
Sania tak berani ambil keputusan takut dibilang sok berkuasa. Kiprahnya dalam hidup Bara belum tinggi mana ada nyali ikut campur soal aset. Jangan-jangan nanti dipikir ingin berkuasa.
"Bagaimana bagus di bapak! Aku hanya pegawai kecil mana boleh ikut ambil keputusan besar ini. Bagusnya bapak diskusi sama Pak Jaya."
Roy angkat topi salut sama sikap rendah diri Sania. Dia bisa bedakan tugas dan masalah pribadi. Di kantor dia hanya pegawai bagi Bara, lain di rumah nanti. Sungguh baik nasib Bara dapat isteri bernilai plus.
"Baiklah! Nanti malam kita diskusi sama Papa. Aku harap kamu mau ikut pulang ke rumah." Bara harap Sania mau mengalah ikut dia pulang ke rumah orang tuanya. Mata Bara memancarkan harapan besar Sania tak menolak. Sejujurnya Bara juga sudah rindu ingin memeluk bini mungilnya.
"Iya pak!" sahut Sania singkat.
Selanjutnya tak ada obrolan berarti karena masing-masing sibuk sama benda tipis di tangan. Sania kirim kabar sama Lisa kalau dia berhasil jebol tender PT. SHINY. Kabar gembira ini harus Sania sampaikan pada Lisa karena dia ikut Sania garap tender ini walau tak langsung. Lisa cukup banyak sumbang ide pada Sania menyangkut tender besar ini.
"Hei...lihat siapa ini? Pelacur murahan sedang cari mangsa baru."
Serentak Bara, Sania dan Roy menoleh ke arah suara yang keluarkan kata tak sedap. Ranti berdiri dengan gaya angkuh di samping Bara pamer segala kemewahan seoarng bintang top.
Sania menghela nafas tak tertarik ladeni perempuan tak bermoral macam Ranti. Dia yang merebut pacar orang malah sebaliknya tuduh orang pelacur. Dunia mungkin sudah terbalik.
"Siapa nada berani ucapkan kata tak sopan pada isteriku?" tanya Bara dengan berang karena Ranti memandang sangat rendah pada Sania. Bara bukan orang buta tak tahu apa yang telah terjadi. Cuma Bara tak mau mengorek masa lalu Sania takut menyakiti hati wanitanya.
"Maaf ya! Anda telah nikahi seorang perempuan murahan. Dia adalah gundik suamiku. Kenal Bobby Barata yang kaya raya?" Ranti berkata angkuh naikkan leher hadap atas.
"Bobby yang datang ke kantorku menghiba minta agar isteriku kembali padanya? Jangan mimpi bilang sama suamimu! Sania bukan pelacur murahan. Dia adalah isteriku yang suci murni. Apa aku cerita bagaimana malam pengantin kami yang berharga?"
"Wow..kau mau bilang Sania perawan suci? Apa kau pikir Bobby mau lewatkan daging busuk di depan mata?" tanya Ranti yakin Bobby dan Sania telah lakukan percintaan sebelum dia menikah dengan Ranti.
"Akhlak Sania beda dengan akhlakmu. Seribu Bobby takkan bisa merenggut yang bukan haknya. Aku suaminya lebih tahu siapa sesungguhnya wanita ini. Apa bukan maling teriak maling? Kau kira kami tak tahu reputasimu? Berpindah dari satu produser ke produser lain pakai tubuh? Jangan permalukan diri nyonya Bobby! Dan ingatkan suamimu jangan ganggu hidup Sania lagi. Dia sudah bersuami." ujar Bara dengan bahasa keren.
Roy tepuk tangan bangga Bara mau tampil jadi pahlawan bagi wanitanya. Bara memang selalu lemah bila wanitanya terjebak masalah. Dari dulu hingga kini Bara selalu tak mampu menolak wanita yang pernah dekat dengannya. Terasa ada tanggung jawab moral walau mereka sudah pisah secara baik-baik.
"Kau jangan keterlaluan fitnah aku! Kau tak tahu siapa Bobby sebenarnya? Kami bisa hancurkan kantormu setiap saat."
