MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Cerita Rumit


__ADS_3

"Dasar teman tak punya hati. Diajak warnai hidup dengan sedikit riak tak mau. Hidup tenang tenteram itu membosankan. Gini kan lucu! Sport jantung lalu marahan sama pasangan. Baikan bertambah romantis." racau Maya mengenang betapa bahagia mendapat perhatian teman-teman.


"Romantis peang mu. Bisa the end of the world kalau pasanganku kabur salah paham. Kau pikir ada berapa cewek jiwanya sekeras jiwa Sania? Pokoknya jangan datang ke Indonesia kalau sakit jiwa ente kumat. Pergi ke Afrika cari monyet hitam sono!" Roy menggeram Maya anggap enteng satu hubungan cinta. Walau playboy karatan Roy punya rasa setia selangit.


Maya tertawa tanggapi kesewotan Roy. Berbahagialah pasangan Roy punya laki seteguh Roy.


Mata Bara sebentar-sebentar melirik ke arah Sania dan Watson yang ngobrol seru diselingi tawa renyah Sania. Watson hanya tersenyum kalem sesuai karakternya sebagai profesor. Lucu kalau seorang profesor tertawa gelak di tempat umum. Ini akan mengaburkan nilai profesor top di kampus.


Lima menit kemudian Watson dan Sania kembali bergabung. Wajah Watson tampak sumringah setelah ngobrol dengan Sania. Obrolan rahasia apa bisa merubah mood profesor kaku itu. Seberapa besar pesona ibu hamil itu?


"Gembira sekali Watson?" tegur Maya surprise suaminya bersemangat bincang dengan anak muda. Biasa Watson akan datar bila diajak ngobrol dengan para mahasiswa. Open tak open.


"Sania anak pintar. Aku suka pada anak muda pintar. Ayo dimakan! Nanti dingin tak enak lagi. Di sini aku sebagai suami Maya minta maaf dan terimakasih kasih pada kalian. Andai Maya pernah buat salah harap dimaafkan. Aku sulang kalian." Watson mengangkat gelas berisi jus jeruk sebagai tanda maaf sekaligus terima kasih.


Yang hadir ikut bersulang dengan hati damai. Makan malam yang damai. Tak ada lagi ganjalan di hati walau pernah terjadi hal tak sedap. Semua salah paham terhapus sudah. Maya akan kembali pada suami berkumpul dengan anak di Amerika tempat mereka tinggal. Kisah kekonyolan Maya telah tamat. Kisah baru akan bermunculan selama manusia itu bernafas.


Tepat jam sepuluh malam undangan makan malam Maya berakhir. Semua puas dan senang terutama pasangan baru yang sedang jadi incaran dewa amor. Mungkinkah panah cupido diluncurkan menancap di hati. Biarlah waktu yang jawab.


Pagi subuh cuaca mendung bertatah di langit meniupkan udara basah. Sania membuka tirai jendela melongok keluar lihat kondisi cuaca. Sebentar lagi pasti turun hujan lebat. Udara terasa lembab mengandung air.


Matahari belum menampakkan diri menghalau kekelaman sisa malam. Mungkin hari ini matahari akan molor karena diganggu mendung tebal. Keadaan sunyi senyap belum ada kegiatan di luar rumah. Mungkin banyak yang masih terbuai mimpi indah.


Sania terbiasa bangun subuh tak bisa lanjutkan tidur sebelum sholat menurut kepercayaannya. Melaksanakan sholat sama saja menyerahkan diri pada Yang Maha Kuasa. Segala keluh kesah tersalurkan pada tempat tepat. Allah selalu berbuka hati mendengar semua doa serta suka duka umatnya. Ada saja jalan bagi mereka yang percaya.


Suara kicauan burung tetangga sebelah mulai berkicau di pagi mendung. Kelihatannya para burung sudah bangun memulai tugas mulia berkicau memanggil para insan turun dari ranjang laksanakan ibadah bagi umat muslim.


