MENCARI CINTA SEJATI.

MENCARI CINTA SEJATI.
Rayuan Bara


__ADS_3

Bara pusatkan konsentrasi cari di mana posisi Sania saat ini. Bara belum rela kehilangan Sania dan anaknya. Ibu hamil suka irasional. Berbuat sesuka tanpa pikir akibat. Bara takkan maafkan Rangga bila terjadi sesuatu pada bini kecilnya. Tidak mudah bina rumah tangga damai, orang samping pula yang hancurkan.


Bara naik ke lantai sepuluh ke tempat kerja Sania. Semoga Sania mentok di sana tidak ciptakan kegaduhan lebih besar.


"Sayang..." panggil Bara bergema di lantai tanpa penghuni. Hari Minggu semua karyawan libur, nyamukpun mungkin ikut libur saking sepinya.


Bara membuka pintu ruang kerja Sania tanpa permisi. Pada siapa Bara minta bila yang bersangkutan tak ada di tempat.


Pintu terkuak memaksa Bara pusatkan mata pada sosok ringkih yang termenung duduk di kursi empuk warna biru. Bara menarik nafas lega telah menemukan permata hati. Ntah apa yang bakal terjadi bila Sania tak ada di ruangnya. Bara pasti akan stress berat.


Bara mendekati isterinya langsung membawa kepala Sania ke perutnya. Sania sedang duduk tingginya cuma sebatas pinggang Bara. Di situlah kepala Sania mendarat.


Bara bisa menebak apa yang membuat Sania galau. Tak jauh dari dukungan Rangga terhadap Ranti. Sania merasa dicampakkan Rangga ke jurang. Sania berjuang sekian tahun demi keadilan. Namun Rangga memberi angin surga akan membantu menindak Ranti. Sania kecewa bukan main.


Melihat kesedihan Sania, Bara memeluk Sania lebih erat lagi. Bara ingin beri perlindungan pada wanitanya. Sania segalanya bagi Bara.


"Sayang...kenapa marah?"


"Lieve...aku gagal!" desah Sania tanpa tangis.


"Belum gagal sayang. Lieve akan tuntut keadilan untukmu. Ranti tetap diproses sesuai hukum. Kelak sudah ada keputusan hukum baru terserah kamu. Mau biarkan Ranti melahirkan di penjara atau bebaskan dia. Itu hakmu." bujuk Bara menyenangkan Sania. Bara tak punya pilihan selain menangkan ego Sania.


"Benarkah?" sebuah pertanyaan polos meluncur dari bibir mungil Sania.


"Tentu sayang. Kamu dizholimi mana mungkin Lieve tinggal diam." Tangan Bara membelai rambut Sania yang masih setia nempel di perutnya. Wajah Sania berangsur berona merah. Pantulan cahaya kaca di dinding makin menerangi kulit putih Sania.


Bara akui kecantikan isterinya yang makin terpancar bila hatinya tenang. Untuk saat ini Bara tak ingin memperburuk kondisi Sania. Biarlah Bara sedikit egois korbankan Ranti mendekam di tahanan polisi. Bara belum bisa penuhi permintaan Rangga bebaskan Ranti. Ada yang lebih berharga harus Bara rawat jangan sempat hancur. Yakni perasaan Sania.


"Apa aku jahat?" Sania bertanya pada Bara


"Bagaimana kata hatimu sayang. Apapun keputusanmu Lieve dukung! Asal jangan merusak kesehatanmu!"


"Ranti dan Amanda harus rasakan penderitaan ku selama ini. Mereka sudah hidup gelimang harta mamaku. Saat mereka bayar."


"Kita serahkan pada yang berwajib! Hukum tak pandang bulu. Salah tetap salah. Kita turun ya! Kasihan anak-anak kalau kau hilang. Bukankah kamu mau beri sumbangan pada anak-anak itu?" Bara mencoba alihkan topik bahasan ke arah lain. Sania pasti takkan nolak bila diajak beramal.


"Iya Lieve!"


Bara merapikan rambut Sania yang tergerai indah menjuntai ke bawah. Tangan Bara tak bisa diam asyik menyentuh bagian wajah Sania takut wanita masih menyimpan kegundahan.


