MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Sania Ngambek


__ADS_3

Rangga menarik nafas merasa dadanya ngilu dicueki adik yang paling dia sayangi. Andai waktu bisa dibalik mungkin Rangga akan berpikir ulang beri statement ringankan Ranti di kantor polisi. Rangga kenal Sania si lembut hati tentu tak keberatan Ranti hirup udara bebas asal tahu salah. Siapa sangka reaksi Sania jauh dari dugaan Rangga.


"Kau jemput dia di apartemennya. Jangan biarkan dia sendirian!"


"Aku segera ke sana! Mas tak perlu cemas. Aku bisa bujuk Sania." Bara menguatkan Rangga. Rangga pasti sedang dilema antara Ranti dan Sania. Keduanya adalah adik. Rangga hendak damaikan kedua orang itu namun salah tak minta pendapat Sania.


"Terima kasih. Nanti hubungi aku kalau dia sudah tenang. Aku minta maaf tak bisa jadi Abang baik buat Sania."


"Mas sudah berusaha. Serahkan padaku saja! Assalamualaikum..." Bara menutup ponsel angkat pantat dari kursi kerajaan PT. ANGKASA JAYA. Tujuan Bara tentu Sania.


Bara tak luput dari rasa kuatir kesehatan Sania. Isterinya tak boleh stress mengingat kandungan Sania baru beberapa Minggu. Rawan keguguran.


Bara menjalankan mobil kesetanan mencapai apartemen Sania. Perasaan tak enak bergumpal dalam dada. Berbagai klise buruk bermain di otak Bara. Gimana kalau Sania patah arang berpikiran pendek bunuh diri. Gimana kalau Sania pusing jatuh dari lift. Dugaan buruk yang bertebaran di benak Bara.


Akhirnya mobil Bara berhenti di depan gedung tempat tinggal Sania. Ketakutan Bara sedikit reda akan segera jumpa Sania bini kecil tercinta. Bara memarkir mobil pada tempatnya lalu ayun langkah lebar menuju ke kamar Sania di lantai sembilan.


Bara bergegas mengejar lift mengangkat dirinya naik ke rumah Sania. Lift bergerak cepat masih terasa lamban di mata Bara. Situasi sekeliling tak menarik perhatian Bara. Bahkan seorang cewek bule dalam lift beri senyum manis serasa seringai serigala. Tak menarik sama sekali.


Ting.


Pintu lift terbuka persis di lantai sembilan. Tanpa ba bi bu Bara melesat keluar diiringi tatapan aneh cewek bule tadi. Dalam otak cewek bule itu pasti sangka Bara kebelet sakit perut hendak bab. Mana ada orang kayak dikejar setan vampire masuk ke kamar orang. Bule itu baru pertama kali lihat Bara di kisaran apartemen. Apa Bara penghuni baru di situ.


Bara menekan beberapa angka sandi masuk kamar Sania. Laki ini sudah beberapa kali singgah di apartemen Sania maka hafal no sandi Sania.


Ruangan apartemen Sania sunyi senyap tak bersuara. Sekilas tak ada penghuni. Hawa dingin menyeruak ciptakan keseraman. Walau Bara seorang cowok pemberani tak urung gentar berada di ruang dingin.


"Sayang..." panggil Bara memecah keheningan. Tak ada jawaban. Hanya ada gema suara Bara. Bara melangkah lebih jauh ke kamar Sania. Semoga isterinya istirahat dalam kamar.


Pintu kamar Sania tak dikunci memudahkan Bara menyelinap di ruang pribadi Sania. Tak ada bayangan Sania di kasur warna putih bersih. Mata liar Bara mengitari seluruh ruang kamar lihat kalau-kalau Sania umpet di kolong meja. Pikiran konyol tapi bisa saja terjadi. Orang putus asa kadang suka tak rasional.


Jangan Sania. Bayangan saja enggan muncul. Ke mana bini kecilnya? Mata Bara akhirnya mentok di pintu kaca. Tempat favourite Sania yakni kamar mandi.


Bara tak ragu buka pintu kaca itu. Benar dugaan Bara. Sosok mungil penghias mimpi berendam dalam bathtub penuh busa lembut. Mata wanita Bara terpejam seperti tertidur dalam busa berisi air hangat.