Kicauan burung-burung bersahutan terasa sangat merdu di telinga Sania. Pagi hari dihiasi kicauan burung membuat Sania merasa tinggal di hutan tanpa polusi. Bukan di tengah kota penuh asap polusi. Betapa tenteram berada di tengah hutan tanpa perlu pikir aneka tingkah pola manusia. Yang ramah, baik, penyayang disertai yang dengki, jahat, busuk akal berbaur menjadi satu. Sekilas mata memandang kita tak tahu mana yang baik dan buruk. Semua kepala sama hitam.


"Sayang...sudah bangun?" Bara turun dari kasur hampiri Sania yang melamun dekat jendela. Laki ini melingkarkan tangan ke bahu Sania janjikan perlindungan.


Sania mengelus tangan kasar Bara tetap menatap keluar jendela yang masih gelap. Hati Sania terasa damai dalam posisi begini. Maunya sampai tua tetap begini. Bersama orang paling berharga sampai maut menjemput.


"Lieve...mungkinkah kita begini sampai punya cucu?" gumam Sania namun jelas di kuping Bara.


"Tentu sayang...kita harus saling mengisi dan menerima. Jangan mudah terpancing omongan orang lain! Cukup kau dan aku saling menyayangi."


"Semoga ya! Jalan kita masih banyak rintangan. Lieve jangan bosan ingatkan aku bila salah! Aku ini terbiasa jalan sendiri tak mau didikte. Jiwaku terlanjur keras. Lieve harus maklum kalau suatu saat aku kelepasan."


"Aku akan dampingi kamu dalam suka duka. Kamu juga jangan bosan nasehati Lieve bila salah langkah! Kita manusia biasa tak luput dari kekhilafan. Yang penting kita harus saling terbuka. Lieve harap ke depan tak ada pengacau dalam rumah tangga kita."


"Amin...Sania takut Arsy ataupun siapa ganggu ketenangan kita. Aku mau hidup damai bersama anak-anak kita."


Bara mengecup ubun kepala Sania yang persis berada di bawah bibirnya. Bara lakukan berulang kali menenangkan Sania. Wajar wanita ini kuatir muncul wanita ngaku-ngaku pasangan Bara. Sania sudah terlalu lelah hadapi wanita gitu.


"Aku akan hindari Arsy. Sekarang toh Kintan sudah berada di tangan di mana dia berhak. Keluarga Rudi pasti sayang pada Kintan. Tak ada beban kita lagi."


"Jadi selama ini Lieve dekat dengan Arsy karena Kintan?"


"Iya...Kintan sakit-sakitan. Rudi tak punya uang biayai pengobatan Kintan. Orang tua Arsy memang tak mau cucu mereka yang cacat jantung itu. Maka aku bantu ala kadar. Syukurlah Kintan sudah sehat."


"Sania bersyukur juga. Hari ini aku balik kantor ya. Hamil bukan alasan untuk jadi pemalas. Ntar anak-anak Lieve pemalas baru tahu rasa."


"Huusss kok doa yang aneh! Anak-anak kita akan jadi manusia multiguna."

__ADS_1


"Amin.."


Suara azan dari mesjid terdekat berkumandang memecahkan keheningan pagi. Suara merdu Muazin kumandangkan azan subuh bergema sekeliling perumahan mewah yang dihuni orang-orang berkantong tebal. Yang taat tentu saja bergegas tunaikan panggilan ibadah.


Bara dan Sania tak mau ketinggalan laksanakan tugas seorang muslim. Mereka berdua ambil air wudhu sebelum melapor pada Allah. Pasangan muda ini mensyukuri nikmat dari Allah serta semua berkah yang telah diturunkan pada mereka. Semoga ke depan semua makin lancar.


Bara tepati janji ijinkan Sania kembali ke kantor dengan catatan tak boleh capek. Sania hanya boleh aktifitas di meja tak boleh ikut ke lapangan. Mau tak mau Sania harus patuh ketimbang di kurung di rumah.


Sania bekerja yang ringan-ringan membantu Bara selesaikan proyek-proyek yang sedang berjalan. Pintu penghubung dua ruang terbuka lebar atas permintaan Bara. Bara mau lihat langsung kondisi bininya di ruang kerja. Bara tak mau kecolongan mengingat sifat keras Sania. Suka lupa sedang hamil muda.