"Lieve gendong?" olok Bara sambil menarik Sania bangkit dari kursi kerjanya. Bara menempelkan tubuh mungil Sania ke dadanya ingin Sania tahu bahwa Bara menganggap Sania bagian dari tubuhnya. Hati mereka menyatu berdegup suara cinta.


"Aku damai begini Lieve. Maukah Lieve janji akan ada untukku setiap saat?"


"Bukan setiap saat tapi setiap detik. Lieve akan jadi oksigenmu. Setiap kamu bernafas Lieve ada dalam ******* nafasmu."


"Terima kasih..."


"Yok! Nanti papa dan mama kehilangan kita. Kau kan mantu kesayangan mama."


"Isshhh...ngawur! Aku hanya menantu. Lieve dan Fadil anak beliau."

__ADS_1


"Mama sayang padamu. Aku dan Fadil sudah kena offkir."


"Omong-omong Fadil ke mana? Kok lama tak nampak?"


"Rindu pada pengacau itu?"


Sania terkekeh lihat Bara cemburu pada adik sendiri. Bara muram Sania demikian bahagia ingat Fadil.


"Aku rindu gombalannya. Keponakannya pasti ikut rindu."


"Lieve akan belajar gombal buat anak bini. Tak perlu dengar gombalan picisan Fadil. Tak bermutu."


"Duh yang bau asam cuka! Bukan jaman Lieve cemburuan. Lieve sudah lewat masa cemburu sama adik sendiri. Lieve tua."


"Dosa ngejek suami! Tua-tua gini kamu kan suka. Tuh terbukti sudah hasilkan produk berkualitas super!" Bara mengelus perut rata Sania berisi dua janin.


"Otak mesum. Kita pacaran terusan di sini atau turun ke lantai dasar?" Sania teringat mereka masih ada hajatan di lantai bawah.


Bara menepuk jidat lupa mereka harus segera turun layani tamu. Keasyikan ngobrol sampai lupa tujuan mulia mereka.


Bara menggandeng Sania berdamai dengan keadaan menuju ke lantai bawah. Keduanya sepasang suami isteri bikin iri orang yang melihat. Suami ganteng dan istri cantik jelita. Pasangan klop.


Rangga dan Lisa mondar-mandir gelisah menanti hasil Bara mencari Sania. Rangga tak bisa berbuat banyak karena buta soal lingkungan kantor Bara. Rangga sengaja tak cerita kehilangan untuk hindari kehebohan. Rangga harus bisa menahan diri tak merusak mood Sania sekarang ini.


Sania sedang hamil muda tak boleh alami guncangan. Andai terjadi sesuatu pada Sania, Bara pasti akan membunuhnya.


Rangga dan Lisa ngucap syukur tatkala sepasang anak manusia bergandengan kembali ke acara syukuran kantor Bara. Raut wajah tak seseram wajah vampire lagi. Rona merah telah tercetak di pipi bebas blush on itu. Rona merah di pipi Sania alami dari sono bukan hasil pulasan alat kosmetik.


"Aduh ke mana saja anak mama? Kita mulai saja acara pengajian." Bu Jaya langsung berkoar begitu nampak Sania. Bu Jaya super sibuk mengurus acara ini sesempurna mungkin. Bu Jaya tak ijinkan Sania turun tangan urus acara syukuran takut mantunya kelelahan.


Sania hanya perlu duduk manis tanpa perlu susah payah bergerak sana sini. Bu Jaya mendudukkan Sania di hamparan karpet ambal berudu yang terbentang di lantai untuk acara pengajian. Bu Jaya yakin Sania bisa mengaji dilihat dari ketaatan Sania terhadap agama.


Bara mencolek Rangga ikut dengannya setelah arahkan bininya pada sang mama. Bara harus bicara dengan Rangga agar tak terulang kejadian sama. Bara harus bisa jaga perasaan Sania. Bukannya Bara tak empati pada Ranti namun Bara tetap bela Sania. Bara tak bisa abaikan rasa sakit hati Sania oleh kesalahan Ranti.


