MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Yang Berubah


__ADS_3

Rangga tak sependapat dengan Lisa dan Bara. Di mata Rangga adiknya justru wanita berhati emas. Dari luar Sania kelihatan dingin sangar namun di dalam Sania menjanjikan kehangatan dan cinta tak terbatas. Agra saja cepat akrab dengan Sania walau bertahun tak pernah jumpa. Sania termasuk orang asing bagi Agra.


"Kalian salah...Sania orangnya lembut hati. Anak kalian pasti dapat kasih sayang dari Sania. Aku jamin." Rangga bela Sania menurut kata hati.


"Cie..Abang teladan. Kalau soal hati kuakui Sania orangnya paling rapuh. Dia tak bisa lihat orang susah. Tangannya selalu terulur untuk bantu orang." Lisa menatap tubuh yang terbalut selimut putih terbuai mimpi indah.


Sania pasti sedang bermimpi bercanda dengan bayi-bayi mungil yang sedang tumbuh dalam perutnya. Wanita mana tak bersyukur diberi kepercayaan merawat anak terutama darah daging sendiri.


"Kita jalani sampai waktunya. Oya mas Rangga...soal Ranti biar kuatasi. Orang itu harus dapat pelajaran agar tak pakai nama besarnya ganggu hidup orang. Sania sudah cukup sabar hadapi Ranti."


"Aku tahu...Sania sudah cerita semuanya. Semua salah Bobby yang penjahat kelamin. Dia goda Sania lalu ganggu Ranti. Keduanya adikku maka aku harus bijak dalam hal ini."


"Maka itu mas Rangga diam saja. Kita tunggu keluarga Suhada temui kami ataupun Bobby yang datang."


Rangga mangut setuju rencana Bara. Bobby ataupun keluarga Ranti pasti tak tinggal diam Ranti digiring ke kantor polisi. Mereka tak tahu kalau Bobby sudah tak peduli hidup mati Ranti. Laki itu juga kena tipu daya Ranti. Menikah karena kekayaan Bobby. Di saat Bobby sedang sekarat seenak dengkul cari sasaran lain. Apes bagi Bara jadi bidikan Ranti. Target Ranti untuk selanjutnya adalah Bara.


"Maafkan keluargaku telah merepotkan kamu Bara! Aku tak tahu bagaimana Allah permainkan nasib kami. Berputar-putar yang jadi korban tetap adik-adik aku. Keserakahan orang tua kami telah buat kedua adikku sengsara." Rangga tampak terpukul melihat tragedi dalam keluarga. Ranti dan Sania hanya korban keserakahan Amanda dan Suhada. Tanpa dukungan Amanda Ranti tak mungkin berani bertindak jauh.


"Sudahlah mas! Sekarang kita hadapi bersama. Sania juga butuh ketenangan. Kita jangan buat dia tambah stress."


"Bara benar mas Rangga. Kita selesaikan kejadian ini tanpa perlu kekerasan. Aku yakin Sania juga tak suka itu." timpal Lisa.


"Iya...silahkan duduk! Ngobrol sampai lupa duduk." Bara persilahkan Rangga dan Lisa duduk di sofa pendek yang muat untuk dua orang.


Ruang VIP yang ditempati Sania cukup bagus. Bersih dan nyaman. Orang sakit pasti akan cepat pulih bila ditunjang keadaan nyaman. Ruang VIP beda dengan bangsal kelas dua. Suasana pasti berbeda karena ditempati beberapa pasien. Fasilitas pasti akan beda sesuai tarif kamar.


"Kita datang menjenguk Sania bukan bertamu. Santai saja." Rangga tak masalahkan kegalauan Bara. Rangga malah bersyukur Bara care pada adiknya. Rangga lega Sania berada di tangan tepat.


"Bagaimana kantor mas?" Bara mengalihkan topik biar tak tegang asyik pikir kejadian tak menyenangkan.


"Baru kuambil alih butuh banyak perbaikan! Aku bukan pebisnis ulung maka perlu setahap demi setahap pelajari bisnis. Untung ada Lisa bantu aku." Rangga menatap penuh penghargaan pada Lisa yang tak henti beri dukungan.