Ponsel Sania di meja berbunyi menampilkan nama Rangga. Sania melirik Bara sekejab sebelum angkat ponselnya. Bara sedang fokus periksa file proyek cuek dikit pada Sania.


"Assalamualaikum mas..ada apa?"


"Waalaikumsalam...kamu sehat dek?"


"Alhamdulillah sehat... pagi-pagi telepon. Tumben?"


"Bukan tumben dek tapi ini soal papa. Dia masuk rumah sakit kena serangan jantung."


"What? Kok bisa?"


"Papa syok setelah terbuka cerita masa lalu terkuak. Pengacaranya sudah membawa Darman ke kantor polisi. Pak Yudi ikut diciduk karena terlibat dalam kasus meninggalnya mama kita. Sekarang jadi masalah dari mana aku dapat segitu banyak dana beli saham? Polisi juga usut hal ini atas laporan Amanda. Dia tuduh aku curi uang papa sebelum tinggalkan rumah."


"Dia ada bukti?"


"Mana kutahu? Ternyata papa tak tahu semua rencana Amanda menyebabkan meninggalnya mama kita. Papa sangat marah pada Amanda."


"Kurasa tidak...papa gila perempuan tapi tak berniat sakiti wanita-wanita beliau. Papa sangat sedih ingat meninggalnya mama mas. Dia memaki-maki Amanda sampai sesak kena serangan jantung. Kau mau jadi saksi mas soal saham?"


"Boleh...uang itu dikirim dari Belanda. Kita bisa bilang itu uang investasi dari investor Belanda. Legal dan sah. Aku punya bukti transferan. Mas jemput Sania di kantor. Bara takkan ijinkan Sania pergi sendiri."


"Baiklah! Mas akan datang. Amanda sudah pasti dipenjara cukup lama atas semua kejahatannya. Cuma mas mau minta bebaskan Ranti. Dia sedang hamil besar. Tak baik di penjara."


"Suaminya mana?" Sania teringat Bobby yang seharusnya jadi suaminya. Apa kabar laki itu? Laki bejat penjahat kelamin.


"Bobby akan ceraikan Ranti. Katanya anak Ranti bukan anaknya. Ranti jebak Bobby dengan anak padahal itu anak laki lain!"


Sania merasa kepalanya membesar dengar kabar tak sedap ini. Sejauh mana kejahatan Amanda dan Ranti. Tega benar permainkan nasib orang lain. Kini Bobby jadi salah satu korban keserakahan dua manusia gila itu.


Bobby salah sendiri tergiur nama besar Ranti. Bangga jadi suami dari bintang top. Memuja sosok yang lebih cocok disebut sampah. Ada rasa iba menyelinap di hati Sania. Sania kasihan pada Bobby yang silau oleh nama kosong. Kini Bobby benar-benar dikosongkan Ranti. Keluarga dan karier sama-sama kosong.


"Dek...kau masih dengar?" terdengar suara Rangga buyarkan lamunan Sania.


"Mas...mengapa Ranti sejahat itu?"


"Ranti tak beda dengan Amanda. Sama-sama sok hebat bisa tundukkan dunia pakai tampang dan nama besar bintang top. Sekarang semua hancur. Semua orang hujat dia. Mas iba juga lihat Ranti namun itu konsekuensi yang harus dia terima bermain api."


"Bobby tak bisa ceraikan dia dalam kondisi hamil. Itu dilarang agama."


"Itu mas tak tahu. Bobby tidak muncul hanya diwakili pengacara juga."


"Ya Allah kok makin kacau...! Bobby tak boleh semena-mena pada Ranti karena wanita itu hamil tua. Dia harus bertanggung jawab sebagai seorang suami."

__ADS_1


"Itu katamu. Mas bangga punya adik berhati emas. Ranti sudah jahat padamu tapi kamu masih kamu masih bersimpati padanya. Kamu memang adikku."


"Kepalaku tambah gede mas. Topi ngak bakalan muat lagi. Siapa yang jaga Suhada?"


"Ada pembantu di rumah. Ingat Mak Iyem yang latah? Dia yang jaga papa. Kau tak mau jenguk beliau?"


