
Bara berharap ada sedikit rasa sayang terselip di hati Sania untuknya. Tak perlu banyak. Cukup sedikit. Dari sedikit itupun semoga bisa berubah sebesar bukit. Cinta akan tumbuh seiring waktu. Cinta adalah sesuatu yang sangat misterius. Dia datang tanpa permisi tumbuh subur di hati setiap insan. Cuma sayang kadang cinta yang telah tumbuh subur tak dapat perawatan semestinya sampai layu.
Bara hanya bisa harap cinta bisa bersemi antara dia dan Sania. Di pihak Bara tak ragu menebar bibit cinta pada Sania, kini tinggal bagaimana ladang hati Sania menerima semaian benih cinta Bara. Akankah Sania merawat benih itu dengan baik atau biarkan meranggas menanti maut.
Bara pejamkan mata mengenang semua kejadian yang telah menimpa hidupnya. Arsy, Nania dan sekarang Sania. Ketiga wanita yang ada dalam hidupnya. Bara tutup buku terhadap sosok Arsy. Arsy tak mungkin lagi kembali warnai hari-hari Bara. Kisah bersama Nania memang sudah tamat. Tak ada kelanjutan. Di depan mata hanya ada Sania. Bara harus peluk erat gadis istimewa ini. Bara harus bijak dampingi Sania yang masih muda. Kadang emosi gadis ini meledak ingin hancurkan penghalang namun kadang gadis ini lembut bak tahu sutera. Tugas Bara menjaga gadisnya agar betah di sisinya.
"Lieve...sudah tidur?" tanya Sania lembut mengira Bara tertidur karena mata terpejam. Sania tak tahu lakinya sedang reviews kisah lama.
Bara pura pura tidur menanti reaksi Sania. Andai Bara buka mata Sania pasti banyak tingkah tak mau tidur dekat dengan dirinya. Ntah kenapa sampai detik ini Sania masih pertahankan gelar perawan ting-ting dari pada jinak pada Bara.
Sania tak ganggu Bara ikut rebahan di samping laki itu. Bara sudah tertidur tentu bukan ancaman bagi Sania lagi. Sania mencoba cari gesture nyaman mengejar mimpi di siang bolong. Posisi telentang tak menyentuh Bara adalah posisi terbaik.
Dalam sekejap Sania masuk alam mimpi. ******* nafas halus Sania membuat Bara buka mata. Bara memandangi wajah cantik yang terlelap mimpi. Hidung mungil, alis mata teratur bak dusun tunggal. Bibir penggoda mirip buah ceri ranum.
Bara bersyukur menjadi pemilik sah indera cantik Sania. Semua ini akan jadi miliknya kelak. Takkan terbagi pada siapapun.
Bara menundukkan kepala mengecup bibir mungil Sania. Bara lakukan perlahan takut ganggu si empunya bibir.
"Selamat bobok sayang." bisik Bara.
Keduanya tertidur. Bara tak lakukan gerakkan yang bisa ganggu tidur Sania. Bara tahu Sania cukup lelah hari ini. Tak ada niat usik Sania hari ini.
Menjelang senja Bara terbangun melihat wanita di sampingnya masih lelap terbuai mimpi. Sania tetap menarik di mata Bara. Dalam kondisi gimanapun bini kecilnya tetap manis.
Bara bangun tak ingin mengusik tidur Sania. Tidur merupakan obat terbaik untuk pemulihan dari rasa penat. Segala obat dan vitamin tak seampuh picingkan mata lupakan segala keruwetan hidup. Seluruh anggota tubuh istirahat total.
Bara segera turun ke bawah pantau keadaan rumah menjelang senja. Bara mau tahu apa mamanya sudah persiapkan perlengkapan untuk acara tahlilan malam ini.
Tikar karpet sudah dibentang sepanjang ruang tamu dan ruang keluarga. Semua aman terkendali. Bara memuji kecekatan para asisten di rumah mamanya. Sementara di rumahnya hanya ada Bik Sur yang merawat Nania. Sekali-kali keponakan Bik Sur datang bantu Bik Sur bersihkan rumah. Sekarang keadaan rumah akan makin sepi sejak Nania tiada. Bara akan kesepian sendiri dalam rumah bila Sania tak mau tinggal bersamanya.
