
Biarpun pesannya tidak di balas. Namun setidaknya Pramana sudah menyampaikan isi hatinya dan mengutarakan. Bibir Pramana terus mengembang, menunjukan senyumnya lalu dia berbaring dengan perlahan di atas tempat tidur yang sudah bertabur kelopak bunga tersebut.
Wakti terus berputar dan malam semakin larut. Tidur Pramana tidak Lena dan sering terjaga, sesekali melihat ponsel yang sekiranya ada balasan dari sang kekasih. Namun tidak ada sekali pun, tetapi terlihat online.
Pramana telepon kembali namun tidak aktif. "Aneh, baru saja online tapi ketika ditelepon nggak aktif lagi, kenapa sih sayang? jangan bikin aku cemas dong!"
Pramana terduduk melamun sambil menatap kontak sang kekasih yang tinggal menghitung waktu saja akan menjadi istrinya.
Pramana klik kembali kontaknya untuk menyambungkan telepon, hasilnya sama. Tidak aktif. "Huuh ... sudah tidur kali."
Kaki Pramana turun dari tempat tidur. Sejenak ke kamar mandi untuk membuang hajat sekalian mengambil air wudu. Dan waktu sudah menunjukkan pukul 02.30.
Sebagai pemuda yang pernah nyantren. Tentunya menjadikan Pramana sosok yang lumayan taat dan rajin menjalankan kewajibannya sebagai umat muslim.
Begitupun saat ini, dia ingin berdoa dan minta kepada yang maha kuasa agar dilancarkan pernikahannya bersama sang kekasih hati, Adisty.
"Ya Allah, wahai engkau Yang maha Kuasa. Engkaulah yang maha Rahman dan Rohim, dan maha segalanya! padamu aku minta lancarkan pernikahan ku, panjangkan jodoh ku. Jadikan kami berdua suami istri yang saling mencintai menerima satu sama lain." Pramana menatap langit-langit.
"Aku sangat menyayanginya, satukan lah kami dalam biduk rumah tangga bahagia! dan jangan hadirkan halangan yang akan menjadi duri-duri dalam kehidupan kami berdua! sungguh engkau tempat ku memohon dan meminta, Aamiin-Aamiin."
Sampai pagi pun akhirnya Pramana terjaga dan tidak bisa tidur. Matanya terlalu segar untuk di pejamkan.
Sebelum subuh pun Pramana sudah tampak rapi. Dan sudah mengenakan setelan yang sudah di sediakan buat akad nanti.
"Nak ... kau sudah bangun? padahal ibu ke sini tadinya mau membangunkan tapi, rupanya kamu sudah bangun bahkan sudah bersiap-siap!" sang Bunda menatap putranya yang sudah tampak gagah dengan setelan pengantin.
"Semalaman aku nggak bisa tidur Bu ... mataku sulit untuk dipejamkan, makanya aku langsung mandi saja dan siap-siap!" akunya Pramana sambil melihat dirinya di cermin serta memberi minyak rambut di kepala agar rambutnya tambah rapi dan mengkilat.
"Itu wajar, kan menghadapi hari pernikahan dan kamu menjadi gelisah. Nggak tenang dan akhirnya nggak bisa tidur!" sambungnya sang Bunda sembari menatap ke arah putra nya.
__ADS_1
"Benar, Bu ... aku gak bisa tidur!" ucapnya Pramana sambil menggelengkan kepalanya.
"Jangan cemas, banyak berdoa! semoga semuanya lancar." Lirih sang bunda yang sudah tampak cantik dengan stelan warna merah marun.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.00 pagi dan Adisty belum juga ada kabar Pramana sudah bolak-balik menghubunginya namun tetap saja tidak satu kali pun terjawab oleh Adisty, kadang nyambung tapi nggak ada yang diangkat.
Jika terhitung, panggilan dari Pramana mungkin sudah melebihi 100 panggilan. Wajar saja jika Pramana semakin gelisah. Wajah tampan pria itu menegang, cemas dan khawatir.
Melihat adiknya yang tampak sangat gelisah Andre pun menghampiri. "Kenapa? apa belum juga ada kabar dari pihak sana?"
Pramana menggelengkan kepalanya dengan tatapan jauh ke depan, dan di sana pun sudah tampak ramai dengan para undangan yang tampak mulai berdatangan.