Sania termenung ditawari jenguk Suhada yang notabene papanya. Sania belum siap jumpa orang yang telah menoreh luka menganga di hatinya. Kelakuan Suhada nikahi berlapis-lapis wanita bikin Sania muak pada Suhada. Sania belum bisa berdamai dengan laki tua itu walau Suhada tak ikut andil menghabisi mamanya.


"Sania belum bisa mas...maafkan Sania!"


"Tak apa...semua akan indah pada waktunya. Mas jemput kamu sekarang ya!"


"Ya mas...Sania tunggu di kantor."


"Assalamualaikum.."


"Waalaikumsalam.." Ponsel berhenti berfungsi.


Sania mengelus perutnya merasa mual setelah dengar berita dari Rangga. Antara senang dan kesal campur aduk dalam diri Sania. Sania senang kasus meninggal mamanya ada titik terang namun kesal Ranti tega menipu Bobby hingga laki itu jatuh tersungkur.


Bobby juga bersalah tergiur tubuh dan nama besar bintang ternama. Laki itu tak sangka telah menikahi makhluk penghuni neraka. Ini pelajaran berharga bagi para cowok yang melihat dari tampilan casing. Semua casing itu indah selagi baru. Dipakai lama akan rusak tampilkan profil asli.


Salah Ranti yang menipu atau salah Bobby yang mata keranjang. Sania tak menyisakan rasa sayang selain iba pada Bobby. Perusahaan yang berdiri tegak kokoh akhirnya runtuh karena nafsu. Pantaskah Bobby menerima ganjaran yang sangat berat hanya karena khilaf?


Cuma sayang waktu telah merangkak jauh mengubah keadaan. Sania tak punya hak cemaskan nasib Bobby karena dia telah resmi menjadi bini Bara. Sedang mengandung anak dari laki bertampang keren lagi. Tak ada alasan bagi Sania kuatir nasib suami Ranti. Rantilah yang harus bertanggung jawab membuat kekacauan ini.


Sania bangkit dari kursi melangkah ke pintu samping yang terhubung ke ruang Bara. Lakinya begitu ganteng dan baik. Dasar apa Sania harus berpaling dari Bara mengejar masa lalu. Tak ada cela buat Sania menaruh harapan pada Bobby si raja cabul.


Lama mata Sania tertuju pada laki ganteng di depan layar desktop. Lelaki berkharisma itu tekun mengerjakan tugas proyek. Keningnya berkerut-kerut memantau setiap garis di layar desktop. Tampaknya Bara sedang pusing mendapat hambatan dalam pengerjaan proyek.


"Lieve..." panggil Sania pelan.


Bara alihkan mata dari desktop ke badan wanita pujaan. Ibu dari anak-anaknya.


"Sini...rindu ya!" Bara menepuk pahanya minta Sania mendekat.


Sania ayunkan kaki memenuhi pemintaan sang suami bermanja di paha kokoh yang sanggup menahan beban beberapa cewek mungil macam dia.


"Lieve...aku ijin pergi sama Mas Rangga ya!"


"Ke mana? Perlu kukawani?"


"Tak usah...kan ada mas Rangga. Ada urusan keluarga."


"Soal Ranti?" selidik Bara.


Sania memuji insting Bara yang jitu bisa baca pikirannya. Laki ini punya indera keenam bisa baca situasi atau akal Bara yang terlalu panjang.


"Gitulah! Aku harus hadir jadi saksi mas Rangga. Dia dituduh tilep uang papanya."


"San...kau lagi hamil. Tak baik ke kantor polisi. Biar Lieve yang tangani. Cerita apa masalah dengan mas Rangga sampai dituduh tilep uang." ujar Bara sabar


"Ceritanya panjang Lieve! Masalah mas Rangga tidak sama dengan soal Ranti. Soal Ranti kan cuma fitnahan tapi ini lebih rumit. Ini menyangkut perusahaan Sunrise. Kumohon Lieve percaya padaku untuk tangani soalan ini bersama mas Rangga. Ini menyangkut masalah keluarga yang telah tertimbun lama."

__ADS_1


__ADS_2