MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Kehancuran Bobby


__ADS_3

Roy mengangguk paham maksud Bara menjaga perasaan Sania. Sejelek apapun Bobby dia pernah ada di masa lalu Sania. Cuma Sania tak seperti Bara gagal angkat kaki dari masa lalu. Sania lebih tegar cepat move on.


"Aku temui Bobby dulu atau kita hajar habisan." tawar Roy dengan geram. Karyanya dirusak orang tak bertanggung jawab. Roy punya sifat lebih urakan dari Bara tak kenal kata takut.


"Jangan dulu! Kita suruh orangnya teleponi dia kasih tahu sudah tertangkap. Biar dia yang cari kita! Usahakan tak libatkan Sania!" kata Bara sambil lontarkan pandangan ke arah Sania yang tekun menyelesaikan tugas. Bara tak mau Sania makin terluka dengar sifat tak gentleman Bobby. Wanita itu pasti akan makin menyesal pernah jadi bagian dari hidup Bobby.


Roy meremas tangan sendiri menahan emosi. Dia harus pandai kontrol emosi agar Sania tak curiga telah terjadi sesuatu di lokasi proyek.


"Hari ini aku akan tinjau tiga lokasi. Kau mau ikut?" Roy alihkan pembicaraan agar tak larut dalam amarah segunung. Siapa tak kesal hasil jerih payah dirusak dalam semalam. Roy bekerja sebaik mungkin salurkan hobi juga tampilkan kreasi seorang sarjana pertamanan.


"Aku akan ajak Sania pilih perabot untuk gedung baru kita. Kau suka perabotan model apa? Atau kau mau pilih sendiri?"


"Aku dapat meja?" seru Roy kegirangan dijadikan karyawan tetap tanpa lalui tahap wawancara.


"Kau kuangkat jadi wakilku! Semoga kau tak melepaskan kesempatan baik ini."


Roy surprise tak menyangka Bara percaya padanya ikut jadi pemimpin di perusahaan yang mulai berkembang pesat.


"Yang benar bro...apa bukan macan kecilmu lebih cocok duduk di situ?"


Bara menggeleng punya pandangan tersendiri tak ingin Sania terlalu lelah urus banyak kerja. Bara mau Sania santai kerjakan yang tak makan pikiran.


"Dia sudah terlalu lelah selama ini. Aku mau dia rilex biar cepat kasih aku Bara junior."


"Sudah belah duren?" Roy mengedip genit cari tahu sampai di mana hubungan kedua manusia aneh ini.


"Apa aku biksu Shaolin yang harus menahan air liur lihat makanan lezat?"


Roy terkekeh melihat Bara sewot diselidiki kehidupan pribadi. Kalimat Bara sudah nyatakan dia dan Sania sudah maju selangkah. Sudah saling memberi dan menerima.


"Legit ngak anak perawan?"


Bara menatap Roy lekat-lekat heran mengapa laki itu yakin Sania gadis suci. Dari mana Roy bisa ambil kesimpulan Sania masih original.


"Dari mana kau tahu dia masih original?"


"Gampang...bahasa tubuhnya kaku bila berhadapan dengan cowok. Menghindar kalau didekati. Coba kalau sudah mantan perawan. Jumpa laki bawaannya mau nempel melulu."


"Cuma segitu analisamu? Terlalu dangkal...cewek original itu hormati diri sendiri tak umbar aurat! Setiap jengkal tubuhnya terasa berharga. Tuh kau lihat Sekar! Dia jauh lebih baik dari Sania mengenakan hijab. Tapi Sania juga baik di mataku. Pakaian sopan walau belum berhijab. Semoga suatu saat di mau ikut jejak Sekar tutup aurat."


'Kau juga tertarik pada Sekar?"


"Tidak...aku sudah tutup hati untuk semua wanita selain Sania. Aku nyaman bersama bini mudaku. Kalau kau suka jangan kendor! Kejar."