Lisa tersipu malu dipuji pujaan hati. Gadis ini tentu saja membantu Rangga dengan senang hati. Berada di samping Rangga memang impiannya dari dulu. Dari Rangga berprofesi montir di bengkel papanya.


Seorang montir mampu mengaduk isi hati Lisa sampai kacau balau apalagi kini Rangga telah naik pangkat jadi pemimpin perusahaan. Cinta Lisa makin berkibar di tiang kalbu.


"Mas Rangga beruntung dapat tangan kanan handal. Kenapa tak dihalalkan saja? Ntar keburu dipatok ayam jago lain lho!" olok Bara bikin rona merah di pipi Lisa pamer. Lisa merasa jantungnya sesak berpacu kencang. Jawaban Rangga akan menentukan ke mana hati laki itu dititipkan.


"Iya...tapi tunggu perusahaan stabil! Lisa pasti akan menunggu."


Bunga cinta di relung hati Lisa bermekaran. Jawaban Rangga bak siraman air pupuk ajaib mekarkan bunga cinta di sudut hati paling dalam Lisa. Lisa pasti akan sabar menanti hari yang dijanjikan Rangga. Tak peduli berapa lama harus menanti.


"Semoga cepat terwujud. Amin..." doa Bara harap Rangga menyusulnya menjadi ayah siaga.

__ADS_1


"Kami balik kantor. Malam kami balik bawa Agra. Anak itu pasti rindu pada kakaknya. Salam untuk Sania. Jaga dia ya!" Rangga harus balik kantor setelah tahu Sania tak kurang apapun. Tugas di kantor masih segunung harus ditangani.


Sedikit demi sedikit Rangga mulai tertarik jajaki dunia bisnis pindahan dari Suhada dan Amanda. Rangga tertarik pada tantangan yang bergulung dalam kekacauan perusahaan Sunrise. Satu persatu mulai Rangga atasi perlahan-lahan. Perusahaan mulai bangkit setelah dapat image jelek gara kedua rubah tua suka main curang.


"Apa tak tunggu Sania bangun?"


"Kami akan balik. Kalau perlu biar aku yang jaga Sania."


"Tak usah mas Rangga. Sania tanggung jawab aku. Nanti aku akan kasih tahu mas ada datang."


"Baiklah! Ayo Lisa! Kita balik kantor dulu. Assalamualaikum..." Rangga bangkit dari sofa diikuti Lisa. Keduanya sangat serasi di tinjau dari segi manapun. Usia mereka juga tak terpaut jauh. Lisa dua puluh enam dan Rangga tiga puluh tahun. Hanya selisih empat tahun.


Beda Sania dan Bara selisih hampir sepuluh tahun. Agak timpang sih namun dipaksakan bisa cocok juga. Bara tetap harus panggil Rangga mas mengingat posisi Rangga sebagai kakak ipar. Status Rangga tetap lebih tinggi sebagai Abang Sania.


"Waalaikumsalam..."


Ini pasangan kedua meninggalkan dia dan Sania. Tadi kedua orang tuanya sekarang Rangga dan Lisa. Keheningan kembali melanda. Sania tertidur pulas mungkin kelewat lelah kejar perpindahan gedung baru. Masih beruntung tak terjadi apa-apa pada janin di perut Sania.


Andai Sania tak pingsan mungkin sampai detik ini Bara tak tahu dia dalam proses menjadi hot Daddy. Laki ganteng dengan sepasang anak kembar. Bara tersenyum sendiri bayangkan pulang kerja disambut dua sosok makhluk lucu bertatih-tatih hampiri dia.


Bara merebahkan diri di sofa mini tak muat tubuh bongsor Bara. Kedua kaki Bara terpaksa menjulur keluar dari badan sofa saking panjang kaki laki itu. Sofa itu hanya mampu tampung tubuh calon ayah yang sedang bahagia.


