apa yang dia mau. Bara memainkan ponsel buang rasa jenuh.
Kejenuhan Bara tertolong begitu ponsel pintar berdering tampilkan nama Roy di layar.
"Halo...ada apa bro?"
"Ada sedikit kendala. Tanaman yang baru kita tanam pada meranggas. Setelah kucek ternyata ada tangan nakal siram minyak tanah ke tanaman."
"Menurutmu siapa demikian iseng merusak kerja kita?"
"Susah kita bilang. Di sini belum ada penjaga dan tak ada cctv. Aku rencana mau cari pengganti tanaman. Cuma kerja jadi banyak karena harus bersihkan bekas minyak tanah. Kalau kita tanam terus sama akan mati juga karena unsur tanah sudah tercemar minyak tanah." Roy jelaskan detail pada Bara.
"Aku akan datang setelah antar Sania kembali ke rumah. Jangan kasih tahu dia soal ini! Mentalnya belum bagus."
"Kau beruntung dapat bonus sedemikian sempurna. Nania sudah membayar kebaikanmu. Dia memberimu boneka hidup unlimited."
"Tak gampang taklukkan Sania. Dia melindungi dirinya dalam cangkang keras. Baru kali ini aku dapat cewek yang tak peduli padaku. Sungguh tantangan besar bagiku." Bara lemparkan pandangan kosong ke arah kamar Sania. Sania seperti landak berduri tajam. Siap hancurkan orang yang mengganggunya.
"Barang berharga memang tak gampang kita dapatkan. Maka itu hargai yang sudah ada di tangan agar jangan terlepas dar genggaman. Rivalmu pasti tak sedikit. Kalau kau sudah menyerah biar aku coba."
"Kau pernah ayam dipotong? Digorok lalu direndam dalam air panas. Mungkin kau mau rasakan bagaimana rasa jadi ayam potong." ancam Bara buat Roy terbahak bahak. Roy menangkap ada bau asam cuka dalam nada bicara Bara. Laki itu cemburu padanya.
"Sadis amat. Oya..hari ini anak Arsy dioperasi. Rudi yaang urus semuanya. Si brengsek itu mulai sadar tanggung jawab sebagai bapak. Kau tak mau lihat kondisi anak angkatmu?"
"Nanti aku pergi. Aku akan telepon kamu nanti."
"Ok.."
Bara menyimpan ponsel terbawa suasana sedih. Kenapa banyak kejadian sedih terjadi pada dirinya? Nania meninggal, Proyek diusilin orang tak bertanggung jawab dan terakhir Kintan dioperasi tanpa kehadirannya. Kintan memang bukan anaknya namun Bara sudah bertahun jadi papa Kintan. Sudah ada timbul rasa sayang di hati Bara pada anak itu.
Anak sekecil itu harus menerima cobaan begitu berat. Siapa yang salah dalam hal ini? Kintan menanggung dosa orang tuanya atau Tuhan sedang beri cobaan pada Rudi dan Arsy?
__ADS_1
"Pak.."
Bara angkat kepala mengarah ke arah suara pelan bini kecilnya. Sania sudah berganti pakaian pancarkan harum wangi beraroma cherry. Minyak wangi Sania tak tebar bau histeris. Ini lembut menyegarkan otak.
"Sudah beres?" tanya Bara disambut anggukan kepala mungil Sania.
"Kita ke kantor bentar boleh? Aku ada berkas mau ambil."
"Berkas apa? Biar kusuruh Roy antar ke rumah."
"Berkas ini aku simpan di laciku. Ini berkas proyek PT SHINY. Tak mungkin kita ekspos sebelum waktunya."
"Besok saja. Kau mau pergi lihat Kintan dioperasi?"
"Kintan dioperasi hari ini?"
"Ya..tadi Roy telepon kasih tahu. Aku harus ke lokasi proyek tinjau kondisi. Apa rencanamu?" Bara masih kaku terhadap bini kecilnya. Sania merasakan perubahan Bara pada dirinya. Mungkin Bara masih marah Sania tak mau akui posisi Bara sebagai suami. Sania merasa bersalah pada Bara tak bisa buka hati saat ini.
"Pak..bapak marah padaku?" Sania meletakkan tas pakaian dekati Bara lalu duduk di samping Bara. Sania merasa tak enak juga harus lihat tampang seram Bara tiap hari.
Hari-hari yang bakal mereka lalui masih panjang. Tak mungkin mereka pasang muka muram durja tiap jumpa.
"Kau rasa?" sinis Bara.
"Pak...Sania bukan tak hargai status bapak sebagai imam Sania. Tapi beri Sania sedikit waktu. Luka di hatiku belum sembuh total karena masa lalu yang terlalu bodoh. Sania harap bapak ngerti." Sania menyentuh paha Bara mohon pengertian laki itu.
Bara menurunkan mata menatap tangan mungil Sania di atas pahanya. Tangan itu begitu mungil tapi karya yang dihasilkan luar biasa. Bara bukan apa apa bila dibanding kecerdasan Sania. Bara tak malu akui kehebatan Sania dalam berkarya.
Bara meraih tangan Sania bawa ke dadanya biar gadisnya rasakan detak jantungnya yang seakan ingin katakan Sania adalah pemilik jantung itu. Bara bukan ingin gombal tapi memang telah jatuh cinta pada isteri sendiri.
"Maafkan aku tak peka soal perasaanmu! Aku akan balut luka di hatimu dengan kasih sayang. Aku jauh lebih tua darimu. Semoga kau tak malu punya suami tua."
"Bukan soal umur pak tapi soal rasa nyaman. Kita bangun rumah kita perlahan setapak demi setapak berfondasi kokoh. Sania janji akan setia dampingi bapak."
"Jangan panggil bapak lagi! Aku merasa seperti sedang merayu anak sendiri."
"Maunya panggil apa?"
"Terserah kamu asal jangan bapak!" ujar Bara sambil mengelus tangan Sania yang halus lembut. Bara suka tangan mungil Sania tetap berada di tempat semestinya. Bara adalah pemilik tangan tangan indah Sania.
"Sania panggil Lieve boleh?" Sania ingat kata sayang dalam bahasa Belanda.
"Kok Lieve kayak nama cewek?"
"Dalam bahasa Belanda artinya sayang. Beb, say, hubby sudah sering di dengar. Ini lain dari yang lain. Atau schat juga boleh. Tapi Lieve lebih unik."
"Terserah kamu! Asal kamu senang. Kita damai ya! Kamu tak boleh abaikan suami. Itu dosa lho!"
"Iya...bapak mau minum apa?"
Bara mencubit pipi Sania yang tanpa sadar kembali pada kebiasaan lama memanggil Bara dengan sebutan bapak. Sania mengaduh manja dicubit pelan sama suami tak tercinta.
"Maaf..lupa!"
__ADS_1
"Kalau kau lupa lagi aku akan hukum kamu. Aku akan cium kamu walau di tempat umum. Ingat itu! Maka hati hati bila tak ingat suami."
"Idihhh mesum amat!" Sania mulai lega Bara tak pasang wajah kaku lagi.