Roy acung jempol makin bersemangat dapat dukungan Bara dekati bakal karyawan di kantor ini. Dari awal Roy sudah incar Sekar pada waktu wawancara. Gadis itu punya tampang sendu memukau retina Roy.

__ADS_1


"Aku mau dia jadi sekretarisku." usul Roy masih terbayang sosok berhijab pencuri hati.


"Terserah asal jangan kau rebus anak orang sekedar iseng! Sania pasti akan undang dukun sunat babat rata batang kaktusmu. Sekar itu rekan kerja Sania di Build." ujar Bara acuh tak acuh keinginan Roy rekrut Sekar sebagai sekretaris.


Roy menyilangkan telapak tangan di bagian vital badannya membayangkan rasa sakit di sunat dukun. Habis sudah aset paling berharga bila disunat sekali lagi.


Bara tertawa kecil ejek tingkah Roy ketakutan diancam pakai nama Sania. Roy sudah kenal sifat keras Sania pasti akan laksanakan ancaman bila terjadi hal tak terduga.


"Mengapa? Takut ya!"


"Takut apa? Cuma ngilu bayangkan disunat lagi. Apa yang tersisa? Habis deh modal gue!" Roy meringis.


"Makanya pikir ulang kalau mau main petak umpat sama Sania. Aku saja mati kutu bila berdebat. Tak ada sela buatku membalas." keluh Bara lebih mirip mengadu pada Roy kalau dia sering di sekak oleh bini mungilnya.


"Aku percaya padamu bro! Bini ente terlalu cerdas. Apa sih yang dimakan emaknya waktu hamil dia? Otak Thomas Alfa Edison atau minum darah Albert Einstein?" Roy ikutan mengeluh hadapi bini Bara. Otak brilian ditambah mulut setajam silet. Siapa sanggup berdebat dengan orang begitu.


"Hidupku akan makin sulit kalau berbeda pendapat." Bara kembali mengeluh mengenang hari penuh sindiran dari Sania. Sania tak pernah marah cuma setiap kalimatnya tersusun rapi mengoyak keangkuhan Bara.


"Kapan ente ceraikan?" ucap Roy bergebu bangun angan indah bisa gantiin posisi Bara sebagai suami Sania.


"Apa aku ada bilang mau pisah sama dia? Ngak usah mimpi dapatkan biniku! Dia sudah lolos seleksi mutlak milik gue. Sudah...dari mana berkhayal mending ente turun lokasi. Eh..gimana selera ente soal furniture ruangmu?"


"Aku pilih sendiri deh! Aku suka konsep alami. Ntar ente tinggal bayar."


"Terserah! Aku mau keluar sebentar dengan bini cantikku. Kau atur jadwal hari ini. Kuusahakan turun ke lokasi!" Bara bangkit dari kursi kebesaran kantor menuju ke tempat Sania.


Bara dan Sania meluangkan waktu melihat kondisi kantor sebelum beli furniture untuk isi ruang kerja. Ruang kantor Bara di lantai sepuluh lantai terakhir dari gedung pemberian papa Bara. Ruang kantor yang luas plus kamar kecil untuk istirahat. Bara suka itu karena bisa curi waktu bermesraan dengan bini kecilnya. Otak nakal Bara berkelana ke mana-mana bayangkan bekerja diselingi acara romantis.


Sania minta ruang sendiri mengingat ruangan tempat dia kerja harus ditambah meja gambar sketsa yang lumayan makan tempat. Sania tak mungkin letakkan meja gambar di ruang Bara yang notabene untuk terima tamu sekaligus tempat Bara peras otak untuk memajukan perusahaan.


Akhirnya capai kesepakatan Sania mendapat tempat di samping ruang Bara. Bara akan usahakan antara dua ruang itu diberi pintu agar mereka bisa bebas keluar masuk kedua ruang. Pararel gitulah!


Bara dan Sania asyik menata kantor baru. Di tempat lain seorang lelaki sedang duduk frustasi di rumah. Bobby tampak kuyu duduk berhadapan dengan kedua orang tuanya. Ketiga orang itu tenggelam dalam alam pemikiran masing-masing.


