MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Cinta


__ADS_3

Sania memang tulus mau bantu Nania keluar dari rasa putus asa tapi Sania juga tak mau Nania tertekan karena kehadirannya. Bara itu lelaki sehat, bisa saja lepas kendali ingin bini muda tidur dengannya. Sania menjaga perasaan Nania agar jangan terluka. Itu bisa perburukan kesehatan wanita itu.


"Aku akan datang tapi tidak nginap. Aku ada janji sama teman malam ini."


Bara perlihatkan wajah kurang senang Sania asyik janjian sama orang. Ntah laki atau perempuan. Sania sejak kecil hidup di negara barat yang pergaulan cukup bebas. Bara sudah rasakan bagaimana hidup di luar negeri tanpa ada batas norma laki perempuan bukan muhrim.


"Janjian sama siapa?" berat suara Bara. Sania rasakan hawa tak segar dari nada Bara. Tangan laki itu mengetuk meja kerja tak henti buat Sania merasa diancam.


"Lisa...temanku cuma dia." Sania berbohong demi hindari konflik lebih berbelit.


"Terserah kamu. Pergi makan sana." usir Bara halus. Sania rasakan nada tak ikhlas dari mulut Bara. Apa Bara marah Sania tak mau tinggal di rumahnya memilih kumpul sama teman.


Kalau Sania bersama Lisa tak jadi masalah. Namun kalau Sania bersama laki lain habislah harga diri Bara sebagai suami. Kontan the end.


Sania keluar dari ruang Bara berdiam diri. Tanpa kasih salam layak isteri soleha. Hanya masalah sepele selalu timbulkan percikan api antara mereka. Baru hubungan palsu sudah sangat ribet. Bagaimana kalau Sania kukuhkan diri sebagai ratu di hati Bara. Sehari berapa kali kibar bendera perang lalu bendera gencatan senjata. Ribet sekali.


Sania meraba kuduknya merasa merinding bayangkan jadi bini Bara seumur hidup. Mungkin nyawa Sania akan lebih pendek. Malaikat elmaut akan sering bertamu intip kapan Sania lengah siap dicabut nyawa.


Dea goyangkan tangan di depan mata Sania yang masih mematung di mejanya. Gadis cantik ini hilang selera makan ingat hari hari makin sulit bersama Bara.


"Woi...kesurupan bayangan bos?" kata Dea mencolek bahu Sania.


Sania tersadar lalu menarik bibir bentuk garis senyum. Senyum hambar tanpa gula.


"Yok cabut!" Sania menarik Dea tinggalkan ruang kerja mereka. Beriringan kedua wanita ini turun ke lantai bawah. Pegawai di lantai bawah masih utuh belum ada yang keluar cari pengisi perut.


Sania menunda langkah mencoba cari tahu ada yang ingin ikut mereka cari makan tidak. Semuanya tampak serius kerjakan tugas masing masing. Kantor ini minim karyawan tapi solid. Saling membahu bantu Bara di kala sedang turun pamor. Berkat doa dan kegigihan Bara kantor ini mulai bangkit.


"Ada yang mau titip atau ikut?" tanya Sania baik hati.


Wajah wajah lapar langsung bergairah ditawari makanan oleh Sania. Sania tidak pelit dalam hal berbagi rejeki. Sudah berapa kali Sania traktir mereka makan. Kali ini Sania pasti juga akan bayarin mereka.


"Titip nasi sayur." Sugeng acung tangan pertama.


"Nasi pecel lele." lanjut Mosa.


"Aku nasgor ayam goreng tepung." timpal Tio.


"Aku bistik, nasi Padang dan ayam bakar." menyusul si Dhenok si bohay sexy.


"Nitip atau ngerampok?" seru Sugeng kaget dengar pesanan Dhenok sangat banyak. Mentang ditraktir sesuka hati. Sungguh tak peka.