"Sudahlah Ranti! Sadar diri! Bukankah kmu baru masuk berita kalau kau mau diusir dari rumah mewah yang ternyata milik orang lain? Suamimu janji akan bayar dalam waktu dekat. Kalau tidak kalian harus keluar dari rumah itu. Pemiliknya atas namaku. Kau bagai lintah isap darah orang." Sania angkat suara tetap kalem tak terbawa emosi. Sudah saatnya peringati Ranti agar jangan arogan. Ranti mengira masih bisa hidup mewah setelah lalui banyak kejahatan.
Bara dan Roy bengong Sania keluaran kartu mati untuk sekak Ranti agar jangan lanjutkan perdebatan.
"Kau mu cari muka sama lakimu? Lakimu memang ganti cuma sayang hanya seorang bos perusahaan kelas teri. Lihat Bobbyku yang milyarder!" Ranti masih bangga pada kekayaan Bobby yang konon katanya tak habis dimakan tujuh turunan.
"Teri kalau ditumpuk banyak bisa kalahkan ikan paus. Jadi jangan sombong Ranti! Lebih baik kau cemaskan nasib orang tuamu. Sekarang mereka jadi gembel kan? Sebentar lagi rumah kebanggaan orang tuamu akan disita. Aku mau lihat sampai di mana keangkuhanmu?" kata Sania berubah nada menjadi dingin begitu sebut orang tua Ranti. Ini baru permulaan penderitaan keluarga kejam itu. Cerita baru dimulai.
Ranti kaget dari mana Sania tahu kalau kedua orang tuanya telah tercampak dari perusahaan. Mengapa Sania tahu banyak tentang keluarganya.
"Jangan sembarang omong! Aku akan lapor kamu ke polisi pencemaran nama baik."
"Silahkan! Kamu sedang hamil jadi lebih baik jaga kandungan. Tak baik ibu hamil maki-maki orang. Nanti susah lahiran. Oya jangan lupa test DNA apa itu anak Bobby. Soalnya kamu ini kan wanita sejuta umat." Sania tetap pertahankan gaya santuy melenakan orang. Tak mencak tak sopan tapi setiap katanya seperti pisau siap lukai orang yang jadi lawan bicara.
Ranti menatap Sania dengan amarah segunung. Kata-kata Sania sama saja menuduh dia wanita tak benar. Anak siapa suami siapa pula. Sania sama saja menghina Ranti sebagai wanita tak bermoral.
__ADS_1
Bara dan Roy tak sangka Sania berani ungkap kebenaran siapa sesungguhnya Ranti. Nampaknya Sania sangat membenci Ranti yang telah hancurkan mimpi indahnya. Bara juga tak kuasa melarang Sania berbuat sedikit ekstrim pada Ranti. Di sini Ranti memang bersalah merebut calon suami orang dan balik menuduh Sania perempuan murahan.
"Kau tunggu pembalasan dariku. Aku akan minta Bobby habisi kalian sampai akar." ujar Ranti kalah mental diserang Sania tanpa kekerasan.
"Aku tak sabar menanti saat itu. Asal jangan kalian yang terjun bebas tanpa parasut. Bisa tewas lho!"
"Dasar wanita sialan." Ranti pergi dengan gaya angkuh. Suara sepatu mahal Ranti bergema menjauhi meja makan pesanan Bara.
"Maafkan aku!" kata Sania setelah Ranti menghilang keluar dari restoran tempat mereka makan.
"Bukan salahmu. Dia yang cari masalah. Bintang top kok akal kayak orang gila. Tidak waras." Roy menenangkan Sania agar tak merasa bersalah atas insiden kecil ini.
"Roy benar Sania..kami tahu kisahmu. Bobby itu bajingan manfaatkan gadis muda macam kamu. Dia pikir setiap orang tak bisa tumbuh dewasa. Kau sudah dewasa sekarang. Tak perlu takut pada ancaman orang lain. Kau sudah ada pelindung. Aku tak peduli orang omong apa tentang kamu. Aku lebih tahu bagaimana adanya kamu." Bara menguatkan Sania agar tak terpancing oleh sikap dan ancaman Ranti.