Akhirnya kedua pria dewasa ini bicara di luar gedung jauh dari pantauan Sania. Sejujurnya Rangga tak nyaman telah menyakiti hati Sania tapi apa daya Rangga. Sejelek apapun Ranti dia tetap adik Rangga walau tanpa ikatan darah.


"Mas...aku minta maaf bila tak bisa membantu Ranti. Sania terlalu dendam pada dia. Berulang kali dia sakiti Sania. Hati wanita itu rapuh. Mas maklum kan?" ujar Bara begitu dapat kesempatan bicara.


Rangga mangut maklumi kegalauan Bara. Sebagai suami wajar Bara berpihak pada Sania. Ranti memang keterlaluan menyakiti Sania berulang kali. Di mata Ranti mungkin Sania hanya perempuan tolol gampang dikadali.


"Aku minta maaf juga hanya memikirkan nasib Ranti. Apa rencana Sania terhadap Ranti?"


"Dia bicara hukum. Aku yakin Sania bukan orang keji. Dia pasti akan bebaskan Ranti. Kita tunggu saja bagaimana suasana hati ibu hamil muda itu. Moodnya sedang di bawah. Ini anak pertama kami mas! Aku mohon mas bijak tak bahas soal Ranti dulu. Aku akan cari jalan buka pintu hatinya. Tapi tak bisa sekarang. Ranti tetap ditahan dulu."


Rangga tak bisa membantah kata-kata Bara. Kesalahan di pihak Ranti, tidak berlebihan bila Ranti terima hukuman. Andai Ranti tak hamil Rangga takkan peduli pada wanita nakal itu. Cuma ini menyangkut kemanusiaan. Ranti sedang hamil besar.


"Aku ngerti. Kau tak perlu sungkan. Cukup jaga adikku dengan baik! Aku berterima kasih padamu." Rangga berkata dengan nada patah arang.


"Mas Rangga sabar. Aku akan bujuk Sania ringankan hukuman Ranti cuma butuh waktu. Percayalah! Semua akan membaik."


"Amin.."

__ADS_1


"Mas untuk sementara jangan ungkit soal Ranti di depan Sania! Luka yang diberi Ranti pada Sania cukup dalam. Dia datang lagi fitnah Sania selingkuhan suaminya. Wajar Sania meradang. Aku tahu gimana sosok Sania yang mampu menjaga diri dari Bobby. Sania terlalu teguh maka Bobby tak sabar berpaling darinya."


"Kuakui kelebihan adikku yang satu ini. Orangnya lurus tak bisa dibengkokkan. Bobby orang beriman tipis, berkiblat pada iblis. Dia jatuh itu hukuman menzholimi adikku."


"Jangan salahkan Bobby sepenuhnya! Ranti tak luput dari kesalahan ini. Kalau dia wanita bermartabat tak mungkin rebut kursi pengantin orang. Sania cukup sabar cuma sayang Ranti tak pernah puas lukai Sania. Aku takkan biarkan Ranti berbuat sesuka hati menyakiti Sania."


"Iya..."


"Kita sudahi masalah ini. Dalam dua hari ini aku akan bawa Sania pergi ke pulau B. Mas Rangga urus masalah keluarga kalian sebaik mungkin. Jangan bikin Sania terbebani!"


"Baik...aku janji! Pergilah bawa Sania rilex! Aku akan urus Amanda dan Ranti."


"Kuharap ada keadilan untuk Sania."


"Pasti..."


Percakapan antara dua lelaki ini berakhir. Keduanya kembali ke dalam gedung bergabung dengan tamu lain. Alunan ayat-ayat suci Alquran bergema di gedung berlantai marmer itu. Semua khusyuk membawakan ayat-ayat dari kitab Quran.


Anak-anak panti asuhan cukup fasih mengaji menambah semarak acara pengajian. Sania produk luar negeri tak ketinggalan perlihatkan kemampuan sebagai muslimah sejati. Sholat tak bolong kecuali halangan, fasih baca Alquran. Nilai plus untuk Sania.