Mungkin Bara akan tinggal bersama keluarganya bila Sania memilih tinggal di luar tak mau pulang ke rumahnya. Hidup dalam kesepian akan menambah hari kelam Bara.
"Bara...kenapa melamun nak? Mana Sania?" suara Bu Jaya kembalikan kesadaran Bara dari lamunan panjang.
Bara balik badan menghadap sang mama yang menatapnya prihatin. Bu Jaya kasihan pada anaknya yang telah lalui hari-hari kelam dalam percintaan. Semoga Sania bisa jadi matahari Bara sinari hidup Bara biar terang benderang.
"Sania masih tidur. Dia sangat lelah kejar dua proyek. Dia sangat gigih perjuangkan kerja untukku. Kadang Bara malu padanya. Seorang anak gadis sangat sakti kejar kerja. Sedangkan aku masih terpaku di tempat."
Bu Jaya maklumi perasaan Bara yang telah capek hidup dalam bayangan masa lalu kelam.
"Mama doakan semoga Sania bisa merubah arah hidupmu."
"Amin...mama ok kan?"
Bu Jaya tertawa ingat betapa konyol ikut saran Bara akting sakit kelabui Sania. Betapa konyol seorang mertua kelabui menantu hanya ingin senangkan anak sendiri.
"Mama sehat banget! Kamu juga harus jaga kesehatan biar mama cepat punya cucu. Jangan bergaul dengan sembarangan wanita tak benar. Mereka hanya wanita nakal ingin kuasai hidupmu. Mama sudah sayang pada Sania maka mama harap kamu perlakukan dia dengan baik."
"Itu mama tak perlu kuatir. Bara tahu apa yang harus dilakukan. Cuma susah taklukkan dia!" Bara meringis bayangkan Sania yang sekeras batu karang.
__ADS_1
"Mama yakin dia akan luluh bila kau perlihatkan ketulusan seorang suami. Mama bisa rasakan Sania anak baik tak penting hartamu. Kamu harus adil padanya. Kasih uang belanja sebagai suami bertanggung jawab."
Bara tersentak dengar nasehat mamanya. Rasanya belum pernah dia kasih uang pada Sania sebagai kewajiban seorang suami terhadap isteri. Sania sendiri juga tak pernah ungkit uang belanja sejak mereka menikah. Jangankan ungkit, bahas saja tak pernah.
"Bara lupa ma!" Bara menepuk jidat melupakan tugas penting sebagai suami.
"Ya Allah...jadi kamu belum pernah ngasih Sania uang belanja?" seru Bu Jaya berang.
Bara menggeleng bodoh. Bu Jaya majukan tangan langsung jewer kuping Bara dengan gemas. Suami macam apa bisa lupa ngasih isteri uang belanja bulanan. Apa Sania tak usah makan dan perlu penuhi kebutuhan hidup?
Bu Jaya tak sangka otak anaknya benaran error, "Kalau binimu kabur bukan salah dia. Mama juga kan gitu kalau tak diopen suami. Kabur sejauh mungkin."
"Aduh ma! Banyak sekali masalah bikin Bara lupa soal kecil ini." Bara bela diri kambing hitamkan kejadian beruntun yang kuras tenaga dan pikiran.
"Kamu bilang masalah kecil? Yang kecil bagimu justru akan bawa petaka besar. Untung ini Sania, coba wanita lain. Dari kemarin sudah tuntut cerai."
"Astaghfirullah...mama jangan doa yang jelek dong! Katanya mau cucu dari Sania." Bara cepat menepis kata mamanya. Setiap kalimat yang keluar dari mulut seorang ibu bisa jadi doa. Bara takut kata-kata mamanya jadi kenyataan. Bara belum siap kehilangan Sania.
"Mama bukan doa nak tapi ingatkan kamu. Sekarang kau lihat binimu apa sudah bangun. Sebentar lagi magrib. Bangunkan dia!"