Sania mengangguk berterima kasih pada keteguhan Bara memilih percaya padanya. Laki begini akan beri rasa nyaman wanita.
"Terima kasih Lieve.." jawab Sania lembut.
Pas pula pelayan mengantar pesanan makanan. Harum makanan menggoda hidung mancung Sania.
"Hemmm wanginya!" gumam Sania sambil majukan muka ke makanan.
"Ayok silahkan makan! Aku yang traktir! Aku bangga bisa masuk tim mega proyek yang jadi incaran para ahli konstruksi." kata Roy sok orang tajir.
"Kalau gitu aku tak segan lagi. Ada yang bayarin kok! Pegawai kecil macam aku kan jarang makan enak. Habis bulan habis gaji." ujar Sania tak bermaksud mengarah pada siapapun namun Bara merasa tersindir karena selama ini belum pernah ngasih uang belanja pada Sania.
"Kurang ngerti aku! Tanya yang merasa menjadi suami orang." Sania ikutan menyindir . Kalimat sederhana tapi maknanya sangat mendalam.
Bara terdiam merasa sindiran Roy tepat sasaran. Dia memang tak ingat beri uang bulanan pada Sania. Saniapun tak pernah ungkit soal uang belanja. Bara bukan sengaja ingin lari dari tanggung jawab sebagai laki Sania. Terlalu banyak kejadian bikin laki ini lupa diri.
"Makan jangan cerewet!" ketus Bara tak suka masalah pribadi digunjing orang.
Sania dan Roy tersenyum melihat Bara mati kutu. Acara makan siang berakhir tinggalkan rasa kenyang dan puas. Mereka bertiga segera balik kantor. Mereka akan bahas gerakan selanjutnya mencari orang ahli di bidang masing-masing. Sebenarnya Sania punya tim kecil di tempat Bobby tapi Sania tak mungkin merebut timnya dari perusahaan Bobby. Itu tindakan orang bernyali tempe. Tak junjung etika berbisnis secara jujur.
Dea melihat wajah ketiga petinggi perusahaan sangat baik bahkan cerminkan kebahagiaan. Dea menduga ada kabar baik dari tender yang diajukan Sania. Cuma sayang saat ini rahasia keberhasilan mereka tak boleh bocor.
Sania bertugas sepeti biasa kembali ke meja di mana dia seharusnya duduk. Sementara Roy dan Bara tak habis pikir bagaimana Sania demikian gampang raup proyek besar itu tanpa saingan berarti. Lebih hebat Sania ajukan uang muka gila gilaan. Apa hubungan Sania dengan pemilik PT. SHINY.
"Kalau Sania itu piaraan pemilik SHINY tak mungkin bini bos sengaja datang antar sup jagung. Kelihatannya mereka sangat kenal Sania. Atau Sania anak mereka pura-pura cari kerja di tempat lain." Roy mulai buat analisa siapa sesungguhnya Sania.
"Kalau Sania gundik orang itu sangat jauh. Dia itu gadis suci." gumam Bara agak malu katakan kalau dia telah bercinta dengan Sania. Perawan tulen.
"Sudah unboxing?"
Bara angguk, "Dia isteriku. Wajar kukeloni."
"Wah menang banyak ente..tamat sudah sela aku menikungmu. Kudoakan cepat tumbuh kecebong Bara dalam perut Sania. Biar lintah tak nempel padamu lagi. Jaga perasaan Sania. Tutup buku soal Arsy dan Maya. Mereka hanya masa lalu. Ingat itu bro!" Roy menepuk bahu Bara ingatkan kalau harus tanggung jawab sampai tuntas pada Sania.
__ADS_1
"Aku akan usaha. Mungkin agak berat tapi aku akan coba tutup telinga terhadap teman lama kita. Oya hubung Rudi cepat masuk kerja! Semoga Sania tak seperti Arsy kepincut Rudi."