"Dhenok mau balas dendam. Kemarin dia kan tak makan. Irit duit buat beli lipstik mahal." sindir Mosa ikut kesal pada si bohay tak tahu diri.


"Sembarangan...siapa bilang beli lipstik? Aku rencana mau beli cream wajah glowing." sahut Dhenok jujur bikin satu ruang tertawa geli.


Sania ikut tertawa tak marah pesanan Dhenok melebihi pesanan rekan lain. Sania anggap ini guyonan sesama rekan halau rasa penat berkutat sama pekerjaan.


"Aku pesan pizza isi daging." Savitri tak mau ketinggalan pesan makanan.


"Itu mah harus diorder ke gerainya. Ok semua dipenuhi. Tunggu saja di sini." Sania bulatkan jempol dan telunjuk bentuk huruf O. Orderan dianggap valid.


Sania dan Dea segera naik ke mobil mungil Sania menuju ke food court agar tak harus jalan sana sini cari pesanan rekan kerja. Di food court semua jenis makanan tersedia. Tinggal order apa yang kita inginkan.


Sania ajak Dea duduk sambil makan dan minum sambil tunggu orderan rekan kerja. Sania hanya pesan makanan ringan sedang Dea pesan cukup banyak untuk puaskan diri. Ibu menyusui anak memang lebih rakus karena harus bagi gizi pada anak.

__ADS_1


"Kak Dea...Mungkin kakak kaget kenapa Pak Bara ngaku aku isterinya?" Sania langsung masuk ke topik agar Dea tak penasaran.


Dea angguk. Tangan ikut angguk angguk masukkan makanan ke mulut. Satu persatu pesanan Dea pindah dengan cepat ke perut Dea.


"Kalian selingkuh?"


"Tidak...Aku menikah karena isteri Pak Bara yang minta. Aku dan mbak Nania sama sama isteri Pak Bara. Kami menikah demi kesehatan mbak Nania." Sania cerita tanpa sembunyikan fakta.


Dea mendekap mulut tak percaya cerita Sania. Mana ada isteri bersedia di madu untuk menyenangkan diri sendiri. Kisah dari negeri dongeng mana?


"Jangan bohong!"


"Ngapain bohong? Pak Bara semula menolak ku tapi mbak Nania ngotot maka Pak Bara ngalah. Kami memang suami isteri tapi kami tak hubungan seperti yang lain. Kami tetap atasan dan bawahan. Tak lebih."


Dea menatap bola mata Sania cari kebenaran. Sania tak menunduk ijinkan Dea cari apa yang menurutnya benar.


"Sulit dipercaya San.."


"Iya...aku juga bagai mimpi tiba tiba sudah jadi bini orang. Padahal itu belum ada dalam catatan ku. Kenal Pak Bara juga baru. Tapi mungkin ini takdirku. Aku jalani dulu sampai mbak Nania sehat."


"Kau tak suka pada Pak Bara?" Dea menyelidiki perasaan Sania terhadap Bara. Rasanya janggal ada gadis bersedia nikah tanpa ada rasa cinta. Biasa para gadis akan agungkan cinta untuk mengikat diri pada laki yang bakal temani dia meniti hari depan.


"Kenapa saya harus benci dia? Suka itu banyak modelnya. Suka dia sebagai atasan bijak, suka pada tanggung jawabnya, suka sebagai laki bini? Yang pasti aku belum ada rasa pada bos kita itu." Sania yakinkan diri tak ada rasa cinta pada laki Nania itu. Tunggu dulu. Laki Nania kan laki dia juga.


"Aku maklum...tak kusangka kau tega lukai diri sendiri demi orang lain. Apa kau tak kejam pada dirimu?"


Sania tertawa pahit. Terbayang olehnya wajah sedih Nania kena bentakan Nada yang sok baik hanya di depan Bara. Di belakang Bara Nada tak ubah ibu tiri sedang hukum anak tiri. Sadis tak berperasaan.