Bara menarik nafas lega. Dada plong dapatkan sang pujaan sehat walafiat tak kurang apapun. Bara dekati pinggir bak mandi perhatikan wajah imut yang bikin dia pontang panting bawa mobil secepat kilat sampai di apartemen. Orang yang jadi target malah santai berendam dalam busa.


Sania tetap cantik di mata Bara dalam kondisi gimanapun. Sania is the best. Bara hadiahkan kecupan lembut persis di bibir Sania sebagai tanda lega.


Sania buka mata menatap Bara dalam-dalam. Ada luka tersirat di mata indah Sania. Bara tahu Sania terluka oleh keputusan Rangga hanya tuntut Ranti minta maaf. Kesalahan Ranti pada Sania sudah berlapis-lapis bak kue lapis legit.


"Sayang...sudah mandinya! Dedek bayinya masuk angin nanti." bisik Bara pelan di sisi kuping Sania.


"Hatiku panas Lieve...perjuanganku pupus gara mas Rangga." Sania memilin bibir mungilnya bikin Bara gregetan ingin ******* bibir manis Sania. Bibir mungil itu terlalu menggoda.


"Bersihkan badanmu dulu. Kita bahas bersama. Lieve selalu dukung kamu. Ok?" bujuk Bara tetap lembut. Bahaya andai Sania ngambek padanya. Rangga sudah kena kartu merah dari ibu hamil ini. Semoga Bara tak melanggar batas ikutan kena hukuman kartu merah.


"Gendong..." rengek Sania manja.

__ADS_1


"Nanti bajuku basah sayang! Lieve kan masih harus balik kantor. Kita balik kantor bersama ya! Roy mau diskusi soal proyek pulau B. Dia masih kurang ngeh rancanganmu!"


Bara pakai tameng proyek alihkan ingatan Sania dari perkara Ranti. Diteruskan ngambeknya sampai lahiran anak mereka belum tentu kelar.


"Seberapa tolol Roy itu? Gitu saja ngak ngerti! Semua sudah dicantumkan jelas dan konkrit." racau Sania terpancing ocehan Bara. Roy pula jadi sasaran Sania. Dalam hati Bara minta maaf pada Roy yang tak tahu apa-apa harus jadi kambing hitam.


"Roy kan dasarnya ahli taman. Kita bawa dia jadi arsitek kan perlu sedikit pelatihan. Maklumi saja!"


Sania keluar dari bathtub bertelanjang ria. Tubuhnya dipenuhi busa-busa bekas sabun. Busa lembut tersebut tak mampu tutupi tubuh indah Sania dari tatapan nakal Bara. Body Sania sedikit berubah montok. Sepasang gunung kembar makin kokoh minta didaki pencinta gunung.


Bara menelan Saliva gugup disuguhi pandangan menggetarkan jantung. Bara laki normal bereaksi pada tubuh sintal Sania. Tangan Bara terulur mengelus bokong bulat milik pribadi Bara. Di bawah Sono ada sesuatu ikut bergetar aneh. Bazoka yang berapa hari ini nganggur terusik.


Sania menepis tangan nakal Bara sambil busungkan dada menantang kelakian Bara. Gerakan Sania makin memancing harimau tidur. Terbangun mengaum kencang kelaparan minta diumpan.


Apa Sania tak sadar setiap gerakannya memancing gairah Bara. Sania pura-pura bodoh atau masa bodoh dengan tatap lapar Bara.


"Keluar Lieve! Aku mau bersihkan sisa sabun."


"Biar kubantu ya!" desah Bara dengan suara parau menahan desakan gairah.


"Ngak usah...emang aku cacat?" Sania mendorong Bara keluar kamar mandinya tanpa ampun.


"Sayang...aku hanya ingin bantu mandikan dedek bayi dalam perutmu. Aku akan pelan." rayu Bara sudah tak sanggup menahan diri untuk jenguk dedek bayi di perut Sania.


"Mandikan bayimu? Pakai apa?" Mata Sania mengerjap bingung.