Bara menatap Sania dari jauh berbangga hati punya bini berpotensi delapan. Bara tak berani beri nilai sepuluh mengingat Sania manusia biasa tak luput dari kesalahan. PR untuk Bara masih segunung untuk pelajari sifat Sania lebih jauh. Selepas mata memandang Sania adalah wanita sempurna. Cuma Bara berpegang teguh pada kalimat tak ada manusia sempurna di dunia ini. Kesempurnaan hanya milik Allah.


Di akhir acara Sania beri donasi uang cukup besar untuk perbaiki panti asuhan dan ganti tempat tidur yang sudah usang. Ditambah bingkisan untuk para anak-anak yatim berupa pakaian dan peralatan sekolah lain.


Wajah-wajah puas tampak terukir jelas di wajah anak-anak panti. Bayangan tempat tidur baru dan pakaian baru sudah cukup menyenangkan hati mereka. Kasur-kasur lapuk bau kencing akan dipindahkan diganti kasur empuk model masa kini.


Hal kecil begini sudah membahagiakan anak-anak yang hidup serba kekurangan. Mereka tak kenal orang tua mereka, tumbuh besar hanya dikawani sesama anak panti. Semua anak panti bersaudara walau tak ada kaitan darah. Penghuni pantilah keluarga mereka.


Acara bubar lewat Zuhur. Sebelumnya seluruh pengikut acara sholat bersama bagi yang muslim. Yang beragama lain memantau tak mengusik ibadah umat muslim. Kedamaian tampak melingkupi suasana kantor Bara. Tak ada konflik selain saling hormati.


Anak-anak panti diantar balik ke panti oleh bus besar carteran Bu Jaya. Bu Jaya tanggungjawab penuh pada keselamatan undangan acara syukuran kantor Bara. Agra menunduk sedih harus berpisah lagi dengan saudara-saudara yang pernah jadi bagian dari hidupnya. Agra cukup lama jadi penghuni panti asuhan. Semua yang tinggal di sana adalah saudaranya.


Agra sudah menemukan saudara kandung jadi tak mungkin balik ke sana. Sania juga tak ijinkan adik semata wayang berpisah dari keluarga kandung. Agra tanggung jawab Sania dan Rangga.


Sania memeluk Agra seraya melambai pada anak-anak panti yang berada dalam bus bergerak meninggalkan pekarangan gedung kantor Bara. Mata Agra agak berembun menahan tangis ditinggal kawan-kawan. Agra menahan diri untuk tidak cengeng. Rangga selalu mengajar Agra agar kuat melawan cobaan hidup. Sebagai anak laki Agra harus gagah perkasa. Tanggung jawab Agra tidak kecil karena masih ada butik peninggalan mamanya. Kelak Agra harus warisi semua itu.


"Gra...mau nginap di tempat mbak?" tanya Sania mengalihkan perhatian Agra agar lupakan kesedihan.


"Besok sekolah. Sabtu depan boleh?"


"Mbak mau Agra tinggal bersama mbak saja. Mbak akan antar Agra ke sekolah tiap hari."


"Tapi..." Agra melirik Rangga lalu beralih ke Bu Bur yang diam seribu bahasa. Wanita paro baya ini ingin protes tak mau Agra pergi dari hidupnya. Bu Bur benar-benar sayang pada Agra. Agra sudah dianggap anak sendiri oleh Bu Bur.


"Agra tak mau pisah sama Ibu?" pancing Sania maklumi kegundahan Agra diminta pindah rumah. Agra terlanjur sayang pada Bu Bur namun tak sampai hati menolak niat baik Sania. Agra dilema harus memilih antara Sania dan Bu Bur. Keduanya sama penting bagi Agra.


"Agra tak mau merepotkan mbak. Biarlah mas Rangga tetap antar Agra. Setiap Sabtu Agra akan nginap di rumah mbak." Agra berkata bijak layak orang tua.


"Ok..mbak juga akan berangkat ke pulau B berapa hari ke depan. Pulangnya mbak jemput kamu. Agra tak boleh nakal. Harus patuh sama ibu dan bapak. Jangan lupa rajin belajar!"


"Siap mbak cantikku! Mbak juga harus jaga keponakan Agra. Kata mas Rangga Agra akan jadi om."

__ADS_1


__ADS_2