Pasien tertidur, penjaga juga tak mau tinggal diam ikut hanyut ke alam mimpi. Siapa tahu jumpa di mimpi bersama calon anak mereka.


Tak terasa waktu bergulir berjalan menjauhi saat matahari bertugas. Mentari telah lelah laksanakan tugas ingin pulang beristirahat digantikan rembulan memberi sinar temaram. Waktunya ganti shift. Gantian menjaga alam Indonesia. Di belahan bumi lain mentari akan berbenah bersinar laksanakan tugas baru beri cahaya mengiringi setiap semangat baru bagi insan beraktifitas.


Sania melirik Bara yang tertidur di sofa kecil dengan posisi tak nyaman. Akhirnya laki itu berhasil menjerat Sania seumur hidup dalam ikatan. Bersama hadirnya anak ikatan itu akan makin kokoh. Tak ada sela bagi Sania mundur.


Tanpa sadar Sania meraba perutnya yang masih rata. Sudah siapkah dia menerima jabatan baru sebagai wanita punya anak kembar? Sanggupkah Sania bagi waktu antara anak dan karier? Sania mendesah tak yakin pada diri sendiri. Ambisi Sania terlalu tinggi ingin taklukkan dunia bisnis. Tapi mampukah Sania melawan kodrat terlahir sebagai wanita yang harus bagi waktu untuk anak dan suami?


Kepala Sania bertambah pusing divonis hamil anak Bara. Mengapa Sania bodoh tak tahu kalau berhubungan intim tanpa pengaman bisa berakibat hamil. Sedikitpun Sania tak curiga akhir cerita begini. Sania lihat Nania tak pernah hamil maka Sania santai saja jalani hubungan dengan Bara. Namun Tuhan berkata lain. Tuhan berkati Bara memberi anak kembar pula.


Kelamaan berpikir menyebabkan otak makin buntu. Rasa haus menyergap kerongkongan calon ibu kembar ini. Di dalam kamar tak ada segelas air pun. Di mana Sania harus cari air lepaskan rasa dahaga yang mendesak. Satu-satunya jalan bangunkan Bara walau dalam hati Sania tak tega.


"Lieve bangun.." Sania besarkan volume suara untuk usik kuping Bara. Badak kelelahan bukan perkara gampang dibangunkan. Bara juga cukup lelah mengejar target hasilkan proyek sempurna. Ditambah beberapa hari sibuk pindah gedung baru. Laki itu pasti juga capek.


"Lieve..." Sania mengulang panggilan agar suaminya cepat tersadar. Hari juga mulai senja. Waktunya ingat ada wanita sedang berbaik hati mengandung anaknya.


Samar-samar Bara mendengar panggilan Sania namun terdengar seperti dar jauh. Kesadaran Bara belum pulih dari alam pulau kapuk. Faktanya Bara terlelap di sofa rumah sakit bukan kasur empuk.


Tidur dalam posisi tak nyaman mengharuskan laki ini melemaskan otot. Laki ini merentangkan tangan ke atas lalu gerakan otot kaku. Laki ini memutar tubuh kiri kanan cari kenyamanan.


"Sania..." tiba-tiba otak Bara teringat pada bini mungilnya. Bara terloncat dari sofa cari orang yang terpahat dalam benak.

__ADS_1


Bara mengurut dada lega mendapatkan wanita yang mulai rajai hatinya masih terbaring di ranjang pasien. Tanpa diberi dikomando Bara hampiri Sania cari tahu kebutuhan wanita hamil itu.


"Sudah bangun sayang?" Bara mengelus pipi pucat Sania. Tak bisa dibohongi wajah Sania tidak secerah biasanya. Tetap tampak wajah orang sakit.


"Aku haus Lieve..."


Bara bingung karena dalam ruang rawat memang tak ada air putih. Saking panik Bara sampai lupa beli minuman penyegar kerongkongan.


"Aku pergi beli dulu ya! Tunggu sebentar!" Bara melesat keluar tanpa menanti jawaban sang bini. Menanti jawaban Sania malah akan menunda Bara beli air mineral. Permintaan Sania tak ubah sabda maha ratu. Harus segera dilaksanakan.