"Hubungi lagi dong!" pintanya Andre kepada Pramana.
Setelah itu Pramana kembali menghubungi nomor Adisty yang hasilnya tetap sama.
"Gimana! sudah ada kabar? mereka sudah berada di mana posisinya sekarang?" tanya sang Bunda yang baru saja menghampiri kedua putranya bersama sang suami juga.
Kini wajah sang bunda pun ikut cemas. Namun dia berusaha untuk menenangkan diri sembari berkata. "Semoga aja mereka sedang di dalam perjalanan menuju ke sini. Lagian kalau berangkatnya jam 06.00 berarti sudah 1 jam kan?"
"Berdoa saja semoga semuanya selamat sampai tujuan! acaranya pun lancar." Timpal sang ayah yaitu Pak Lukman.
"Apakah sudah menghubungi nomor lain? seperti nomor orang tuanya, saudaranya. Sahabatnya jangan itu-itu mulu, biar kita mendapat kabar yang jelas posisinya di mana!" ucapnya Andre kepada sang adik.
Pramana merasa mendapatkan angin segar, dia baru ingat nomor lain yang sekiranya bisa dihubungi. Dari tadi dia yang bolak-balik panggil adalah. Gadis seorang tidak kepikiran nomor lain.
Detik kemudian Pramana pun menghubungi salah satu nomor keluarganya Adisty. Tepatnya nomor sang ayah namun sudah dua kali panggilan tersambung namun tidak diangkat juga.
"Astagfirullah, ada apa ini nama ayahnya pun tidak merespon telepon dariku!" Pramana melirik ke arah sang kakak seraya menghela nafas dalam-dalam.
__ADS_1
"Sini, mana nomornya? biar pakai nomorku saja teleponnya! siapa tahu di angkat!" Andre mengambil nomor calon mertua Pramana lalu dia panggil hingga berulang-ulang dan pada akhirnya diangkat.
^^^Andre langsung bertanya to the point. "Saya dari keluarga Pramana, mau menanyakan posisi sekarang di mana? sudah 1 jam belum nyampe juga ke sini!"^^^
^^^Dari ujung telepon menjawab, dengan sebuah jawaban yang sangat mencengangkan yang katanya. "Maaf kami tidak bisa datang!"^^^
Membuat mulut orang-orang yang berada di sana menganga, merasa sangat shock, yang kebetulan sambungan teleponnya di loudspeaker.
^^^"Apa? apa maksudnya? apa yang Anda maksudkan tidak jadi datang?" Pramana mengambil alih teleponnya Andre.^^^
^^^"Maaf, Adisty kabur. Dia tidak mau menikah dan dia lebih memilih untuk keluar pulau untuk menerima sebuah kerajaan!" suara kembali dari ujung telepon dan langsung mematikannya.^^^
Pramana dan juga yang lainnya benar-benar dibuat tercengang shock tidak percaya. Kaget yang tiada terkira! sungguh di luar dugaan di saat-saat menghitung waktu untuk pernikahan. Adisty terdengar tidak ingin menikah.
Pramana langsung pergi dari sana menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil.
"Ya Allah ... ada apa ini? Andre ikuti adik mu, temani dia?" pinta sang ibu kepada Andre, Ande pun langsung pergi menyusul sang adiknya.
Andre tidak peduli dengan istrinya yang bertanya mau ke mana?
Kini Pramana dan Andre sudah berada dalam mobil yang akan dikemudikan oleh Pramana sendiri.
"Kita mau ke mana Pram?" selidik sang kakak kepada adiknya yang sudah mulai menyalakan mesin mobil.
"Aku akan mendatangi rumahnya, mempertanyakan semua ini sebenarnya gimana? sungguh aku tidak mengerti dengan semua ini." jawabnya Pram sembari memutar kemudinya.
Ibu Bella mengurut dadanya yang terasa sesak. Sang suami yang berada samping merangkul bahunya.
"Yang tenang berpikir dan berpikir jernih. Jangan sampai panik. Lagian masih banyak waktu kok." kata Sang suami sembari mengusap-usap bahu sang istri ....
__ADS_1
...🌼---🌼...
Jangan lupa like komen subscriber juga! makasih