Bobby menjambak rambut sendiri tampak menyesali semua kejadian dalam hidupnya. Andai ada mesin waktu dia ingin kembali di mana Sania masih menjadi pacarnya.


Keserakahan serta iman tipis telah mengantar Bobby terjun bebas masuk jurang. Semua telah menjadi bubur. Terjerat cinta bintang top membuka pintu neraka baginya.


Waktu Sania dia tak hargai wanita itu. Sekarang lepas dari tangan baru menyesal. Penyesalan yang datang terlambat.


"Bobby...apa rencanamu selanjutnya? Kalau kau bersikeras beli rumah ini maka kau kehilangan dana segar lagi. Papa harap kamu buang segala gengsi. Pindah ke rumah papa saja." Pak Barata papa Bobby tak tega lihat anaknya jatuh rantai. Roda jadi tak berputar alias macet.


"Dari dulu mama larang kamu dekat dengan Ranti. Reputasinya kurang bagus. Kau bersikeras dia baik anak pengusaha kaya. Sekarang apa? Uangmu habis terkuras biayai pola hidup mewahnya. Perusahaan hancur. Kau kehilangan segalanya." timpal Bu Barata memang dari awal melarang hubungan Ranti dan Bobby. Bu Barata suka pada Sania yang sederhana tapi pintar urus perusahaan. Tidak seperti bintang top yang hanya tahu duit.


Bobby menatap kedua orang tuanya dengan mata merah. Lingkaran hitam tercetak jelas di wajah gantengnya. Cap mata panda.

__ADS_1


"Bobby salah tergoda Ranti. Ini karma buat Bobby telah sakiti Sania. Bobby menyesal. Sania sama sekali tak mau diajak bicara. Aku sudah janji akan nikahi dia tapi dia nolak."


"Kamu pikir Sania orang gila mau jadi isteri muda? Dia begitu berprestasi mana mau kamu bodohi. Cari bintang malah ketemu beling. Mana isterimu sekarang? Hamil masih ngelayapan. Mama dengar perusahaan keluarga Ranti juga sedang dalam masalah. Perusahaannya sudah pindah tangan. Ini berita bagus." sungut Bu Barata dongkol pada Ranti telah hancurkan masa depan Bobby. Andai Bobby menikahi Sania mungkin kini mereka bahagia. Semua akan lancar.


"Ma... kenapa tak dukung anak sendiri malah menghujat." kata Bobby tak habis pikir mengapa mamanya demikian benci Ranti. Hanya karena Ranti boros atau gara-gara kehilangan proyek-proyek besar.


"Bagaimana mama tak kesal? Perusahaan yang susah payah kau bangun hancur dalam tempo singkat. Kau lihat tampangmu? Mirip kakek berusia lanjut." Bu Barata masih belum puas tumpahkan rasa kesal pada kecerobohan Bobby menikahi lintah pengisap darah.


"Mamamu benar nak! Ingat betapa jayanya kamu waktu di dampingi Sania. Dia begitu gigih melobi proyek. Eh kamu malah berzinah dengan bintang film. Wajar Sania sakit hati. Papa tak salahkan dia! Kau ingat proyek PT. SHINY? Padahal itu jatahmu bila Sania ada. Papa dengar ada tiga perusahaan masuk tender. Itu tak ada kamu. Kau berpikir ulang apa salahmu? Nama besar kosong kau pertahankan. Kini kau betulan dapat zonk!"


Bobby mendesis menyesal telah campakkan Sania. Bobby pikir Sania gampang dirayu pakai segala rayuan maut. Paling nanti Bobby jadikan isteri siri. Tak disangka Sania demikian tegar langsung menghilang tak peduli kekayaan Bobby.


"Aku akan dapatkan Sania lagi. Dia itu cinta mati padaku. Dia pasti mau kalau kunikahi nanti." gumam Bobby


"Jangan gila kau! Sudah dapat azab masih tega bodohi anak orang. Pikir cari proyek. Bukan pikir bodohi anak orang. Kasihan Sania." Bu Barata tak setuju Bobby hendak berbuat curang bodohi Sania lagi.