"Moral Sania tak kuragukan justru kamu yang jadi masalah. Jauhi penyakit bro."
"Iya..cerewet amat. Pusing aku." Bara menyisir rambut pakai tangan ingat bagaimana kelanjutan kisah cintanya. Mungkin Sania dan dia bisa langgeng hingga anak cucu? Atau Bara tetap care pad teman lama yang akan jadi bumerang pada pernikahannya.
Selepas kerja Sania tepati janji pulang ke rumah orang tua Bara. Sambutan mama Bara sungguh luar biasa. Keramahan mertuanya bikin Sania malu hati. Keramahan itu keluar dari hati atau hanya sekedar pemanis belaka. Sania tak berani beri penilaian karena belum terlalu kenal sifat keluarga suaminya.
Fadil yang telah berapa hari tak jumpa menyambut Sania dengan kekonyolan belum berubah. Masih hangat seperti biasa.
"Halo kakak ipar..lama tak jumpa bikin hati kangen berat." kalimat perayu ulung menyambut langkah pertama Sania masuk rumah.
"Jaga mulut bocah! Itu kakakmu." ucap Bara tak suka Fadil merayu bininya di depan hidung.
Bukan Fadil namanya bila takut pada Bara. Tanpa open pada Bara yang keki berat padanya. Fadil terus saja ikuti Sania sampai ke ruang tamu. Sania bersikap ramah pada Fadil karena tahu Fadil tulus padanya. Sania duluan kenal Fadil dari pada Bara. Dari awal Fadil sudah berusaha menarik perhatian Sania.
"Bagaimana kerjamu Dil?"
"Bagus..apalagi kamu sudah bantu kami selesaikan masalah pelik soal alat berat. Kerjaku lebih ringan" Fadil beri kode agar Sania duduk. Laki muda ini ikut duduk di sisi Sania tetap umbar senyum terpesona oleh kecantikan bini abangnya.
"Aku hanya melaksanakan yang bisa kubantu. Kami juga kan beli alat berat. Melalui perusahaan kalian ya! Masuk alat berat gitu tetap harus pakai nama perusahaan. Susah kalau masuk secara pribadi."
Fadil tertawa kecil Sania mau bagi keuntungan pada mereka. Bara tertarik pada obrolan Sania dan Fadil menyangkut pekerjaan. Sejak kapan Sania ikutan dalam orderan alat berat perusahaan papanya. Mengapa Bara tak tahu menahu soal itu.
"Apa yang kalian obrolkan?" Bara ikut bergabung.
Bu Jaya keluar dari belakang membawa nampan berisi teh hangat dan cemilan untuk mengisi perut sambil menanti waktu makan malam.
Sania merasa segan dilayani orang tua. Seharusnya sebagai menantu Sania yang harus turun tangan melayani orang tua. Ini malah sebaliknya.
"Ayok diminum! Kalian kelihatan capek." Bu Jaya mengatur setiap cangkir sesuai posisi duduk setiap orang.
"Terima kasih..mana papa? Tadi ada di depan" kata Bu Jaya mencari Pak Jaya yang tak tampak batang hidung.
"Papa di sini. Papa lihat Sania pulang ambil file untuk dibaca Sania. Dalam bahasa Jerman sih!" Pak Jaya muncul dengan map di tangan. Wajah Pak Jaya berseri-seri melihat mantu kesayangan pulang.
"Kakak ipar sakti..serba bisa." puji Fadil tetap pancarkan mata penuh rasa kagum.
"Fadil ini gombal ngak habis-habis. Kasihan tuh abangmu!" ujar Bu Jaya sekaligus ngejek Bara tak pandai ambil hati Sania.
"Kakak ipar seperti buka lowongan kerja ya?"
"Lowongan kerja?" Sania dipenuhi tanda tanya.
"Hehehe..bawaan pingin ngelamar.." gombal Fadil telak bikin Sania tersipu. Bara menggeram Sania dirayu di depan mata.
Pak Jaya dan bininya terpingkal-pingkal lucu melihat wajah Bara memerah menahan emosi.
__ADS_1