"Aku baik saja kak Dea. Kakak tak tahu bagaimana kondisi mbak Nania. Dia sangat butuh perhatian dan kasih sayang kita." kata Sania mengenang kesedihan Nania.


"Cinta yang keluar dari hati takkan open siapa dan kamu apa! Cinta tulus itu memberi dan menerima. Cinta tulus tak perlu gembar gembor siarkan aku cinta pada si anu. Cinta itu cukup kita nikmati dalam hati bukan untuk dibicarakan." Sania kemukakan pendapat tentang cinta seolah dia pakar cinta padahal bagaimana bercinta sesungguhnya dia juga tak paham.


Dea mangut mangut termakan kata kata Sania. Semua kata Sania cukup beralasan. Cinta tak perlu berulang keluar dari bibir. Terlalu sering lontarkan kata itu jadi tak ada harga. Sudah jadi bahan bahasan umum.


"Kau seperti profesor cinta."


"Itu aku pelajari dari Om aku yang seorang profesor di rumah sakit. Dia dan isterinya tak pernah gombal tapi tatapan mata mereka saling hargai dan membutuhkan. Aku petik pelajaran berharga dari pasangan abadi itu."


"Saat ini sudah susah cari pasangan begitu. Kita tiap hari ada saja adu mulut. Ngak besar, ngak kecil bisa jadi pemicu perang dalam rumah tangga. Habis perang disusul perang lain pula." Dea cekikan sendiri bayangkan kemesraan setelah berdebat dengan suami.


"Perang apa bisa bikin kamu kesenangan?" tanya Sania lugu.


Dea tertawa besar menarik perhatian pengunjung food court lain. Tawa Dea kasar khas orang Batak penuhi ruang food court. Sania menunduk malu melihat kelakuan Dea berhasil menarik perhatian orang.


"Huuusss...ketawa ditimbang. Jangan boros!"


Dea masih ketawa kayak rem mobil bolong. Keluar tak bisa direm.


"Ya Tuhan adikku yang lugu. Kau berani bilang kau isteri orang. Kata kiasan gitu saja kau tak paham. Tunggu kau dan Pak Bara bikin perang Mahabarata kau akan ngerti sendiri. Kini aku percaya kau dan bos kita tak ada colek mencolek."


"Kami tiap hari perang mulut. Mulut bos kita kadang beracun. Bukan keong beracun lho!"


"Duh...perang mulut lawan mulut atau perang peribahasa?"


"Ciiisss menjijikkan. Gimana kalau bos kita sariawan? Ketularan dong!"

__ADS_1


"Kau ini sok lugu atau emang lugu? Masa tak pernah dicium suami sendiri?"


Sania menggeleng yakin tak pernah ciuman sama bos si kulkas lima pintu. Siapa mau ciuman sama orang sedingin gitu. Bisa bisa ikut beku.


"Kak Dea mungkin tak percaya kalau kami murni cuma menikah demi bini Pak Bara. Sampai mbak Nania sehat kami akan pisah secara baik baik."


"Maunya jangan pisah! Kau dan Pak Bara sangat serasi. Kudoakan kalian langgeng hingga maut memisahkan. Amin." doa Dea tulus mengharap pernikahan Sania dan Bara bukan hanya sandiwara. Keduanya cocok saling membahu bangun perusahaan. Dea yakin Sania mampu dampingi Bara membawa angin segar bagi perusahaan.


"Kak...biarlah waktu yang bicara! Kita bukan Tuhan yang bisa menentukan kisah hidup kita. Aku punya rencana lain untuk masa depanku tapi apa bisa berjalan lancar. Hanya Allah yang bisa jawab." ujar Sania sendu tak mau langkahi rahasia Illahi.


"Kau masih muda tapi kau sangat tegar. Aku tak sekuat kamu. Masalah sebesar ini kau bisa jalani dengan tenang. Aku salut." Dea meraih tangan Sania ke genggaman.