Sania memekik kecil digerayangi Bara alasan bantu mandi. Akal bulus Bara berhasil buat Sania menyerah pada keperkasaan Bara. Baru kali ini Sania bercinta dengan suami di bawah guyuran air shower. Rasanya aneh mendatangkan sensasi tersendiri. Bara lembut sekali memasuki dirinya takut mengganggu dedek bayi dalam rahim Sania.


Rencana membujuk Sania berubah jadi acara ritual sepasang suami isteri. Semua rencana ambyar oleh nafsu Bara. Bara semakin berhasrat sejak Sania hamil. Di mata Bara isterinya makin sexy berubah dikit montok. Berapa bulan lagi bagaimana bentuk tubuh ibu hamil itu masih jadi bayangan Bara. Bagaimanapun perubahan Sania kelak takkan goyangkan iman Bara untuk berpaling. Cukup kegagalan di masa lalu. Sania untuk kini dan selanjutnya.


Satu jam ke depan kedua orang ini terkapar di ranjang meresapi keajaiban cinta. Cinta tulus, cinta pasrah terasa lebih manis dari pada cinta di dasari kebohongan. Sekali berbohong akan berlanjut kebohongan kepanjangan. Hasilnya pasti zonk. Bobby dan Ranti sudah rasakan gimana pahitnya cinta dibangun dari kebohongan. Ujungnya berantakan.


Bara memeluk Sania masih bertelanjang dada. Bara dekatkan kepala Sania ke jantungnya supaya bininya tahu setiap detak jantungnya untuk wanita tercinta. Bara bukan tukang gombal macam Fadil. Rasa pada Sania tulus keluar dari relung hati.


"Sayang...kau bahagia bersamaku?"


"Hhhmmm.." sahut Sania ngantuk.


"Kok cuma hhhmmm..??"


"Capek pingin bobok!"


"Tidurlah! Setelah itu kita pulang ke rumah mama ya! Lieve bisa disate kalau kau nginap sini."


"Tapi aku mau nginap di sini malam ini. Lieve pulang saja ke sana. Besok jemput aku." sahut Sania tanpa buka mata. Bercinta dengan Bara menguras energi ibu hamil itu.


"Mana boleh sama mama. Beliau bisa gila kalau kau tak pulang. Sedetik kamu tak ada kabar beliau bagai kesurupan. Sekarang kita tidur."

__ADS_1


"Hhhmmm.." Sania tak punya energi berdebat dengan Bara. Istirahat untuk isi batere yang sudah Soak. Lowbat dipakai layani badak jantan perkasa.


Bara ikutan tutup mata puas telah jelajahi seluruh tubuh Sania. Nikmat bikin ketagihan. Andai Sania tak hamil pasti akan dilanjutkan ke ronde kedua. Berhubung ada Debay Bara cukup puas walau cuma sekali.


Lewat tengah hari keduanya baru terbangun. Sania bergegas bangun untuk bersihkan diri untuk tegakkan ibadah sholat zhuhur. Lewat dikit tak apa asal tetap sholat. Keduanya mandi wajib setelah bercinta penuh kemesraan. Sania tunjukkan pada Bara untuk jadi muslim sejati. Dulu Bara boleh bolong-bolong dirikan sholat tapi kini tak boleh. Seorang suami wajib jadi imam bagi keluarga.


Andai imam tak patuh pada rukun Islam bagaimana bisa jadi kepala rumah tangga bijak. Beri contoh buruk buat keluarga. Sania teguh pada agama, Bara selaku suami harus lebih teguh dari isteri.


Bara terpaksa bujuk Sania balik kantor dengan tujuan Sania bisa dekat dengannya. Bara tak mungkin tinggalkan Sania meratapi kesalahan Rangga seorang diri dalam apartemen. Bisa stress bini Bara itu.


Syukurlah Sania bukan wanita manja mudah terperangkap dalam kekesalan. Bara pintar putar balik emosi Sania pakai cara bahas proyek. Sania pakar proyek cepat terpancing bila diajak bahas soal kerja. Untuk sejenak sakit hati pada Ranti tertunda. Ntah kapan persoalan ini akan diungkit Sania lagi.