"Papa dan Fadil belum pulang?" tanya Bara tak melihat dua pejantan lain dari keluarga ini.
"Iya juga kenapa papa belum pulang? Ada kendala di kantor atau terjebak macet?" Bu Jaya baru sadar kalau suami dan anaknya yang lain belum pulang padahal hari sudah senja. Tak biasa Pak Jaya pulang telat tanpa pemberitahuan.
"Kita tunggu sebentar lagi. Atau Bara telepon Fadil tanya kenapa telat!" Bara membimbing mamanya duduk di sofa yang sudah dipindah ke sudut ruang karena ruang tamu sudah disulap jadi tempat pengajian.
"Halo..di mana kalian?"
"Lagi pulang..ada dikit kendala. Sampai rumah kita bahas."
"Kendala apa?" Bara penasaran apa yang telah terjadi. Bara tak mungkin tinggal diam lihat papanya mangalami masalah.
"Soal alat berat yang dikirim dari Jerman. Salah dokumen jadi tak bisa dibongkar. Padahal pelanggan butuh alatnya dalam dua hari ini."
"Kita cari solusi di rumah."
Bara menutup ponsel ikut bingung. Bara belum jelas sekali masalah yang dihadapi papanya. Namun Bara tetap akan bantu cari solusi. Bara tak bisa lepas tanggung jawab terhadap keluarga.
"Gimana nak?" tanya Bu Jaya harap-harap cemas.
"Biasa..masalah kantor. Kita bahas nanti. Aku bangunkan Sania dulu. Bisa ngamuk dia kalau kelewatan sholat magribnya."
"Ayo sono!" sahut Bu Jaya lega suami dan anaknya tak ada masalah berkaitan keselamatan jiwa. Masalah apapun tetap ada solusi selam masih ada nyawa untuk tangani.
Bara tinggalkan mamanya untuk bangun bini mudanya. Sania masih tertidur pulas waktu Bara masuk kamar.
Gadisnya tidur anteng bak putri tidur menunggu pangeran tampan bangunkan dia dari tidur panjang. Sania memang cantik mirip puteri dongeng Snow White. Bibir ceri Sania seakan mengundang Bara untuk cicipi manisnya bibir ranum itu.
Bara tak kuasa menahan diri untuk sok kuat tak tertarik pada bibir menggoda itu. Bara menurunkan kepala mendaratkan bibir mungil milik Sania. Bara menjilat bibir ceri isterinya seperti jilati buah manis nan mungil.
__ADS_1
Rasanya memang manis. Semanis pemilik bibir. Keisengan Bara mengganggu mimpi Sania. Mata belo Sania perlahan terbuka langsung tertuju pada bola mata suaminya yang juga menatapnya dalam. Kedua pasang mata bertemu timbulkan percikan api membakar badan. Tubuh Sania bergetar merasakan ada hawa panas menjalar seluruh aliran darah. Darah muda berapi-api.
Bara tak sanggup menahan diri lagi. Mau Sania ngamuk, mau bakar Bara sampai jadi abu laki ini tak peduli. Yang penting rasakan bibir manis haknya.
Bara langsung tancap gas ******* bibir ceri yang sedang menggodanya. Sania tak mendorong tubuh Bara yang mulai berani makin intim. Ntah sejak kapan Bara sudah kukuhkan diri berada di atas tubuh Sania.
Bara tak puas hanya rasakan bibir ceri Sania. Ciuman Bara menggembara ke tempat lebih sensitif. Kuping leher dan merayap ke bawah berhenti di bukit kembar terindah yang selalu jadi incaran para mata pria nakal. Kini Bara tak perlu menduga bagaimana indahnya bukit kembar itu. Kedua aset Sania terpapang jelas di mata.
Bara hargai karunia Tuhan ciptakan aset indah buatnya. Bara jadi jelajahi kedua aset Sania perlahan seakan takut aset berharga itu terluka.