"Ini hanya sekelumit jalan hidupku. Kelak aku akan cerita lebih panjang lagi. Ayo kita habiskan makan siang! Yang kantor sudah kelaparan."


"Hehehehe..lupa!"


Dea balap habiskan semua pesanan makan siang. Mubazir kalau tak dihabiskan. Makanan yang diorder Dea rata harganya lumayan. Dea mana mau lewatkan makan enak yang jarang terjadi.


Sania tergiur lihat cara Dea habiskan makanan. Selera Sania tergugah ingin ikut makan namun selera Sania tak cocok dengan menu Dea. Wanita Barak itu terpaksa habiskan sendiri.


Klimaksnya makanan di meja bersih sisa remah remah di piring dan meja. Dea sempurnakan makan siang dengan orange jus segar. Makan siang paling sedap. Sedap di mulut gratis di kantong.


Langkah selanjutnya ambil pesanan aneka rasa. Sania merogoh kocek tanpa diminta Dea. Sania yang menawarkan maka Sania wajib penuhi harga penawarannya. Dea kagum melihat Sania tak keluarkan sepatah katapun walau harus rogoh kantong cukup dalam.


Mata Dea terbuka mulai paham siapa gadis tegar di depannya. Bukan gadis Abal Abal penggoda Bara tapi gadis kokoh punya latar belakang kuat. Sania cukup royal terhadap sesama rekan kerja. Tak sampai situ nilai Sania di mata Dea. Sania sangat pintar dan berbakat.


Sejak kehadiran Sania perusahaan mereka dapat beberapa proyek lumayan. Ini bisa memicu semangat kerja karyawan yang nyaris padam.


Seusai bayar harga makanan kedua wanita ini kembali balik ke kantor. Kedua menenteng pesanan rekan tanpa malu malu.


Kehadiran Dea dan Sania disambut satpam kantor. Mata lelaki bertubuh gempal itu tertuju pada kantong kresek berisi aneka makanan. Mata itu siratkan rasa iri pada penghuni gedung yang bisa makan enak. Dia matian berdiri jaga keamanan tetap tak dapat penghargaan.


Sania si gadis peka cepat tanggap keinginan satpam. Manusia manapun akan iri bila berada di satu hamparan sama tapi terabaikan. Sania dan Dea bawa makanan di tangan kiri kanan tapi tak jatah untuk penjaga keamanan. Namanya pilih kasih.


"Pak Satpam sudah makan?" tanya Sania lembut.


Satpam itu malu malu meong ketahuan intai makanan di tangan Sania.


"Belum neng! Masih dinas." sahut Pak Satpam perlihatkan senyum jelek.


"Oh...nih ada sedikit rejeki untuk bapak. Bapak beli makan siang bapak." Sania sodorkan 2 lembar fulus warna merah muda.


"Ngak usah neng. Bapak malu terima uang neng." Pak Satpam pasang kuda kuda sok jaim.


"Ngak mau biar buat aku." sentak Dea hendak merebut uang dari tangan Sania. Sebelum tangan Dea sampai, sepasang tangan bongsor sudah duluan capai titik topik. Uang itu berpindah tangan ke tangan Satpam.


Pak Satpam cengar cengir pada Dea ketahuan goda dia. Dea mana tega rebut hak Satpam. Gaya Satpam yang norak picu rasa kesal Dea ingin bikin satpam sport jantung.


"Terima kasih neng! Semoga Tuhan beri neng jodoh yang ganteng dan kaya."


"Sok imut. Nona Sania sudah ada yang punya." ketus Dea.


"Wajar toh ada yang punya! Neng geulis sih! Lembut tak seperti banteng liar suka curi rumput orang."


Dea belalakkan mata melotot pada Satpam usil itu. Dea tentu ngerti sekali kalau kata sindiran ditujukan kepadanya.

__ADS_1


"Awas kau! Jangan coba usik banteng kalau tak mau kena tanduk tajam sang banteng."


__ADS_2