Sania dan bayinya harus selalu berada dalam kondisi aman. Bara tak mau kecolongan terjadi sesuatu pada bini dan anak-anak yang sudah dia nanti cukup lama. Bara bisa gila andai Sania dan anaknya mengalami peristiwa tak diinginkan.


Tak sampai lima menit Bara sudah balik dengan beberapa botol air mineral. Tanpa menunda laki ini buka tutup botol mengarahkan bibir botol berisi air ke mulut mungil Sania. Sania terkaget-kaget kesigapan Bara melayani ibu hamil. Sedikit kasar namun penuh perhatian.


"Bantu aku duduk dulu Lieve! Masak minum sambil tiduran." protes Sania sulit minum sambil berbaring.


"Sori..sori..aku lupa!" Bara meletakkan air di meja baru membantu isterinya duduk. Perlakuan lembut Sania dapatkan dari laki yang tampaknya mulai bucin pada Sania.


Sania diperlakukan bak ratu terhormat dari negeri ntah berantah. Bara hanya kacung siap layani semua keinginan sang ratu. Doa saja ratunya tidak tirani sejak hamil.


"Terima kasih Lieve." ucap Sania setelah terlepas dari rasa dahaga. Kerongkongan terasa adem dilalui air segar yang konon katanya air murni dari pegunungan. Benar tidaknya hanya pemilik perusahaan air mineral yang tahu. Berbohong tanggung jawab pada Yang Di Atas.


"Sudah enakan?"


"Sudah...aku mau pulang. Aku kurang suka tinggal di sini."


"Jangan! Kata dokter kau harus bed rest. Jadi anak baik ya!"


Sania mencibir dengar lagu lama para dokter. Semua pasien tetap disuruh istirahat. Istirahat di mana saja toh sama. Di rumah juga bisa, justru di rumah Sania dapatkan rasa aman. Bebas bergerak tanpa takut di larang ini itu.


"Di rumah juga ada bed. Pokoknya aku mau pulang." Sania buang muka bikin gerakan ngambek.


Baru satu hari ketahuan hamil sudah menyusahkan orang. Bagaimana hari selanjutnya bila kandungan Sania makin membesar. Apa tingkat kesulitan yang disodorkan Sania ikutan besar? Kali ini kesabaran Bara sedang diuji. Bara harus tekan emosi sampai titik terendah agar sang bini tak ngambek.


"Sayang...kita tunggu apa kata dokter! Ingat kau sedang hamil. Tak boleh abaikan kata dokter." Bara berkata sesabar mungkin.


"Lieve saja yang hamil anakmu!" ketus Sania buat Bara melongo. Apa bisa Bara yang hamil? Metode keluaran tahun berapa suami bisa gantiin isteri hamil?


Kutu kepala Bara mulai unjuk rasa lagi. Kepala Bara mendadak jadi gatal minta digaruk. Tangan Bara menggaruk kepala yang tadinya tak gatal.


"Sayang...aku mau gantiin kamu hamil kalau bisa. Tapi aku tak punya dompet tampung bayi kita. Aku hanya punya alat nyetrum biar perutmu buncit. Harus rajin nyetrum agar cepat buncit."


"Ciiisss..dasar mesum! Kasih tahu dokternya aku mau pulang. Aku sudah sehat. Kerjaku banyak." masih ketus nada suara Sania.

__ADS_1


"Sayang..ingat bayi-bayi dalam perutmu. Mereka akan protes kalau tahu mama mereka keras kepala. Besok kita pulang ya! Satu malam saja di sini. Apa kau tak kasihan pada mama yang matian antar gado-gado ke sini. Beliau sudah dalam perjalanan ke sini." Bara tak punya pilihan lain selain berbohong. Berbohong demi kebaikan mungkin dapat grasi dari Allah. Ini tak masuk daftar dosa Bara.


"Apa iya mama antar gado-gado ke sini?" mata Sania berbinar bayangkan sayuran disiram kuah kacang.


__ADS_2