Sania mendesah tak dapat menahan diri ikut hanyut dalam kelembutan yang ditawarkan Bara. Sania terbawa arus mengalir ke dunia penuh pelangi warna warni. Di sana hanya ada kebahagiaan tanpa ada duka. Begitu nyaman menutup hasrat keluar dari keindahan yang sedang berlangsung.
Pakaian Sania satu persatu copot dari tempat semula. Tangan nakal Bara bekerja rajin kejar waktu. Bara tak ingin kehilangan waktu sedetikpun kuasai Sania yang sudah pasrah jadi tumbal nafsu angkara Bara.
"Kau sangat indah sayang." bisik Bara melenakan Sania agar makin pasrah. Sania benar-benar tak berdaya dirayu Bara sampai lupa daratan.
Kini Bara tak ragu lepaskan pakaiannya sendiri. Menikmati malam pengantin di waktu yang tak tepat tak jadi masalah. Yang penting lepaskan hajat yang sudah lama mengganjal hati Bara. Bara tak mau kehilangan moments penting ini. Sania takkan lari lagi kalau sudah menyerah diri pada laki yang berhak.
Bara dan Sania sedang lalui fase paling hot menuju ke titik terpenting sepasang suami isteri. Bara tak ragukan tugas sebagai suami sejati rengut mahkota kebanggaan Sania.
"Aku ingin memilikimu." bisik Bara lembut sambil menatap bola Sania harap ada kepasrahan tulus. Sania hanya melengos malu tak jawab. Bagi Bara itu sudah merupakan jawaban acc untuk dia laksanakan niat terpendam lepaskan dahaga kepanjangan.
Bara persiapkan diri melakukan ritual paling penting dalam hidup Sania. Andai Bara meloloskan senjata rudal ke milik Sania maka otomatis Sania akan kehilangan gelar gadis suci.
"Aku akan lembut. Percayalah padaku!"
"Ya Lieve.." sahut Sania malu namun pasrah.
"Terima kasih." Bara mengecup kening Sania sebelum menyatukan diri pada Sania.
"Bara..Bara.." terdengar suara sang mama dari luar kamar.
Bara yang sedang naik nafsu kesal bukan main dapat pengacau kelas kakap. Di saat penting gini teganya kacaukan plan yang sudah terancang matang. Bara terpaksa bangkit dari tubuh Sania mengenakan pakaian. Panggilan Ibu Suri penguasa rumah tak mungkin Bara abaikan. Apalagi suara sang mama sangat panik.
Bara sangat kecewa tak bisa melaksanakan hasrat yang sudah menggila. Sania menutup wajah pakai selimut malu melihat Bara telanjang bulat di depan mata. Sania tetap malu walau bukan pertama kali lihat Bara dalam kondisi tak berpakaian. Kali ini Bara memang telanjang tanpa sehelai benang.
Sania akui bentuk tubuh Bara sangat macho mampu terbangkan setiap wanita ke langit tujuh. Berapa banyak wanita pernah berada dalam rengkuhan macho itu? Sania tak mampu jawab karena merasa tak berhak korek masa lalu suaminya.
"Mandilah! Sebentar lagi magrib." Bara mengelus pipi Sania lembut walau kecewa.
"Ya..keluarlah!" pinta Sania masih malu tak mau Bara dapat tontonan gratis.
"Ya...nanti aku kembali! Kita belum selesaikan perang kita. Gencatan senjata dulu." goda Bara lalu keluar mencari sang mama.
Sania tersipu malu. Ada saja cerita Bara menggoda dirinya. Bara laki dewasa berpengalaman dalam urusan asmara. Sedang Sania anak bawang buta terhadap hubungan spesial antara laki perempuan. Wajar Sania masih kaku.
Sania bangun menuju ke kamar mandi bersihkan diri untuk melaksanakan sholat magrib.
Bara kesal menatap mamanya yang tak tahu dia hampir saja berhasil tabur benih untuk ciptakan seorang cucu orderan sang mama. Wanita paro baya itu tak tahu telah merusak moments indah dia dan Sania. Bara hampir saja mendapat hak sebagai suami.
__ADS_1