Sania mengeringkan rambut sebelum berangkat ke kantor. Ngak mungkin Sania datang ke kantor dengan rambut basah. Bisa heboh satu kantor Bara bawa Sania pamer rambut basah. Di otak semua karyawan pasti tercetak adegan mesum pasangan itu.


Bara ambil kesempatan teleponi Roy kasih tahu jadi kambing hitam untuk jaga mood Sania. Mengalah untuk bumil dapat pahala lipat ganda dari Yang Maha Kuasa. Roy mana bisa menolak selain angguk. Jadi kambing hitam demi sahabat terbaik bukan hal sulit. Asal jangan jadi kambing bandot.


Sebelum ke kantor Bara mengajak Sania makan siang di restoran vegetarian. Bara tahu selera Sania tak suka makan daging merah. Maka tanpa ragu Bara mengajak sang isteri makan siang di restoran yang disebut. Melayani isteri hamil sama saja mengurus satu proyek raksasa. Sama-sama melelahkan.


Bara menggandeng Sania semesra mungkin tunjukkan pada dunia kalau dia mencintai wanita yang jauh lebih muda darinya. Cinta tak pandang usia juga tak kerling ras. Cinta itu bebas selama ada klik di hati yang disinggahi dewa cinta.


Bara membantu Sania duduk dengan gaya Galant laki sejati. Bara duduk seberang dengan Sania agar bisa bebas menatap wajah cantik yang porak poranda perhatiannya berapa hari ini.


Sania risih dipandang dalam-dalam oleh laki yang notabene suaminya. Kelakuan Bara bikin Sania merasa wajahnya ada tertinggal sisa sarapan pagi. Kotoran menempel di sana. Reflek Sania menyentuh pipinya cari di mana titik fokus noda di wajah.


"Kenapa wajahku Lieve?"


Bara tersenyum, "Kau makin cantik. Aku beruntung dapat bini sebaik dan cantik kamu."


"Aduh gombalan jaman Siti Nurbaya! Kadaluarsa..." Sania pura-pura cuek padahal dalam hati berbunga-bunga dirayu suami.


"Aku Datuk Maringi dong!"


"Hehehe...mirip. Tua..jelek..sontoloyo.."


Mata Bara membesar diejek sontoloyo. Baru sejam lalu Sania mendesah kenikmatan di bawah tindihan Bara kini lontarkan kalimat mengejek keperkasaan sang suami. Lain di mulut lain di hati.


"Ntah siapa tadi menjerit-jerit nikmat? Selingkuhan aku kali ya?" balas Bara disambut delikan mata indah Sania.


"Awas berani selingkuh. Burungmu dijamin berubah bentuk. Gundul tinggal satu mili." ancam Sania tidak tanggung-tanggung.


Bara tertawa terbahak-bahak mengundang perhatian orang lain. Keduanya tak sadar ada sepasang mata menatap mereka dengan tatapan sirik. Ada kesedihan di dalam sepasang mata dipoles warna warni itu. Mengapa tawa Bara tak jadi miliknya. Bara makin jauh meninggalkan dirinya. Kini tak ada alasan mencari Bara lagi karena tak ada sandera yang bisa dekati Bara lagi. Kintan sudah diambil Rudi. Otomatis Arsy tak bisa gunakan Kintan cari perhatian Bara. Ya wanita bermata itu adalah Arsy.


Arsy kebetulan makan siang bersama teman satu gang janda kembang. Mejeng sambil cari mangsa untuk dijadikan teman sesaat ataupun teman seumur hidup. Tak disangka Arsy jumpa pasangan yang sedang bahagia itu. Arsy iri pada nasib bagus Sania berhasil duduki tahta di hati Bara.


"Ssssttt...Ar...bukankah itu gudang uangmu? Kok bersama daun muda?" salah satu teman Arsy mengenali Bara.


"Itu isterinya. Pengganti Nania...aku bodoh serahkan Kintan pada Rudi. Tak ada cela buatku dekati Bara lagi. Sialnya Bara makin tajir. Orang tuanya siap bagi warisan pada Bara. Di tambah proyeknya segunung." keluh Arsy menyesali ketololannya yakin Bara jatuh ke tangannya setelah Nania meninggal.

__ADS_1


__ADS_2