"Lalu bagaimana? Kunci proyek PT. SHINY di tangan Sania. Pertama Sania kasih konsep buram saja mereka sudah tertarik apa lagi kalau Sania rancang secara detail."


"Kau mau nikahi Sania demi raup proyek? Kumpul duit untuk difoya dakocan plastik mu? Bobby..mama sarankan jangan berbuat tolol lagi! Cari jalan bangkit! Bukan main kotor gitu! Kalau hatimu bersih mungkin suatu saat Sania bisa kembali kalau dia memang cinta mati padamu. Bersiaplah kita pindah ke rumah! Jangan paksa buang air besar kalau tak sakit perut. Nanti yang keluar ususmu." Bu Barata bicara panjang lebar agar Bobby legowo terima nasib.


Bobby masih muda. Masih bisa bangkit kalau mau berjuang. Sekali jatuh bukan akhir dari segalanya. Itu adalah awal dari kebangkitan. Sekali jatuh maka Bobby akan hati-hati melangkah agar jangan terpeleset lagi.


"Tapi apa kata Ranti pindah ke rumah lebih kecil. Dia itu susah dibilangin." protes Bobby masih ingin jaga mood Ranti yang sedang hamil anaknya.


"Kalau kau tanam dana lagi di rumah ini maka siap-siap gulung tikar. Sekarang gaji karyawan susah kau bayar masih mau pertahankan mood binimu?" bentak Pak Barata tak tahu ke mana akal sehat Bobby. Ramuan apa diberi Ranti sampai Bobby hilang kesadaran.


'Achhh..." geram Bobby kesal tak dapat jalan keluar masalah rumah.


"Kau telah gali lubang kuburanmu sendiri. Puas bukan?" sindir Bu Barata tak kalah jengkel pada sikap tolol Bobby masih ingin jaga gengsi Ranti.


"Aku harus jumpa Sania. Rumah ini atas namanya. Aku harus bujuk dia serahkan rumah ini. Dia pasti mau. Biasa dia patuh padaku." ujar Bobby kembali semangat seakan rencananya akan berhasil jadikan Sania orang bego.


Bu Barata menggeleng tak sangka anak satu-satunya setolol itu. Sania besar makan nasi bukan makan tai. Setelah pengkhianatan besar dilakukan Bobby mana ada kata maaf dari wanita itu. Dari mana sikap pede Bobby ingin cundangi Sania lagi.


"Bobby...kau manusia atau setan? Setelah kau lukai hati Sania masih ada muka cari dia?" Ucap Pak Jaya ikut geram pada Bobby. Pak Jaya kecewa telah besarkan seorang anak berhati busuk. Jasa Sania dibalas dengan letakkan racun pada tubuh wanita muda itu. Masih pantaskah Bobby disebut manusia?


"Jangan kau sentuh Sania! Biarkan dia hidup tenang tanpa gangguan mu. Pulang dan mulai dari awal!" Bu Barata kasih peringatan ke sekian pada anaknya.


"Tetapi Ranti.."


"Ranti lagi...dia bintang top. Dia bisa jaga diri!"


"Beri aku waktu untuk cari jalan!"


"Jangan ganggu Sania!" seru Bu Barata tak ingin Bobby makin masuk jurang dosa.

__ADS_1


"Papa dan mama pulang. Jaga diri! Kalau papa jadi kamu bangkit mulai urus perusahaan. Mulai dari yang kecil adalah langkah awal mencapai kesuksesan. Jangan asyik ingat gengsi! Gengsi tak bisa beri kamu rasa kenyang. Justru bawa kamu kelaparan." nasehat Pak Jaya sebelum pamit dari rumah Bobby yang sebentar lagi jadi bekas rumah.


Mata Bobby nanar menatap kepergian kedua orang tuanya. Semua kata-kata kedua orang tuanya bermain di otak Bobby. Salahkah dia terlalu cinta pada Ranti?


__ADS_2